Tamara Drewe: Panggung Perak Para Munafik

tamara-drewe_highlight

Tamara Drewe pulang kampung ke Ewedown di sela-sela pekerjaannya sebagai wartawati. Orang kampung terhenyak melihat Tammy kini sudah berubah jelita, hidungnya yang dahulu berukuran gigantis kini sudah tersulap menjadi perhiasan indah yang terhampar di wajah bulan sabitnya. Waktu kecil, orang-orang kampung memanggil Tammy dengan panggilan “Beaky” oleh sebab hidungnya itu. Berkat operasi plastik, kini ia menjadi primadona.

Bukan pekerjaan jurnalistiknya, atau kenangan manis tentang orang tuanya, yang membuat Tammy dikagumi warga, tapi operasi plastiknya. Pasalnya, Ewedown tanpa Tammy sedianya sudah dipenuhi oleh penulis-penulis kaliber nasional seperti Nicholas Hardiment, pengarang seri petualangan Inchcombe yang sudah memasuki seri ke tujuh belas, ada pula Glen McCreavy, professor sastra yang sedang menulis tinjauan atas karya-karya Thomas Hardy. Pun Ewedown sudah ruah oleh kenangan manis, pada kampung itu terlanjau padang hijau beserta kawanan sapi yang tenang merumput. Pada kedua sisinya terdapat rumah-rumah gaek yang keras; terbuat dari batu. Kampung Ewedown mengkristalkan kenangan pada padang rumput dan rumah-rumah batu.

Diangkat dari novel grafis karya Posy Simmonds, sutradara Stephen Frears menerjemahkan Tamara Drewe ke dalam dialek noir yang komikal. Tammy yang cantik karena plastik menjadi objek lirikan para lelaki tua dan muda, culun dan fashionista. Sebut saja Andy Cobb sang gembala, Nicholas Hardiment si tuan pena, serta Ben Sergeant si penabuh drum di Swipe –grup musik lokal yang menggelora.

Tamara Drewe dimulai dengan lanskap dunia warna-warni bak disepuh krayon, kamera kemudian menyorot orang-orang tak berhubungan darah –para karakter- yang sedang makan malam bersama. Entah kenapa, yang menyembur dari mulut orang-orang ini adalah kejelekan dan kejelekan. Semua orang tampak punya ambisi yang musti dicapai, dan satu-satunya cara mencapainya adalah dengan mengorbankan orang di sekitar.

Bila menonton karya-karya Mike Leigh terasa seperti mengamati permukaan air yang tenang, maka menonton Tamara Drewe rasanya seperti mengamati air parit penuh jentik di pinggir desa yang sepi lalu-lalang.

Perlahan-lahan, Tamara Drewe membuktikan bahwa ambisi itu ternyata sudah disulam lama sebelum ajang makan malam tersebut. Dan ketika semua berkumpul, masing-masing lajur ambisi kembali menemukan titik tolaknya. Komposisi konflik dalam Tamara Drewe dibangun dari tabrakan ambisi dan halangan-halangan yang memaksa para tokoh menyesuaikan diri.

Ke-noir-an Tamara Drewe terletak pada alam motivasinya. Kalau kita balik ke tahun 1940-an, perkara penggelapan pajak, transaksi haram, atau ambisi pada uang sambung-menyambung membentuk mood film noir. Tamara Drewe berkelit dari dasar bertindak ini dan menemukan varietas baru yang lebih “masuk” dengan kehidupan masa kini: operasi plastik. Operasi plastik tidak dipandang sebagai sesuatu yang negatif per se, melainkan sebagai sesuatu yang mendatangkan antusiasme –walaupun pada prosesnya tetap menyebabkan kecelakaan sistemik.

Kecelakaan sistemik yang dipicu oleh kehadiran Tammy disebabkan nafsu para pria terhadap hidung plastiknya yang semlohai. Andy Cobb dengan segenap keluguan khas pemuda desa, menyiratkan cintanya dengan cara datang merawat, mengecat, dan membereskan taman rumah Tammy. Ben Sergeant yang “band” dan “urban” mendekati Tammy dengan musikalitasnya yang binal. Penggambaran paling apik terjadi pada karakter Nicholas Hardiment. Pada permulaan film, ia digambarkan bertengkar riuh dengan istrinya akibat ketahuan selingkuh dengan  seorang wanita London. Namun kejadian tersebut tak lama sebab Nicholas berhasil meyakinkan istrinya kalau semuanya sudah berakhir. Sekuens pertengkaran itu nampak seperti ending yang muncul tanpa sebab dan awalan.  Baru pada interaksi Nicholas dengan Tammy, anatomi selingkuh menjadi runtut dan mengalir tak terbendung sekaligus menjelaskan kebrengsekan berulang milik Nicholas Hardiment.

Nuansa noir juga sangat terasa dalam penggunaan “perasaan cinta”, dimana perasaan yang membuncah satu sama lain bukan lagi cinta idealistik yang biasa dipromosikan lewat film-film. Cinta Tamara Drewe adalah cinta penuh kepentingan sebagaimana cinta Phyllis Dietrichson pada Walter Neff dalam Double Indemnity, sebagaimana cinta Kelly pada lelaki-lelaki dalam The Naked Kiss.

Uniknya, konstruksi cinta dalam Tamara Drewe menggiring pemirsa untuk lebih menimbang kemunafikan para karakter ketimbang memikirkan apa sebenarnya kepentingannya. Ambil contoh, pada masa lalu, Andy Cobb mencampakkan Tammy karena hidungnya besar. Sekarang, Andy Cobb menggilai Tammy karena ia sudah cantik. Mana yang lebih munafik? Andy Cobb di masa lalu atau Andy Cobb di masa sekarang? Kepentingan-kepentingan yang menyelubungi cinta dalam Tamara Drewe adalah kepentingan yang tidak berorientasi masa depan sebagaimana film-film noir klasik yang disebutkan di depan, melainkan berorientasi masa lalu.

Namun orientasi masa lalu tersebut bukan dalam rangka “memperbaiki” melainkan dalam rangka “membandingkan”. Dengan jatuh cinta, Andy Cobb, Ben Sergeant, dan Nicholas Hardiment tidak sedang memperbaiki kehidupan mereka, tidak juga memperburuknya.  Mereka hanya sedang berada dalam proses yang sama sekali berbeda, momen-momen macam ini memberi kesempatan pada penonton untuk menilai kadar kemunafikan setiap karakter.

Dalam Tamara Drewe, semakin munafik seorang karakter, maka semakin besar andil dia bagi perkembangan cerita. Semakin jelas dan lurus seorang karakter, maka semakin tidak berpengaruh dia bagi keseluruhan film. Sesering apapun seorang karakter dimunculkan di layar (seperti karakter Beth Hardiment dan Glen McCreavy), mereka tak begitu berpengaruh sebab mereka lurus-lurus saja. Padahal, Tamara Drewe dan Kampung Ewedown adalah panggung perak orang-orang munafik.

Tamara Drewe | 2010 | Sutradara: Stephen Frears | Negara: Inggris | Pemain: Gemma Arterton, Dominic Cooper, Roger Allam, Tamsin Greig, Bill Camp

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend