Taksi: Dunia Gundah Risau Tak Sudah

taksi-1990_highlight

Dari sekian banyak taksi yang berseliweran di Jakarta, salah satunya dikemudikan oleh Giyon, sarjana filsafat yang tak berhasil meraih pekerjaan idamannya. Giyon minggat dari rumah familinya yang kaya lalu memilih tinggal di perumahan kumuh pinggir kota. Suatu hari, Giyon mendapat penumpang seorang ibu muda dengan anaknya yang lucu, mereka meluncur ke Jalan Sudirman. Sesampainya di sana, Ibu muda ini terpaksa menitipkan anaknya yang terlelap, “Mau masuk gedung tapi anak saya lagi tidur”, katanya. Kesediaan Giyon tak dinyana berbuah nihil, sang ibu tak kembali untuk anaknya. Proses saling mencari, menemukan, dan kehilangan, yang berlangsung antara Giyon dan sang ibu muda mengulur menjadi benang kisah film Taksi.

Di balik kisah itu, sutaradara Arifin C. Noer mempersembahkan mood yang risau untuk ditabrakkan dengan latar benderang kota Jakarta. Mood ini berasal dari kedua karakter utama, yakni Giyon dan sang ibu muda, Desi namanya. Mereka adalah kegundahan yang bertemu pada waktu yang tak tepat. Giyon ialah sosok pemikir yang terpaksa bekerja dengan otot agar tetap bisa makan. Setiap pulang habis narik, kita beberapa kali diperlihatkan adegan Giyon memegang buku karya Erich Fromm, sinuhun termasyhur asal Eropa. Demikian pula dengan Desi, ia adalah perempuan rumah tangga yang terpaksa berkarir di luar rumah demi agar terus bisa menyuapi anaknya. Desi dengan terpaksa memenuhi permintaan ibunya agar ia menjadi penyanyi saja, hidup glamor serta jauh dari sedih dan sengsara. Tapi masalahnya jauh lebih dari sekedar peliknya membangun karir, menjadi penyanyi bukanlah i’tikad pribadi Desi.

Giyon dengan cap pengemudi taksi dan Desi dengan label penyanyi populer, kebahagiaan keduanya tentu tak bisa diukur dengan uang, sebab lebih sering kita lihat adegan Giyon yang meredakan kekalapan Desi, bukan sebaliknya. Padahal secara material, Desi lebih ‘berada’ dibanding Giyon. Ukurannya terletak pada kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri. Meskipun Giyon dan Desi sama-sama tercerabut dari ‘habitat’-nya, namun Giyon lebih mampu untuk mengekang kesedihan batinnya sendiri, ia lebih terbiasa dalam menguasai segala kekurangan yang diidapnya. Sehingga Giyon menjadi jauh lebih tenang dibanding Desi.

Awalnya saya kira Giyon dan Desi dipasangkan sebagai semacam orang yang menyimpang dari kerlingan lampu neon kota Jakarta. Saya kira hanya mereka saja yang gundah gulana. Namun berikutnya kita diperkenalkan kepada karakter Ibunda-nya Desi, diperankan oleh Nani Widjaja, serta mantan suami Desi yang beberapa tahun lalu enyah entah kemana. Ternyata, kesenjangan antara apa yang diinginkan dengan apa yang dimiliki juga menjadi penyebab utama mengapa orang-orang ini begitu tak tenang hidupnya. Kegelisahan kedua karakter ini bahkan sudah sampai pada level memberi pengaruh buruk pada orang lain. Sebenarnya, mimpi menjadi penyanyi populer adalah impian Ibunda Desi. Namun karena impian itu tak kunjung nyata, Sang Ibunda akhirnya memaksakan obsesi itu pada anaknya. Demikian pula dengan mantan suami Desi yang bukanlah seorang family man, sehingga punya anak adalah mimpi buruk yang membuatnya raib meninggalkan istrinya.

Dalam pada segala peta kerisauan itu, film Taksi memiliki semacam ilusi yang membuat penonton rawan terjebak. Adalah Ita, putri kecil Desi, yang menjadi ilusi itu. Ita selalu menguarkan semacam aura riang pada setiap orang di sekelilingnya. Ketika dibawa ke pemukiman kumuh, segenap penghuni menyambutnya, berebut memandikannya. Ketika dibawa ke pangkalan taksi, seluruh pengemudi bernyanyi untuknya. Puncaknya, karena Ita-lah, Desi menyadari status ketercerabutannya dari dirinya yang sesungguhnya dan memutuskan untuk mencari jati diri yang sesungguhnya itu.

Juga menarik mengamati karakter Ita sebagai sebuah sindiran yang tak kalah risaunya dengan mood film sedari awal. Perhatikan anak kecil ini, semua orang menyenanginya. Lalu perhatikan semua orang dewasa, hampir semua mereka saling membenci. Taksi menikam kesadaran penontonnya dengan humor pedas yang lara: Jika tak mau membenci dan dibenci, jangan mau jadi dewasa.

Meskipun Ita telah mengembalikan keinsyafan Desi, ia tetap tak bisa dinilai sebagai malaikat kecil yang menukar lumpur derita menjadi embun bahagia. Sebab  sejelas apapun sebuah ilusi terasa, ia tetaplah bukan sang nyata. Kerisauan Desi tetap tak berakhir meskipun ia memutuskan untuk meninggalkan status selebritinya demi Ita. Pun dengan Giyon, ia tetap tak bisa mengembalikan cap ‘asli’-nya sebagai seorang sarjana filsafat. Begitu juga dengan dua karakter  lain, rasanya akan sulit untuk menyembuhkan mereka sebelum Desi sembuh terlebih dahulu mengingat merekalah penyebab keadaan Desi menjadi demikian runyam.

Lalu bagaimana Taksi menyikapi kerisauan berantai ini? Alih-alih membuat akhir yang pasti, Taksi tetap meninggalkan kerisauan itu mengapung di layar, terbuka, dan tak berkesudahan. Hal terbaik yang bisa dilakukan para karakter adalah menenggelamkan diri ke dalam lingkaran berulang: saling mencari dan dicari, ditemukan dan kehilangan, tanpa sesiapapun yang bisa menjamin kapan semua itu akan rampung.

Taksi | 1990 | Sutradara: Arifin C. Noer | Negara: Indonesia | Pemain: Rano Karno, Meriam Bellina, Nani Widjaja, Henky Solaiman, Dorman Borisman

Tulisan ini merupakan resensi salah satu film yang diputar selama Bulan Film Nasional 2011 di Kineforum.

Kineforum

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend