Arsip tulisan dengan tag ‘tradisi sinema dunia’

  • Paradoks Pembangunan Manusia dalam Film Pendek Indonesia

    Gorivana Ageza | 19 June 2014
    1
    8
    Ketika istilah “pembangunan” menjadi semacam mantra magis yang memesona rakyat di rezim orde baru, sebetulnya pernahkah kita benar-benar tahu apa yang tengah “negara” (baca: penguasa) bangun? Lantas di mana posisi kita sebagai rakyat pada “perihal membangun” tersebut? Saat modernitas diasosiasikan dengan pembangunan, apakah dengan menjadi (seolah-olah) modern berarti manusia Indonesia telah sukses terbangun?
  • CLC Purbalingga: Edukasi Film, Edukasi Politik

    Windu Jusuf | 13 April 2014
    0
    0
    Cinema Lovers Community (CLC) menerapkan metode pendidikan produksi film yang sulit ditemukan dalam komunitas-komunitas film lainnya: turun ke lapangan untuk riset dan bergaul dengan warga. Tak jarang, metode ini membuat mereka terlibat secara langsung dalam advokasi sosial di kota Purbalingga dan sekitarnya. Cara yang ditempuh CLC untuk mempopulerkan film sebagai medium kritik sosial pun terbilang unik.
  • Film dan Geopolitik

    Makbul Mubarak | 10 March 2014
    1
    0
    Edisi ini mengangkat konsep “film sebagai teks dan momen spesifik dalam sejarah” dan “kekhasan ruang budaya” dalam rangka merespon film-film Indonesia mutakhir yang akan kita kerangkai isu seputar politik dan ruang. Film Indonesia mutakhir yang kami maksud adalah film-film Indonesia yang memotret Eropa sebagai titik fokus ceritanya, sebutlah film macam Laura Marsha (2013) dan 99 Cahaya di Langit Eropa (2014), tanpa mengurangi respek pada karya semacam Edensor (2013).
  • Pengantar Kinology Januari 2014: Festival Film

    Cinema Poetica | 16 January 2014
    0
    0
    Festival film pada dasarnya adalah perkara geopolitik. Wacana ini yang melandasi penyelenggaraan Venice International Film Festival pada 1932, atau yang dikenal juga sebagai festival film pertama di dunia. Venice kini tidak sendirian. Tercatat paling tidak ada tiga ribu lebih festival film di seluruh dunia—masing-masing dengan agendanya sendiri untuk menanggapi kebutuhan sosial-politis di wilayah penyelenggaraannya, termasuk di Indonesia.
  • Festival Film Purbalingga, Sebuah Perjalanan

    Bowo Leksono | 16 January 2014
    2
    1
    Geliat film pendek di Purbalingga, kabupaten kecil di Jawa Tengah bagian barat, dimulai pada tahun 2004 setelah beberapa anak muda mulai memproduksi film-film pendek. Sebelumnya, anak-anak itu bergiat dalam panggung teater sejak 1994. Film pendek tampaknya menjadi pilihan tepat setelah pasca-Reformasi karena teater seperti kehilangan giginya.
  • Sinema Kita, Sinema Ketiga, Sinema Dunia

    Makbul Mubarak | 15 January 2014
    0
    1
    Bagaimana posisi sinema Indonesia ketika dikaitkan dengan peta sinema dunia? Maksudnya dengan sinema dunia bukanlah rantai pemutaran film, melainkan sinema dunia sebagai emblem yang senantiasa bersangkutpaut dengan globalisasi atawa kapitalisme global. Sekarang kita harus kembali pada takdir film sebagai produk absolut kapitalisme dan “the face of the contemporaries.”
  • Sepuluh Film Pilihan Tahun 2013

    Makbul Mubarak | 10 January 2014
    2
    7
    Daftar ini bukanlah daftar film terbaik tahun 2013, bukan pula sebuah pembacaan menyeluruh atas film-film yang dibuat pada tahun tersebut. Daftar ini lebih mencerminkan adanya standar tertentu yang dipakai seseorang dalam memilih film-film yang berpengaruh baginya. Bagi saya, daftar ini adalah semacam cermin tempat saya mengaca dan mendapatkan dua hal yang dipantulkan dari cermin tersebut.
  • Mari Memutar Film!

    Ahsan Andrian | 25 December 2013
    0
    0
    Ada dua faktor yang perlu diperhatikan dalam memutar film. Pertama adalah kualitas materi film yang diputar, kemudian kualitas tempat pemutaran. Baik-buruknya suatu tempat pemutaran sesungguhnya berlandas pada dua unsur: kualitas ruang pemutaran dan kualitas alat pemutaran.

CINEMA POETICA | Layaknya hidup, film lebih asyik dinikmati bersama.