tradisi sinema dunia

fulan-forum-umat-islam_hlgh

FUI: Tak Hanya Membubarkan Pemutaran Film

Seringkali kita terlanjur sibuk menilai orang dari luarnya saja, tanpa sadar bahwa kadang mereka memiliki kehidupan privat yang jauh berbeda. Pertanyaan-pertanyaan mahapenting itulah yang membawa kami untuk bertemu dengan Muhammad Fuad—yang kemudian kami panggil Mas Fuad—kordinator FUI Yogyakarta yang sehari-harinya nongkrong di Terminal Ngabean—untuk menanyakan film-film favorit di Forum Umat Islam.
wacana-gilles-deleuze_hlgh

Hubungan Sinema dan Filsafat, Menurut Gilles Deleuze

Bagi sebagian orang, Cinema 1 dan Cinema 2 karya Gilles Deleuze adalah buku yang luar biasa rumit karena Deleuze terkesan begitu tendensius untuk menyusun klasifikasi imaji yang sudah dibangun selama hampir seratus tahun sejarah sinema. Ia tidak bicara shot, tidak bicara peletakan dan pergerakan kamera, tidak bicara teknis. Ia bicara tentang sinema sebagai realita, bukan penanda realitas sebagaimana yang ramai dibahas oleh para begawan semiotika.
wacana-pembangunan-manusia-film-pendek_hlgh

Paradoks Pembangunan Manusia dalam Film Pendek Indonesia

Ketika istilah “pembangunan” menjadi semacam mantra magis yang memesona rakyat di rezim orde baru, sebetulnya pernahkah kita benar-benar tahu apa yang tengah “negara” (baca: penguasa) bangun? Lantas di mana posisi kita sebagai rakyat pada “perihal membangun” tersebut? Saat modernitas diasosiasikan dengan pembangunan, apakah dengan menjadi (seolah-olah) modern berarti manusia Indonesia telah sukses terbangun?
clc-purbalingga-edukasi-film_hlgh

CLC Purbalingga: Edukasi Film, Edukasi Politik

Cinema Lovers Community (CLC) menerapkan metode pendidikan produksi film yang sulit ditemukan dalam komunitas-komunitas film lainnya: turun ke lapangan untuk riset dan bergaul dengan warga. Tak jarang, metode ini membuat mereka terlibat secara langsung dalam advokasi sosial di kota Purbalingga dan sekitarnya. Cara yang ditempuh CLC untuk mempopulerkan film sebagai medium kritik sosial pun terbilang unik.
wacana-film-dan-geopolitik_hlgh

Film dan Geopolitik

Edisi ini mengangkat konsep “film sebagai teks dan momen spesifik dalam sejarah” dan “kekhasan ruang budaya” dalam rangka merespon film-film Indonesia mutakhir yang akan kita kerangkai isu seputar politik dan ruang. Film Indonesia mutakhir yang kami maksud adalah film-film Indonesia yang memotret Eropa sebagai titik fokus ceritanya, sebutlah film macam Laura Marsha (2013) dan 99 Cahaya di Langit Eropa (2014), tanpa mengurangi respek pada karya semacam Edensor (2013).
kinology-festival-film_hlgh

Pengantar Kinology 01: Festival Film

Festival film pada dasarnya adalah perkara geopolitik. Wacana ini yang melandasi penyelenggaraan Venice International Film Festival pada 1932, atau yang dikenal juga sebagai festival film pertama di dunia. Venice kini tidak sendirian. Tercatat paling tidak ada tiga ribu lebih festival film di seluruh dunia—masing-masing dengan agendanya sendiri untuk menanggapi kebutuhan sosial-politis di wilayah penyelenggaraannya, termasuk di Indonesia.
fest-film-purbalingga-perjalanan_hlgh

Festival Film Purbalingga, Sebuah Perjalanan

Geliat film pendek di Purbalingga, kabupaten kecil di Jawa Tengah bagian barat, dimulai pada tahun 2004 setelah beberapa anak muda mulai memproduksi film-film pendek. Sebelumnya, anak-anak itu bergiat dalam panggung teater sejak 1994. Film pendek tampaknya menjadi pilihan tepat setelah pasca-Reformasi karena teater seperti kehilangan giginya.