tradisi sinema dunia

Festival Film sebagai Ruang Publik

Rubrik Wacana kali ini membagi sebuah tulisan ringan yang berisi cerita-cerita mengenai bagaimana festival film sebagai ajang yang bukan saja merupakan tempat menonton dan menjual film, melainkan juga tempat bertukar visi, arena pertarungan pandangan serta sebuah ruang yang menyulap sebuah kota menjadi medan transnasional dalam satu atau dua kejap.

Sineas dan Layar Alternatif

Layar-layar alternatif membuka kesempatan untuk masyarakat agar bisa menikmati beragam film yang tidak melulu hanya standar bioskop. Tulisan ini mencoba menggali peluang dan tantangan apa saja yang diberikan dan dihadapi layar-layar alternatif dari kacamata sineas film alternatif. Sembilan sineas dengan latar belakang berbeda-beda—profesional, sekolah film, komunitas—berbagi soal apa-apa saja yang mereka lihat dari keberadaan layar-layar alternatif.

Agenda Politik Selera dalam Festival Film Dunia

Dewasa ini, naif bila kita menganggap festival film adalah pernyataan kolektif yang anti-Hollywood dan anti arus utama. Betapa tidak, festival film telah menjelma menjadi bursa penting bagi perputaran uang dalam industri film global. Literatur yang dibagikan rubrik Wacana kali ini bicara mengenai kompleksitas posisi festival film, baik dari aspek selera estetika, komitmen politis, merk dagang, dan interaksinya dengan dunia di luar festival film maupun di luar industri film itu sendiri.

FUI: Tak Hanya Membubarkan Pemutaran Film

Seringkali kita terlanjur sibuk menilai orang dari luarnya saja, tanpa sadar bahwa kadang mereka memiliki kehidupan privat yang jauh berbeda. Pertanyaan-pertanyaan mahapenting itulah yang membawa kami untuk bertemu dengan Muhammad Fuad—yang kemudian kami panggil Mas Fuad—kordinator FUI Yogyakarta yang sehari-harinya nongkrong di Terminal Ngabean—untuk menanyakan film-film favorit di Forum Umat Islam.
X

Send this to friend