Surat Kecil Untuk Tuhan: Cerita Besar yang Takluk Pada Kelalaian Kecil

Makbul Mubarak | 15 August 2011 | Resensi
9
0

surat-kecil-untuk-tuhan_highlight

Karya seni yang diprakarsai oleh kisah nyata biasanya punya arti lebih bagi pemirsa. Setidaknya, karya itu tidak ditonton sebagai imajinasi kosong pembuatnya, melainkan bercermin pada takdir yang benar-benar terjadi. Mungkin karena itu, penonton berbondong meluapi bioskop, membeli tiket Surat Kecil Untuk Tuhan, film Indonesia mutakhir yang berakar pada kisah nyata. Luapan penonton itu bukan cerita sepele, sebab kini film Surat Kecil Untuk Tuhan (selanjutnya disebut SKUT) bertengger manis sebagai film paling banyak ditonton kedua sepanjang tahun 2011, persis di bawah film Arwah Goyang Karawang yang mengundang berahi  750 ribu penonton, lebih banyak 50 ribu dibanding penonton SKUT.

Kurang dari sepuluh tahun lalu, ada serial Jepang yang berjudul Satu Liter Air Mata (One Litre of Tears). Konon, kisah sedu sedan yang diusung serial ini dengan ampuh menguras habis air mata penontonnya. Kisahnya tentang seorang gadis sekolah menengah yang menderita kanker tak tersembuhkan. Satu Liter Air Mata mengapung-apung dalam ingatan ketika poster SKUT memenuhi bioskop di dekat rumah. Formulanya mirip-mirip jua.

Adalah Keke gadis malang dalam SKUT itu. Ia menderita kanker jaringan lunak yang ganas, mematikan, dan memilukan. Keke belum lagi lima belas tahun ketika penyakit itu mendera. Oleh ayahnya, Keke diantarkan ke pelbagai gerai pengobatan alternatif sebab Sang Ayah tak tega melihat putri semata wayangnya tergeletak lara di meja operasi. Namun gayung tak bersambut, penyakit Keke semakin parah sehingga dokter jualah yang menjadi pelabuhan selanjutnya. Penyakit Keke ikut mempengaruhi stabilitas keluarganya. Mulai dari penghematan besar-besaran akibat berobat, hingga hubungan ayah dan ibu Keke yang tak bisa dibilang harmonis.

Jikalau banyak film-film Indonesia terbaru yang tampil menjual ayat, maka SKUT tampil agak berbeda dengan menjual gelontoran air mata. Sang air mata ditiriskan dari sebuah blog tenar yang mencatat hari-hari Keke bersama penyakitnya. Ada kesamaan antara Keke dan Aya (Tokoh utama dalam Satu Liter Air Mata), yakni mereka sama-sama menulis buku harian. Buku harian itulah yang menjadi referensi utama blog dan filmnya.

Cerita dibangun dengan cermat lewat penggambaran motivasi-motivasi karakter yang naïf sesuai dengan umur mereka yang baru duduk di sekolah menengah pertama. Bagaimana persahabatan bisa terbangun lewat tindakan-tindakan simbolik. Ambil contoh, teman-teman Keke yang rela memangkas rambutnya agar bisa ikut merasakan kepiluan Keke yang gundul akibat kemoterapi. Juga ditampakkan bagaimana penyakit Keke bukan hanya persoalan medis semata, melainkan juga masalah harga diri di hadapan kawan-kawan, keluarga, belum lagi terhadap Andi, teman sekolah yang selama ini dekat dengannya. Kenaifan karakter yang membungkus SKUT adalah sah, sebab memang berlangsung sesuai dengan masa tumbuh para karakter yang didominasi anak mula remaja.

Ihwal Logika Cerita

Yang dikhawatirkan akhirnya terjadi juga. Pasang surut babakan cerita ternyata tidak diimbangi dengan logika cerita yang sepadan. banyak logika yang dikorbankan atas nama dramatisasi. Dengan premis bahwa “karena SKUT adalah dramatisasi, maka berlebihan di sana-sini bisa dimaafkan.” Masalahnya bukan pada dramatisasi, melainkan pada kultur penonton kita yang semakin piawai. Penonton semakin rentan merasa dibodohi dengan cerita yang tak masuk akal, sebagus apapun bahan ceritanya.

Dalam sebuah adegan belajar kelompok, tampak Keke dan kawan-kawannya membaca buku mata pelajaran Sosiologi. Ini mengganggu sebab Keke adalah siswi SMP sementara Sosiologi baru diajarkan di bangku SMA. Perhatikan juga adegan tari pada acara Rhythm and Dance, teman-teman Keke sudah mulai menari ketika Andi berangkat dari rumah, berlari mengejar Keke. Sesampainya Andi  di studio tari, lagu tersebut masih berlangsung, padahal durasi sebuah lagu jarang lebih dari enam menit. Apakah mungkin Andi berlari dari rumah ke studio tari dalam waktu kurang dari enam menit? Perhatikan juga adegan Keke yang datang ke ujian sekolah dengan digendong Pak Iyus –asisten Ayah Keke– padahal, pada adegan sebelumnya (adegan Rhythm and Dance) kita melihat Keke duduk menggunakan kursi roda. Lantas kemana kursi roda itu? Penafian logika cerita (meskipun sepele) adalah hal yang sangat mencoreng runutan jalinan cerita film SKUT.

Kemiskinan set juga terasa nyata. Dekorasi serba mepet menjadikan rumah Keke tampak seperti ruangan yang baru didekorasi setengah jam menjelang pengambilan gambar dimulai. Mungkin maksudnya untuk menggambarkan kekosongan. Namun bila demikian, lirikan tajam selanjutnya mengarah pada para aktornya yang menerjemahkan kekosongan itu dengan frekuensi yang sama sekali berbeda.

Pada akhirnya, kita dapat menangkap bahwa SKUT ada sebagai semacam inspirasi bagi orang sehat agar senantiasa bersyukur dan menyayangi orang-orang terdekat. Inspirasi itu dikucurkan dalam wujud sebaskom  penuh tangis yang membuat perih mata penontonnya, bukan oleh katarsis yang mengundang tangis, tapi oleh semacam kegusaran yang tak terjelaskan, mengapa bahan cerita sedemikian elok menjadi korban penggarapan yang kurang teliti.

Surat Kecil Untuk Tuhan | 2011 | Sutradara: Harris Nizam | Negara: Indonesia | Pemain: Dinda Hauw, Esa Sigit, Alex Komang, Dwi Andhika, Ranty Purnamasari

The following two tabs change content below.
Makbul Mubarak

Makbul Mubarak

Mengembangkan dan melestarikan Cinema Poetica untuk belajar lebih seksama. Dari 2009 sampai 2011 aktif sebagai pengurus literasi dan lokakarya di bioskop komunitas Kinoki. Saat ini tengah berusaha menyelesaikan studi pada kajian film dan media di Korea National University of Arts, sempat juga mengikuti program Berlinale Talent Campus 2012. Tulisannya pernah muncul di beberapa media seperti The Jakarta Post, filmindonesia.or.id, Fovea Magazine, dan publikasi Udine Far East Film Festival.
Makbul Mubarak

Tulisan Makbul Mubarak (selengkapnya)

9 Tanggapan

  1. yuli kartika sari 29 September 2011 Reply

    filmnya amat sangat ,menyedihkan sampai menguras air mata… salut buat para pemainnya yg dapat memainkan film trsbt dgn sempurna

  2. Indri Cantika 4 October 2011 Reply

    saya sangat salut sekaligus terharu atas cerita keke tersebut.

  3. yuhendra 15 December 2011 Reply

    kok blm keluar dvdnya gan,,,,,

  4. lussi 4 February 2012 Reply

    Saya sudah baca novelnya , dan ceritanya sangat-sngat mnyedihkan,
    Tapi saya blum nnton DVD’nya karena saya cari2 di toko kaset ktanya lum keluarr :(

  5. alifia 24 February 2012 Reply

    kapan sih SKUT tayang di bioskop ????

  6. avil 20 March 2012 Reply

    terharuunya

  7. Dian purnawaty 30 April 2012 Reply

    Salut banget ngeliat perjuangan seorang gadis yg melawan pnyakit ganas yg mnyerang tubuhnya…

  8. jessica tiffannny 4 July 2012 Reply

    aku terharu melihat perjuangan keke yang melawan penyakit yang sangat ganas dan berakhir menyedihkan<3. tuhan mudah-mudahan keke masih disisi tuhan yang maha esa amain ya robal alamin. keke akan ku kenang engkau ilove you

  9. IIEZ 14 August 2012 Reply

    NANGIS GAK BRHNTI2 PAS NTON FLM ITU

Film baik dikonsumsi sekali sehari. Untuk dosis lebih, kunjungi kami.