“Sebelum Kamu Kenal Hiroshima Mon Amour, Pasti Kamu Pernah Suka American Ninja Kan?”

wawancara-mas-dian_hlgh

Satu hal yang luput dari pengamatan tentang film Indonesia adalah home video. Keberadaan medium pengawet audio-visual dalam berbagai bentuknya—mulai dari kaset betamax, DVD, hingga file unduhan—hanya baru digubris jika terkait dengan urusan hak cipta dan pembajakan. Bioskop seperti XXI boleh saja jadi bulan-bulanan lantaran seenaknya menggusur jadwal pemutaran film Indonesia demi Iron Man. Bioskop-bioskop gurem boleh ditangisi karena makin banyak yang gulung tikar atau dicaplok jaringan XXI.

Tapi boleh jadi pula sebelum mengenal film lewat bioskop, perjumpaan perdana sebagian besar penonton Indonesia—apalagi yang lahir dan/atau besar di era 1990an—dengan film berlangsung lewat wahana rumahan. Apalagi semakin ke sini, orang semakin menonton bioskop untuk alasan-alasan khusus yang bukan sekadar menonton film, entah itu untuk mengejar premiere, mencari pengalaman audio-visual yang lebih lengkap untuk film-film tertentu, hingga berdua-duaan dalam ruangan gelap. Itu baru di kota—kita belum menghitung penonton di desa-desa atau kota-kota kecil yang mengandalkan VCD/DVD di tengah absennya bioskop dan pemutaran publik—apalagi festival film.

Budaya menonton di Yogyakarta terbilang unik. Bioskop jaringan XXI absen selama tujuh tahun, dari tahun 1999 hingga 2006. Sepanjang rentang waktu tersebut, sebagian besar bioskop lainnya, yang kini tumbang satu per satu, hanya mengandalkan film-film esek-esek dan film-film yang lewat masa edarnya. Tentu ada pemutaran berbasis kampus, komunitas, atau ruang-ruang alternatif seperti Kinoki (2005-2011) yang menawarkan pelbagai program pemutaran. Namun yang sering dilupakan adalah keberadaan salah satu penyangga aktivitas-aktivitas pemutaran tersebut: rental film. Sepanjang absennya bioskop besar—sampai taraf tertentu, hingga hari ini—rental menjadi sandaran utama, menyediakan film-film baru dalam bentuk cakram digital, film-film yang tidak akan muncul di bioskop (entah karena rumit atau rentan dituduh asusila), atau film-film dari festival antah-berantah. Salah dua dari sekian banyak rental di Yogyakarta adalah Universal Entertainment dan Sketsa SinemaDeus (kini sudah tutup). Bisa dikatakan bahkan, mereka menyediakan akses yang lebih inklusif bagi sebagian penonton yang sungkan untuk datang ke pemutaran-pemutaran publik.

Akhir 2013 lalu, redaktur Kinology Windu Jusuf mewawancarai Bambang Adrianto (akrab dipanggil ‘Mas Dian’), pemilik rental film Universal Entertainment, dan David Setiawan, mantan pengelola rental Sketsa SinemaDeus (kini sudah tutup). Wawancara ini merupakan bagian dari proyek penulisan sejarah rental film di Yogyakarta. Ditampilkan di sini karena bertautan erat dengan tema perdana Kinology. Berikut petikannya.

Windu Jusuf (WJ): Saya ke sana pertama sekitar tahun 2006. Menurut kabar, rental ini sudah berdiri sejak awal tahun 2000-an. Anda—dan juga Universal—bisa dibilang menyaksikan perkembangan rental film di Jogja, termasuk perubahan-perubahan dalam pola konsumsi home video. Bisa diceritakan awalnya?

BA (BA): Saya ke Jogja tahun 1993. Rental terbesar di tahun-tahun itu Laser 2000 di Jalan Kaliurang. Saya dengar dari penjaganya malah sudah berdiri dari tahun 1990. Tapi di jaman, itu sebagian besar koleksinya VHS dan Betamax. Tapi rental paling tua seingat saya namanya Tara Indah. Mereka rental pertama yang menyewakan Laser Disc. Saya sendiri mulai jadi kolektor sejak tahun 1997 atau 1998. Waktu itu saya masih kuliah dan sudah beli VCD player.

WJ: Apa tutupnya rental-rental ini berkaitan dengan peralihan teknologi? Misalnya dari VHS ke Laser Disc, dari Laser Disc ke VCD, dari VCD ke DVD, hingga ke jaman sekarang di mana orang semakin jarang mengakses film lewat cakram digital karena semakin murahnya akses internet.

BA: Untuk peralihan ke VCD tidak seperti itu. Sebaliknya, rental malah tambah ramai. Karena VCD lebih murah dan praktis. Tapi masalahnya waktu itu, player masih mahal. Itu biasa lah. Penyebab tutup ada di hal lain. Bisnis rental semakin lama semakin mirip wartel. Ini bisnis instan, orang punya modal, menyewakan film-film mereka, jumlahnya tambah banyak, dan setelah itu gulung tikar. Seleksi alam saja, kualitas, pelayanan dst akhirnya lebih menentukan. Coba lihat, sekarang tinggal berapa rental di jogja? Bisnis rental franchise nggak jalan di Jogja. Di tahun-tahun itu, belum ada CD/DVD-RW. Kalaupun ada, harganya masih mahal. Dulu kita jarang kopi film, apalagi download. Kapasitas harddisk juga masih kecil. Soal VCD itu saya juga bingung kenapa bisa didistribusikan ke sini. Kualitas VCD itu masih di bawah kaset video lho.

WJ: Jaman 1990an itu masih banyak bioskop di Jogja? Setahu saya sejak dua bioskop andalan Jogja terbakar, cara orang mengakses film ikut berubah. Salah satunya karena film-film yang diputar di bioskop-bioskop yang masih bertahan adalah film Indonesia lawas, film kelas B, dan film esek-esek, sehingga mereka tidak mencari film baru di bioskop, tapi di rental.

BA: Oh, bioskop XXI? Ya, bioskop Regent dan Empire itu bagian dari bioskop XXI. Tapi mungkin bioskop Regent itu bioskop XXI kualitas dua. Film-film yang diputar sama seperti yang diputar XXI, tapi fasilitasnya beda. Dulu, biasanya kalau Empire ramai, ya saya nonton di Regent. Tentang perubahan itu, saya nggak ngamatin.

WJ: Kalau berkaca dari bioskop di belakang rumah saya, seperti itulah kasusnya. Film-filmnya distok jejaring 21, tapi pemilik bioskopnya beda. Kembali ke Universal, kapan mulai beroperasi? Selain alasan bisnis, apa tujuan Universal didirikan. Saya lihat Anda menyewakan banyak sekali film yang tidak bisa ditemukan di rental-rental lain.

BA: Universal pertama kali buka tanggal 22 Februari 2000. Ceritanya begini. Dulu waktu masih kuliah, uang bulanan saya dulu habis untuk sewa film. Setelah dipikir-pikir, antara sewa dan beli film sama saja keluar uangnya. Yang saya pikir waktu itu adalah bagaimana keinginan nonton tetap tercukupi untuk beberapa waktu ke depan.

Dulu jaman sebelum krisis, saya bisa menghabiskan sampai Rp 120 ribu untuk sewa film. Kiriman saya sebulan Rp 200 ribu. Ongkos kos-kosan saya setahun Rp 250 ribu. Setelah selesai kuliah, tidak ada suplai dana dari keluarga. Kebiasaan menyewa film sebanyak itu bikin pusing juga. Makanya lebih baik saya beli film, terus disewakan. Kepikiran bisnis malah belakangan. Yang penting bisa nonton dulu.

WJ: Saya ingat, di lantai dua Universal yang lama banyak film-film langka. Atau dalam bahasa umumnya, “film-film festival.” Kapan Anda mulai mengkoleksi film-film ini? Bagaimana proses seleksinya?

BA: Film-film seperti itu sudah ada di Universal sejak 2004. Pas pertama kali buka sebetulnya Universal sudah berkeinginan mengkoleksi film-film itu. Tapi dulu kita nggak tahu dapatnya bagaimana. Tahunya film ini diputar di mana, dapat penghargaan apa, dan seterusnya. Tahunya dari internet. Dan, sayangnya, tidak semuanya masuk ke Jogja. .

BA: Dulu kapasitas internet masih terbatas. Untuk dapat film-film itu kita harus barter atau cari ke Jakarta.

WJ: Waktu masih kuliah, saya sering menyewa film di Universal. Ada pembedaan antara film ori [“original”] dan kopian. Mulai kapan sistem itu berlaku? Apakah ada hambatan legal yang dialami secara langsung?

BA: Mulai tahun 2004. Sebelumnya, film-film yang dipinjamkan master [keping DVD/VCD asli] semua, sama seperti rental franchise macam VideoEzy. Tapi di Jogja, sistem ini sudah lama berjalan. Tidak hanya Universal yang melakukan kopi-mengkopi semacam itu. Jaman keemasan VCD dulu, setiap rental biasanya beli lima keping untuk satu judul film. Harga satunya saja Rp 50 ribu. Di Universal saat itu, ketika setiap film dipinjamkan ke pelanggan, deg-degan juga rasanya. Takut hilang atau rusak. Padahal sewanya Rp 3000 per judul—tidak sebanding dengan ongkos beli master-nya.

ASIREFI [Asosiasi Rekaman Film dan Video Indonesia] pernah minta supaya kita jangan mengkopi. Ya saya pun sebenarnya tidak ingin mengkopi. Repot lho, harus beli CD blank, harus bakar, buang waktu, dan seterusnya. Tapi kalau harga VCD semahal itu, cuma bisa berapakali kita sewakan film-film itu? Belum kalau dicuri. Rental-rental franchise itu bisa pakai sistem seperti itu karena modalnya besar, ratusan juta. Nah, sementara rental-rental lain yang modalnya cuma berapa puluh juta nggak bisa begitu.

WJ: Apa tanggapan mereka?

BA: Mereka jawab, “Kami beli lisensinya mahal.” Saya pernah diberitahu kalau film-film yang beredar di Indonesia itu dibeli dengan dua cara. Cara waktu dan kuantitas. Cara waktu misalnya begini: distributor beli lisensi satu judul untuk jangka waktu tertentu, dan selama itu ia bisa mengkopi dalam jumlah yang tidak dibatasi. Cara kuantitas lain lagi: tidak ada batasan waktu, tapi dibatasi jumlah kopiannya. Misalnya 10 ribu keping. Nanti kalau mau ditambah harus lapor lagi. Nah, sekarang yang siapa yang sebenarnya bisa bajak? Mesinnya saja harganya 6 miliar. Nggak seberapa jika dibandikan dengan kita yang mengkopi film dengan mesin ala kadarnya. Franchise di Jogja tidak laku. Dulu ada rental namanya Max. Hancur lebur. Film-filmnya dicolong. Ini Jogja, kota yang UMRnya paling rendah se-Indonesia. Mayoritas pelanggan adalah mahasiswa, yang cenderung ingin barang yang cepat, murah, kualitas bagus.

WJ: Siapa saja pelanggan Universal? Lebih khususnya lagi, siapa saja yang mengakses film-film non-arus utama itu di Universal?

BA: Saya mulai dengan pemikiran sederhana. Kalau saya suka film-film ‘aneh’ seperti ini, pasti ada juga kok orang-orang yang sepikiran dengan saya di luar. Tapi kita nggak tahu aja. Lalu kenapa nggak saya saring aja orang-orang seperti itu? Tapi begini poin saya. Se-tidak-mainstream apapun selera film seseorang, pasti dia mulai dari yang mainstream dulu. Beberapa pelanggan awalnya mencari film-film porno di Universal. Tapi kita nggak pernah menyewakan film biru. Nah, ini juga yang bikin saya khawatir dengan image rental. Saya ingin supaya rental tidak dipandang sebelah mata, seolah-olah rental film sama dengan bokep. Tapi, alhamdulillah, sejak orang ramai mengunduh lewat internet, image rental berubah, karena bokep lebih gampang didapat lewat internet. Polisi sekarang lebih sering razia warnet ketimbang rental.

David Setiawan (DS): Oh, dulu Sketsa awalnya juga meminjamkan film-film saru. Tapi karena risikonya besar, razia bisa sewaktu-waktu, kami ganti dengan film-film arthouse atau festival itu.

BA: Di Universal, pelanggan ‘film-film festival’ ini 90 persen mahasiswa. Kebanyakan dari jurusan Ilmu Komunikasi dan Sastra UGM. Biasanya buat bikin tugas. Karena malas baca buku, mereka nonton filmnya saja. [tertawa] Tapi problemnya memang, awalnya, para pelanggan spesifik itu tidak tahu film mana yang bagus. Tergantung siapa yang menawarkan di rental. Makanya kita sedikit-sedikit sharing ke pelanggan, “Mbak, ini lho coba film-film Eropa.” Lama-lama mereka jadi suka.

WJ: Oke, artinya penjaga harian di Universal diasumsikan punya pengalaman menonton lebih banyak ketimbang pelanggan. Terkecuali juga di Sketsa, saya tidak melihat pola hubungan yang sama di rental-rental lain. Apakah ada ‘edukasi khusus’ buat penjaga? Misalnya, apakah penjaga rental diwajibkan untuk nonton film-film tertentu atau baca bacaan khusus? Bagaimana respon pelanggan?

BA: Oh iya. Karyawan saya biasanya membawa pulang beberapa film. Itu wajib bahkan. Tapi nggak banyak-banyak juga bawanya. Tapi minimal, mereka nonton semampu mereka. Satu film pun boleh. Biasanya pelanggan awalnya ‘coba-coba.’ Mereka selalu bilang ke saya, “Saya coba dulu film ini mas.” Setelah coba satu film, selanjutnya coba yang lain. Kita kasih juga akses internet di rental. Rental-rental lain tidak melakukan ini. Biasanya mereka hanya memajang majalah-majalah film. Kami bikin database lengkap, misalnya terkait film-film ini dapat penghargaan apa saja. Untuk pelanggan, cara ini lebih ampuh daripada memberikan informasi lisan. Biar nanti mereka yang akses. Efeknya lebih kerasa.

Sebenarnya menurut saya film-film yang disebut film festival itu pun punya nilai komersil. Jadi tidak sepenuhnya idealis, sulit dicerna, non-Hollywood, dan seterusnya. Ambil contoh Malena lah. Siapa sih yang nggak suka film itu. Semua jejaka pasti pernah lah mengalami masa-masa menonton Malena. [tertawa] Tapi kita harus sadar juga seleksi dalam festival film. Film-film jelek juga banyak yang masuk festival. Ada juga kecenderungan pelanggan cari film-film itu buat gaya-gayaan.

WJ: Seperti apa seleksi film yang berlaku di Universal? Apa sih pertimbangan merilis sebuah film?

BA: Dulu, asalkan film festival, pasti kita hajar. Nggak peduli itu festival apa.

WJ: Asal ada gambar daun-daun di sambul DVD?

BA: Apapun itu lah. Bahkan Steven Seagal saja kita hajar. Tapi dulu bisa begitu karena film-film di Universal masih sedikit. Sekarang kita lebih selektif. Sekarang saya ngeluarin film sedikit banget lho tiap minggu.

WJ: Festival atau penghargaan apa yang Anda percaya dan bisa dijadikan tolak ukur?

BA: Sebelum tahun 2000, saya masih percaya Oscar. Setelah tahun 2000 macam-macam. Berlin, Tokyo, Sundance. Festival Asia juga bagus-bagus sekarang. Oscar semakin tidak terpercaya. Kalau untuk Amerika, saya lebih percaya Golden Globe. Kasusnya setelah film Beautiful Mind keok di Oscar. Kok bisa-bisanya waktu itu Russell Crowe [pemeran dalam Beautiful Mind] nggak menang. Malah Denzel, Sydney Poitier, dan Halle Berry yang menang—itu pasti politis alasannya.

Sekarang tiap nominasi ada sepuluh film. Jelas didorong motif bisnis juga. Saya bayangkan pelanggan rental atau penonton bioskop berpikir, “Saya dulu nonton lima [film], sekarang harus sepuluh.” Ada lagi yang rancu buat saya: apa sih bedanya kategori Best Foreign dengan Best Picture? Ada kok film yang masuk dua-duanya. Kenapa sih Toy Story bisa masuk Best Animation dan Best Picture sekaligus?

WJ: Anda merekrut karyawan dari mana?

BA: Wah, kita nggak pernah bikin pengumuman lowongan kerja. Karyawan biasanya pelanggan atau bekas pelanggan kok. Mereka sudah biasa menonton. Saya nggak muluk-muluk lah, yang penting mereka suka nonton dulu. Nonton apa saja. Pengetahuan mereka tentang film kan bisa berkembang seiring proses. Tapi cari penjaga itu memang susah. Saya pernah buka dua cabang di daerah selatan Jogja. Terpaksa ditutup karena kekurangan karyawan.

gambar_rental-universal-jogja

Tembok pertama yang pengunjung lihat saat masuk ke rental film Universal

WJ: Bisa ceritakan tentang sistem kerja Universal?

BA: Universal buka dari jam sepuluh pagi sampai dua belas malam. Ada dua shift jaga. Shift pertama dari jam 10.00-18.00, shift II kedua dari jam 18.00-24.00. Masing-masing orang harus dapat sepuluh shift pagi dan sore secara bergantian. Kerjanya dibagi dua tim. Satu jaga rental, satu lagi—yang saya kerjakan—menyiapkan film, bikin cover DVD, dan sebagainya. Upah karyawan saya sesuaikan dengan UMR. Tidak ada tunjangan, tapi ada THR. Dan kalau mereka sakit, saya backup sedikit-sedikit lah.

DS: Ngomong-ngomong soal karyawan, dulu di Sketsa ada penjaga yang spesialis film-film busuk lho. Dia khusus melayani orang-orang yang tanya film-film Steven Seagal.

BA: Jujur saja, pasti kita semua mulai dari situ kok. Sebelum kamu kenal Hiroshima Mon Amour, pasti kamu pernah suka American Ninja kan? Ini kan masalah kita berproses aja. Kamu mau stuck nonton film yang itu-itu aja boleh kok. Tapi kebetulan ada rental seperti Universal atau Sketsa yang bisa memberikan alternatif tontonan. Makanya, kalau ada pengunjung yang masih cari film-film Steven Seagal, biasanya kita tawarkan yang lain. Film-film The Rock misalnya. Lebih oke kan? Dari film-film The Rock, kita kasih komedi. Lalu drama. Setelah setahun-dua tahun kita mulai tawarkan film-film Eropa.

Universal sekarang pindah ke pinggir Jalan Gejayan, pusatnya penjual handphone. Ini juga penting. Kalau mau dilihat pelanggannya, kemajuan mereka lumayan pesat. Mas-mas counter HP itu dulunya cuma lihat film action. Sekarang sudah mulai nonton komedi, drama, dan seterusnya.

DS: Dulu ada juga pelanggan Sketsa yang sehari-harinya jualan sate di pasar Lempuyangan. Malam setelah dagangannya habis, biasanya dia main ke Universal. Awalnya ya begitu, pinjam film-film action. Terus, lama-lama dia pinjam komedi erotis macam Sex and Zen. Makin lama, film-film yang dia pinjam makin serius.

BA: Belakangan yang saya lihat mengalami kemunduran malah pelanggan mahasiswa. Miris saya. Masak ada mahasiswa yang protes karena subtitle filmnya berbahasa Inggris.

DS: Di Sketsa terjadi juga kasus seperti itu. Saya tanya dia jurusan apa. Dia bilang jurusan HI [Hubungan Internasional] UGM. Huh, pengen saya bully rasanya.

BA: Sekitar lima hari yang lalu, ada anak sastra Prancis nggak jadi pinjam film yang dia cari gara-gara subtitle-nya bahasa Inggris. Saya iseng tanya balik, “Kalau subtitle Prancis mau nggak, Mbak?” Wah ternyata tambah nggak mau. Padahal nggak ada juga sih. [tertawa] Miris saya, semakin lama semakin banyak pelanggan mahasiswa yang kayak begini. Harusnya untuk mereka bahasa bukan lagi kendala. Makin susah diedukasi kan?

WJ: Kalau tidak salah, dulu Universal sempat bikin ruang menonton kecil di samping rental.

BA: Sebetulnya, ide bikin bioskop kecil itu awalnya dari pelanggan. Pengennya ada forum kecil-kecilan, untuk nonton dan ngobrolin film. Tapi nggak berlanjut. Masalahnya nggak ada yang ngurus. Nggak ada yang konsen ke sana.

WJ: Ada kerja-kerja programming di bioskop itu?

BA: Nggak ada. Film-film yang diputar di situ murni permintaan pelanggan saja.

WJ: Bagaimana selama ini hubungan antara Universal dengan komunitas film setempat? Setahu saya, Universal cukup dekat dengan komunitas. Saya pun tahu Universal dari komunitas.

BA: Sampai sekarang kami masih support pemutaran. Kerjasama pemutaran dengan Lesbumi, misalnya. Paling saya hanya support film dan titip banner Universal. Komunitas Gus Durian juga kami support. Sangar lho mereka. Mereka bikin screening dari desa ke desa. Saya sempet datang ke pemutaran mereka yang bisa sampai ke pelosok, salah satunya di tempat asal istri saya, di Jurang Jero, Klaten. Beberapa waktu yang lalu sempet saya ketemu Alyssa Wahid. Saya minta ke dia daftar film kesukaan Gus Dur. Gila film lho dia. Dulu sering bolos kuliah di Irak gara-gara nonton. [tertawa]

WJ: Lantas bagaimana hubungan dengan para pembuat film Jogja? Kira-kira dulu mereka cari film apa sih?

BA: Wah, banyak yang sudah sudah lost contact. Dulu Ismail Basbeth sering main ke sini. Yang lain banyak, tapi saya lupa-lupa ingat. Kalau pun ada pengaruh dari film yang mereka pinjam, akan susah dilacak. Biasanya sih kita ngobrol-ngobrol aja. Jujur saja, saya kurang perhatian dengan festival lokal yang melibatkan sutradara-sutraara lokal ini, kecuali film-film FFI karena diputar di bioskop. Problemnya satu: akses. Susah cari film-film itu. Download? Download di mana? Mau minta juga bingung minta ke siapa? Kadang memang ada yang kasih film, tapi tidak saya keluarkan di rental. Pastinya, saya selalu menghargai produk lokal. Cek saja di rental. Saya tidak pernah mengeluarkan produk lokal di rental tanpa ijin sutradara atau pihak yang bertanggungjawab.

WJ: Termasuk film-film Indonesia?

BA: Percaya atau tidak, saya udah nggak pernah beli film Indonesia lagi. Kecuali klasik dan itu saya keluarkan di Universal—masih ada 400an judul yang belum dikeluarkan malah. Terakhir saya dapat Cincin Berdarah. Entah kenapa saya lebih suka film-film Indonesia lama daripada yang baru-baru.

Nah, ini nyambung ke pertanyaan sebelumnya. Belakangan ada kejadian menarik di Universal. Suatu sore, ada bapak-bapak tua cari film Gadis-Gadis Pelaut. Saya jawab: “Oh ada Pak, tapi masih di rumah, belum saya pindahkan ke rental. Buat screening, Pak?” Dia jawab, “Nggak mas, kebetulan itu film saya.” Ternyata itu Imam Putra Piliang. Saya cek di internet, dia pernah bikin 16 film, salah duanya Johnny Indo dan Gadis-Gadis Pelaut. Sudah sepuh orangnya. Kalau ada waktu, coba ajak ngobrol saja dia. Dikorek-korek saja. Gila, jaman segitu bisa garap film Enny Beatrice! Enny Beatrice jaman segitu sama kayak Dian Sastro jaman kita sekarang. Aktris mahal itu lho. Sutradara kawakan itu! Saya tanya ke dia, “Pak, film Indonesia sekarang lebih bagus dulu atau sekarang?” Jawabnya: “Lebih bagus sekarang, tapi lebih kreatif dulu.”

WJ: Beberapa tahun terakhir, orang lebih mudah mengakses film lewat internet. Saya lihat banyak juga rental yang tutup. Tempat-tempat seperti warnet malah sekarang menyediakan film. Apakah ini berpengaruh ke Universal?

BA: Besar pengaruhnya. Tahun 2010-2011, Universal nyaris ambruk. Jumlah pelanggannya merosot. Tahun 2012 pulih lagi.

WJ: Bisa dijelaskan kenapa?

BA: Ya sekarang logikanya begini aja: kamu pilih download atau bayar Rp 3000? Sorry ya, orang Indonesia kan latah. Satu download semua download. Tapi yang jelas, banyak pengunjung lama kembali ke rental. Banyak juga sih pengunjung baru. Kembali ke prinsip awal: konsumer Jogja ingin produk yang murah, bisa diperoleh dengan cepat, dan bagus. Mungkin lewat download, kamu bisa dapat film bagus. Tapi pertanyaannya: murah nggak? Cepat nggak?

Ya kami juga pakai internet. Download juga, tetap memanfaatkan internet. Tanpa itu nggak akan berkembang. Promosi juga lewat facebook. Selain itu, kami juga meningkatkan kualitas. Kalau bisa beli ya saya beli. Kalau ada file yang bagus di internet ya tinggal download. Nah, film-film di warnet itu kan kualitasnya nggak besar.

DS: Saya sendiri melihat pelanggan sebetulnya membutuhkan semacam petunjuk dan ritual. Meskipun ada banyak sekali film di database warnet, mereka kan belum tentu tahu film apa saja yang harus dikopi. Ujung-ujungnya mereka balik ke kita dan tanya film apa yang layak ditonton. Nah, rental punya kelebihan itu. Dan ngobrol-ngobrol antara penjaga dan pengunjung seperti ini sudah jadi ritual yang tak tergantikan di rental.

BA: Selain itu, memang ada saja pelanggan yang kepingin ngobrol dan itu tidak difasilitasi oleh warnet. Kemarin kita sempat dapat limpahan pelanggan dari MovieBox [rental di Yogyakarta yang menyediakan fasilitas ruang menonton]. Di MovieBox, sebetulnya mereka cari referensi film tertentu, tapi tidak bisa didapatkan di sana. Ya akhirnya lari ke kita.

DS: Oh seringkali juga begini. Banyak juga lho, orang yang ke rental cuma untuk ngobrol. [tertawa]

BA: Ya, mungkin itu juga yang nggak ada di rental-rental lain. 

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (4)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend