Say Anything: Muda, Beda, dan Jatuh Cinta

say-anything_highlight

Tahun 1980an akan selalu dikenang Hollywood sebagai periode kejayaan film remaja. Hal tersebut bisa terjadi berkat perkembangan industri film pada tahun 70an, ketika film-film sains-fiksi dan horror diproduksi secara massif. Praktis, remaja banyak membanjiri bioskop. Mereka yang paling menikmati hiburan instan yang ditawarkan film-film genre tersebut. Oleh karena itu, tinggal menunggu waktu saja Hollywood memproduksi film tentang remaja. Hal itu benar kejadian pada tahun 1978, ketika John Landis merilis Animal House. Premis filmnya sederhana: sekelompok pria loser ingin diterima oleh kelompok elit di sekolahnya. Para pecundang tersebut kemudian rela melakukan hal-hal gila, asalkan mereka bisa memperoleh pengakuan dari teman satu sekolahnya yang lebih populer. Premis sederhana ini kemudian menjadi cetak biru bagi film-film remaja di dekade setelahnya.

Fast Times at Ridgemont High (1982), Porky’s (1982) dan Revenge of the Nerds (1984) adalah tiga film yang dengan sukses memakai ulang premis yang ditetapkan Animal House. Ketiganya menjadi katalog bagi elemen-elemen yang dominan dalam film remaja dekade 80an: laki-laki pecundang, perempuan cantik, geng anak populer, perilaku anarkis, pengakuan sosial, dan perkembangan seksual. Elemen terakhir yang kemudian dieksploitasi habis-habisan, sehingga banyak film-film remaja mesum yang dirilis ke publik. Perkembangan ini memiliki dua implikasi. Pasar film remaja jadi sangat jenuh. Banyak film remaja jadi seragam dalam empat hal: seks, dialog mesum, melodrama dan perempuan berkurva indah. Bisa dibilang, kejenuhan ini terasa hingga sekarang. Bagusnya, kejenuhan tersebut kerapkali jadi platform bagi beberapa sutradara visioner untuk membuat film remaja yang introspektif; suatu label yang saya buat sendiri untuk film-film yang menampilkan remaja yang lebih banyak memikirkan tentang masa mudanya, ketimbang menjalaninya. Ketika mereka kembali ke dunia nyata, mereka mati-matian mempertahankan prinsip mereka di tengah labirin kehidupan remaja.

Cameron Crowe adalah salah satu sutradara visioner tersebut. Sekarang ia lebih dikenal sebagai sutradara yang secara ciamik menangkap dinamika kehidupan 90an lewat Singles (1992), keruewtan romansa kelas menengah dalam Jerry Maguire (1996), dan lika-liku jurnalisme musik dalam Almost Famous (2000). Namun banyak yang melupakan kalau ia memulai kariernya di genre film remaja. Di awal tahun 80an, ia menulis sebuah naskah dan menjualnya ke Amy Heckerling untuk disutradarai menjadi sebuah film remaja berjudul Fast Times at Ridgemont High. Seperti yang dijelaskan di atas, film tersebut menjadi batu penjuru bagi film-film remaja di jamannya. Dianggap memiliki gaya yang orisinil, Crowe dipercayai dengan bujet 16 juta dollar oleh seorang produser. Hasilnya adalah Say Anything.

Film debut Crowe tersebut sukses mengorbitkan John Cusack dan lagu In Your Eyes karya Peter Gabriel. Cusack kita kenal sebagai aktor serba bisa yang pernah bermain di film-film sukses macam The Grifters (1990), The Player (1992), Being John Malkovich (1999) dan High Fidelity (2000). Terakhir, kita melihatnya berpartisipasi dalam 2012, film kiamat yang menggegerkan penonton di seluruh dunia. Singkatnya, hampir tidak ada penggemar film yang tidak tahu siapa itu John Cusack. Di sisi lain, lagunya Peter Gabriel kemudian dinobatkan sebagai salah satu balada terbaik yang pernah ditulis umat manusia. Lagu tersebut diabadikan dalam ratusan album kompilasi lagu-lagu romantis, yang pada akhirnya menjadi tiket masuk Gabriel ke industri musik populer. Suatu prestasi yang mencengangkan mengingat Gabriel menghabiskan tiga per empat kariernya di musik etnis dan rock progressif, dua genre musik yang konsumennya sangat eksklusif.

Laki-laki Feminin

Kesuksesan keduanya menjadi petunjuk betapa pentingnya peran mereka dalam Say Anything. John Cusack berperan sebagai protagonis cerita, sementara lagu In Your Eyes sebagai elemen kunci yang menjelaskan keseluruhan film. Filmnya sendiri sangat formulaik: ada seorang pria yang tidak tahu mau apa setelah lulus SMA, dia jatuh cinta dengan gadis paling berprestasi di sekolahnya, dan kemudian mati-matian memenangkan hatinya. Cerita seperti itu bisa ditemui di jutaan film remaja lainnya. Bagusnya, Crowe mengakali familiaritas ceritanya dengan membingkai protagonis ceritanya tidak sebagai pecundang mesum anarkis, model karakter yang sangat populer di dekade 80an, tapi sebagai laki-laki feminin.

Laki-laki feminin maksudnya adalah laki-laki yang berkembang dengan emosi-emosi yang lebih sering diasosiasikan dengan perempuan. Dengan cerdas dan sedikit konyol, Crowe menunjukkan femininitas protagonisnya di adegan pembuka, dimana Lloyd (karakter yang diperankan John Cusack) mengakui kalau ia jatuh cinta pada Diane ke teman-teman perempuannya. Pola dalam adegan ini diulangi terus sepanjang film dan menjadi pola kunci bagi perkembangan karakter Lloyd. Sampai akhir film, kita tidak pernah melihat Lloyd punya hubungan yang akrab dengan teman-teman sejenisnya. Malah ia selalu terlihat berjarak dengan laki-laki di sekitarnya, entah karena tidak percaya, tidak paham, atau memang merasa tidak cocok saja. Kita selalu melihat Lloyd bersama teman dan kakak perempuannya. Pada mereka, Lloyd bercerita tentang kejadian-kejadian yang ia alami bersama Diane dan pengaruhnya bagi dirinya sendiri.

Kesadaran Lloyd akan narasi hidupnya membuatnya jadi suatu karakter yang unik. Dia tidak saja unik pada tahun 80-an, tapi juga di film remaja kontemporer secara umum. Bisa dibilang film remaja kontemporer didominasi oleh protagonis yang maskulin. Dalam kasus ini, maskulinitas tidak saja dipahami lewat emosi-emosi yang ada dalam diri protagonis, tapi juga dari penggambaran sinematik usaha protagonis mengejar pujaan hatinya. Perkembangan protagonis maskulin digambarkan melalui tindakan. Lihat bagaimana film remaja kontemporer memprioritaskan kesulitan, atau kekonyolan dalam komedi, seorang protagonis ketika sedang mencoba mendekati pujaan hatinya. Fokus film-film tersebut ada pada tindakan protagonis, dan bagaimana ia secara fisik menjalankan niatnya. Hal ini pada perkembangannya membingkai hubungan romantis dalam kebanyakan film remaja sebagai aktivitas yang sangat bergantung pada hasil akhir. Kalau jadian berarti happy ending, kalau tidak berarti tragedi.

Metode bercerita seperti itu saya kira banyak diterapkan bukan saja karena mayoritas lelaki memang begitu, tapi juga karena metode tersebut yang paling bersahabat dengan medium film. Film adalah medium visual, dengan suara yang difungsikan sebagai pendukung gambar. Dengan menempatkan tindakan sebagai sarana perkembangan karakter, sutradara tidak perlu terlalu berfokus pada dialog dan tinggal merencanakan kegiatan fisik apa saja yang bisa terjadi dalam suatu adegan romantis. Alhasil, tak jarang kita mendapati film-film remaja kontemporer yang tak lebih dari serangkaian adegan fisik yang romantis, erotis, hingga anarkis. Kebijakan ini menghasilkan film-film remaja yang lebih menarik mata, lebih bisa dinikmati tanpa perlu berpikir panjang mendengarkan dialog, dan tentu saja lebih komersil.

Crowe memilih mengambil jalan yang lebih terjal. Ia tekankan adegan Lloyd bercerita dengan teman dan kakak perempuannya. Penekanan tersebut terlihat bagaimana adegan-adegan antara Lloyd dan Diane selalu berakhir pada ambiguitas. Tidak jelas apakah keintiman yang Lloyd alami dengan Diane berpengaruh baik atau tidak bagi hubungan mereka. Respons Lloyd setelah itu pasti bercerita kepada teman atau kakak perempuannya. Lewat kegiatan bercerita tersebut, Lloyd jadi bisa melihat bagaimana selama ini hidupnya berjalan, dan perubahan-perubahan apa saja yang Diane bawa dalam hidupnya. Dengan begitu, Lloyd tidak sedang berpikir sebagai laki-laki, karena ia tidak mengorientasikan hubungannya dengan Diane pada hasil akhir. Melainkan, ia melihat hubungan tersebut sebagai sebuah titik dalam kehidupan keduanya, yang bakal berpengaruh bagi kehidupan keduanya, entah sendiri-sendiri entah bersama, ke masa depan. Laki-laki tidak berpikir seperti itu, hanya perempuan yang biasa begitu.

Cerita Bersama

Dengan kerangka berpikirnya yang feminin, Lloyd melihat hubungannya dengan Diane sebagai suatu penulisan cerita bersama, dan dia ingin ceritanya berlanjut bahagia bersama gadis pilihannya. Sejak bersama Diane, Lloyd menemukan fokus bagi kehidupannya yang tak terarah. Ia ingin ceritanya berlanjut bahagia seperti itu. Di sisi lain, Diane menemukan dalam diri Lloyd sentimentalitas yang tak pernah ia rasakan, karena hidupnya yang habis untuk belajar, belajar dan belajar. Keduanya saling melengkapi satu sama lain. Oleh karena itu tidak heran ketika ditanyai bapak Diane, usai membanggakan prospek cerah anak putrinya, apa yang ingin ia lakukan dalam hidupnya, Lloyd menjawab, “what I really want to do with my life is to be with your daughter. I’m good at it.

Oleh karena itu lagu In Your Eyes menjadi penting. Lagu tersebut mewakili bagaimana Lloyd dan Diane saling melengkapi satu sama lain. Satu-satunya masalah mereka adalah bapaknya Diane. Dia tidak merestui hubungan anaknya dengan Lloyd, karena baginya Lloyd bukanlah pasangan yang tepat bagi anaknya. Ia mengganggap Lloyd hanyalah distraksi bagi Diane, yang akan mengalihkan putrinya dari dirinya dan masa depan yang ia rencanakan bagi putrinya. Jadilah Diane tertekan dan terpaksa berpisah dengan Lloyd. Respons Lloyd adalah meyakinkan dirinya apakah ia masih cinta, tentu saja dengan bercerita pada teman perempuannya. Itu mudah dilakukan. Langkah berikutnya lebih sulit: meyakinkan Diane. Lloyd pun memilih mencari tempat strategis di sekitar rumah Diane, dan memutar keras-keras lagu In Your Eyes lewat sebuah mini compo. Diane hanya bisa terenyuh ketika mendengar lirik, “In your eyes, the light the heat, in your eyes, I am complete…

Dengan memutar lagu tersebut, Lloyd sebenarnya sedang mengkomunikasikan tiga pesan. Pertama: “Kita pernah bahagia dan lagu ini saksinya”, yang merujuk pada kejadian mereka pertama kali bercinta di mobil diiringi lagu tersebut. Kedua: “Aku akui kita cocok dan aku harap kamu juga berpendapat serupa”, yang merujuk pada kecocokan mereka selama beberapa minggu mereka bersama sebelum terpaksa pisah. Ketiga: “Lupakan semua ini, ayo kita lanjutkan cerita kita bersama”. Pesan terakhir inilah yang menjadi harapan Lloyd, dan harapannya itu terkabul.

Say Anything | 1989 | Sutradara: Cameron Crowe | Negara: Amerika Serikat | Pemain: John Cusack, Ione Skye, John Mahoney, Lili Taylor, Amy Brooks, Pamela Aldon

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend