Red Fairy n the Holy Ghost: Perempuan, Bukan Penyihir

red-fairy-n-the-holy-ghost_highlight

Red Fairy n the Holy Ghost dibuka dengan pemandangan mengerikan. Seorang perempuan dipenggal kepalanya oleh seorang pria. “I believe she is a witch, so I cut her head. She has eaten and killed all my family members. Just now I have killed her, jawab si pria.

Ada sebuah kepercayaan di kawasan pinggiran India yang beranggapan bahwa “penyihir” merupakan muara dari segala penyakit, nasib buruk, dan tulah yang menimpa desa. Jika stigma “penyihir” ini sudah melekat pada perempuan tertentu, fatal akibatnya. Ia harus bersiap menghadapi tuduhan dan perlakuan yang kejam. Chhutni Mahtain menjadi perempuan pertama yang terang-terangan menentang tuduhan penyihir. Dicurigai “penyihir” karena sudah lama tak bersuami, ia dipaksa makan kotoran manusia dan minum air kencing. Merasa tak bersalah, Chhutni tak gentar. Ganjarannya: ia hampir dibakar hidup-hidup dalam rumahnya sendiri. Pengalaman pedih tersebut membuatnya pergi dari kampung halamannya untuk mencari perlindungan hukum, tak saja untuk menyelamatkan dirinya, tapi juga perempuan-perempuan lain yang bernasib serupa. Ini menjadi garis besar cerita Red Fairy n the Holy Ghost.

Balaka Ghosh, sang sutradara, merupakan pembuat film dokumenter yang cukup produktif. Selain Red Fairy n the Holy Ghost, Balaka sudah membuat The Vehicle with the Soul of Man (1999), An Ode to Dear Sunita (2001), Dreaming of Big Fat World (2001), dan juga Mother Media and Landmines (2007). Jika The Vehicle with the Soul of Man dan Dreaming of Big Fat World membahas tentang kebudayaan India, maka tiga filmnya yang lain bertutur mengenai pergulatan perempuan di India. Melalui Chhutni dalam Red Fairy n the Holy Ghost, Balaka mencoba menunjukkan sisi lain India. Meski dikenal sebagai negari kaum intelek tingkat Nobel, India ternyata adalah negeri yang kolot dan tertutup. Mayoritas penduduknya masih dikungkung tradisi dan belum melek perihal kesetaraan dan kemanusiaan. Menurut garis waktu dalam film, peristiwa naas yang menimpa Chhutni terjadi pada tahun 1991. Baru lima tahun kemudian ia bisa melakukan langkah nyata untuk melawan secara legal dengan bantuan seorang pengacara.

Cara Balaka meracik dan mengembangkan filmnya sangat sederhana. Awalnya ia membiarkan plot dari Chhutni Mahtain sebagai protagonis mengapung bebas, seiring harapan dan tekadnya yang dengan berani menyuarakan pengalaman dan ketertindasannya. Lewat sekuens gambar dan tuturan para korban, keterkungkungan itu pun hadir. Sisanya, ketegangan antara masyarakat desa yang masih mempercayai mitos tentang penyihir dan seorang perempuan yang dianggap biang keladi segala sengsara.

Baru kemudian film perlahan-lahan memetakan relasi sosial di sekitar tubuh perempuan di sana. Terlihat bagaimana penindasan terhadap “perempuan penyihir” bersumber dari wewenang dukun dan kepala desa. Beberapa “perempuan penyihir” yang meminta pertolongan dukun hanya akan diampuni jika melakukan ritual tertentu. Salah satu di antaranya adalah menyiksa tubuh dengan berguling-guling dan mengucapkan mantra.

Julia Kristeva pernah menulis tentang horor dan abjeksi. Apabila penyihir dianggap masyarakat pinggiran India sebagai sumber ketakutan, mereka adalah liyan yang diabjeksi, yang ditolak dan disingkirkan karena tidak sesuai dengan citraan ideal masyarakat desa. Chhutni melihatnya sebagai pembenaran atas kepentingan untuk menindas perempuan entah dengan motif merebut tanah, pemerkosaan, maupun kebencian pribadi. Bersumber dari otoritas kepala desa dan sang dukun, budaya patriarki tak ayal lagi membuat para “perempuan penyihir” harus minggat dari desa demi menyelamatkan diri. Tak ada warga kampung yang sudi menolong mereka. Abjeksi dan horor ini yang hendak dihapuskan Chhutni dengan mengumpulkan para korban, untuk kemudian melakukan aksi protes dan pendampingan bersama perempuan-perempuan lainnya.

Dalam film kita dapat melihat jika sang korban stigma kemudian punya keberanian berbicara. Chhutni membantu mereka menyuarakan kembali apa apa yang selayaknya dinikmati perempuan bebas. Akhir film ini menarik. Chhutni kembali ke kampungnya. Ingatan-ingatan akan kesengsaraan dan kepedihan membuatnya disesaki perasaan benci; ia enggan menunjuk rumah orang-orang yang dulu menuduhnya. Namun, finale ini juga menyiratkan optimisme—Chhutni tetap pulang.

Red Fairy n the Holy Ghost | 2011 | Sutradara: Balaka Ghosh | Negara: India

Film ini diputar di Festival Film Dokumenter 2012, Taman Budaya Yogyakarta, 10-15 Desember. Jadwal pemutaran selengkapnya dapat diakses di sini.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend