Precious: Gue Emang Nggak Cakep, Tapi Lo Nggak Adil

precious-film_hlgh

Jangan kira karena dibintangi aktor kulit hitam, maka film ini akan mengangkat posisi orang kulit hitam  yang selama ini selalu dinomor-duakan secara sosiologis terutama di Amerika Serikat. Precious (hanya) sebentuk pelafalan singkat tentang perjuangan Clareece “Precious” Jones menghalangi segala macam serangan dari lingkungan. Kasihan sekali, karena Precious digambarkan bak sebongkah magnet besar yang mengundang apapun untuk menggerogotinya. Di rumah Clareece, penyakit bias genetik khas masyarakat Amerika Modern bersarang, Clareece hamil dan orang yang dicurigai menghamilinya adalah Ayahnya sendiri, entah ayahnya atau hanya pacar ibunya.

Masalahnya merembet karena akibat kondisinya itu, Clareece dikeluarkan dari sekolah dan harus mencari sekolah baru. Saya mencibir disepanjang film ini dan bergumam “Clareece ini belum benar-benar menderita, ia masih punya lembaga sosial untuk curhat, ia bahkan curhat pada Mariah Carey! Mungkin ada jutaan anak yang bernasib lebih buruk di Indonesia dan mereka bahkan tak pernah dengar nama Mariah Carey; tak ada lembaga sosial yang berani bermuka tebal membela mereka”.

Atas bantuan lembaga sosial tersebut, Clareece didaftarkan pada sebuah sekolah baru dimana semua anak-anaknya memang bermasalah seperti dirinya. Ajaibnya, ketika orang-orang bertabiat mirip dikumpulkan, maka hasilnya akan gilang-gemilang. Clareece diterima oleh sahabat-sahabat barunya dan mereka tampak tak punya masalah apa-apa (kecuali kebebalan akademis). Kompak dan bersahabat, dimata Clareece mereka tampak bisa mendukungnya untuk mencapai impiannya, yang ia nyatakan diawal film “My name is Clareece “Precious” Jones. I wish I had a light-skinned boyfriend with real nice hair. And I wanna be on the cover of a magazine. But first I wanna be in one of the BET videos. Momma said I can’t dance. Plus, she said who wants to see my big ass dancing, anyhow?” Impian yang terbatas ras; menjadi terkenal adalah impian setiap remaja hari ini, bukan?. Kalimat Clareece itu kemudian diikuti dengan visualisasi yang membuat saya menganga, Clareece memaksa kita untuk merusak standar yang telah lama kita pelihara tentang penampilan jasmani: Clareece dengan bodi tambunnya melenggak penuh gaya diatas catwalk, serangkaian ironi visual yang seperti menudingkan telunjuk persis kedepan mata saya seraya berkata “Lihat gue, kalau menurut lo gue nggak cantik, itu terserah lo. Tapi kalau lo bilang gue gak boleh bergaya seperti ini. Lo nggak adil. Lo pantas masuk penjara.

Namun seperti kuatnya Clareece mengundang masalah, sekuat itu pula ia mengundang orang-orang disekitarnya untuk bersimpati. Ia bergelantungan bimbang ditengah struktur sosial warga Amerika Serikat yang menjebak tetapi juga memberikan jalan keluar diwaktu yang bersamaan. Tak bisa dibantah bahwa kondisi keluarga Clareece yang mengerikan juga adalah hasil dari formasi suprastruktur masyarakatnya secara keseluruhan. Ayah yang tidak jelas juntrungannya serta Ibu yang kerjaannya marah-marah melulu tentu tidak bisa kita serahkan saja pada argumen “Ah, itu kan masalah pribadi, karakter personal”. Karena kejadian Clareece bukan hanya kasus tunggal, ia terjadi diseluruh daratan negeri Paman Sam. Bahkan juga dinegara lain.

Precious bersentuhan dengan konteks sosial yang luas, yang oleh sutaradara Lee Daniels direduksi menjadi film yang memungkinkan buat ditonton semua orang. Mungkin karena itu Oprah Winfrey bersedia memproduserinya, dan mungkin karena itu pula Precious menang banyak sekali pernghargaan. Too much to be True, dua penghargaan Academy Awards dan 70 penghargaan lainnya.

Precious: Based on the Novel “Push” By Sapphire | 2009 | Sutradara: Lee Daniels | Produksi: Lee Daniels Entertainment, Smokewood Entertainment Group, Lionsgate | Negara: Amerika Serikat | Pemeran: Gabourey Sidibe, Mo’Nique, Paula Patton, Mariah Carey, Sherri Shepherd.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend