Pendekar Tongkat Emas: Kelahi Juga Butuh Strategi

pendekar-tongkat-emas_hlgh

Malam di hamparan sabana terlihat dingin menggigit, namun Pendekar Cempaka malah pucat bersimbah keringat. Segera Ia kumpulkan keempat muridnya di pemondokan utama perguruan Tongkat Emas, sudah saatnya menyampaikan ‘wasiat’. Adalah Biru dan Gerhana, dua murid senior perguruan ini yang mulai waswas menahan nafas mendapati bungkusan kain berbentuk tongkat di hadapan Cempaka. Begitupun dengan Dara dan Angin, kakak beradik seperguruan yang masih berstatus junior, mengerling setengah takjub setengah penasaran ke arah tongkat emas di tangan gurunya.

Kendati pewaris tongkat ini belum diumumkan, agaknya keempat murid sudah memperkirakan Biru yang akan terpilih. Alasannya jelas: dia paling senior, paling terampil bertarung, paling berwibawa pula. Tak ada kriteria pewaris yang tidak dipenuhi Biru. Tetapi, “Tongkat ini aku serahkan kepada Dara,” pungkas Pendekar Cempaka. Kini giliran Dara yang pucat.

Pendekar Tongkat Emas adalah sebuah upaya menghidupkan kembali kerinduan akan cerita silat yang menjamur di Indonesia dekade 70-80an. Kala itu, hubungan antara masyarakat dengan dunia persilatan memang cukup akrab lewat medium komik hingga film. Sebutlah beberapa cerita populer seperti Saur Sepuh dan cerita-cerita Kho Ping Hoo, yang dalam perkembangannya berperan penting mewarnai percaturan sinema Indonesia, sembari membaur bersama genre lain dan membentuk corak-corak perfilman baru. Pendekar Tongkat Emas sendiri merupakan peleburan genre laga dengan drama. Sebuah nostalgia romantis akan epos klasik yang sempat membanjiri nadi sinema Indonesia.

Meski begitu. Sebagai film laga-drama, Pendekar Tongkat Emas tidak menawarkan kebaruan apa-apa. Alur ceritanya amat sederhana dengan cakupan tiga babak: perkenalan, konflik, resolusi. Sebuah formulasi yang sering kita jumpai di film manapun, dari klasik hingga mutakhir. Khusus untuk genre laga, formula ini biasanya diawali asumsi bahwa penonton akan lebih terfokus pada adegan baku hantam ketimbang rangkaian drama dan ceritanya.

Pendekar Tongkat Emas sendiri lebih didominasi oleh adegan drama. Sementara adegan laga yang terbilang intens hanya memakan waktu sekitar sepertiga durasi film. Tidak banyak. Bahkan jumlahnya dapat kita hitung dengan sebelah tangan. Misalnya adegan Biru dan Gerhana mencegat perjalanan Cempaka, Dara, dan Angin untuk merebut tongkat emas; adegan Elang mengobrak-abrik markas rentenir; dan adegan pertarungan hidup mati Biru-Gerhana versus Dara-Elang di penghujung film (yang syutingnya konon memakan waktu dua minggu). Selebihnya adalah drama dengan muatan dialog berbahasa baku yang pengucapannya kadang-kadang terdengar kaku. Dan yang paling menggemaskan, pertarungan hidup-mati Angin sebelum ia tewas sama sekali tidak diperlihatkan. Padahal ini krusial.

Siasat Makan Tuan

Mengingat film ini digawangi oleh jajaran aktor/aktris handal di genre drama, meminta mereka bertarung sama handalnya dalam adegan laga tentu bukan perkara mudah. Di satu sisi, aktor/aktris spesialis laga di dunia sinema Indonesia sendiri nyaris punah. Barangkali kita diam-diam merindukan sosok pendekar seperti Barry Prima atau Advent Bangun, yang kemunculannya semakin langka seiring waktu berjalan, sementara proses regenerasi kian terhambat keterbatasan jumlah aktor/aktris penerus.

Di sisi lain, kemunculan aktor laga mutakhir seperti Iko Uwais atau Yayan Ruhian merupakan hal yang kita patut sambut positif, meski pola pendekatannya menjadi terbalik. Artinya, ketika Nicholas Saputra dan Reza Rahadian harus pontang-panting mempelajari teknik koreografi bela diri, Iko dan Yayan juga harus mati-matian mempelajari teknik berakting dan seni peran. Sebuah konsekuensi logis dengan tidak adanya aktor/aktris all-in-one yang beredar di dunia sinema tanah air.

Tapi benarkah di situ inti permasalahannya? Benarkah Pendekar Tongkat Emas jadi lemah hanya karena dimainkan oleh aktor/aktris yang tidak memiliki latar belakang bela diri? Padahal, ketika peleburan antar dua genre adalah sesuatu yang sudah seringkali terjadi dan kita menganggapnya wajar, maka wajar pula ketika aktor/aktris meleburkan aspek drama dan bela diri sebagai salah satu proses kreatif yang wajib mereka tempuh. Aktor/aktris tidak memiliki kecakapan bela diri, tidak terlalu masalah. Aktor/aktris tidak pernah memainkan adegan laga, pun tidak terlalu masalah. Tantangannya ada pada pembuat film; mampukah ia membingkai gerakan dan koreografi mereka dalam ruang cerita filmnya? Pasalnya, setengah dari film laga adalah gerakan tubuh para pemainnya. Setengahnya lagi adalah gerakan kamera yang pembuat film arahkan.

Sejalan dengan pernyataan tersebut, Pendekar Tongkat Emas sayangnya bertarung tertatih-tatih akibat teknik pengambilan gambar yang kurang optimal. Ada yang mengganjal ketika pembuat film terlalu banyak menggunakan medium shot dan close up, terlalu mengekang perspektif penonton secara sempit, terutama saat adegan pertarungan. Cara ini mungkin dilakukan demi menyiasati kemampuan bertarung aktor/aktris. Namun, teknik pengambilan gambar yang cenderung monoton seperti itu rentan memusingkan kepala penonton. Ditambah lagi permainan sulap meja editing berupa slowmotion dan fast-forward, membuat banyak adegan pertarungan dalam film ini jauh dari kesan natural.

Konsekuensi utama dari gaya visual Pendekar Tongkat Emas yang serba sempit adalah hilangnya konteks ruang atau dimensi spasial. Pembuat film tidak mengizinkan kita untuk mengobservasi lingkungan di sekitar para pemain, untuk merasakan ruang kelahi yang para lakon huni. Kita hanya diperbolehkan tahu bahwa di layar sana sedang ada gerakan para pemain bertarung—sudah itu saja. Nyatanya konteks ruang adalah elemen yang tak bisa dipisahkan dalam film laga. Setiap teknik kelahi punya responsnya sendiri-sendiri terhadap ruang yang ia hadapi—pertarungan di antara pepohonan jelas akan berbeda wujudnya dengan pertarungan dalam kamar penuh perabotan.

Pendekar Tongkat Emas mengusung silat dengan tongkat, sebuah teknik kelahi yang khas. Film ini juga menampilkan pertarungan di beragam tempat—di bukit-bukit, gelanggang, tengah hutan. Sayangnya, karena gerakan kamera yang mengurung mata dengan medium shot dan close up, seluruh pertarungan terasa terlalu sama.

Kalaupun ada adegan laga yang sedikit sadar dengan ruangnya, satu dari sedikit adegan di film ini adalah adegan ketika Elang mengobrak-abrik markas si rentenir. Atau jangan-jangan ini faktor kebetulan belaka, lantaran areal pertarungan dalam adegan tersebut memang cukup sempit, sehingga pembuat film merasa perlu menyorotnya dengan sudut yang agak lebih luas. Entah. Yang jelas, keberhasilan pembuat film mengatur aktor/aktrisnya terpaksa dijegal oleh kegagalannya sendiri dalam mengatur dan memanfaatkan dimensi spasial. Ia mampu mengatur karakter, tapi lengah menata ruang.

Semesta Antah Berantah

Salah satu yang paling digembar-gemborkan film ini semasa promosi adalah lokasi syutingnya di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Dan jika sebelumnya saya menuding pembuat film gagal memanfaatkan aspek ruang dalam adegan laga, dosa ini berhasil mereka tebus lewat penataan citra visual Pulau Sumba yang cantik, pun proporsional.

Pendekar Tongkat Emas dengan lihai memanfaatkan, tanpa mengeksploitasi, eksotisme lanskap Pulau Sumba semaksimal mungkin demi memanjakan mata penonton. Saya tidak menyebutnya “eksploitatif”, sebab pembuat film mampu menjaga kadar penyajian gambar-gambar panoramik yang cantik ini tanpa menggeser fokus penonton dari alur cerita. Pesona Pulau Sumba tetap bediri sebagai hiasan latar tanpa berusaha mencuri lampu sorot. Dengan kata lain, pembuat film berhasil mensinergikan kedahsyatan visual dengan plot, sehingga gambar-gambar cantik Pulau Sumba menjadi utuh dan padu sebagai elemen komplementer adegan, tidak berdiri sendiri sebagai fragmen ataupun stok footage berlebih. Adegan kejar-kejaran di atas kuda, adegan Elang dan Dara berlatih jurus pamungkas tongkat emas, maupun adegan suasana desa tempat Elang tinggal, masing-masing memiliki mise en scène yang tertata apik, turut dilengkapi pula dengan scoring yang mengoptimalisasi penggunaan instrumen lokal.

Di luar informasi mengenai Pulau Sumba, film ini sendiri tidak menjelaskan lebih jauh perihal semestanya. Tidak ada kejelasan setting tempat, waktu, tidak terkecuali budaya yang mendiami semesta Pendekar Tongkat Emas. Singkatnya, Pendekar Tongkat Emas bernaung dalam semesta anakronis. Hal lain yang juga patut dipertanyakan adalah gaya filmnya sendiri. Pendekar Tongkat Emas kental akan cita rasa film laga Mandarin, lengkap dengan teknik bela diri wushu yang memang identik menggunakan tongkat. Apa alasan pembuat film memilih gaya demikian? Dan kenapa pula tarung tongkat jadi gaya kelahi paling paripurna dalam semeseta Pendekar Tongkat Emas? Sayangnya, informasi-informasi yang justru esensial semacam ini tidak akan terjawab dengan menonton filmnya saja.

Namun begitu, setidaknya muncul dua asumsi. Pertama, pemilihan gaya Mandarin ini hanya didasari oleh motif nostalgia para pembuat film akan corak perfilman laga masa lampau, di mana secara historis, gaya film laga Indonesia sedikit banyak dipengaruhi oleh film laga Asia, khususnya Mandarin. Jika benar demikian, maka semesta Pendekar Tongkat Emas praktis tidak perlu dibedah lebih dalam, karena toh ini motif personal dari pembuat film. Atau kedua, pembuat film sengaja memilih gaya Mandarin karena unsur kedekatan. Gaya ini dianggap familiar, tidak menuntut penonton untuk berimajinasi lebih jauh supaya bisa menyelami semesta Pendekar Tongkat Emas.

Walhasil Pendekar Tongkat Emas bisa dikatakan baru sekadar mengulang trik-trik lawas film silat dengan kemasan yang lebih megah. Itu juga dengan pengarahan visual yang kurang mumpuni. Sekalipun kapasitas dan kemajuan teknologi untuk memproduksi film sudah jauh meningkat, Pendekar Tongkat Emas bahkan belum sampai memberi nafas baru bagi genre laga yang sampai saat ini masih berstatus mati suri. Atau jangan-jangan rindu ini memang belum boleh berakhir.

Pendekar Tongkat Emas | 2014 | Durasi: 112 menit | Sutradara: Ifa Isfansyah | Produksi: Miles Films, KG Films | Negara: Indonesia | Pemeran: Eva Celia, Nicholas Saputra, Reza Rahadian, Tara Basro, Christine Hakim, Aria Kusumah

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (1)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend