Paul Agusta: Tidak Ada Alasan untuk Tidak Memenuhi Dorongan Kreatif

Paul dan Kyo Hayanto Agusta (kanan), saat syuting Kado Hari Jadi.

Paul dan Kyo Hayanto Agusta (kanan), saat syuting Kado Hari Jadi.

Wawancara ini terjadi pada 31 Maret 2011 di apartemen Paul Agusta. Sehari sebelumnya, Paul meluncurkan film terbarunya, Semalam di Rumah Bonita, di Kineforum. Tujuan wawancara ini adalah untuk membuka cerita di balik film-film yang Paul pernah buat, dan pendiriannya sebagai seorang pembuat film. Cakupannya mulai dari dua film panjangnya, Kado Hari Jadi (2008) dan At the Very Bottom of Everything (2010), hingga dua dokumenter musiknya, The Songstress and the Seagull (2011) dan Semalam di Rumah Bonita (2011). Dalam wawancara, sempat disebut juga The Game Kiss, film pendek Paul tahun 2010, yang nantinya akan jadi salah satu bagian dari film panjangnya yang berjudul Parts of the Heart.

Kyo Hayanto Agusta beberapa kali turut memberikan opini selama wawancara. Kyo adalah suami Paul. Dia telah memproduseri film-filmnya Paul, membuat animasi di At the Very Bottom of Everything, dan ikut menyutradarai Semalam di Rumah Bonita. Berikut wawancara selengkapnya. Selamat membaca.

Adrian (A): Sebelumnya kamu bikin Kado Hari Jadi dan At the Very Bottom of Everything. Satu fiksi, satu lagi eksperimental. Kemudian kamu bikin dua dokumenter musik secara beruntun, The Songstress and the Seagull dan Semalam di Rumah Bonita. Kenapa?

Paul (P): Susah menjawabnya. Bagaimana ya? Kalau yang Tika (Kartika Jahja), yang The Songstress and the Seagull, itu aji mumpung sih sebenarnya. Tika kasih tahu kalau dia bakal perform sama Vina Panduwinata, and I thought, “Oke, ini kejadian yang langka dan belum tentu terjadi lagi.” Jadi dengan modal seadanya, yaitu dengan kamera doang, ya udah rekam aja seadanya, and see what we can do with it. Dan jadinya film itu. Terus itu rilis Januari kemarin, setelah satu tahun lebih footage itu nganggur, because of internal problems….within the band.

Terus Bonita mau konser tunggal di Salihara. She asks us if we could document it. Sebenarnya yang dia inginkan cuma dokumentasi biasa, but….we Kinekuma, being the masochistic bastards that we are, ….(Tertawa)….decided, “No, we couldn’t do just a simple concert documentation. We are filmmakers.” So, we have to do something ribet. And thus, the concert film was born. Dengan bujet yang amat sangat kecil, cause they didn’t have the budget for it, we decided to do it. With five cameras.

Sewa dua kamera. Satu sewa dari teman, jadi nggak mahal. Total lima kamera. No monitor. Modal tripod cuma satu. Yang satu lagi pinjam. Satu lagi monopod. Monopodnya juga technically bukan monopod kita.  Monopod teman yang ketinggalan di rumah. (Tertawa)

Kyo (K): Yang sampai sekarang belum dikembalikan.

P: Ya begitulah. Terus Kyo punya ide untuk menyelingi lagu-lagunya dengan animasi. With that in mind, we did it. We took the five cameras, filmed the rehearsal, and did interview after the concert. Kami sengaja tidak melakukan interview sebelum konser, karena gua merasa lebih baik kalau misalnya lagu semua, terus baru interview di belakang. Kalau misalnya interview sebelum konser, kan antiklimaks. Jadi untuk interviewnya setelah konser, supaya dipasang di belakang. Ya udah. That’s what happened. Unsur kebetulan sih kenapa bikin dua dokumenter musik beruntun. Just coincidence.

A: Tadi kamu bilang ada ide untuk pakai animasi di Semalam di Rumah Bonita, tujuannya apa?

P: Hmmmm. Honey, do you want to answer this?

K: Tujuannya untuk membuat penonton…..tidak nyaman. Bukan sih. (Tertawa). Untuk mengantar penonton dari lagu ke lagu, membuat penonton dapat lebih menikmati, dan tidak monoton. Kalau hanya dari lagu ke lagu, orang kan kesannya hanya nonton konser aja.

P: Basically, instead of just a concert experience, kita kasih concert experience plus plus.

A: Dari persiapan konsernya, maksudnya dari lighting, blocking atau segi teknis lainnya, apakah memang disiapkan untuk film?

P: Nggak. Kita harus beradaptasi dengan apa yang sudah ada. Karena, lagi-lagi, bujetnya bukan hanya di tim dokumentasi saja. Secara umum, konser itu bujetnya terbatas. So, any demands of extra equipment, it just wasn’t rational. So I didn’t even make those demands, because I knew the situation. I thought we could make the film with the existing lighting design. Mereka juga tidak bawa lampu sendiri setahuku. Mereka pakai apa yang sudah ada di Salihara. Lampu-lampu ornamental yang digantung dan yang di sekitar panggung itu pinjaman dari Rumah Lunar. Selain itu, tidak ada. The documentation crew didn’t have extra budget for extra lighting.

A: Melihat filmografimu sejauh ini, film-filmmu personal, ekspresi dari apa yang ada dalam dirimu. Dari dua dokumenter musik ini, apa kamu mengulangi hal yang sama, atau mau mencoba hal yang baru?

P: Mau coba hal yang baru sih. Stuff I’ve never done before. Ada unsur personalnya juga, tapi nggak seberat yang lain. Unsur personalnya adalah….Tika is one of my best friend, and I’m also very close to Bonita. I respect and love her music very much. Sebatas itu aja personalnya. Sisanya hanya karena….I’ve never done it, and I wanted to try to do it.

A: Sebelumnya kenapa memilih film sebagai ekspresi personal?

P: I’m an idiot’s savant. I don’t know how to do anything else. (Tertawa) Nulis fiksi selalu overdramatic. Pernah coba nulis novel, beberapa bab pertamanya dibilang seperti tulisan Mira W. Gambar nggak bisa. Nyanyi, suara kacrut. Can’t play an instrument. And have you ever seen me dance? You don’t want to see me dance.

K: Aku mau.

P: (Tertawa) So, the only form of expression, surprisingly enough, that I was able to do is one that combines all the things I couldn’t do.

K: Kalau aku, kalau accounting bisa jadi media ekspresi, aku akan melakukannya. (Paul dan Kyo tertawa) Kalau berhitung dengan angka bisa jadi media ekspresi, mungkin aku akan melakukannya setiap menghitung bujet.

P: Some people do. (Masih tertawa)

A: Mundur ke film-filmmu sebelumnya. Dulu kamu pernah bilang kalau kamu bikin Kado Hari Jadi untuk membuktikan kalau kamu bisa membuat film horror. Kenapa kamu harus membuktikan itu?

P: Karena….it’s my favorite genre. I just had this logic, in which if I can make a film of my favorite genre, then I’ll be okay. Menurut pendapat orang, horror adalah genre tersulit untuk dibuat bagus dan efektif. Dibuat secara buruk, sangat gampang. Tapi dibuat secara efektif, susah. Agak bodoh sih, karena itu pertama kalinya buat film panjang. Buatku itu seperti belum pernah manjat gunung, tapi langsung naik gunung Kilimanjaro. Tapi kalau Kilimanjaro bisa, berarti kan yang lainnya harusnya juga bisa.

A: Kenapa berikutnya kemudian lanjut ke At the Very Bottom of Everything?

P: Karena semua yang terlibat dalam Kado Hari Jadi sadar kalau film itu bukan film yang sangat penting, dalam arti groundbreaking. You know, it’s not gonna be a massive film. But we’re aware of its potential to be a gateway film. Yang membuka kesempatan kita untuk buat film lagi. Dalam hal itu, efektif sekali, karena dari film itu kita dapat kesempatan untuk bikin At the Very Bottom of Everything, karena Kado Hari Jadi masuk Rotterdam, eksposurnya lumayan gede. Got a certain reputation. Dari itu, masukin proposal ke Hubert Bals diterima. As a gateway film, it did its job very very well. Of course, we wanted to make the best film that we could. But we know it’s not going to be a grand masterpiece that will be remembered for decades. So let’s make a film that gets noticed, so we could get into the business, into the field. Well, you know, everybody needs a gateway film.

A: Dari semua profilmu yang aku baca, termasuk yang di Facebook dan MUBI, ada satu kalimat yang selalu muncul, “There is no excuse for video-makers not to fulfill their creative urge. You can always beg, borrow, or steal a camera.” Apakah kalimat tersebut merupakan pernyataan pribadimu?

P: Ya.

A: Bisa dijelaskan?

P: Well, first, dari sisi non-emosional, dari faktanya aja ya, kamera itu udah gampang banget, udah murah. Kalaupun kita tidak punya sendiri, ada kemungkinan besar bahwa seseorang di keluarga besar kita punya, atau orang-orang yang kita kenal punya, jadi bisa pinjam. Software editing sudah sangat gampang. Banyak yang open source malah. Banyak yang gratis. You have a PC, you can edit. Dari sisi teknis aja, ketersediannya luas. Kamu punya hape aja, walaupun cuma 3GP dan kurang bagus, tapi ada alat rekam. Sekarang tergantung pada kamu sebagai filmmaker, sebagai orang yang mau bikin film atau nggak. Alatnya udah ada. Berbagai macam. Di kantongmu aja ada.

Kalau memang benar-benar mau bikin, kamu bakal mikiri cara, cerita, pendekatan, yang sesuai dengan alat yang ada di kamu. If you really want to do it, if you’re really passionate about it, there is no excuse. Menurutku, learning how to make films by doing sekarang itu sangat mudah. Tergantung pada individu sendiri, mau coba nggak?

Masih ada yang merasa belum mau bikin, karena peralatannya belum cukup canggih, belum sekolah, belum belajar. Ya, oke, nggak apa-apa, kalau misalnya mau menunggu itu. Tapi kalau misalnya ada cerita di kepalamu yang nggak mau keluar, dan kamu nggak tahan untuk eksekusi sekarang juga, ya cari metodenya

Cyrus Frisch kemarin bikin Dazzle. The whole thing was shot on Nokia cellphone. 90 menit. Starring some girls and Rutger Hauer’s voice, and it was very effective. It works. If you have the right story and the right approach, any equipment works. Dasarnya dari filmmaker sendiri, mau nggak?

Tentunya kita nggak mau nge-remake Tjoet Nyak Dien atau bikin Citizen Kane dengan kamera handphone. Jadi, apapun ide yang muncul harus sesuai dengan peralatan yang kita punya. Setidaknya itu langkah pertama, dan langkah pertama harus selalu dibuat.

So, that’s basically why I always say that. It is one thing that I do believe. If you want to, there is no excuse. Masalahnya, mau nggak dan berani nggak. Itu masalahnya

A: Kamu sendiri bagaimana menghidupi pernyataanmu tadi?

P: Hampir semua film-film pendek yang aku buat sebelum 2008 pakai kamera pinjaman. I owned my own camera briefly in 2004, but then I was robbed in Malaysia, in KL. Dirampok orang Jawa di Kuala Lumpur. I had to specify that. Belum pernah dirampok orang Jawa di negeri sendiri, tapi di Kuala Lumpur malah dirampok orang Jawa. [Tertawa] Then I lost my two-month old DV camera. Setelah itu nggak beli lagi. Aku pinjam dari siapapun yang mau pinjamin.

Pernah kameranya Ucu Agustin aku sandera selama tiga bulan. Selama tiga bulan itu, jadi tujuh video pendek. I borrowed, every chance I got. Ade Paloh waktu itu mau membuang kamera Panasonic, karena baterainya sudah tidak berfungsi lagi. Kalau mau pakai, harus dicolokin. Aku bilang, jangan dibuang, buat aku aja. So, I shot a few things on that. I wasn’t able to afford a camera. Actually, I was able to afford it, but it’s only until 2004 when I finally got my priorities straight. That’s when I bought a DV camera. Then I bought my first VHC camera for very very cheap price. Then I shot Kado Hari Jadi.

Kamera Panasonic-nya Ade Paloh tadi masih ada. It still works, it still exists. When I say borrowed and discarded cameras, I really mean borrowed and discarded cameras. He was about to throw the camera into the trash. And I said, “No, let me have it.” I know the battery doesn’t work, tapi kalau aku perlu pakai rol kabel buat shooting, aku pakai rol kabel deh. Daripada nggak ada kamera.

Pas buat dokumenter musik, pas Semalam di Rumah Bonita, kami sebenarnya cuma punya bujet buat sewa satu kamera. Jadi, satu kamera disewa dengan harga full, harga yang mahal. Satu lagi sewa dari teman, jadi nggak mahal. Satu pakai punya sendiri. Dua lagi pinjam, benar-benar pinjam, nggak keluar duit sama sekali, karena kami memang sudah tidak punya duit lagi.

Pas The Game Kiss kemarin, propertinya pinjam sana sini. Tempat tidur pinjam dari Astrid. Meja belajar pinjam. Seragam SMP pinjam. Hampir semuanya pinjam. Selama kami masih mau berkarya dan ketika uang tidak ada, prinsipku itu masih jadi pegangan. Kalaupun ada uang, kami merasa kalau bujet bisa ditekan dengan meminjam, why not? Selama yang meminjamkan barang tidak keberatan. Dan sejauh ini kita belum pernah merusak barang yang kita pinjam kan, babe?

K: Pernah, tapi diperbaiki.

P: Yang mana?

K: Action figure.

P: Oh iya. Berarti pernah sekali.

A: Yang ada di The Game Kiss ya?

P: Ya.

K: Sebenarnya bukan action figure-nya yang rusak, tapi boksnya.

P: Action figure itu kami pinjam dari seorang kolektor. Kalau bukan dari kolektor, kami juga nggak tahu cari dimana lagi action figure tahun 90-an. Udah nggak ada yang jual lagi.

Well, anyway, I actually had this debate in Solo kemarin. There is one girl in the audience. Dia merasa bahwa aku bikin At the Very Bottom of Everything dengan bujet besar, aku telah menjadi budget-oriented. Those are her words, not mine. Dia seperti menganggap there is some sort of mystique towards being an independent low-budget filmmaker. Tanya semua independent low-budget filmmaker yang kamu kenal. They don’t want to be independent and low-budget forever. It’s a place to start, it’s a place to express yourself. It’s not where you want to end up for the rest of your life. Independent, maybe. Low-budget, definitely not. I don’t know any filmmaker who wants to remain low-budget for the rest of his life.

Karena itu membatasi konsep-konsep yang bisa diekesekusi. Membatasi juga secara visual. Aku nggak mungkin dengan bujet Kado Hari Jadi bikin At the Very Bottom of Everything. Kalau kami mau berkembang secara konsep dan ide, mau nggak mau salah satu efek sampingnya harus berkembang secara bujet. Pemikiran bahwa it’s cool to be indie and low-budget. Ask any indie filmmaker, they don’t want to be low-budget forever. Jim Jarmusch pun tidak. Dia masih independen, tapi film-filmnya sekarang banyak habisin duit.

And this lovely young woman in Solo had to invoke the debate, “Tapi Dogma 95 bagaimana?” She said Dogma set all these rules to bring out the core essence of cinema, and whatever. I said, “Yeah, and they broke those rules a lot.” Every single one of them broke the rule number 10, and every single one of them is a rich kid that could bring their daddies to fund their films.

Dan ada nggak dari mereka ya kembali ke Dogma setelah itu? Aku sih merasa, ini pendapat pribadi ya, the whole Dogma 95 thing was just an elaborate scheme to get attenttion. Successfully. And there is nothing wrong in that. If you’re starting as a filmmaker, you would always need a scheme to get attention. Like the guys who made Blair Witch and Paranormal Activity. That’s a scheme to get attention.

Through Kado Hari Jadi, we did the first Indonesian torture-porn as a scheme to get attention. That’s why we were included in Rotterdam, because we are the first film of its kind to come out of Indonesia. And it worked. Our scheme to get attention worked. You need that. But, rarely, filmmakers who start with a scheme to get attention stay on that scheme. Now that they have one foot out the door, and the door is open, they think about doing other things.

Aku sempat panas kemarin di Solo. I felt I was attacked for making films with more money. As if I was selling out or something. Ya nggak lah, ide kami berkembang. And, at some point, we need to start making films in which we pay people properly.

K: Dan buktinya ada beberapa orang yang nggak tahan untuk kerja dimana tuntutan keluarga jadi prioritas pertama mereka. Mereka nggak bisa, walaupun mereka mau, tapi mereka nggak bisa seratus persen kerja independen dengan low budget. Nggak semua orang bisa bertahan dengan cara itu, dan nggak semua orang mau diajak seperti itu. Susah banget carinya.

P: Iya, susah banget cari orang yang mau kerja independen dengan low atau no budget. It takes a special kind of person to want to do that. Dan itu pun….

K: …nggak akan bertahan lama.

P: Paling bisa bekerja seperti itu untuk dua atau tiga kali. Lebih dari itu, susah. Dalam pengalaman kami, yang terjadi adalah seperti yang terjadi pada beberapa kru Kado Hari Jadi. Film itu membuka pintu bagi mereka untuk bekerja di tempat lain. Jadi, mereka nggak bisa kembali ke kami untuk kerja gratis, karena mereka harus menghidupi keluarga mereka atau dirinya sendiri. They are now in the position to make money commercially. So they don’t want to work with us anymore, unless we have the budget to pay them properly, which is perfectly fine.

Ada yang pernah tanya aku, “Don’t you feel betrayed?” Nggak lah! It’s logic. They want to be in the industry to make money. I am glad that our film allowed them the chance to get in the industry, to meet people and to get more work. Bagus! Seneng banget aku itu terjadi! Aku nggak merasa betrayed atau apa pun.

K: Kesempatan itu jadi kompensasi buat mereka juga.

P: That’s exactly right. Karena kita nggak bisa membayar mereka di Kado Hari Jadi, dan sekarang mereka punya karier yang bagus, kami senang. Contohnya, my assistant director sekarang salah satu art director yang paling laku di iklan, that makes me proud. My assistant cameraperson produces the music videos in Nagaswara Record, that makes me proud too. They are making good living after starting in our small production. We feel good about that. Masalahnya, ada orang yang passion-nya kadang-kadang….uneducated passion.

A: Artinya?

P: Semangat tanpa memikirkan resiko dari apa yang terjadi jika dia memenuhi passion tersebut. Ambil contoh orang yang bilang, “Gua mau bikin film nih,  gua mau jadi filmmaker nih, gua passionate banget sama film.” Mulai secara independen, low budget, kerja rodi, nggak ada duit, setengah jalan patah arang. Atau, setengah jalan komitmen mulai goyah, dan mulai berpikir, “Ngapain juga gua capek-capek nggak ada duit.” That happens a lot to us a lot. In some of our low or no budget projects, we had walkouts in the middle of production. Atau malah bukan walkouts. We had to let them go, because they were exhibiting symptoms of lack of passion, and not doing their jobs well. They had to be replaced halfway. So it takes a very special kind of person to make films independently with low budget over and over again.

Makanya aku bersyukur banget pas lihat film-filmku, dan lihat ada nama-nama yang berulang. They are the people I am most grateful to.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (3)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend