Pasar Film di Makau

Malam pembukaan festival

Ketika mendengar nama Makau, hal yang paling akrab muncul di otak masyarakat Internasional adalah industri permainan. Terang saja karena Makau adalah satu-satunya daerah yang dilegalkan oleh Pemerintah Cina untuk aktifitas perjudian. Namun, akhir tahun ini, pemerintah Macau mencoba mengambil langkah berani untuk memasukkan referensi lain tentang daerah Istimewa ini, yakni festival film internasional.

International Film Festival & Awards Macao, atau IFFAM, bekerjasama dengan nama besar, seperti Marco Mueller, yang pernah terlibat dalam festival film ternama seperti Locarno, Rotterdam, Roma, dan Venisia. Berbeda dengan festival film perdana yang biasanya berlangsung seadanya dengan beberapa layar untuk penayangan publik, IFFAM tak ingin main-main. Festival ini berambisi menjadi setara dengan festival-festival kenamaan lainnya, dengan segala karpet merahnya, tamu-tamu internasional, kompetisi film, hingga pasar film.

IFFAM berlangsung pada 8-13 Desember 2016. Mueller sayangnya mengundurkan diri sebelum festival. Meski begitu, hal tersebut tidak menjadikan festival ini kehilangan tajinya. 33 film yang tayang selama festival memang terhitung menarik untuk penonton internasional.

Dibuka dengan Polina, film Prancis karya Angelin Preljocaj dan Valérie Müller, IFFAM menampilkan banyak film genre dari berbagai sineas terkemuka, seperti Takashi Mike dengan The Mole Song: Hong Kong Capriccio dan Fruit Chan dengan Shining Moment, yang berkompetisi bersama sebelas film dari berbagai belahan dunia lainnya. Tak ketinggalan program khusus film Hollywood, yakni A Monster Calls karya JA Bayona, dan penayangan film-film klasik seperti Horror of Dracula (1958) karya Terence Fisher, The Good, the Bad, and the Ugly (1966) karya Sergio Leone, dan The Umbrella of Cherbourgh (1964) karya Jacques Demy.

IFFAM juga mengundang dua tokoh kenamaan Hollywood: Gianni Nunnari dan Tom McCarthy. Nama terakhir merupakan sutradara Spotlight, film terbaik Academy Awards 2016. Selama di Makau, beliau mengisi program masterclass.

Masterclass bersama Tom McCarthy

Dari sajian filmnya, IFFAM jelas nampak mencoba memberi paket komplit untuk penonton lokal dan asingnya. Maria Helena De Senna Fernandes, direktur pelaksana festival, mengatakan bahwa IFFAM merupakan salah satu upaya pemerintah setempat untuk memperkenalkan Makau bukan hanya sebagai pusat industri permainan, tapi juga pusat kebudayaan.

“Industri film dan televisi adalah salah satu fokus kami untuk dikembangkan. Oleh karena itu, muncul ide mengadakan film festival,” katanya dalam wawancara pada sela festival. Helena mengatakan festival film dianggap perlu untuk memberikan ruang bagi industri film Makau yang baru berkembang untuk belajar dari industri film internasional. “Ini wadah yang bagus untuk pertukaran internasional,” tambahnya.

Makau sebenarnya belum punya industri film. Luas wilayah Makau hanya tiga puluh kilometer persegi, kurang lebih seluas kota Klaten di Jawa Tengah. Wilayah kecil itu hanya memiliki sembilan belas teater yang bisa digunakan untuk menonton film, ini termasuk gedung-gedung pertunjukkan di hotel-hotel. Sebagian besar venue IFFAM berada di wilayah dengan jarak paling jauh tiga kilometer yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki, menikmati cuaca sejuk Makau.

Menurut Helena, Makau hanya memiliki beberapa rumah produksi yang kebanyakan memproduksi iklan. Selama IFFAM, Makau diwakili oleh Our Seventeen karya Emily Chan dan Sisterhood karya Tracy Choi. “Saya harap festival ini bisa menjadi ajang yang baik untuk membangkitkan industri film di Makau,” ujar Helena. Terlebih lagi, ia ingin IFFAM bisa menjadi ajang edukasi bagi masyarakat Makau untuk mengetahui dunia perfilman di luar industri komersil. “Kami ingin memperkenalkan film dalam spektrum yang lebih luas, tidak hanya film komersil. Ini bukan hanya bagi warga Makau, yang hanya enam ratus ribu orang, tapi juga warga Cina daratan yang memiliki akses gampang ke Makau.”

Tujuan Helena masuk akal. Industri perfilman Cina daratan tidak terlalu terbuka dengan film-film asing. Prioritas dan praktiknya terbatas nasional. Oleh karena itu, bagi Helena, IFFAM punya tawaran yang menarik bagi turis Cina dan Hong Kong, karena menawarkan film-film dari berbagai dunia dengan spektrum yang lebih luas.

“Warga lokal adalah tujuan pertama kami tapi tetap saja turis dari Cina dan Hong Kong juga selalu masuk dalam agenda kami,” katanya. Makau kedatangan rata-rata hampir dua juta turis setiap bulannya dan lebih dari enam puluh persen dari mereka berasal dari Cina daratan. Kemewahan IFFAM, bagi Helena, merupakan pertanda bahwa festival ini turut menjadi bagian dari sajian pariwisata Makau. Kesan spektakuler itulah yang identik dengan Makau, layaknya kasino dan hotel yang tersebar di wilayah ini.

Malam penganugrahan festival

IFFAM sudah melakukan segala hal yang mereka bisa untuk membuat publik, di luar dunia perfilman, untuk tertarik melengok sebentar. Pada saat malam pembukaan, festival ini mengundang sejumlah bintang film Cina bersamaan dengan beberapa bintang Korea, yang punya banyak penggemar di Makau. Salah satunya Jang Geun Suk, yang didapuk sebagai duta festival. Jang menampilkan dua film pendek karya pertamanya: The Great Legacy dan Daega Elementary School. Cara ini cukup berhasil. Ketika sang aktor memperkenalkan filmnya sebelum penayangan di Makau Tower, tempat itu penuh dengan para fans.

IFFAM bukannya tanpa cela. Lebih tepatnya, masih banyak tantangan dan ruang untuk perbaikan. Pemutaran-pemutaran film, baik di bioskop maupun ruang lainnya, jarang sekali dipenuhi penonton. Diduga karena pemutarannya berbayar. Dalam konteks festival film, warga setempat lebih menikmati pemutaran gratis, walau tiket IFFAM hanya sekitar 50 Makau Pitaca—sekitar Rp 87,000. Sudah jadi kebiasaan bagi penyelenggara festival-festival film setempat untuk menggratiskan karcis, demi menarik lebih banyak penonton. Apalagi kalau film-film yang ditayangkan belum begitu dikenal publik.

Catatan lainnya adalah absennya subtitle bahasa Mandarin di sejumlah film. Bahasa masih jadi kendala bagi warga setempat, meski Makau selama ini dikenal sebagai wilayah berkhazanah internasional. Salah satu contohnya adalah pemutaran Neruda besutan Pablo Larrain, yang beredar tahun ini sejak penayangan perdananya di Cannes. Selang beberapa menit film mulai, beberapa penonton langsung keluar dari bioskop.

Ambisi IFFAM memang besar, tapi segala yang besar selalu bermula dari langkah-langkah kecil. Memperkenalkan dan mengumpukan antusiasme khalayak untuk bertandang ke festival masih merupakan perjalanan panjang.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (4)
  • Boleh juga (2)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Corry Elyda

Corry Elyda

Editor at Cinema Poetica
Seorang teman yang ikut antusias dengan Cinema Poetica. Walau sudah menonton sekian banyak film, tetap jatuh cinta pada genre drama dan komedi romantis. Tanpa sadar telah mengubah film dari sekedar hobi menjadi rutinitas sehari-hari. Sekarang sibuk menonton sembari menyambung hidup sebagai jurnalis Jakarta Post. Email: corry@cinemapoetica.com
Corry Elyda

@corryelyda

Life is a simple math. I hate math
Another perspective about Senyap I Ethics Behind the Look of Silence https://t.co/5qUc9sH10l via @CinemaPoetica - 1 year ago
Corry Elyda

Latest posts by Corry Elyda (see all)

X