Onomastika: Kepo Nama yang Sia-sia, Tapi Tak Apa

onomastika-film_hlgh

Bocah itu sangat kepo (baca: ingin tahu) perihal sesuatu yang orang lain miliki, tapi tidak dipunyainya: nama. Orang yang terus menerus dikepoinya: kakeknya.

Curiosity killed the cat. Kadar keingintahuan (yang secara gaul disebut kepo) seseorang berpotensi menggiringnya ke arah bahaya. Meskipun curiosity bocah dalam Onomastika (dalam tradisi Yunani Kuno, onomastika adalah ‘hari pemberian nama’) menggiringnya ke arah yang tidak berbahaya, namun akhirnya tidak juga memuaskan tanda tanyanya. Walaupun si bocah tanpa nama tetap tak beroleh nama sampai akhir film, esensi Onomastika tidak terletak pada pemecahan pertanyaan tokoh utama itu. Film ini bukan tentang perjalanan seseorang dalam pencarian nama, melainkan bagaimana anonimitas menjadi simbol ketidakberdayaan orang-orang terpinggirkan. Loeloe Hendra selaku sutradara terbilang cukup berhasil menyampaikan hal tersebut, meskipun secara teknis, beberapa hal kecil luput oleh kuatnya ide film (plus permainya alam Kutai yang menjadi latar Onomastika).

Separuh Onomastika membuat geregetan, sekaligus kasihan. Geregetan pada si bocah, dan kasihan padanya dan kakeknya. Apakah sang kakek tidak merasa lelah dan “teriritasi” ketika cucunya lagi dan lagi melontarkan pertanyaan yang enggan dijawabnya? Kepada kakeknya, si bocah yang tidak bersekolah itu mencoba mengorek-ngorek petunjuk seraya membandingkan dirinya dengan hal-hal lain yang bernama, seperti anak perempuan di pasar, saudara laki-laki anak perempuan itu, ikan yang ia santap, hingga nama-nama samaran yang digunakan sang kakek ketika menulis di koran. Tentang namanya, tidak ada sedikitpun petunjuk dari kakeknya. Bocah itu dibiarkan terus mencari dan mencari tanpa beroleh jawaban pasti.

Pemantik kekepoan si bocah tak lain adalah anak perempuan yang ditemuinya di pasar. Anak dengan nama, anak yang bersekolah. Seketika, si bocah tercekat oleh sekat perbedaan yang hadir di antara mereka.

Nama hadir sebagai label pembeda, identitas, pun kepercayaan diri terhadap eksistensi seseorang. Kendati demikian, nama tidak serta merta menjadikan seseorang spesial; sebuah nama tidak selalu dimiliki sendiri, akan tetapi bisa dibagi berdua, bertiga, atau lebih. Seorang wanita terhormat bisa saja memiliki nama yang sama dengan seorang pelacur, misalnya. Nama sama, eksistensi individunya beda. Dalam konteks ini, nama menjadi tidak penting karena ia tidak menunjukkan identitas baku. Di sisi lain, ketiadaan nama atau anonimitas merupakan pertanda seseorang tidak usah pusing-pusing mengkhawatirkan similaritas panggilan. Ia hanya perlu eksistensi individu saja. Akan tetapi, jika eksistensi individu itu belum bisa terbentuk karena terbentur masalah nama, nah, nama pun menjadi sesuatu yang penting bagi seorang anonim.

Kira-kira seperti itulah pemetaan konflik si bocah. Ia baru merasa hadir kalau ia sudah menyandang nama. Kepentingannya mencari “label” tidak lepas dari kegelisahan yang ia rasakan sebagai seseorang yang teralienasi karena berbeda. Demi menjajarkan diri dengan anak perempuan yang ditemuinya, si bocah berusaha memenuhi syarat untuk bersekolah seperti anak itu.

Akan tetapi, mengapa harus membandingkan diri dengan si anak perempuan? Mengapa tolok ukurnya hanya anak itu seorang? Sebagai film pendek dengan ide yang kuat, Onomastika agak abai pada teknik penceritaan. Film berdurasi lima belas menit ini menghadirkan si anak perempuan dalam porsi jarang yang tidak tampak tegas, walaupun berperan penting sebagai pemantik konflik. Posisi anak perempuan itu menjadi kurang jelas: sebagai teman biasa, ia cukup luar biasa dapat menyeret si bocah dalam sebuah pencarian; sebagai love interest, ia tidak cukup kentara karena kurang didukung penekanan bercerita.

Teknik bercerita dalam film ini terasa kurang rapih. Selain penokohan anak perempuan, ada pula lubang-lubang kecil lain yang ditutupi oleh gagasan kuat film. Lubang-lubang itu antara lain kelogisan sikap si bocah. Boleh jadi sang kakek tidak memberi petunjuk apa-apa tentang namanya, namun ia membebaskan bocah itu untuk memilih nama yang cocok dan tepat. Mengapa bocah itu tidak melakukannya? Padahal, dengan demikian, ia bisa langsung bersekolah sesuai keinginannya. Apa harus menunggu dipilihkan nama? Untuk beberapa penonton, lubang-lubang logika ini bisa jadi tersamarkan karena begitu kuatnya gagasan yang ditawarkan Onomastika, tapi tetap saja itu lubang, yang dalam tinjauan lebih lanjut sesungguhnya mengganggu penuturan cerita.

Melalui Onomastika, penonton diajak bersimpati pada bocah tanpa nama. Sebagai pihak yang minor dibandingkan sistem masyarakat, si bocah menarik keberpihakan padanya. Setelah kakeknya berusaha menyerahkan cucunya yang anonim agar diterima, toh akhirnya sekolah tetap menolaknya. Dengan ekspresi wajah bingung hampir selama seratus persen film, bocah penangkap serangga itu berhasil menempatkan dirinya dalam posisi pihak yang layak dibela. Penonton pun digiring untuk menyayangkan sistem pendidikan formal. Di sisi lain, simpati penonton bisa-bisa malah jadi sekelebat rasa kesal karena sang bocah terlalu frekuentif “menuntut” perolehan nama dari kakeknya.

Secara tema, Onomastika tampak mengetengahkan kepentingan nama—namun, bagi siapa? Jika kepentingan itu bagi si bocah, coba telusuri kepentingannya sesungguhnya untuk siapa: sekolah, dan sangat mungkin untuk si anak perempuan. Film ini mengaburkan batas-batas kepentingan nama, yang kemudian disimpulkan lewat adegan akhir.

Konklusi film yang terangkum pada adegan ini sangat analogis. Bocah tanpa nama termenung menatap objek samar berwarna merah. Sesaat kemudian, objek itu dipertajam dan tampaklah sekuntum mawar. Film pun selesai. Analogi mawar ini begitu lekat dengan kata-kata Shakespeare mengenai apalah artinya nama: “A rose by any other name would smell as sweet”. Mawar tetap wangi kendati ia dinamai (misalnya) bangkai. Sebuah penutup sederhana yang menegaskan bahwa nama tidaklah penting—tapi, sekali lagi, bagi siapa? Penting atau tidak, pada akhirnya, nama dalam Onomastika hanyalah metafora. Representasi dari syarat-syarat sistem masyarakat. Pakem yang harus diikuti jika ingin diterima.

Menyaksikan Onomastika dapat ditempuh dengan dua opsi. Pertama, dengan rasa iba melihat pesimisme orang-orang terpinggirkan yang diwakili bocah tanpa nama. Kedua, dengan rasa suka melihat ademnya ambience film sembari menepis pertanyaan-pertanyaan teknis yang muncul di kepala. Yang mana saja, yang jelas saat credit title berjalan, Onomastika lebih meninggalkan pesan daripada kesan.

Onomastika | 2014 | Durasi: 15 menit | Sutradara: Loeloe Hendra | Kota: Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur | Negara: Indonesia | Pemain: Tua Atut, Panca Jaka Fajar, Anita Mukaromah, Yusra PS

Tulisan ini adalah hasil dari lokakarya Mari Menulis! edisi Festival Film Solo 2014

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend