Ngenest: Banyak Jalan Menuju Trauma

Ngenest - Cinema PoeticaNgenest berbeda dari film-film komika pendahulunya. Film karya Ernest Prakasa ini menuturkan plot yang saling berkaitan kuat—bukan sekadar guyonan yang terangkai sekenanya. Sekalipun ada yang sekadar guyonan, Ngenest berhasil memberikan relevansinya terhadap jalan cerita, atau bahkan mengemasnya agar padu secara visual. Contohnya, adegan saat Ernest Remaja (diperankan Kevin Anggara) mengajak para pem-bully nonton konser, sementara dari kejauhan ada peristiwa pemalakan yang gagal. Di sebelah kiri frame menawarkan konsekuensi logis cerita, di sebelah kanan hadir visualisasi guyonan.

Cara tutur yang sadar medium seperti ini sungguh nikmat untuk disaksikan. Keutuhan cerita terjaga, visualnya mendukung. Kejeliannya ini pun tidak terbatas pada aspek yang tampak di layar saja, melainkan juga pada level gagasan. Ernest memilih isu identitas sebagai orang Cina, yang kerap menjadi topik utama candanya. Tidak sampai di situ, perkara identitas itu ia olah lagi menjadi sebuah problema yang lebih tajam: kecemasannya melanjutkan keturunan Tionghoa.

Ngenest: Ngetawain Hidup ala Ernest berangkat dari kisah hidup Ernest Prakasa, yang sebelumnya telah dituturkan dalam tiga jilid buku berjudul sama. Dalam kisah hidupnya itu, kita dipaparkan pada pengalaman traumatis Ernest, yang begitu tersembunyi di balik gelaran humor yang ia buat. Segala bentuk penindasan dan ejekan terhadap etnis Tionghoa secara umum, dan dirinya secara khusus, ia letakan pada konteks komedi. Kecemasannya memiliki anak bertampilan fisik serupa Cina—alasannya menunda punya anak—juga tersampaikan lewat visual yang menggelikan, padahal jelas itu adalah suatu hal yang miris.

Meski berlandaskan isu dan premis yang tragis, Ngenest nyatanya tidak mengusung narasi diskriminasi yang njelimet. Tanpa terlalu mengandalkan petunjuk-petunjuk yang bermuatan politis maupun sejarah, Ernest Prakasa menjadikan semuanya serba personal dan ringan. Panggilan “Cina”, maupun ledekan rasis, sebisa mungkin memiliki timing yang tetap lucu. Para pelakunya pun tidak terlampau intimidatif. Justru sebaliknya, mereka juga bisa ditertawakan.

Menertawakan perkara rasial dalam kemasan humor bisa jadi menyenangkan. Terkadang, toleransi sosial bisa jadi baru sahih ketika kita sudah bisa saling menertawakan tanpa beban dan tanpa prasangka. Akan tetapi, pengemasan isu secara ringan dalam Ngenest, dengan segala reduksi wacana rasialnya, justru mencederai keutuhan film. Penyederhanaan terus-menerus yang hadir dalam film membuat esensi persoalan Cina dan pribumi lenyap—sekalipun wacana besarnya tertangkap. Premis film boleh jadi tuntas, tapi tidak ada kedalaman yang mendukung gagasannya.

Pribumi dan Pem-Bully

Keputusan tokoh Ernest untuk mencari pasangan pribumi terjadi saat dirinya SMP, dipantik oleh peristiwa baku-moshing di konser punk. Peristiwa tersebut, dalam naskah cerita, difungsikan sebagai penanda kegagalan Ernest berbaur dengan teman-teman pribumi. Di sini ada yang agak mengganjal. Pilihan konsekuensi seperti itu seakan menyiratkan bahwa pribumi hanya terwakilkan oleh para pem-bully, dan seakan-akan juga, berbaur dengan pribumi sama dengan berbaur dengan pem-bully.

Motif keputusan Ernest Remaja memutus rantai keturunan ras Cina pun jadi kurang berdasar. Justru lebih masuk akal bila kemudian ia trauma dengan konser punk, atau paling tidak, memutuskan untuk tidak bergaul lagi dengan Fariz dan kawan-kawan. Tapi kehendak naskah bicara lain. Momen puncak penindasan sudah ditetapkan, dan konflik pun bergulir.

Konsekuensinya, belum ada momen yang cukup serius menggambarkan bahwa identitas Ernest Remaja (dan calon anaknya) sebagai Cina terancam. Kita baru bisa menemukan peristiwa dan obrolan serius saat penyelesaian konflik cerita, tapi tidak saat konflik tersebut diciptakan. Padahal terasa sekali bahwa awal dan akhir cerita sama pentingnya. Latar belakang keputusan ekstrem mencari istri pribumi, rasanya sih ya, bukan perkara sepele yang bisa didasarkan hanya pada ejekan empat orang pem-bully di sekolah. Apalagi keempat pem-bully digambarkan mampu diatasi oleh Patrick (Winson/Brandon Salim), sama sekali tidak intimidatif, dan sudah maaf-maafan pula.

Bisa dipahami bila ada keengganan untuk mengungkit isu trauma ras secara riil—entah karena batasan pembuat film atau, ekstremnya, sensor. Ada kalanya, pengandaian secara karikatural justru malah lebih efektif, sebagaimana yang bisa kita saksikan dalam Ngenest. Akan tetapi, tidak bisa dinafikkan juga bahwa, setidaknya, perlu ada alasan yang kuat untuk menunjang premis perbaikan keturunan Ernest—yang dalam kasus ini adalah penggambaran potret sosial. Hal ini mungkin bisa diisi dengan fakta bahwa, misalnya, Ernest Remaja ditolak juga oleh kelompok pribumi lainnya, tak hanya oleh Fariz dan kawan-kawan. Memang, bisa jadi tidak lucu, bisa jadi malah makin lucu. Apapun itu, premis perbaikan keturunan Ernest butuh pemantik yang kuat dalam cerita.

Fisik

Pujian yang ramai beredar di media sosial adalah penonton terus-menerus tertawa dari awal hingga akhir film. Tentu saja ini metafor belaka—sulit membayangkan ada yang secara harafiah tidak berhenti tertawa di bioskop. Tapi kehadiran testimoni semacam itu amat bisa dimengerti. Sepanjang Ngenest, terlihat ada upaya dari Ernest untuk menghadirkan tawa dalam setiap momen cerita. Salah satunya adalah dengan memberikan sedikit sentuhan slapstick, dan kekhasan atribut fisik untuk tokoh-tokohnya.

Main fisik, mau tidak mau, adalah humor yang universal. Jauh lebih universal daripada humor filsofisnya Woody Allen, maupun guyonan audiovisual Edgar Wright. Lawakan fisik juga relatif lebih mudah dibuat ketimbang lawakan-lawakan non-fisik. Akan lebih mudah menampilkan gigi maju, orang gila, serta cipratan-cipratan ludah, ketimbang merangkai timing dalam lawakan “memilih baju”, “naik bajaj”, “motor bebek”, dan “karangan bunga ayahnya Patrick”—kebetulan ini yang ada di trailer, biar nggak spoiler.

Lawakan fisik juga seringkali efektif untuk penokohan, dan mampu memantik tawa banyak penonton. Meski demikian, lawakan macam ini biasanya hanya melanggengkan stereotip dan pakem-pakem ejekan di dunia nyata. Beda halnya dengan lawakan berupa tanggapan terhadap kondisi sosial, seperti kecemasan memakai baju yang sama, kegagapan masyarakat kelas tertentu di angkutan umum, serta dinamika suami istri terhadap kontrasepsi.

Terlepas dari itu semua, karya debut penyutradaraan Ernest Prakasa ini secara keseluruhan mempunyai bekal yang cukup. Premisnya begitu kuat, dan sukses dituntaskan di akhir film. Kehadiran Sega (secara verbal), PlayStation, novel Harry Potter, serta pergantian kendaraan dari waktu ke waktu, menunjukan kepekaannya terhadap detil-detil properti sebagai penanda dimensi waktu dalam film—sekalipun ada keluputan kecil terkait poster film Harry Potter, yang tertinggal satu volume dan tidak sesuai dengan obrolan.

Keunggulan lain yang juga penting adalah kesuksesan Ngenest membuat cerita yang mengalir—setidaknya jauh lebih mengalir dari semi-otobiografi komika lainnya. Tidak ada lelucon yang berdiri sendiri. Selalu ada yang berulang, atau terkait dengan kejadian sebelumnya. Begitupula adegan yang berisi obrolan agak serius, selalu berhasil secara efisien merangkai keberlanjutan narasi. Misalnya saat bermain dart, Patrick (Morgan Oey) menyebutkan kembali Koh Hengky, momen jadian yang kembali mengangkat selera musik Meira (Lala Karmela), hingga perpindahan masa SD ke SMP melalui permainan visual dengan efisien.

Tapi, lagi-lagi, menertawakan isu besar tentu butuh strategi. Dalam kasus Ngenest, ada tuntutan yang besar dari premis yang diusung. Sebuah trauma tidak bisa digambarkan sekelebat saja—bukan ekspresi sesaat siswa SMP. Walaupun begitu, tentu bukan berarti juga bahwa penggambarannya harus serius dan melempar berbagai fakta sejarah. Bila memang pemantiknya adalah sebuah trauma, maka gambarkanlah trauma dari berbagai kemungkinan visual dan verbal yang ada. Toh, dalam medium film, selalu ada banyak jalan menuju trauma.

Ngenest | 2015 | Durasi: 91 menit | Sutradara: Ernest Prakasa | Produksi: Starvision | Negara: Indonesia | Pemeran: Ernest Prakasa, Lala Karmela, Morgan Oey, Kevin Anggara, Brandon Salim, Ferry Salim, Olga Lydia, Budi Dalton, Ade Fitria Sechan, Ge Pamungkas

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (12)
  • Boleh juga (5)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (2)
Share

Send this to a friend