Menggerayangi Aoi: Selewat LSF dan Aktris Dewasa Asing dalam Film Horor Indonesia

Sora Aoi: Aktris dewasa Jepang, gandengan produser Ody Mulya Hidayat dalam Suster Keramas 2

Sora Aoi: Aktris dewasa Jepang, gandengan produser Ody Mulya Hidayat dalam Suster Keramas 2

Awalnya masyarakat gempar, ketika ada produser film yang berinisiatif menggandeng pemain film dewasa dari luar negeri untuk bermain di film produksinya: film Indonesia. Kegemparan ini bisa diartikan macam-macam. Ada yang gempar karena khawatir bintang porno tersebut akan beraksi bugil di hadapan penonton Indonesia, ada pula yang gempar buru-buru mencari tanggal pasti rilisnya film tersebut, tak sabar ingin menonton. Lembaga Sensor Film (dulu disebut Badan Sensor Film) tak pelak menjadi pusat tolehan semua pihak, lembaga inilah yang diharapkan mampu menetralkan semua kegemparan yang terjadi. Lembaga yang beberapa waktu lalu sempat ramai dituntut untuk bubar ini sekarang harus unjuk gigi.

Menjadi menarik ketika kita menyoal masalah ikut sertanya beberapa aktris porno asing dalam film-film Indonesia. Hal utama yang bisa dicurigai dari upaya ini adalah tentunya strategi pemasaran. Maria Ozawa dalam film Menculik Miyabi, tentu saja digandeng atas dasar ketenarannya di Indonesia. Sora Aoi pun tidak asing lagi, sehingga produser Ody Mulya Hidayat rela bertungkus lumus membujuknya masuk ke Suster Keramas 2. Lantas, dengan menyensor film yang mereka bintangi, apakah LSF bisa menyensor citra panjang mereka sebagai artis film dewasa?

Dalam membaca fenomena penggunaan artis film dewasa asing dalam film-film horor kontemporer Indonesia, kita sebaiknya tak berhenti pada perkara sensor dan isi saja. Hadirnya Ozawa atau Aoi dalam film-film tersebut  sangat memungkinkan untuk dibaca sebagai tradisi klasik yang, dalam perkara Indonesia, berbenturan dengan semacam moral kolektif yang dimiliki bangsa ini. Menurut Richard DeCordova (1990), tradisi pemakaian pemain bintang dalam film sudah ada di Amerika Serikat sebelum tahun 1910.  Dampaknya, nama sang artis yang dipampang di layar tidak hanya berfungsi sebagai pelumas dagang, melainkan secara tidak langsung akan menjadi komodifikasi identitas publik sang bintang. Ketika bermain dalam sebuah film, artis akan dianggap memiliki sebentuk ‘kehidupan’ yang diresapi secara bersama oleh penonton. Meminjam istilah DeCordova, Stars’ images are used to develop the meaning of a film and build expectation. (1990: 32) Ekspektasi adalah bentuk lanjut dari komersialisasi yang menggerakkan masyarakat untuk datang menyaksikan aksi sang bintang.

DeCordova juga mencatat bahwa publikasi kehidupan artis di luar layar (potret kehidupan pribadi) pertama kali muncul pada tahun 1914. Waktu itu, publikasi mengenai seorang artis haruslah semirip mungkin dengan apa yang ia perankan di layar. Misalnya, publikasi tentang kehidupan Lilian Gish atau Mae Marsh haruslah mirip dengan apa yang ia perankan dalam film. Keselarasan antara peran dalam film dan publikasi mengenai kehidupan pribadi menjadikan, katakanlah, Mary Pickford begitu disayangi audiens film di Amerika Serikat. Sebaliknya, bila publik mendapati ketidakcocokan antara peran dan pribadi aktual si aktor, maka ia akan dibaluri sentimen negatif. Disinilah terma “skandal figur publik” muncul pertama kali. Adalah komedian Roscoe Arbuckle yang menjadi salah satu contoh terkenal. Pada Hari Buruh tahun 1921, Arbuckle menggelar pesta yang dihadiri aktris Virginia Rappe. Beberapa hari setelah pesta, Rappe jatuh sakit dan meninggal. Arbuckle dituding melakukan pelecehan seksual terhadap Rappe hingga diseret ke pengadilan. Jadilah, karir Arbuckle (yang sebenarnya adalah kolaborator rutin komedian legendaris Buster Keaton) meredup secepat kilat.

Poster film Pocong Mandi Goyang Pinggul. Sasha Grey (kanan) sebagai tameng utama promosi

Tarik menarik antara peran dalam layar dan kehidupan luar layar seorang aktris menjadi semakin tegang menyusul meluasnya varian medium publikasi, terutama internet. Di Internet, online fanpage yang tersebar di berbagai jejaring sosial memungkinkan publik untuk ikut memantau tarik tambang kebintangan seorang aktris. Di Indonesia, meskipun tak semua orang punya akses ke internet, tapi hampir semua orang punya akses ke acara ria berita (infotainment), yang berfungsi hampir sama namun dengan jangkauan yang lebih menyeluruh. Internet dan ria berita berperan penting dalam menjalankan fungsi publikasi kehidupan pribadi seorang aktris.

Kasus Tera Patrick dan Sasha Grey yang diundang oleh produser KK Dheeraj, atau Rin Sakuragi dan Sora Aoi oleh produser Ody Mulya Hidayat, juga beroperasi di ranah publik dengan cara yang tak jauh berbeda. Masyarakat sudah pernah menemui mereka bermain dalam film-film dewasa, Sasha Grey dengan Naughty America adalah komoditas yang sangat dikenal di Indonesia lewat internet. Sehingga meskipun adegannya dalam film Pocong Mandi Goyang Pinggul telah disensor oleh LSF, masyarakat akan tetap memperhadapkan Grey dengan image-image yang berasal dari film-film mereka sebelumnya yang terpublikasi. Sebab tentu otoritas LSF hanya sebatas pada pengawasan isi Pocong Mandi Goyang Pinggul dan bukan film-film terdahulu Grey. Terdapat aura kebintangan besar yang telah mengalir di tengah khalayak, yang membuat film-film Grey akan memiliki nilai jual tinggi di Indonesia, meskipun tak ada adegan telanjang (sebagaimana yang biasa Grey peragakan di film-filmnya) dalam Pocong Mandi Goyang Pinggul. Sebab yang membuat penonton datang ke Bioskop bukan lagi ekspektasi terhadap ketelanjangan Grey, melainkan image-image yang berasal dari film-film terdahulunya.

Nah, lantas bagaimana LSF bisa menyensor aura kebintangan Sora Aoi dan kawan-kawan yang merupakan produk kultural yang tak kasat mata? Bagaimana perangkat relijius yang akhir-akhir ini begitu berpengaruh bisa menyeleksi kebintangan para pemain film dewasa ini? Lantas apa sebenarnya yang ingin diboikot oleh FPI apabila materi film sudah sesuai dan disahkan oleh LSF yang sebenarnya  berisi para aparatur agama juga?

Bagi penonton Indonesia, tontonan tidak lagi terbatas pada film-film yang berisi bintang porno ini per se. Lebih dari itu, penonton Indonesia telah memainkan perannya secara aktif sebagai audiens, dalam mencari informasi, dan menjadi penonton Sora Aoi, Tera Patrick, Maria Ozawa, dan Rin Sakuragi terlepas dari legal atau tidaknya film-film mereka di Indonesia. Jadi ketika Aoi datang dan main di film Indonesia, itu hanya merupakan bonus saja pada penonton, yang sebenarnya sudah mengetahui bahwa yang akan mereka lihat dalam Suster Keramas 2 akan jauh lebih tertutup dibanding apa yang mereka lihat dalam film-film Aoi sebelumnya. Lanskap pandangan penonton tidak hanya terbatas pada film-film Indonesia tersebut, melainkan telah melebar pada semua materi yang berisikan Aoi (gambar-gambar, film-film, gosip-gosip).  Identitas Aoi dkk dalam film-film Horor Indonesia tidak hanya terbatas pada film yang ia mainkan disini, melainkan juga berasal dari penampilan (performativity) imaji secara berulang-ulang  di ruang publik melalui berbagai macam media dalam waktu yang tak sebentar.

Bagi saya, Indonesia memang harus memilih antara moral yang dipegang oleh LSF dan hasrat-maruk para produser. Sebab dengan jalan tengah seperti yang diperagakan sekarang ini, yakni dengan memperbolehkan undangan main pada artis porno luar namun tetap mengguntang-gunting di ruang sensor, berarti Indonesia sebenarnya tetap saja memperbolehkan rakyatnya kerasukan aura pornografi dalam jumlah yang massif. Indonesia berada diambang dua pilihan yang sama-sama rasional. Pertama, dengan melarang sama sekali artis porno asing bermain di film Indonesia. Kedua, dengan membiarkan artis-artis tersebut berdatangan tapi tanpa sensor sekalian. Sebab sebagaimana yang saya paparkan diatas, apalah gunanya menyensor materi film bila toh, aura kebintangan si aktris sudah terlanjur dicerap oleh khalayak. Apalah gunanya menutupi paha Sora Aoi, bila rakyat Indonesia sudah berkali-kali melihatnya telanjang bulat. Respon potensial dari LSF berupa “Yang penting kami menunaikan bagian kami” kok ya rasa-rasanya akan terdengar sangat egois nan acuh tak acuh. Polemik aktris porno asing dengan LSF hanya akan menjadi sia-sia. Sebab lebih dari materi, gunting sensor terlalu tumpul untuk menilap aura.

Referensi

DeCordova, Richard . 1990. Picture Personalities: The Emergence of the Star System in America, Chicago:
University of Illinois Press.

McDonald, Paul. 2003. Stars in the Online Universe: Promotion, Nudity, Reverence. Dalam Austin, Thomas & Barker, Martin (Eds.), Contemporary Hollywood Stardom (hlm. 29-44). New York: Oxford University Inc.

Butler, Judith. 1997. Excitable Speech: A Politics of the Performative, New York: Routledge.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend