Mengamati Perempuan, Mengalami Kemanusiaan: Catatan Menonton #KolektifJakarta

gambar_mengamati-perempuan-mengalami-kemanusiaan_00

Siti karya Eddie Cahyono (Fourcolours Films)

Seni adalah salah satu alat untuk mengalami kemanusiaan. Film, misalnya, ‘memadatkan’ kisah dan kondisi-kondisi manusia, baik yang ada pada jaman dulu, sekarang, maupun yang diimajinasikan. Meski kerap dibingkai dalam metafora dan simbolisme yang berjarak dari kenyataan, film menyuguhkan suatu bentuk proyeksi audiovisual mengenai kenyataan tersebut, yang kemudian merangsang penonton secara emosional dan intelektual.

Selama 3-26 April 2015 ini, babibutafilm dan Kolektif mengadakan rangkaian pemutaran bertajuk #KolektifJakarta di Kineforum DKJ, Taman Ismail Marzuki. Setiap akhir pekan, tayang beberapa judul film, baik pendek maupun panjang, baik klasik maupun kontemporer. #KolektifJakarta sendiri adalah bagian dari program Mengalami Kemanusiaan, yang secara paralel mengadakan Pameran Lab Laba-Laba di Perum PFN pada tanggal yang sama.

Pekan pertama #KolektifJakarta, 3-5 April, memutar film-film bertema seksualitas. Ada seksualitas wanita dalam Selamat Pagi, Malam (2014) karya Lucky Kuswandi, Suci Sang Primadona (1977) karya Arifin C Noer, Cinta Dalam Sepotong Roti (1991) karya Garin Nugroho, maupun tentang relasi seksualitas dengan kuasa dalam The Fox Exploits the Tiger’s Might (2015) karya Lucky Kuswandi. Lebih dari itu, tema seksualitas kaum LGBT juga diangkat di sini. Lesbian diceritakan sedikit dalam Selamat Pagi, Malam, sementara kisah kaum gay diangkat dalam film Arisan! (2003) karya Nia Dinata, Istana Kecantikan (1988) karya Wahyu Sihombing, dan Parts of the Heart (2012) karya Paul Agusta. Kaum transgender menjadi sorotan dalam dokumenter Mangga Golek Matang di Pohon (2012) karya Tonny Trimarsanto.

Menariknya, pada pekan yang sama, ada empat film lainnya yang menyempal dari ide sentral mengenai seksualitas. Mereka adalah Siti (2014) karya Eddie Cahyono, Cleaning the Fish (2013) karya Myrna Paramitha Pohan, Kisah Cinta yang Asu (2015) karya Yosep Anggi Noen, dan Sendiri Diana Sendiri (2015) karya Kamila Andini. Jika ditarik benang merahnya, keempat film ini menempatkan perempuan sebagai agen ekonomi vis-à-vis pihak yang didomestikasi dalam hubungannya dengan laki-laki.

gambar_mengamati-perempuan-mengalami-kemanusiaan_02

Cleaning the Fish karya Myrna Paramitha Pohan (Buttonijo Films)

Siti berdurasi 75 menit. Film hitam-putih tersebut berlatar di pesisir Parangkusumo, Yogyakarta. Si tokoh utama, Siti, sehari-harinya mengurus rumah tangga dan anaknya, Bagas. Ketika siang hari, ia dan ibu mertuanya, Darmi, berjualan rempeyek di pinggir pantai. Suaminya, Bagus, adalah seorang nelayan. Suatu hari, Bagus mengalami musibah di laut yang tak hanya membuatnya lumpuh, namun juga menghancurkan kapalnya yang baru saja dibeli lewat hutang. Demi melunasi hutang tersebut, Siti mengambil kerja sebagai pemandu karaoke remang-remang. Karaoke itu digrebek oleh polisi. Salah seorang anggota polisi tersebut, Gatot, jatuh cinta padanya. Sementara itu Bagus, berkaca pada ketidakberdayaannya sendiri dan pekerjaan Siti di karaoke, tak pernah merespon ketika Siti mengajaknya bicara. Siti merasa kesal karena terus-terusan tidak dihargai oleh Bagus, padahal Siti sebenarnya masih mencintainya. Setelah protes ke kantor polisi, karaoke remang-remang dioperasikan lagi. Di karaoke, Gatot ingin bertemu dengan Siti. Siti bercerita tentang hutang kapal yang harus segera lunas. Gatot menyanggupi membantu, bahkan mengajak Siti menikah. Protagonis kita harus memilih: terus bersama Bagus atau menikah dengan Gatot.

Lewat Siti, kita melihat sosok perempuan (baik Siti maupun ibu mertuanya) sebagai seorang breadwinner, alias pencari nafkah utama dalam keluarga. Hal yang sama bisa disaksikan dalam film pendek Kisah Cinta yang Asu. Dalam film berdurasi 30 menit ini, tokoh Ning dan Martha sama-sama berprofesi sebagai pekerja seks komersial. Ning bekerja di tempat billiar dan pinggir jalan, sementara Martha melayani klien-klien yang memiliki fantasi seksual tertentu di hotel. Keduanya berpacaran dengan pria bernama Erik King. Erik King ini adalah pemuda pengangguran anggota geng motor. Ia seringkali bergantung pada Ning dan Martha untuk memenuhi kebutuhan ekonomisnya. Meskipun mempunyai unsur seksualitas, dua film tersebut lebih mengenai independensi ekonomi perempuan di saat pihak laki-laki yang secara tradisional dianggap sebagai pencari nafkah tidak bisa memenuhi perannya.

Kontras dengan Siti dan Kisah Cinta yang Asu yang menampilkan tokoh perempuan yang bekerja di luar rumah, Cleaning the Fish dan Sendiri Diana Sendiri berpusat pada ibu rumah tangga. Cleaning the Fish memotret keseharian perempuan dalam domestikasi rumah tangga: memasak air untuk sang suami, menyiapkan sarapan dan baju kerja, membersihkan rumah, mencuci dan menyetrika pakaian, dan lain-lain. Di sela-sela kerutinan domestik itu, terselip adegan prosesi pernikahan, yang menyebutkan bahwa “suami dan istri sekarang setara”. Selipan lainnya adalah si ibu (entah mertua atau ibu si wanita sendiri) yang menasehati si wanita bahwa dia sekarang bahagia, karena ia “tidak perlu bekerja, rumah sudah dibelikan, bahkan mobil juga dibelikan.” Namun tampak bahwa kehidupan menjadi ibu rumah tangga tidak serta-merta membawa kebahagiaan. Ada jarak emosional antara si istri dan suami, dan nampak suami abai terhadap apa yang istrinya kerjakan. Nahasnya lagi, sang istri harus mengulangi itu setiap hari.

Sendiri Diana Sendiri berdurasi 40 menit. Tokoh utamanya, Diana, adalah seorang ibu rumah tangga beranak satu, Rifki. Suatu hari, suaminya mengutarakan keinginan untuk poligami. Ia ingin menikah dengan teman lamanya yang bertemu kembali dalam sebuah pengajian yang sama. Alasannya tidak ia ungkapkan kepada Diana. Diana yang tidak mau dimadu berkeluh-kesah kepada ibunya dan mertuanya. Namun, keinginan suaminya tetap bulat. Suaminya diam-diam melangsungkan pernikahan. Ia kemudian jarang berada di rumah, sehingga praktis Diana hanya berdua saja dengan Rifki. Rifki lah yang justru membantu Diana sehari-hari. Tak tahan dengan suaminya yang tak menafkahi lahir batin, ia mencoba bekerja di luar rumah. Akan tetapi, sang suami tidak terima istrinya bekerja di luar rumah. Diana pun kemudian mengutarakan keinginan untuk bercerai. Meskipun isu poligami di film ini bisa dikaitkan dengan ajaran agama Islam, Sendiri Diana Sendiri tidak mengomentari hal tentang hal ini, terlihat dari tidak adanya eksplorasi kepada motivasi maupun dalil-dalil agama sebagai justifikasi atas keinginan sang suami untuk berpoligami.

gambar_mengamati-perempuan-mengalami-kemanusiaan_01

Kisah Cinta yang Asu karya Yosep Anggi Noen (babibutafilm & Hivos)

Narasi Alternatif bagi Perempuan

Mengangkat isu posisi wanita dalam kontenstasi antara tradisionalisme dan modernisme, atau antara keutuhan keluarga dan independensi wanita, sesungguhnya bukanlah hal yang baru. Begitupun dengan penggambaran potret maskulinitas yang tidak ideal, yang telah dinarasikan dalam beberapa film yang muncul setelah lengsernya Soeharto. Biasanya, film-film dengan narasi seperti ini diterjemahkan sebagai pandangan alternatif terhadap konsep tentang keluarga seperti yang dirumuskan pada Orde Baru.[i] Di samping itu, muncul pula film yang menandingkan feminisme dengan agama (yang biasanya partiarkis), seperti Perempuan Berkalung Sorban (2009) karya Hanung Bramantyo.

Dari segi seksualitas perempuan, omnibus Perempuan Punya Cerita (2007) karya Lasja Fauzia Susatyo, Fatimah Tobing Rony, Upi Avianto, dan Nia Dinata menghadirkan isu tentang perkosaan, kehamilan remaja, aborsi, dan AIDS. Dengan semangat yang sama, perlawanan terhadap apa yang disebut dengan tatapan laki-laki (male gaze) pada sinema juga mulai berkembang. Konsep gaze ini berasal dari Lacan, yang kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Laura Mulvey dalam Visual Pleasure and Narrative Cinema.

Male gaze adalah bagaimana perempuan dipandang dari perspektif laki-laki—ia menjadi objek fetish atau voyeur bagi laki-laki tersebut. Laura Mulvey menganggap male gaze sebagai akibat dari keberadaan laki-laki (heteroseksual) di belakang kamera. Perempuan di bawah male gaze seringkali terjebak dalam dua dikotomi peran: sebagai pihak yang seksualitasnya dierotisasi (to be looked at) maupun didemonisasi karena tidak sejalan dengan norma-norma agama maupun tradisional.[ii] Film seperti Arisan! atau Mereka Bilang, Saya Monyet (2007) karya Djenar Maesa Ayu secara subversif membalik relasi gaze perempuan dan laki-laki. Seksualitas perempuan yang diutarakan secara asertif maupun terbuka dipandang sebagai sesuatu yang wajar, namun juga tak lantas dierotisasi. Bisa dibilang pembalikan itu muncul dalam bentuk female gaze, yakni menatap perempuan lewat lensa perempuan (seperti sang pembuat film) juga.

Film Siti dan kawan-kawannya di atas mengambil jalan yang berbeda. Jika pembalikan male-female gaze terkait dengan dominasi laki-laki atas seks dan tubuh perempuan, maka film-film ini secara subversif melawan dominasi laki-laki atas kerja yang dilakukan perempuan–katakanlah, semacam pembalikan terhadap economic male gaze yang patriarkis. Economic male gaze memandang kerja yang dilakukan perempuan dalam relasinya dengan kerja yang dilakukan laki-laki serta pola-pola subordinasi ekonomi yang jamak terjadi.

Bak buah simalakama, perempuan baik yang bekerja maupun yang menjadi ibu rumah tangga tidak terlepas dari economic male gaze yang bermanifestasi lewat berbagai cara. Salah satunya adalah tidak adanya apresiasi kepada kerja domestik, yang secara tradisional seringkali dibebankan kepada perempuan.[iii] Dalam film, Siti didiamkan oleh Bagus; padahal Siti yang tiap hari merawat dan menyuapinya.

Si istri dalam Cleaning the Fish kecewa karena sang suami tidak memakan masakan yang susah payah ia siapkan. Pembebanan kerja domestik kepada perempuan semakin eksplisit dalam Sendiri Diana Sendiri, di mana ayah mertua Diana menganggap Diana kurang telaten merawat sang suami sebagai penyebab ia berpaling ke wanita lain. Di film ini juga, sikap sang pembuat film terhadap ketidaksetaraan dalam kerja domestik nampak lewat protes Diana ke sang suami yang tak mau mengurus anak mereka. Lewat film-film ini, kita dihadapkan pada penggambaran realitas bahwa mengerjakan pekerjaan rumah tangga tidak semudah dan sesepele kelihatannya: ada kelelahan dan keterkungkungan yang dirasakan, dan seringkali tidak ada insentif bagi kerja seperti ini meskipun ia sama-sama pentingnya dengan kerja yang menghasilkan uang.

Economic male gaze yang lain adalah tidak adanya apresiasi terhadap kerja ekonomis. Di samping penggambaran mengenai martabat perempuan yang direndahkan di tempat kerja (misalnya eksploitasi Siti oleh pemilik karaoke, sexual harassment yang dialami oleh Ning di tempat billiar), ketiadaan apresiasi justru timbul dari dalam rumah sendiri. Dalam Siti dan Sendiri Diana Sendiri, ada sentimen negatif dari masing-masing suami terhadap pekerjaan sang istri. Suami Diana malah dengan lantang mengungkapkan penolakannya terhadap pekerjaan baru Diana. Martha dan Ning dalam Kisah Cinta yang Asu tidak hanya dimanfaatkan secara ekonomis oleh Erik King, tetapi bahkan Erik pun tidak menghargai mereka. Pada salah satu adegan di film tersebut, Martha marah kepada Erik karena kostumnya dipakai sebagai lap motor. Alih-alih meminta maaf, Erik malah mengatai Martha, “Dadi lonte iku mbok sing biasa wae.” (“Jadi pelacur itu yang biasa saja”)

Kowe ki ncen asu!” (“Kamu ini memang anjing!”), begitu ungkapan kegelisahan Siti dan Martha pada pasangan lelakinya. Kegetiran timbul karena para perempuan ini menyadari bahwa mereka tak independen dan bebas dari economic male gaze. Lalu bagaimana para perempuan ini merebut kembali independensinya? Siti dan Diana memilih untuk bercerai dengan suaminya. Ning dan Martha membalas dendam dengan cara membawa motor Erik ke pemukiman warga; para warga sendiri sudah kesal tak keruan karena suara berisik geng motor, dan bersama-sama membakar motor kesayangan Erik tersebut.

Satu yang berbeda pada Cleaning the Fish, sikap pembuat film terhadap keterkungkungan yang dialami perempuan tidak tampak secara eksplisit dalam kosa gambarnya. Akibatnya, jika seseorang tidak mempunyai prekonsepsi tentang feminisme terlebih dahulu, bisa saja film tersebut cuma dilihat sebagai cerita mengenai kebosanan seorang ibu rumah tangga pascapernikahan.

gambar_mengamati-perempuan-mengalami-kemanusiaan_03

Sendiri Diana Sendiri karya Kamila Andini (babibutafilm & Hivos)

Catatan Penutup

Siti, Kisah Cinta yang Asu, Cleaning the Fish, dan Sendiri Diana Sendiri merupakan film-film dengan pendekatan naratif yang penting untuk dicatat. Keempatnya menyoroti kerja yang dilakukan perempuan, baik kerja ekonomis maupun kerja domestik. Isu seksualitas perempuan tetap hadir, begitu pun isu tradisionalitas keluarga dan agama. Namun, hal ini tidak menjadi lokus utama pembahasan film-film tersebut.

Berbeda dengan film macam Arisan!, para perempuan di film-film ini bukan dari kelas menengah urban metropolis, atau borjuis kecil dengan kemampuan ekonomi yang terlewat mapan. Masalah yang dihadapi pun lebih familiar bagi kelas pekerja di kawasan desa atau suburban. Bisa dibilang, perempuan-perempuan dalam empat film di atas lebih truer-to-life. Selain itu, empat film tadi membawa isu kesetaraan dalam kerja, isu yang sama relevannya dengan isu-isu sentral feminisme seperti halnya kesetaraan perempuan dalam seksualitas dan agama. Secara estetis keempatnya juga bisa menjadi tontonan alternatif.

Tema kerja yang dilakukan perempuan memang bukan tema yang unik. Hal serupa pernah diangkat sebelumnya dalam film antologi dokumenter Working Girls (2011) karya Sammaria Simanjuntak, Sally Anom Sari, Yosep Anggi Noen, Daud Sumolang, dan Nitta Nazyra C. Noer. Akan tetapi, dalam film fiksi, tema kerja yang dilakukan perempuan masih jarang diangkat di layar lebar. Kalaupun ada, seringkali ia menempel dengan penggambaran tokoh dan latar, bukan berdiri sebagai tubuh narasinya.

Referensi

[i] Menurut Suzanne Brenner dalam On the Public Intimacy of the New Order: Images of Women in the Popular Indonesian Print Media (1999), negara, agama, dan keluarga adalah institusi yang paling sakral dan fundamental dalam Orde Baru. Oleh karenanya, peran wanita dalam medium film seringkali direduksi menjadi istri atau ibu yang tunduk pada suami serta berorientasi keluarga. Inilah femininitas yang ideal menurut Orde Baru. Lihat pula konsep state-ibuism dari Julia Suryakusuma, dalam State Ibuism: The Social Construction of Womanhood in the Indonesian New Order (1987).

Tokoh suami/ayah yang absen sebagai potret maskulinitas yang tidak ideal misalnya pernah dimunculkan dalam film-film seperti Pasir Berbisik (2001) karya Nan T Achnas dan Eliana, Eliana (2002) karya Riri Riza. Seperti yang pernah ditulis Eric Sasono dalam Anak Ini Punya Nama: Single Parent (Kompas, 29 Mei 2005), maskulinitas yang gagal ini merupakan kontestasi terhadap konsep nuclear family ideal gaya Orde Baru—keluarga yang “dianggap baik” adalah yang terdiri dari seorang ayah, seorang ibu, dan maksimal dua orang anak.

[ii] Claire Tatyzo, dalam Nia Dinata and Indonesia’s post-New Order Film Culture, menyebutnya sebagai wife-whore binary: jika tidak berperan sebagai seorang istri yang penurut dan setia pada suami, maka ia menjadi wanita ‘tak bermoral’, seringkali dianggap seperti pelacur.

[iii] Maria Mies, dalam Patriarchy and Accumulation on a World Scale (1986) menyebut fenomena ini sebagai housewifization. Ciri-cirinya: perempuan yang dependen pada penghasilan sang suami, terlepas apakah ia adalah de facto ibu rumah tangga serta berapa besar kontribusi aktual sang suami kepada pendapatan keluarga.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend