Melintasi Sejarah Bioskop di Sumatera Barat

Bioskop Karia (sketsa oleh Adam Ibnu Aulia)

Pada 28 Desember 1895 di Paris, Budi duduk di kursi paling depan Grand Cafe Boulevard des Capucines untuk menonton The Arrival of a Train at La Ciotat Station karya Lumière bersaudara. Kebetulan, bioskop pertama yang Budi hadiri adalah bioskop pertama di dunia, meski pemutaran karya gambar bergerak sudah ada sebelum Lumière bersaudara. Thomas Armat lebih dulu memutarkan gambar bergerak di Atlanta, Amerika, ketika berlangsung pameran kapas pada 1895. Pada tahun yang sama, Roberto Paul memukau publik London; sementara Max dan Emil Skladanowsky melakukannya di Berlin. Bedanya, Lumière bersaudara menerapkan sistem berbayar untuk pemutaran karyanya. Budi jadi penasaran.

Dalam kafe, peluh dingin Budi mengalir deras. Tontonannya itu selama lima puluh detik memvisualkan sebuah kereta yang bergerak menuju ke arah kamera. Budi takut. Sementara itu, di jendela, tampak butiran salju turun dengan derasnya. Dongeng Santa dan tahun baru berhembus bersama angin musim dingin.

Sejak hari itu Budi turut serta menghadiri pemutaran film di berbgai belahan dunia: di London, Inggris, pada Februari 1896; St. Petersburg, Uni Soviet, pada Mei 1986; Jepang pada 1896 sampai 1897; Korea pada 1903; dan Italia pada 1905.

Sebelum ke Korea dan Italia, Budi sempat singgah di Hindia Belanda. Pada 5 Desember 1990, Nederlanshe Biosckop Maatschappij (Perusahaan Bioskop Belanda) mensponsori pemutaran film di Tanah Abang, Batavia. Budi senang. Ia duduk bersebelahan dengan sinyo dan noni-noni Belanda, yang kala itu berkedudukan lebih tinggi dalam strata sosial masyarakat setempat.

Kunjungan inilah yang membuat Budi kembali ke Hindia Belanda setelah ia puas berkeliling dunia. Dari Italia, ia langsung berlayar ke Padang untuk menemui Susi, kekasihnya.

Iklan film di Sumatera Barat pada masa kolonial (sketsa oleh Adam Ibnu Aulia)

Cikal Bakal Sinema di Padang

Padang adalah kota yang strategis. Dengan Pelabuhan Emmahaven sebagai gerbangnya, Padang menjamu pedagang dan pendatang dari berbagai belahan dunia. Tak heran apabila Padang terhitung cepat dibanding dengan daerah lain di bagian barat Indonesia. Fonograf, atau mesin bicara yang diciptakan Thomas Alva Edison pada 1887, sudah ada di Padang sejak 1898. Begitu juga dengan film. Pemutaran film sudah ada di Padang sejak 1905, walau sifatnya masih eksklusif untuk orang-orang Belanda. Film yang diputar adalah dokumenter perang Jepang melawan Uni Soviet. Pemutaran-pemutaran film belum berlangsung di bioskop, melainkan di gedung multifungsi tempat berkumpulnya imigran-imigran Eropa, seperti Edison’s Wereld Toneel, Royal, dan Ons Genoegen.

Bioskop-bioskop baru berdiri pada dekade 1920an. Empat bioskop pertama di Padang, yakni Royal Excelsior Bioscope, Biograph Bioscope, Scalabio[scope], dan Cinema Theater, dimiliki oleh pengusaha Cina dan Eropa. Sampai sekarang belum diketahui letak persisnya keempat bioskop itu. Pada masa itu, pengusaha Cina memang banyak menanam saham untuk membangun bioskop, karena usaha perbioskopan begitu menjanjikan. Selain itu, para pengusaha Cina juga menganggap pengusaha Eropa telah gagal dalam berbisnis bioskop. Mereka yakin mereka bisa lebih baik dari orang-orang Eropa. Dalam berbisnis bioskop, pengusaha Cina cenderung mendirikan banyak bioskop dalam satu payung kepemilikan. Contohnya adalah Cinema Bioskop, yang dirintis pada 1921 oleh perusahan Maskapay Handle Industri. Ang Eng Kwan, pemimpinnya, kemudian mendirikan Appolo Bioscope pada 1926 dan Rio Bioskop pada 1936.

Bioskop dengan cepat menjadi bagian dari keseharian warga setempat, tak terkecuali Budi dan Susi. Mereka senang ke bioskop karena mereka bisa rebahan di kursi sambil menonton karya-karya gambar bergerak. Waktu itu harga karcis terbagi menjadi tiga klasifikasi: kelas satu ƒ 1,25; kelas dua ƒ 0,75; kelas tiga ƒ 0,25. Kelas menentukan posisi tempat duduk: kelas satu paling belakang, kelas dua di tengah, dan kelas tiga di depan. Penempatan ini selaras dengan stratifikasi sosial yang ditegaskan pemerintahan kolonial kala itu: kelas satu untuk orang-orang Belanda; kelas dua untuk orang Cina, India, Amerika, dan Eropa; dan kelas tiga untuk kaum pribumi.

Budi dan Susi tak punya banyak uang. Mereka kesulitan menyisihkan uang untuk membeli dua lembar karcis kelas tiga di Cinema Bioscope. Mereka dapat tempat duduk paling depan. Budi sendiri ingin duduk di belakang, supaya lebih bisa bermesraan dengan Susi. Ditambah lagi dengan “penonton kelas kambing” yang duduk di lantai depan kursi kelas tiga. Mereka selalu berbisik, meribut seperti kambing, sehingga keintiman Budi dan Susi terganggu. Tapi mau bagaimana lagi.

Pembagian kelas di bioskop untungnya tidak bertahan lama. Melihat potensi penonton yang tinggi di kalangan penonton pribumi, para pengusaha Cina membuka bioskop mereka sepenuhnya untuk orang pribumi, selama mereka bisa membayar harga tiket untuk kelas dua atau kelas satu. Budi dan Susi pun bisa berasyikmasyuk.

Di salah satu pemutaran film, Susi berbisik kepada Budi, bahwa sanak-familinya di Padang Panjang, Bukittinggi, dan Payakumbuh juga senang nonton film di bioskop. Bioskop sudah mulai banyak berdiri di sana. Pada suatu kesempatan, ketika Budi membaca koran Sinar Sumatera, ia dikejutkan oleh berita seorang anak yang menjahili tukang minyak tanah keliling dengan meniru gaya Tom Mix di salah satu adegan filmnya, sehingga minyak terbuang sepanjang jalan.

Sejak 1926, film-film bersuara mulai hadir di Hindia Belanda. Tidak saja film-film bersuara dari luar, seperti Jazz Singer, Fox Foolies, dan Rainbow Man, tapi juga film-film bersuara produksi lokal Njai Dasima dan Pembalasan Nancy. Film-film ini menghadirkan pengalaman menonton yang berbeda. Kalau biasanya Budi dan Susi bisa memahami film dari gerak-gerik para pemeran, kini mereka harus mencermati dialog-dialog yang mereka ucapkan. Sialnya, bahasa yang dipakai tak dipahami oleh mereka. Budi dan Susi tak sendiri. Banyak penonton lain merasakan hal serupa, sehingga para pengusaha bioskop menyertakan teks tertulis di layar (subtitle) supaya film mudah dipahami.

Awal 1930an, perbioskopan mengalami masalah. Tidak hanya di Padang, tapi juga di luar Padang. Krisis ekonomi akibat Perang Dunia I mulai terasa di Hindia Belanda. Para pengusaha bioskop kesusahan mengimpor film-film dari luar, dan bioskop mulai ditinggalkan penonton. Budi dan Susi pun terlalu sibuk mencari uang untuk makan. Tak banyak yang tersisa untuk menonton film.

Krisis mendorong para pengusaha bioskop untuk berstrategi bersama. Pada 13 September 1934, mereka berkumpul dan menyelenggarakan rapat di Batavia. Pertemuan itu menghasilkan Gabungan Pengusaha Bioskop Hindia Belanda. Holthaus dari Centraale Theater, Buitenzorg (Bogor), terpilih sebagai ketua; Liono, manajer perusahaan film Remaco, terpilih sebagai sekretaris; dan Van Der Ie dari Centraale Bioscoop, Batavia, terpilih sebagai bendahara. Ada pula Yo Hen Siang dari Globe Bioscoop dan Oey Soen Tjan dari Cinema Palace, Batavia, terpilih sebagai komisaris.

Pertemuan itu juga menetapkan iuran bioskop per bulan berdasarkan kelasnya: ƒ 15 untuk bioskop kelas I, ƒ 10 kelas II, dan ƒ 5 kelai III. Di Padang, bioskop kelas I meliputi Cinema Bioscoop, Rio Bioscoop, Capitol Bioscoop, dan Rex Bioscoop. Bioskop kelas II hanya Apollo Bioscoop.

Bioskop Raya (sketsa oleh Adam Ibnu Aulia)

Kedatangan Saudara Tua

Agresi Jepang di Pearl Harbour membuat Belanda gentar. Mereka yakin Jepang akan segera menduduki Hindia Belanda, apalagi setelah Jerman, sekutu Jepang, berhasil menduduki negeri Belanda. Oleh karena itu AWL Tjarda van Starkenborg Stackhouwer, Gubernur Jenderal Belanda sekaligus wakil tertinggi Ratu Belanda di Hindia Belanda, mengumumkan pernyataan perang dengan Jepang melalui sebuah siaran radio. Wilhelmina, Ratu Belanda, menyetujui pernyataan perang tersebut, yang disampaikan oleh Duta Besar Belanda di Tokyo pada 9 Desember 1941.

Budi, sebagai seorang yang bisa membaca koran, mengetahui pergolakan yang terjadi atas bahaya Jepang itu. Budi pun memberi tahu Susi mengenai hal tersebut. Mereka cemas. Gemuruh perang segera singgah di rumah mereka.

Serbuan pertama Jepang ke Hindia Belanda berlangsung pada 11 Januari 1942. Dua bulan kemudian, tepatnya 8 Maret 1942, Belanda menandatangani penyerahan kawasan Hindia Belanda kepada balatentara Jepang tanpa syarat. Lima hari kemudian, derap langkah tentara Jepang mulai memasuki Padang dan Bukittinggi. Budi dan Susi mengamati mereka. Mata-matanya sipit. Beberapa memakai kacamata, dan semuanya membawa sebilah pedang di bagian pinggul.

Jepang, yang merasa dirinya “kakak tertua”, mendirikan Sindenbu alias Badan Propaganda dan Penerangan. Salah satu dampak dari kehadiran Sindenbu adalah pelatihan dan pendidikan seniman Indonesia, termasuk para sineas. Dampak lainnya adalah penutupan atau pengambilalihan semua bioskop milik warga Cina peranakan. Jepang tidak percaya kepada orang-orang Cina. Sebagai gantinya, pemerintah kolonial Jepang mendatangkan film-film dari negeri mereka, lengkap dengan subtitel supaya mudah dipahami warga setempat. Jepang juga mengatur harga karcis menjadi lebih murah, kira-kira 10 sen, sehingga warga pribumi miskin sekalipun bisa menonton di bioskop. Selain itu, Jepang turut menyelenggarakan pemutaran di ruang terbuka untuk daerah-daerah kecil yang tidak berbioskop.

Pada suatu kunjungan ke bioskop, Budi dan Susi menonton sebuah film tentang pesawat tentara Jepang yang menembak jatuh pesawat sekutu. Mata Budi dan Susi berbinar-binar. Ketika kredit film bergulir, Budi dan Susi bersorak-sorak kegirangan karena ikut merasakan kekuatan dari pasukan Jepang. Dalam hati, Budi percaya, pasukan Jepang adalah pasukan nomor satu di dunia.

Setelah sekian kali menonton di bioskop, Budi dan Susi mulai bosan. Pilihan film yang tersedia begitu terbatas. Selain film-film yang didatangkan dari Jepang, cuma ada film-film produksi sineas setempat yang diizinkan Jepang, dan jumlahnya tidak banyak. Pemutaran selalu diulang-ulang. Belum lagi krisis ekonomi yang melanda Sumatera Barat tidak kunjung membaik. Budi dan Susi mulai kekurangan semangat menonton ke bioskop, begitu juga dengan teman-temannya juga tetangga-tetangganya.

Bioskop Presiden (sketsa oleh Adam Ibnu Aulia)

Merdeka dengan Segala Konsekuensinya

Kabar tersiar bahwa Hiroshima dan Nagasaki hangus dihajar bom atom Amerika. Tak berdaya, kekaisaran Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu. Hanya ada satu kata bagi Indonesia: merdeka!

Budi dan Susi awalnya tak percaya. Jepang selama ini mereka lihat dalam film nampak begitu tangguh, begitu digdaya. Tapi realitas berkata lain. Kejatuhan Jepang membawa berkah tersendiri bagi penikmat film macam Budi dan Susi. Film-film dari luar Indonesia kembali banyak, tidak saja dari Amerika, tapi juga Uni Soviet dan Prancis. Bioskop-bioskop di Padang, salah satunya Capitol Bioscoop, juga kembali sering menayangkan film baru.

Kenikmatan Budi dan Susi tidak berlangsung lama. Pembrontakan PRRI/Permesta pada 1950an membuat Budi dan Susi takut keluar rumah. Beberapa teman dan tetangga mereka bahkan sampai mengungsi ke daerah lain. Bioskop kala itu hanya mengadakan satu pemutaran tiap harinya, yakni pada jam tujuh malam. Selang satu dekade, hadir Partai Komunis Indonesia (PKI) yang berusaha menghentikan pemutaran “film-film imperialis” di bioskop. Beberapa kader PKI, juga Lekra, membentuk PAPFIAS alias Panitia Aksi Penggayangan Film-film Imperialis Amerika Serikat sebagai ekpsresi ketidakpuasan terhadap masuknya pengaruh budaya barat, terutama Amerika, ke Indonesia. Bioskop pun berhenti menayangkan film-film Amerika, namun tetap memutar film-film dari Hongkong, Cina, Jepang, dan Italia. Budi dan Susi jadi tak antusias pergi ke bioskop lantaran tak suka atau tidak tahu filmnya. Selain itu, situasi nasional yang tak menentu juga membuat Budi dan Susi takut keluar rumah.

Setelah peristiwa 30 September 1965, pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk mengganti nama bioskop berbau asing ke nama yang lebih Indonesia. Cinema Bioscoop ganti nama jadi Bioskop Karia, Apollo Bioscoop jadi Bioskop Satria, Rio Bioscoop jadi Bioskop Mulia, Capitol Bioscoop jadi Bioskop Raya, dan New Rex jadi Bioskop Kencana.

Bioskop Mulia (sketsa oleh Adam Ibnu Aulia)

Masa Keemasan

Dekade 1970an sampai 1990an kembali mengakrabkan Budi dan Susi dengan bioskop. Boleh dibilang masa itu adalah masa keemasan bioskop di Padang. Masa-masa mencekam sudah berakhir, dan orang-orang kembali aktif berkegiatan di luar rumah. Budi dan Susi sampai berdesak-desakan ketika memesan tiket di bioskop. Kadang kala, Budi harus berseteru dengan orang lain untuk memesan tiket yang hampir habis. Demi Susi, Budi rela berkelahi dengan siapa saja.

Bagi Budi dan Susi, menonton di bioskop lebih dari sekadar mencari hiburan. Ketika Budi dan Susi bertemu teman-temannya, hal pertama yang mereka kerap tanyakan, “Film apa yang sudah kalian tonton?” Jika teman-temannya menjawab judul-judul lama, Budi dan Susi akan berbangga sekali.

Menonton di bioskop kala itu menghadirkan pengalaman yang khas. Selain perangkat pemutaran film dan tata suara bioskop, setiap studio turut dilengkapi skuadron nyamuk, pendingin ruangan yang entah ke mana, dan suara ribut orang-orang. Namun yang paling menjengkelkan adalah film yang mendadak berhenti di tengah-tengah pemutaran. Sebabnya adalah gulungan rol film berisikan paruh kedua film belum sampai di bioskop. Di tengah-tengah layar akan muncul tulisan “Mohon Maaf”. Kalau sudah jengkel, Budi akan berteriak, “Incek! Kalera ang!” Incek adalah panggilan orang Cina pemilik bioskop.

Setiap bioskop juga menawarkan sajian film yang khas. Atau setidaknya begitu menurut amatan Budi dan Susi sepanjang kiprah kepenontonan mereka. Di Padang, misalnya, Bioskop Karia lebih banyak menayangkan film-film asing, dari Amerika, Eropa, Cina, Hongkong, dan Taiwan. Beberapa film Mandarin yang Budi dan Susi sempat tonton di Karia adalah The Chance (1977), Hit Team (1982), dan Chow Yun Fat The Killer (1982). Bioskop Mulia adalah spesialis film India, sementara Bioskop Raya lebih sering memutar film-film Indonesia, seperti Lelaki Binal, Susuk Nyi Roro Kidul, Kenikmatan Tabu, Bernafas dalam Lumpur, Raja Copet, dan Raja Dangdut.

Bioskop-bioskop Bukittinggi juga sama menariknya. Ketika Budi dan Susi plesir ke sana, mereka mengamati kalau Bioskop Eri cenderung memutarkan film India dan film-film misteri. Bioskop Sovia lebih dekat dengan film-film drama Indonesia macam Catatan Si Boy (1987), sementara Bioskop Gloria banyak menayangkan film-film Barat seperti Breakdance (1987) dan Top Gun (1987).

Di Solok, ketika sedang menonton di Bioskop Karia, Budi dan Susi mengamati kalau orang-orang di gedung bioskop itu selalu membicarakan tentang Roma Irama, Amitabacan, dan Sanjadut. Mereka tidak mau kalah. Budi dan Susi turut serta membicarakan aktor tersebut.

Budi punya istilah tersendiri untuk orang-orang yang getol meniru tingkah aktor utama sebuah film: korban bioskop. Kebanyakan “korban bioskop” yang Budi amati mengikuti jagoan-jagoan film laga. Budi sendiri sempat jadi “korban bioskop”. Ia ingin sekali tubuhnya sekeren Bruce Lee, sampai-sampai Budi selalu latihan angkat beban dan bermain nunchaku.

Animo masyarakat yang begitu tinggi mendorong pengusaha bioskop di Padang untuk mengembangkan bioskop-bioskop murah atau THR, karena masyarakat yang ingin menonton tidak bisa ditampung lagi oleh bioskop yang ada. Kehadiran bioskop-bioskop baru ini menambah jumlah bioskop di Padang mencapai 28 bioskop: Bioskop Karia, Bioskop Satria, Bioskop Raya, Purnama Theater, Kencana Theater, THR Irama Bahari, Padang Theater, Indah Theater, Bioskop Buana, THR Purnama, THR Angkasa, THR Bhakti, THR Imam Bonjol, THR Simpang Haru, THR Jati, THR Alai, THR Siteba, THR Karia Bandar Buat, THR Lubuk Begalung, THR Teluk Bayur, THR Bungus, THR Sarang Gagak, Indarung Theater, THR Yani, Arjuna Theater, Bioskop President, dan THR Parak Laweh.

Sarana menonton lainnya yang tersedia bagi masyarakat Sumatera Barat adalah bioskop misbar alias gerimis bubar. Pemutarannya berlangsung di lapangan terbuka, dengan harga tiket yang relatif murah. Jika Budi dan Susi sedang tidak ada uang, mereka memilih menonton di bioskop misbar. Harga tiket kala itu bermacam-macam, mulai dari Rp. 100 sampai Rp. 10.000, tergantung posisi tempat duduk yang ditentukan oleh warna tiket: merah, kuning, dan hijau. Bioskop Raya memiliki harga tiket paling mahal, yakni Rp. 10.000.

Cinema XXI (sketsa oleh Adam Ibnu Aulia)

Sinema Versus Layar Kaca

Masa kejayaan bioskop di Sumatera Barat tidak berlangsung lama. Tanda-tanda keruntuhan bioskop sudah terbaca sejak 1985, ketika teknologi video tape memungkinkan orang untuk menonton film di televisi. Maraknya pembajakan film membuat orang-orang lebih memilih menonton film dengan video tape yang diputar di televisi mereka (jika ada) atau tetangga mereka (jika tidak ada). Budi dan Susi pun ikut menonton film di rumah tetangga-tetangga mereka yang kaya. Mereka menonton di rumah tetangga, mereka tetap patungan untuk iuran listrik. Tidak mahal, tidak lebih dari Rp. 100.

Orang-orang jadi jarang ke bioskop. Bioskop-bioskop kehilangan pemasukan, dan akibatnya sulit untuk merawat dan memperbaiki perangkat pemutaran film serta fasilitas bioskop. Satu per satu mulai gulung tikar. Beberapa di antaranya: Bioskop Buana I, II, III, THR Imam Bonjol, Bioskop President I, Bioskop Purnama, THR Siteba, THR Jati, THR Bungus, THR Serayu, dan THR Bahari. Semuanya tutup usaha pada dekade 90an.

Lambat laun, televisi mulai ramai dimiliki orang. Televisi dirancang sedemikian rupa agar sesuai dengan peralatan rumah tangga: berbentuk segi empat serupa kulkas, kursi, meja makan, kompor, dan lain-lain. Juga iklan-iklan di media massa ramai menggambarkan bagaimana televisi menjadi sebuah simbol atas kenyamanan sebuah keluarga. Televisi pun menjadi bagian dari keluarga, yang diletakkan tepat di inti rumah: ruang keluarga.

Budi dan Susi, tentu saja ikut membeli televisi. Mereka baru saja menikah pada saat itu. Mereka membeli televisi untuk meramaikan rumah baru mereka. Kadang kala mereka juga bertengkar dalam memilih siaran. Budi suka nonton berita, sementara Susi suka telenovela.

Beberapa gedung bioskop yang masih bertahan pun semakin kosong. Gedung-gedung itu dirubuhkan, lalu diganti dengan bangunan baru, seperti Pertamina, Kantor Polsek, showroom mobil, ruko, Kantor Bank dan sebagainya. Hancurnya gedung bioskop juga disebabkan oleh gempa besar yang melanda Sumatera Barta pada 2009. Sampai akhir 2015, bioskop yang bisa dikatakan aktif hanya ada dua, yaitu Bioskop Karia dan Bioskop Raya. Kedua bioskop itu juga sudah mengganti perangkat pemutarannya, dari seluloid ke digital. Sayangnya mereka hanya mampu merenovasi satu studio saja di bioskop masing-masing. Jadi tidak terlalu banyak berpengaruh.

Pernah Budi dan Susi pergi ke Bioskop Karia untuk bernostalgia berdua, namun mereka mersa risih. Pengunjung bioskop itu kebanyakan muda-mudi yang sedang dimabuk cinta. Memang dahulu Budi dan Susi juga sedang dimabuk cinta ketika sering datang ke bioskop, namun susana sekarang lebih tidak menyenangkan. Para pasangan itu, yang jumlahnya dalam setiap pertunjukan tidak sampai belasan, memilih bangku-bangku yang ada di sudut-sudut ruangan. Tidak hanya itu, ketika pemutaran sedang berlangsung, bunyi bibir yang sedang berciuman, bunyi ikat pinggang yang dilepaskan, bunyi desahan yang keluar tidak tahu malu, juga aroma pandan menyebar di ruangan. Budi dan Susi memilih untuk keluar di tengah-tengah pemutaran.

Pada akhir 2016 Grup 21 buka cabang pusat perbelanjaan Ramayana Padang. Bioskop yang sudah terlebih dulu hadir di seantero Indonesia, baru hadir di Sumatera Barat pada 2016. Budi dan Susi, beserta anak laki-laki mereka yang bernama Sudi, pergi bersama untuk mencicipi bioskop baru ini.

Memang, mereka kembali berdesak-desakan dalam sebuah antrean panjang. Bedanya, bioskop baru ini tampak begitu eksklusif. Teknologinya juga canggih. Penonton bisa memilih kursi sebelum menontonnya. Lantainya berkarpet, kursinya empuk, juga panganan yang dijajakan nampak lezat dan mengundang liur. Bagi Budi dan Susi ini bukan nostalgia, tapi babak baru yang menjadi standar untuk bioskop-bioskop pada masa mendatang.

Di tengah pemutaran film Me vs Mami, Budi melirik ke Sudi, anak laki-lakinya itu. Ia berpikir dalam hati, “Apakah anak itu juga akan suka menonton bioskop, seperti orangtuanya?” Sudi hanya mengeluarkan air liur dari mulutnya, sedangkan matanya penuh dengan cahaya dari pantulan gambar di layar. Melihat itu, Budi tersenyum.

REFERENSI

Albert Rahman Putra. Nostalgia Layar Kejayaan. Diakses melalui gubuakkopi.wordpress.com pada 20 Februari 2017

Eric Sasono et. al. 2011. Menjegal Film Indonesia: Pemetaan Ekonomi Politik Industri Film Indonesia. Jakarta: Rumah Film dan TIFA Foundation.

Garin Nugroho. 1998. Kekuasaan dan Hiburan. Yogyakarta: Bentang.

Haris Jauhari. 1992. Layar Perak 90 Tahun Bioskop di Indonesia. Jakarta: Gramedia.

Ibrya, Latifa. Transkrip wawancara dengan Yulidar (63 tahun) dan Darmawan (70 tahun) mengenai bioskop di Bukittingi.

M Sarief Arief. 2010. Politik Film di Hindia Belanda. Jawa Barat: Komunitas Bambu.

Meri Erawati. Bioskop Sebagai Sarana Hiburan Tahun 1950-2000. Tesis. Padang: Pascasarjana Universitas Andalas, 2012.

Meri Erawati. Budaya dalam Lintasan Sejarah: Booming Nonton Bioskop di Padang Tempo Dulu. Jurnal Ilmu Sosial Mangan, Januari-Juni 2015

Miscbach Yusa Biran. 2009. Sejarah Film 1900-1950 : Bikin Film di Jawa. Jawa Barat: Komunitas Bambu.

S Metron Madison. Ketika Bioskop Ada Di Setiap Sudut Kota Padang Film Pun Jadi Milik Semua Orang. Diakses melalui ranah.id pada 29 Februari 2017.

S Metron Madison. Saat Ruang Tamu Diubah Jadi Bioskop Tiketnya Pun Seharga Jajan Anak-Anak. Diakses melalui ranah.id pada 29 Februari 2017.

Suryadi. Nonton Bioskop di Padang Tempo Doeloe. Padang Ekspres, Minggu 23 November, 2008.

Suryadi. Bioskop dan Perfileman di Padang Tempo Doeloe. Haluan, Minggu 20 Februari 2011.

Viriya Paramita. Jejak Film Horor Indonesia. Diakses melalui cinemapoetica.com pada 12 Desember 2016.

Vivi Eliyati. Sejarah Bioskop di Kota Padang: Studi Kasus Bioskop Karia Padang tahun 1921-1995. Skripsi. Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Unand. Padang. 1999.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (18)
  • Boleh juga (2)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend