Maryam: Demi Tuan, Aku Rela Menyelundup Ke Gereja

maryam-film_hlgh

Koentajaraningrat dalam Kebudayaan, Mentalitet, dan Pembangunan (1974) pernah menulis mengenai tujuh unsur kebudayaan yang universel. Di peringkat satu, dan yang paling sulit berubah, adalah sistem religi dan upacara keagamaan. Pada peringkat tujuh, yang artinya juga paling mudah berubah, adalah sistem teknologi dan peralatan. Tentunya teori ini tidak sepenuhnya relevan bila hanya berdasar pada kasus satu orang, tapi rasanya teori ini cukup pas untuk menjadi pengantar bahwa keberadaan momen misa lebih sulit berubah daripada model jilbab Maryam.

Seusai menyaksikan Maryam, film pendek teranyar Sidi Saleh, saya jadi tergoda membuka kitab suci, khusus untuk membaca mengenai Maryam. Di Al Quran, kisah tentang Maryam terdapat di dalam Surat Ali Imran dan (tentu saja) Maryam, sedangkan di Alkitab (dengan nama Maria) terdapat di Matius dan Lukas. Pada kedua kitab, Maryam dikisahkan lewat cerita yang tak jauh berbeda–ayatnya bahkan ada yang sama. Namun, meski telah terlanjur membuka kitab suci, saya tidak akan menuliskan satu ayatpun di sini. Sebab, resensi ini akan terlalu ngelantur rasanya bila membahas Maryam dari pandangan yang teologis.

Film Maryam sendiri memang mampu memicu obrolan ke arah yang teologis, seperti misalnya adegan Maryam memandang patung Maria. Samar-samar terbayang di kepala saya Maryam-hasil-konstruksi-Islam sedang memandang Maria-hasil-konstruksi-Katolik. Tapi, bila diperhatikan dengan saksama, nampaknya film ini tidak ada urusan dengan hal-hal teologis. Tak tampak ada gagasan terkait tafsir, penalaran agama, ataupun pendalaman ketuhanan di sana. Maka dari itu, untuk menjabarkan film ini, seperti kata JJ Rousseau “retournons a la nature”, saya pun akan “retournons a la film”. Kembali ke film itu sendiri.

Maryam, yang biasa dipanggil Iyam, adalah seorang asisten rumah tangga. Di hari Natal, ia harus menjaga seorang pria pengidap psikopatologis (autisme, menurut sang pembuat film saat cuap-cuap sebelum pemutaran perdana) yang ditinggal keluar kota oleh kakaknya. Untuk jaga-jaga, sang majikan memberi nomor telepon kepada Iyam, walau kemudian ia berpesan kepada Iyam untuk tidak meneleponnya, kecuali ada masalah penting.

Masalahnya, seperti apakah suatu hal yang penting itu? Ketika sang pria (yang mengidap psikopatologis) minta diantar ke gereja oleh Iyam (yang beragama Islam dan berjilbab), apakah itu termasuk hal yang penting? Rasanya penting atau tidak adalah perihal nisbi, apalagi untuk seorang pembantu rumah tangga yang ogah menuai murka majikan. Maka dari itu, alih-alih menolak atau bertanya ke kakak sang pria, Iyam justru menyanggupi pinta sang tuan: menemaninya berangkat ke gereja untuk menghadiri misa.

Di sinilah cerita ala Sidi Saleh dimulai.

Penggunaan frasa “ala Sidi Saleh” rasanya tak berlebihan, mengingat Sidi Saleh telah beberapa kali hadir dengan film-film tentang tokoh yang terasing dari momen hari raya. Boleh jadi film-film tersebut adalah buah dari kepekaannya terhadap kemungkinan-kemungkinan lain, selain kemungkinan yang sekadar “merayakan” atau “menjalankan ritus-ritus hari raya”. Dari sana tertangkap olehnya kisah individu tertentu yang terselip di belakang ramainya kembang api, parade takbiran, dan nyanyian natal. Premis menarik lahir, lalu dituangkan ke dalam cerita sehingga mampu menggambarkan kontras yang diincar (namun tak sampai dicecar).

Seperti film sebelumnya, Fitri (2013), Sidi Saleh mengangkat kisah tentang wanita dengan nama yang sama dengan judul filmnya. Kesamaan judul film dan nama tokoh adalah suatu hal yang lumrah. Beberapa nama seperti Amelie, Annie Hall, maupun August Rush, juga merupakan nama tokoh utama yang menjadi judul film. Akan tetapi, Fitri dan Maryam memiliki sedikit perbedaan. Amelie, Annie Hall, maupun August Rush merujuk pada kisah film yang memang tentang hidup mereka, sedangkan Fitri dan Maryam lebih dari itu. Ada tautan simbolik tersendiri yang ingin disasar pembuat film.

Di satu sisi, judul Maryam dan Fitri memang berarti bahwa film berisi kisah tentang tokoh dengan nama tersebut, namun di sisi lain, nama tersebut juga mengandung maknanya sendiri. Nama Fitri berkaitan dengan Idul Fitri, serta kerap dimaknai sebagai ‘suci’, walaupun secara etimologis memiliki arti “berhubungan dengan fitrah”; sedangkan nama Maryam adalah ibunda dari Yesus atau Isa di Islam. Dengan kedua pengertian itu, arah bahkan esensi dari film sebenarnya merujuk pula ke sana. Secara lebih khusus, merujuk ke kontras yang timbul di sana. Fitri sebagai pekerja seks di hari yang suci, dan Maryam sebagai muslim di hari Maria melahirkan Yesus.

Bila dua nama dalam kedua film ini dibandingkan, nampaknya nama “Maryam” pada film Maryam terasa lebih kuat menyulam benang-benang cerita–ketimbang ‘Fitri’ di film Fitri. Lewat penggunaan nama Maryam, Sidi Saleh sukses memanfaatkan skema mengenai sosok Bunda Maria yang ada di benak penonton. Beberapa hal seperti ‘hamil tanpa pasangan’, natal, dan jilbab yang khas digunakan oleh suster, terasa sekali kaitannya dengan sosok Maryam. Alhasil penonton mudah mengikat dirinya dengan cerita—dan kesan puitis film jadi kian kentara. Selain itu, penggunaan nama panggilan Iyam yang terdengar ke-pembantu-pembantuan (senada dengan “Inem” atau “Mbok Yam”), serta bagian di awal ketika sang tuan menggunakan topeng ayam, yang dilanjut dengan memanggil Maryam dengan berteriak “Yam!” berkali-kali, rasanya juga merupakan sebuah kecermatan yang mengesankan.

Singkat kata, secara keseluruhan Maryam memiliki premis dan detil-detil yang terangkai dengan cukup apik, jauh lebih apik ketimbang Fitri. Ketidakmulusan dalam meletakkan Fitri ke momen takbiran pun berhasil diperbaiki di Maryam. Pada Fitri, tokoh utama masuk ke panggung dengan alur yang kurang nyaman, agak mangkir dari logika-dalam. Pada Maryam, Sidi Saleh berhasil menggiring protagonis ke gereja dengan menggunakan sosok tuan yang psikopatologis dan titah “jangan menelepon”-nya sang nyonya (kakaknya si pria). Maryam juga tidak ujuk-ujuk ada di atas panggung bikinan pembuat film. Ia naik bajaj dulu, ia tanya-tanya satpam dulu, ia sempat enggan untuk masuk gereja dulu, dan akhirnya ia mengganti model jilbabnya dulu sebelum ikut misa.

Sampai di sana Maryam telah ‘selesai’ sebagai suatu karya yang apik. Tapi bila ditelisik dengan lebih lanjut, mungkin ada satu hal yang masih dapat diperbincangkan. Hal itu adalah mengenai gagasan film Maryam. Untuk bentuk yang kaya akan kontras dan skema, Maryam terkesan enggan untuk mengasah gagasannya. Pertemuan Maryam dengan lingkungan gereja tak menghasilkan gagasan apapun, selain kecanggungan. Momen misa tak menghasilkan gagasan apapun, selain rasa bingung dan gusar. Padahal, dari momen-momen tersebut, berbagai gagasan mungkin untuk disuguhkan, mulai dari permasalahan teologis hingga psikopatologis.

Dengan kata lain, lewat filmnya yang demikian, Sidi Saleh sekadar menceritakan kisah tentang Maryam yang sukses menemani majikannya misa natal. Gagasan dan pertanyaan filosofis tak nampak, dan tak pula menjadi tujuan. Satu-satunya yang mungkin menjadi tujuan adalah ‘rasa’. Rasa di sini bukan sebatas rasa yang dialami oleh tokoh utama, dan bukan pula rasa generik seperti sedih, senang, dan sebagainya yang kerap dibangun oleh hal-hal klise. Rasa yang dimaksud lebih kepada hal-hal yang tertuang pada (dan di sela) sekuens-sekuens cerita film, yang kemudian direspon secara emosional oleh penonton. Untuk itu, film ini mengajak kita untuk merasakan saja, tanpa perlu bersibuk-sibuk menanyakan: “lantas apa?”

Maryam | 2014 | Durasi: 17 menit | Sutradara: Sidi Saleh | Produksi: Bioskop Merdeka Films | Negara: Indonesia | Pemeran: Meyke Vierna, Adrianto Sinaga, Damiana Widowati, Rifky Sulaeman

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (6)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (1)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend