Machete: Konsistensi dan Revolusi Lewat Telepon Genggam

machete_highlight

“I got nothing against no Viet Cong. No Vietnamese ever called me a nigger.” -Muhammad Ali, 1967, ketika menolak ikut berperang di Vietnam

“Film is a girl and a gun”, titah sinuhun sinema Jean-Luc Godard pada suatu ketika. Prinsip itu bukanlah pernyataan simplisistik, di tengah kelakarnya, Godard tengah berusaha membuktikan bahwa sejak zaman kuda mengudap beling, “perempuan” dan “senjata” telah menjadi penghuni utama garis depan industri film dan hampir selalu bisa menarik penonton. Robert Rodriguez memaklumi benar kemanjuran Wanita dan Senjata ini: mereka telah mengamalkan sabda Godard sejak film pertamanya sampai pada film Rodriguez selanjutnya. Bahkan, dalam Machete, ia berusaha melampaui pesan sang Godard dengan premis yang ia terapkan sendiri, “Film is Girls and Guns”, Film adalah “Banyak Wanita”, dan “Banyak Senjata”.

Machete dibuat dalam struktur film kelas dua atau biasa dikenal dengan B-Movies, sebuah tren sinema akibat kepepet yang berkembang di Amerika Serikat sejak lama. Disebut film kelas dua, karena ia dirilis oleh studio kelas dua. Motif industri ini tak dinyana merambah juga kedalam motif bercerita. Tak cukup dana untuk membuat filmnya “kaya” secara sinematik, Wanita dan Senjata menjadi amunisi ampuh untuk mengajak penonton tetap diam di kursinya, menonton sampai film habis. Machete dibuat dengan formula bercerita semacam ini, berbagai macam senjata, mulai senapan sampai parang diunjukkan kesaktiannya, senjata ini dikendalikan oleh laki-laki perkasa (yang membuat saya heran karena hampir seluruh laki-laki di film ini perkasa, berbadan besar seperti truk pasir) bertampang sangar mirip Chris Cornel minus kemampuan bernyanyi, yang perempuan berbodi bak Farah Quinn minus keahlian memasak.

Apapun bila dikerjakan dengan professional akan membuahkan hasil. Robert Rodriguez tidak lagi mengadopsi cara bercerita B-Movies, karena kurang dana atau karena ia terperangkap pada kebuntuan bercerita dan tak tahu dimana pintu keluar. Rodriguez mengadopsinya karena ia memang cinta pada film jenis ini, mempelajarinya, lalu menjaganya agar senantiasa baru dan memukau. Rodriguez berusaha agar visinya tersebut ditangkap sejelas mungkin oleh penontonnya, dan usaha kerasanya harus diwujudkan dengan menjadi a-man-for-all-seasons dalam filmnya ini. Ia harus bertindak sebagai penulis, produser, sutradara, editor, dan visual effect supervisor sekaligus agar visinya tersampaikan sesuai dengan yang diinginkannya.

Klasik namun menarik, Machete adalah lelaki bertubuh besar penuh pengalaman yang harus turun gunung menghadapi musuhnya karena ternyata ia telah dijebak. Jebakan itu berekstrapolasi dan terungkap satu-persatu sebagai semacam usaha pemberontakan ras yang tentu saja melibatkan Machete. Machete secara klasik digambarkan mempunyai atribut maskulinitas yang lengkap sesuai dengan representasi Hero dalam terminologi B-Movies: brutal, altruistik, berintuisi tajam karena pengalaman, dan anehnya selalu saja disukai perempuan (sejelek apapun tampang si Hero ini). Demikian pula dengan karakter perempuan yang dilukiskan lewat stereotipnya yang paling sederhana: berbadan bagus, bibir montok yang (entah kenapa) selalu sedikit terbuka, tak acuh, tapi anehnya selalu disegani lelaki.

Diceritakan, Machete harus menghadapi masyarakat Texas yang xenofobik (ketakutan berlebihan terhadap orang/ras asing). Kecenderungan ini digunakan oleh seorang politisi, Senator McLaughlin, sebagai amunisinya dalam berkampanye. Ia juga berkonspirasi dengan para penjual obat-obatan terlarang untuk menyabotase perbatasan agar suplai obat-obatan terbatas, sehingga harganya meningkat. Jejalin kongkalikong ini yang harus dimusnahkan oleh Machete.

Figur Machete menarik untuk dibahas karena ia mewakili sebuah golongan yang tertindas, bukan semata secara ekonomi, melainkan secara politis dan berujung pada ciri biologis yang tak dapat diubah: ras. Sosok Machete mengingatkan saya pada Muhammad Ali yang pembelaannya saya kutip diawal tulisan, bahwa sebagai pahlawan yang terepresentasikan, anda harus mewakili sebuah kelompok yang anda bela dan anda juga harus punya lawan yang jelas.

Seseorang tak bisa dikatakan sebagi pahlawan apabila hanya sukses mengalahkan dirinya sendiri, dan teknik bercerita a la Rodriguez ini adalah cara yang paling eksplisit dalam menggambarkan siapa yang harus dibela Machete dan siapa yang musti dilawannya. Jangan perdulikan bagaimana proses sampai ia memutuskan untuk memilih, film Machete mengajak penonton untuk memperhatikan apa yang dipilih dan apa saja konsekuensi pilihan itu. “Konsekuensi” menjadi kata kunci berikutnya, agar cerita film bisa berjalan. Konsekuensi dijalin oleh hubungan sebab-akibat yang berasal dari tradisi plot klasik. Robert Rodriguez sejatinya adalah seorang yang berideologi klasik, dengan sedikit kegemaran tambahan pada aksi-kekerasan.

Konsentrasi Rodriguez untuk menceritakan konsekuensi pilihan Sang Machete yang kemudian menjadi sangat dihargai oleh penontonnya secara konsisten sejak film pertamanya, El Mariachi, hingga sekarang. Dalam Machete sendiri, kita akan dijamu oleh adegan ‘orang ditebas pakai pemotong rumput’, ‘Machete bergelantungan dengan menggunakan usus lawan sebagai talinya’, ‘perawat yang dengan senang hati mencium pipi pasien lelakinya’, atau bahkan klisenya ‘kordinasi para buruh yang (hanya) menggunakan telepon genggam untuk berangkat menggelar revolusi’. Adegan-adegan ini muncul bukan karena lemahnya karakterisasi atau pendalaman cerita, ia menyembur ke layar justru karena konsistensi. Kecintaan Rodriguez pada teknik bercerita a la B-Movies sama sakralnya dengan kecintaan Francois Truffaut terhadap sentimentalitas, atau kecintaan Stanley Kubrick pada mise-en-scene yang bersih. Meskipun kasar, Machete bukanlah film yang jelek sama sekali.

Machete | 2010 | Sutradara: Robert Rodriguez | Negara: Amerika Serikat | Pemain: Danny Trejo, Steven Seagal, Michelle Rodriguez, Lindsay Lohan, Jessica Alba.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend