Lovely Man: Menakar yang Intim dari yang Ekstrem

lovely-man_hlgh

“Aku hanya ingin bertemu bapakku. Kalau aku kecewa, ya biar aku yang tanggung risikonya,” ujar Cahaya (Raihaanun) pada ibunya via telepon genggam. Ia baru sampai di ibu kota. Orang yang ia ingin cari adalah Syaiful (Donny Damara), yang ternyata setiap malamnya bekerja sebagai waria dengan nama Ipuy. Cahaya terkejut. Pasalnya, ia masih berusia empat tahun ketika terakhir bertemu bapaknya angkat kaki dari rumah. Kenangan yang sudah lama pudar tersebut kini harus diisi oleh figur orang asing, yang harus ia kenali lagi dalam tempo semalam, waktu yang diberikan Syaiful pada anaknya. Syaiful tak ingin lama-lama menghadapi masa lalunya.

Teddy Soeriaatmadja sungguh berani dalam membuka film panjang keenamnya, Lovely Man. Ia tak saja mempertemukan bapak dan anak dalam sebuah relasi yang terbilang absurd, setidaknya untuk konteks negeri ini, tapi juga menghadapkan dua kelompok yang selama ini terikat dengan pencitraannya masing-masing: Islam dan waria. Cahaya merupakan lulusan pesantren. Ia mengenakan jilbab panjang dan rajin sholat lima waktu. Pembawaannya santun, berbanding terbalik dengan bapaknya yang sudah makan asam garam di jalanan ibu kota. Satu baris dialog Syaiful yang cukup menohok: “Pasti orang-orang heran lihat ada banci duduk sama anak kecil, berjilbab pula.”

Pertemuan Cahaya dan Syaiful malam itu menyibak sejumlah rahasia. Cahaya ternyata sudah delapan minggu mengandung anak dari pacarnya. Ia bimbang dan takut untuk bicara dengan pacarnya perihal kejadian tersebut. Syaiful sendiri baru mencuri uang sebesar tiga puluh juta rupiah dari seorang mafia lokal. Uang tersebut konon akan ia pakai untuk operasi ganti kelamin, supaya bisa menikah dengan seorang lelaki pujaannya. Singkat kata, Syaiful menjadi waria yang paling dicari kerajaan kriminal ibu kota malam itu.

Dialog Intim, Relasi Ekstrem

Sekilas, Lovely Man mengingatkan akan Eliana, Eliana. Keduanya sama-sama memotret Jakarta dari sudut pandang yang terbilang gelap, melalui sebuah reuni keluarga yang canggung. Sama halnya juga dengan film Riri Riza tahun 2000, Lovely Man tidak berusaha membingkai Jakarta sebagai kota metropolitan dengan segala glamornya. Sebaliknya, Jakarta terlihat seperti kota besar yang tersedak oleh moralitasnya sendiri. Satu baris dialog yang cukup menjelaskan dalam film: “Satu banci mati di Jakarta, tak akan ada yang peduli.” Individu macam Syaiful hanyalah sebuah angka dalam rangkaian statistik. Tanpa kehadirannya, Jakarta akan tetap berjalan seperti sedia kala.

Lanskap suram ibu kota menjadi latar bagi dinamika yang berkecambuk dalam relasi Cahaya dan Syaiful. Terlepas dari relasi ekstrem yang ditampilkan di awal cerita, Lovely Man sebenarnya tak terlalu ambil pusing dengan konteks sosial yang melingkupi kedua protagonis. Penonton dibiarkan dengan prasangka dan pendapatnya sendiri-sendiri (kalau ada) tentang Islam dan waria. Tidak ada pernyataan maupun penjelasan lebih lanjut perihal kedua kelompok dalam film. Konflik cerita juga tidak didesain untuk menjelajahi relasi dan eksistensi kedua kelompok, tapi permasalahan keberlangsungan hidup masing-masing karakter.

Menarik melihat bagaimana Cahaya dan Syaiful menjadi perenungan atas modus kebersamaan kita sebagai manusia. Lovely Man menempatkan atribut masing-masing protagonis sebagai perwakilan dari perbedaan yang ada dalam kehidupan bersama. Namun, pembuat film tidak meniatkan relasi Cahaya dan Syaiful untuk pembedahan yang meluas, tapi mendalam. Cakupannya personal, bukan sosial. Terlihat bagaimana sepanjang film kamera lebih berfokus pada Cahaya dan Syaiful. Lanskap ibu kota yang gegap gempita dikaburkan menjadi kerlingan lampu belaka. Dengan begini, pembuat film mengajak penonton untuk memperhatikan gestur keduanya. Abaikan dunia di luar sana. Dunia kecil di antara Cahaya dan Syaiful jauh lebih menarik.

Terlihat juga bagaimana cerita Lovely Man tidak berujung pada kepastian. Pembuat film tak banyak memberi petunjuk perihal apa yang akan terjadi pada keduanya. Bukan berarti cerita film tidak ada resolusi, namun konsekuensi dari resolusi tersebut tidak ditunjukkan. Fokus penonton benar-benar ditujukan pada dialog antara Cahaya dan Syaiful. Melalui dialog tersebut, keduanya saling mencari, mencari manusia yang mereka harapkan ada di balik atribut masing-masing.

Bagusnya, Teddy Soeriaatmadja menggambarkan pencarian kedua protagonis secara elegan. Tak banyak kata yang diumbar. Seperti yang sudah dijelaskan, penekanan film ada pada gestur. Ada tiga momen yang menonjol. Pertama adalah saat Cahaya melepas jilbabnya untuk sekadar mencairkan suasana. Kedua adalah saat Cahaya menangis sembari mengaku bimbang atas apa yang ia harus lakukan dengan kandungannya. Sejak saat itu, Syaiful mulai mengganti retorika “gue” dan “lo” dengan “aku” dan “kamu”.

Puncaknya adalah saat Cahaya dan Syaiful berseberangan punggung, tepat di pertengahan film. Keintiman pun tercapai, dalam sebuah shot yang dengan cantiknya membingkai gemilang cahaya di ibu kota. Cahaya berada dalam terminal busway yang terang-benderang, menelpon pacarnya, sementara Syaiful merokok di jalanan remang-remang, tersenyum puas atas inisiatif putrinya.

Keluarga dan Melodrama

Beberapa perenungan yang muncul dari segala kejadian dalam film: apakah keintiman hanya mungkin tercapai setelah segala yang ekstrem terlampaui? Tak bisakah suatu kondisi yang ekstrem berjalan bergandengan dengan sebuah relasi yang intim? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadikan Lovely Man berharga. Ada kedalaman tersendiri yang Lovely Man mampu kembangkan dari sebuah perbedaan. Hasilnya bukanlah realita tunggal atas keintiman, bukan juga retorika dogmatik “berbeda-beda tapi satu jua” ala Pancasila, tapi sejumlah kemungkinan yang terikat erat dengan realita keseharian.

Dalam bingkai pemikiran di atas, Lovely Man memperoleh muatan universalnya. Film tersebut mampu bicara banyak tanpa harus mengumbar slogan. Berkat penuturan yang minimalis, terutama sepanjang dua-per-tiga film, penonton tak lagi melihat Cahaya dan Syaiful sebagai bapak dan anak semata, tapi sebagai dua individu yang berbeda. Mereka berdua menjadi penubuhan atas kata “kita”, yang sejatinya bisa terpisah oleh perbedaan apapun, baik ras, agama, maupun ideologi. Menjadi masalah ketika pembuat film mulai “mengingatkan” penonton bahwa Lovely Man sejatinya adalah film tentang keluarga. Ketika itu terjadi, tepatnya menjelang akhir cerita, Lovely Man terasa seperti melodrama.

Masalahnya ada pada eksekusi cerita. Relasi bapak-anak kedua protagonis dituturkan melalui sejumlah pesan verbal, macam “Jangan pernah lari dari masalah” dan “Kenali orang seperlunya saja, supaya tidak sakit hati”, yang disampaikan Syaiful kepada Cahaya. Dalam beberapa kesempatan, pesan sang bapak berusaha terdengar filosofis, tanpa ada maksud yang jelas dalam cerita. Dalam momen-momen tersebut, keintiman antara Cahaya dan Syaiful yang tadinya anggun menjadi sebatas luapan emosi semata. Masih ada banyak cara lain untuk menggambarkan relasi bapak-anak selain nasehat satu arah belaka. Opsi-opsi tersebut sayangnya tidak dieksplor oleh pembuat film.

Secara keseluruhan, Lovely Man tetaplah film yang baik. Bagi Teddy Soeriaatmadja, Lovely Man sejauh ini merupakan film terbaiknya sebagai sutradara. Semua elemen cerita terasa pas, sehingga film tidak terlalu “cerewet” dalam bertutur. Bagi perfilman nasional, Lovely Man sama statusnya dengan Mata Tertutup karya Garin Nugroho. Keduanya adalah film Indonesia yang menonjol tahun 2011, namun belum beredar luas di bioskop. Semoga tahun depan bisa.

Lovely Man | 2011 | Sutradara: Teddy Soeriaatmadja | Produksi: Karuna Pictures, Investasi Film Indonesia Negara: Indonesia | Pemeran: Raihaanun, Donny Damara, Ari M Syarif

Tulisan ini pertama kali terbit di filmindonesia.or.id

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (2)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend