Tinjauan

Persepsi Monoton tentang Penonton

Para pemangku kepentingan perfilman Indonesia perlu lebih giat melakukan riset-riset lanjutan terkait kepenontonan film di Indonesia. Sudah saatnya perfilman kita tidak lagi dibaca dengan mitos dan asumsi, tapi dengan data dan metode yang terukur. Riset yang kredibel tidak hanya akan mengisi kekosongan wacana dan ilmu pengetahuan dalam perfilman Indonesia, tapi juga untuk landasan bagi kebijakan pemerintah maupun strategi bisnis para pelaku film.... Baca

Sineas dan Layar Alternatif

Layar-layar alternatif membuka kesempatan untuk masyarakat agar bisa menikmati beragam film yang tidak melulu hanya standar bioskop. Tulisan ini mencoba menggali peluang dan tantangan apa saja yang diberikan dan dihadapi layar-layar alternatif dari kacamata sineas film alternatif. Sembilan sineas dengan latar belakang berbeda-beda—profesional, sekolah film, komunitas—berbagi soal apa-apa saja yang mereka lihat dari keberadaan layar-layar alternatif.... Baca

Pelabelan Diri dalam Q! Film Festival

Pasca serbuan Front Pembela Islam pada 2010, Q! Film Festival mengalami kemunduran. Esai singkat ini membahas ruang alternatif yang Q!FF tawarkan selama sejarah penyelenggaraannya. Pertanyaan kuncinya: bagaimana Q!FF, dalam konteks 2010 sampai tiga tahun setelahnya, yang menawarkan ruang alternatif untuk mengarusutamakan isu LGBTIQ justru tidak mendapat ruang di Jakarta?... Baca

Rupa-rupa Pendanaan Dokumenter

Secara umum ada tiga sumber dana untuk memproduksi film dokumenter: 1) stasiun televisi atau broadcaster, 2) lembaga donor, dan 3) lokakarya. Masing-masing menuntut komitmen dari pembuat film, masing-masing punya peluang dan tantangannya sendiri. Seorang pembuat film bisa cocok dengan satu model pendanaan, tapi tidak dengan model lainnya.... Baca

Send this to a friend