Lewat Djam Malam: Revolusi, Impian, dan Jalan Buntu

lewat-djam-malam_hlgh

Rumornya setiap pemimpin negara dunia ketiga membisikkan hal serupa sehari setelah kemerdekaan: “Sekarang masalah sebenarnya dimulai”. Indonesia tak terkecuali. Revolusi mendatangkan kemerdekaan dan kemerdekaan membuka jalan untuk pembangunan. Masalahnya, pembangunan bergantung pada prinsip-prinsip yang dulu para pejuang atasi: eksploitasi dan dominasi. Berarti ada harga tersendiri yang harus dibayar para pejuang untuk mengisi kemerdekaan. Bagaimanakah mereka sepantasnya bersikap?

Usmar Ismail menyuarakan pendapatnya pada tahun 1954 melalui Lewat Djam Malam. Menurut Sitor Situmorang, film tersebut merupakan “drama psikologis modern” pertama di Indonesia. Dalam bacaan lebih lanjut, Lewat Djam Malam sebenarnya mengikuti cetak biru film-film noir di Amerika sana. Selain terpengaruhi oleh neorealisme Italia, paling kentara di Darah Dan Doa (1950), Usmar mengakui ketertarikannya pada metode produksi Hollywood. “Hampir secara tidak sadar, saya mulai menerapkan prinsip kerja Hollywood,” tulis Usmar di harian Pedoman tahun 1953, sekembalinya ia dari studi penulisan naskah di Amerika Serikat. Seperti yang dituturkan sejumlah catatan sejarah, 1953 adalah tahun kejayaan film noir di Hollywood, sebuah periode yang berlangsung dari 1944 sampai 1958. Melihat pola visual dan penokohan dalam Lewat Djam Malam, bisa jadi Hollywood yang Usmar maksud adalah film noir.

Layaknya film noir, Lewat Djam Malam terstruktur atas kegelisahan moral seorang protagonis laki-laki. Plot film tersebut menggambarkan kejatuhan tragis seorang individu di sebuah tatanan sosial yang dicengkeram oleh para borjuis. Gambar pertama yang kita lihat adalah sepasang kaki berjalan perlahan-lahan di suatu malam yang kelam. Inilah Iskandar, bekas pejuang dan mahasiswa sebuah universitas di Bandung. Sekembalinya dari zona perang, ia mendambakan kehidupan yang lebih tenang dan damai. Keinginannya sederhana: menikahi kekasihnya, membangun sebuah peternakan di desa, lalu menghabiskan sisa hidupnya dalam damai. Sayangnya, realita ekonomi pasca perang tak sesederhana itu.

Lima tahun pasca kemerdekaan tercatat sebagai periode Revolusi Fisik, periode transisi kuasa dari kolonial Belanda ke pemerintah Indonesia. Periode ini diwarnai sejumlah kekacauan sipil dan pertempuran bersenjata di sejumlah daerah. Militer kesulitan menanganinya. Jam malam pun diberlakukan di kota-kota untuk menegakkan peraturan. Di saat yang bersamaan, pembangunan juga sudah dirintis. Fasilitas publik mulai menjamur, perusahaan nasional mulai untung, dan tenaga kerja sedang hidup-hidupnya dengan energi anak muda.

Panggung sudah tersedia bagi Iskandar. Dia punya masa muda, pengalaman kerja praktis, dan latar belakang akademis. Lebih signifikannya lagi, Norma, tunangannya adalah seorang borjuis, sebuah kelas sosial yang sedang tumbuh-tumbuhnya di ekonomi pasca kemerdekaan. Kegiatan waktu senggangnya adalah pesta dan dansa-dansi semalam suntuk. Atas semua ini, Iskandar menikmati dua hal yang sulit diakses mayoritas rakyat: kesejahteraan material dan koneksi sosial. Tidak ada yang bisa menghentikan Iskandar menjadi penanggung hajat hidup, baik bagi bangsa maupun keluarganya.

Pahlawan kita tak cocok dengan orang-orang kaya baru ini. Sepanjang film, meletus perang tak berkesudahan dalam batinnya. Di satu sisi dia masih mengimani nilai-nilai kebangsaan yang ia perjuangkan dulu, di sisi lain dia merasa dihantui oleh kematian-kematian yang ia sebabkan selama perang. Secara spesifik, ia masih gundah atas perintah komandannya untuk mengeksekusi satu keluarga yang dicurigai mata-mata.

Masalah kian pelik ketika ia harus berhadapan dengan fakta bahwa revolusi gagal melahirkan keadilan. Yang kejadian malah tatanan masyarakat dengan korupsi dan konspirasi sebagai pilar-pilar penyokongnya. Salah dua lakonnya adalah Gafar dan Gunawan, rekan Iskandar waktu perang dulu. Gunawan, mantan komandan Iskandar, bahkan meminta Iskandar untuk “membungkam” pimpinan suatu perusahaan asing. Rekan satunya lagi, Puja, malah sudah jadi bandit yang lebih akrab dengan judi, alkohol, dan bentuk-bentuk hiburan malam lainnya. Pahlawan kita jelas tak terima. Revolusi bukan lagi soal kepentingan bersama dan semua orang punya idenya sendiri untuk menang. Ide Iskandar melibatkan sebuah pistol dan konfrontasi dengan rekan-rekan kerjanya.

Yang Terkasih dan Yang Tersisih

Dalam Lewat Djam Malam, status sosial menjadi garis tegas antara orang-orang yang terkasih dan yang tersisih. Mereka yang terkasih diwakili oleh Norma dan teman pestanya, sementara pihak yang tersisih ditubuhkan melalui figur Laila, wanita panggilan yang dirawat Puja di kediamannya. Laila adalah satu-satunya wajah non-borjuis yang kita lihat sepanjang film. Laila punya katalog kliping koran yang ia jaga dengan sepenuh hati. Gambarnya tak jauh-jauh dari gaun, perbotan, dan rumah. Katalog ini merupakan pengingat Laila akan mimpi-mimpi kecilnya, bayangan kehidupan material yang akan ia jalani, kalau-kalau ia bisa keluar dari keterpurukan ekonominya. Katalog ini menjadi kegiatan Laila menghabiskan waktu sampai seorang lelaki datang menggandeng tangannya ke pelaminan. Bagi Laila, Iskandar adalah lelaki itu dan Norma (yang nantinya ia temui sekilas) adalah perempuan yang pantas ia jadikan panutan.

Dalam konteks yang lebih luas, tarik-ulur antar-kelas dalam Lewat Djam Malam menyiratkan suatu bangsa yang terpisah antara mimpi-mimpi tak kesampaian dan jalan buntu politis. Dalam tatanan masyarakat yang disetir oleh kaum elit dan borjuis, mobilitas sosial hanyalah sebuah mitos bagi kelas bawah. Satu-satunya jalan naik, seperti yang dibayangkan oleh Laila, adalah dengan masuk ke dalam sistem atau menggantikan sistem tersebut dengan sistem baru yang lebih demokratis. Solusi terakhir sesungguhnya yang ingin dicoba oleh Iskandar. Sayangnya, ia gagal. Usahanya mengganyang ketimpangan sosial diganjar oleh sebutir peluru di dadanya. Tak ada yang menangisi tragedi ini, kecuali Iskandar seorang.

Satu pertanyaan yang belum terjawab: apakah Lewat Djam Malam memang benar potret Indonesia pasca revolusi kemerdekaan, atau hanyalah mimpi kekiri-kirian sang pembuat film? Patut diingat Usmar Ismail sejatinya adalah seorang intelektual sosialis, yang dalam beberapa kesempatan menulis untuk harian partai komunis. Baru di akhir kariernya, bertahun-tahun setelah Lewat Djam Malam, Usmar mendekatkan diri dengan organisasi sayap kanan macam Lesbumi.

Patut diingat juga bahwa Lewat Djam Malam diproduksi tak lama setelah insiden Oktober 1952. Insiden ini berawal dari tuntutan dua pemimpin tertinggi TNI, AH Nasution dan TB Simatupang, untuk menata ulang militer. Hanya para prajurit yang berlatar belakang pendidikan kemiliteran Belanda (KNIL) yang akan diperhitungkan. Lainnya, mulai dari prajurit eks PETA hingga relawan, akan tersingkir. Campur tangan DPR menggagalkan rencana ini dengan mencopot jabatan Nasution beserta tujuh perwira daerah. Pihak militer merasa kaum politisi terlalu campur tangan dengan rumah tangga militer. Jadilah, pada tanggal 17 Oktober 1952, sejumlah petinggi militer memprakarsai sebuah demonstrasi di Jakarta.

Semula massa mendatangi gedung parlemen, kemudian ganti haluan ke Istana Negara. Tuntutan mereka: pembubaran parlemen dan pengadaan pemilu sesegera mungkin. Tuntutan ini berpuncak pada sejumlah tank mengarahkan moncong meriam ke Istana Negara. Peristiwa 1952 ini berujung buntu dan sejarah mencatatnya sebagai kudeta gagal. Pada momen historis macam inilah Lewat Djam Malam berteriak lantang, momen-momen kritis ketika pilihan yang tersedia hanyalah perubahan total, atau impian-impian revolusioner bapak dan ibu negara kita hanya akan berulang menemui jalan buntu. Lewat Djam Malam merupakan sketsa tentang revolusi salah jalan, ketika nilai-nilai kolektif yang dulu diperjuangkan kini telah beralih fungsi menjadi sarana pemuas diri. Di tahun 2012, 14 tahun setelah reformasi 1998, Indonesia tak juga lebih baik. Korupsi dan konspirasi masihlah menjadi pilar penyangga kehidupan bangsa negeri ini. Melalui Lewat Djam Malam, Usmar Ismail sesungguhnya menyuarakan penantiannya akan kedatangan Iskandar-Iskandar baru, Iskandar-Iskandar yang bisa mengadakan perubahan.

Artikel ini merupakan bagian dari buku Lewat Djam Malam Diselamatkan, sebuah buku referensi yang diedarkan bersamaan dengan peluncuran hasil restorasi Lewat Djam Malam, 18 Juni 2012, di Jakarta. Buku ini sudah tersedia online dan dapat diunduh gratis melalui laman filmindonesia.or.id.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend