La Commune: Peter Watkins dan Sejarah Sebagai Kritik

la-commune-peter-watkins_highlight

Akibat pengaruh sakit mata beberapa tahun silam (yang hanya beberapa minggu!), kebiasaan saya menonton film berubah: film berdurasi dua bisa serasa empat jam, apalagi jika itu film Swedia. Sayangnya itu tidak berlaku untuk La Commune dengan durasi enam jam. Beberapa film Watkins yang lain sudah saya tonton tapi ini yang paling jempolan. Agaknya Watkins memang suka mengungkit-ungkit peristiwa lampau atau kejadian masa kini, lalu menarik relevansi jauh ke depan. Tapi bukankah demikian fungsi sejarah: memberi pemahaman bagaimana orang bisa hidup dalam situasi yang sedang berlangsung seperti sekarang ini. Menonton La Commune sama dengan menengok proyek besar yang pernah gagal dalam sejarah tapi tidak kapok-kapoknya dicoba.

I

La Commune mengisahkan revolusi tahun 1871 di Paris yang dikenal sebagai peristiwa Komune paris. Setelah kalah perang Prancis-Prussia pada 1870, Napoleon III tumbang dan pemerintahan baru berdiri. Adolphe Thiers, salah seorang Republikan “kiri” yang sempat bergabung dengan pemerintahan Napoleon III, kini memimpin. Sementara itu para prajurit Garda Nasional yang masih berkeliaran di Paris, lengkap dengan senjata dan meriam, mulai bergabung dengan kelas pekerja, mahasiswa, dan intelektual. Mengklaim diri sebagai penyelamat republikanisme Prancis, Thiers sebetulnya sama sekali tidak memperoleh dukungan kecuali dari segelintir borjuis kelas atas (haute bourgeoisie). Maka ketika pada 18 Maret 1971 Thiers memerintahkan tentara pusat merebut meriam-meriam di distrik kelas pekerja Bellevile dan Montmartre, terjadilah kontak senjata pertama. Tepat pada momen inilah Komune lahir. Adolphe Thiers mengungsi ke Versailles (ya, Versailles, simbol monarki—tidakkah ini mirip dengan de Gaulle yang mengungsi ke pangkalan militer Amerika di Jerman Barat sepanjang peristiwa 1968?) dan selama sekitar tiga bulan, Komune menjadi sebentuk eksperimen demokrasi seluas-luasnya yang bertujuan menyelamakan momentum Revolusi 1789 dan 1792-94, melalui program-program seperti seperti redistribusi alat dan hasil produksi, pemisahan negara dan gereja (yang tertunda selama 70 tahun lebih setelah rezim Jacobin dihabisi), jaminan atas hak-hak perempuan, pendidikan gratis, dan yang lebih penting, mengubah struktur negara monarki konstitusional menjadi republik pertama dimana seluruh warga kota berhak memimpin secara bergiliran.

Tidak dicantumkan dalam buku-buku sejarah sekolah Prancis, bukan berarti Komune Paris tidak penting. Bagi gerakan kiri, peristiwa tersebut punya beberapa signifikansi politis: pertama, munculnya kesadaran kelas pekerja dalam sebuah political framework, berbeda dari revolusi-revolusi sebelumnya, misalnya pada 1830 dan 1848 yang hanya mengorbitkan Louis Phillippe Napoleon III, namun tidak mengubah struktur politik secara signifikan. Dalam dua revolusi itu praktis kelas pekerja hanya menjadi pion dalam strategi politik borjuasi dan loyalis monarkis. Kedua, dengan memutus hubungan dengan “kiri” tradisional-parlementer, Komune Paris mengajukan reformulasi politik massa dalam kaitannya dengan perebutan dan transformasi aparatus negara. Ada kontinuitas antara pemerintahan Teror (1792-94) dan Komune Paris: keduanya menyelamatkan momentum Revolusi 1789 dari pembusukan selama 70 tahun lebih akibat ketidakbecusan kelompok moderat, dimana restorasi monarki terjadi berkali-kali setiap pemerintahan moderat mengalami krisis. Maka Komune Paris menyibak simptom krisis representasi di kemudian hari, baik dalam negara-partai maupun dalam demokrasi liberal. Ketiga, internasionalisme, sebagai model solidaritas kelas pekerja, menjadi respon terhadap terhadap nasionalisme agresif yang memicu perang Prancis-Prusia pada 1870. Para eksil Rusia yang di kemudian hari secara langsung atau tidak langsung berperan penting menyiapkan sejumlah revolusi Rusia di abad 20 berada di Paris selama Maret-Mei 1871, sementara beberapa komando militer dalam Garda Nasional dipegang oleh perwira-perwira Polandia. Yang juga tidak boleh dilupakan adalah imigran yang menempati porsi yang besar dalam komposisi kelas pekerja Paris. Tidak pelak lagi ketiga hal ini kemudian diadopsi sebagai prinsip dasar gerakan-gerakan kiri di kemudian hari.

Tak jarang pula jika setiap upaya reformulasi politik kelas pekerja senantiasa merujuk kembali ke Komune Paris. Bahkan dalam banyak kasus, upaya reformulasi tersebut menggusarkan partai komunis yang berkuasa. Di tahun 1948 otoritas Jerman Timur mengizinkan Brecht untuk mementaskan Days of the Commune. Tentunya pertunjukkan tersebut berguna untuk membangun identitas kelas pekerja di Jerman Timur. Namun ketika ingin dipentaskan lagi setahun kemudian, otoritas yang sama tidak memberi izin kepada Brecht, dengan alasan bahwa kesadaran kelas pekerja kini sudah mapan dan sudah terepresentasikan oleh Partai. Ketika komune yang sama berdiri di Shanghai saat Revolusi Kebudayaan dan sukses ditumpas, Partai Komunis Cina segera mengkanonisasinya dalam kerangka Marxis-Leninis. Di sini Komune Paris nampak ambigu: ia dapat diapropriasi siapapun, dalam kerangka politik manapun. Tapi justru dari situ ia menjadi hipotesis yang terbuka untuk terus dibincangkan dan dibuktikan; tantangannya kemudian adalah memenangkan dan memperluas model partisipasi politik sejenis. Titik hipotesis itu terletak pada kegagalannya: menjelang serbuan tentara Versailles ke Paris pada akhir Mei 1871 (yang sekaligus mengakhiri Komune), faksi-faksi yang selama ini terlibat saling bergulat dengan persoalan perlu tidaknya kekuasaan disentralisasi untuk menyelamatkan Komune. Ditarik ke konteks sejarah revolusi abad 20, persoalan tersebut masih relevan; jika tujuan revolusi adalah mengubah struktur politik yang berlaku mungkinkah revolusi sendiri justru mengadopsi wajah brutal musuh-musuhnya—atau memang dengan itu ia dapat diselamatkan? Di satu sisi dilema semacam ini mengundang pesimisme untuk melakukan perubahan yang lebih besar, di sisi lain: godaan untuk mengulanginya.

II

Menerapkan model jurnalisme ke dokudramanya, Watkins ingin membongkar representasi buruk Komune Paris oleh rezim yang berkuasa. Dilihat secara sepintas film ini nampak menitikberatkan persaingan antara televisi Versailles (yang memposisikan diri sebagai televisi pemerintah atau setidaknya berpihak pada pemerintah) dan Commune TV yang didirikan untuk menandingi liputan televisi Versailles dan memberikan informasi yang sesungguhnya kepada warga tentang proses-proses politik dalam Komune Paris. Meski mungkin Watkins memang bertujuan menyoroti peran media dalam pembentukan opini publik menyangkut sebuah peristiwa, menganalisis La Commune dari sudut pandang yang sama dengan sang kreator sama saja membuatnya mandul. Film ini sendiri sudah menjalankan kerja-kerja analitisnya sehingga kritik dengan model analisis yang sama hanya akan mengulang apa yang ingin dikatakan filmnya. Maka tugas kita bukan membaca La Commune sebagai “narasi sejarah alternatif” yang tak habis-habisnya diproduksi dalam praksis tekstual akademik, melainkan membacanya sebagai respons langsung dari peristiwa sekitarnya di tahun 2000-an: apa metode yang digunakan Watkins untuk menghubungkan kedua zaman—dan mengapa? Agaknya untuk tetap setia pada gagasan sang kreator, orang harus berani mengkhianatinya.

Berbeda dari dokudrama-dokudrama garapan Watkins lainnya, kali ini dalam La Commune terdapat pengecualian. Karakter-karakter di dalamnya dituntut menjalani identitas ganda: sebagai pelaku sejarah dan sebagai diri mereka sendiri. Bagaimana ia melakukannya? Watkins mengumpulkan ratusan orang dari berbagai macam kelompok sosial: buruh, anak sekolah, intelektual, kelas menengah, dan seterusnya lalu dan membawanya mereka ke studio besar. Sebelum produksi dimulai, mereka diberi kursus singkat tentang sejarah Komune Paris lalu setelahnya diajak memilih peran apa yang kira-kira tepat untuk mereka. Dalam teater metode seperti ini digagas oleh Brecht dan dinamakan “teater proletarian”. Menurut Brecht teater proletarian dibedakan dari teater konvensional bukan lantaran yang pertama berkisah tentang kemiskinan dan dimainkan oleh kelas pekerja; sementara lakon yang dibawakan mungkin sama dengan teater profesional, ia disebut “proletarian” karena para pemainnya tidak mendapatkan pendidikan teater profesional. Jika pada awalnya hanya dimainkan buruh atau orang-orang kantoran sebagai aktivitas sambilan saja, bagi Brecht teater proletarian adalah sebuah metode spesifik dimana para pemain berada dalam posisi tanggung antara panggung dan kenyataan di luar panggung. Lakon panggung kemudian berperan sebagai cermin dimana jarak antara kedirian pemain tiba-tiba terserak; dalam keterserakan itulah refleksi diri atas kehidupan di luar panggung tercapai.

Dalam sinema, metode serupa dapat ditemukan pada sinema Neorealis Italia dan New Wave Prancis. Yang pertama terpengaruh oleh tradisi verismo, tradisi sastra dan teater Italia yang dimulai sejak abad 19 dan mengetengahkan tema-tema pahit kehidupan kelas pekerja. Sementara New Wave Prancis, sebagai anak kandung Neorealis Italia, juga dipengaruhi oleh Brecht dalam pembentukan setting, karakter, cerita yang kekinian, serta estetika rough and ready (terutama dalam kasus Godard). Dilihat dari bagaimana keduanya mengolah pengaruhnya masing-masing, Neorealis dan New Wave berusaha mengundang realitas di luar film untuk menginterupsi cerita secara langsung. Terutama pada New Wave, filmmaking menjadi sebuah proses yang hasilnya tidak terduga, yang mengejar kebaruan dan kesegaran peristiwa dan konteks (prinsip immediate realism), dan dengan demikian mengandaikan suatu estetika yang “tanggung” dengan batasan antara fiksi dan dokumenter (konvensional) yang sayup-sayup.

Watkins menggunakan teknik tersebut dalam dokudrama. Tetapi dokudrama sendiri sudah merupakan cara spesifik untuk menuturkan, atau memfiksikan, apa yang sulit ditangkap oleh dokumenter biasa. Maka muncul paradoks karena dokudrama menjadi kebalikan dari prinsip immediate realism di atas, alias interupsi fiksi terhadap rekaman kenyataan (lalu dalam kasus ini apalagi yang hendak diinterupsi?).  Namun paradoks ini justru produktif bagi Watkins: alih-alih membuat dokudrama an sich, ia menjadikan La Commune sebagai dokumenter tentang proses produksi dokudrama. Dalam konstruksi cermin ini proses produksi dokudrama itu sendiri sebagai “fiksi Brechtian” yang dipersiapkan untuk menginterupsi kehidupan di luar panggung para pemain, meletakkannya dalam sebuah naratif historis. Selanjutnya, naratif tersebut akhirnya diinterupsi pula oleh suatu interval waktu, oleh jarak temporal yang memisahkan peristiwa sejarah dari pelaku reka-ulang sejarah. Meskipun jarak itu objektif, Watkins tidak sedang mencari, misalnya, faktor-faktor ekonomi-politik apa yang menentukan kontinuitas antara Paris di tahun 1871 dan Paris tahun 2000, namun menjadikan peristiwa sejarah sebagai entitas yang paralel dan memperlakukannya sebagai suatu kontinjensi bagi subjeknya di kemudian hari, yang dapat dibaca sekaligus dilakoni kembali dengan cara baru.

Ada kaitan yang jelas antara identitas ganda pemain dan anakroni dalam dialog, seruan, dan isu yang dibahas mereka dalam film—tapi logiskah di tahun 1871 mereka membicarakan isu-isu yang sangat kontemporer seperti eksploitasi terhadap dunia ketiga dalam kapitalisme global, kuasa media, dan imigran? Di sini para aktor amatir mengambil peran dalam film, berpura-pura menjalankannya dan ujung-ujungnya mengidentifikasi diri secara berlebihan dengan peran dan peristiwa rekaan tersebut. Identitas ganda akhirnya bermakna ganda pula: pertama sebagai kebutuhan cerita dan kedua sebagai cerminan politik—bagaimana para sejarah Komune Paris memberikan mereka sebuah kerangka politik radikal untuk melihat situasi di tahun 2000-an. Dalam hal ini sejarah menjadi paralel dengan masa kini, berdampingan dengan kehidupan kita, dan menawarkan penalaran tersendiri tentang situasi yang kita hadapi sekarang. Badiou melihat peristiwa tanggal 18 Maret 1871 sebagai momentum lahirnya worker-being, momentum munculnya kesadaran politik khas kelas pekerja setelah bertahun-tahun dipecundangi dan diperlakukan sebagai pion oleh para liberal moderat dan loyalis monarkis. Dapatkah kita membaca rangkaian peristiwa La Commune dengan cara yang sama dalam konteks yang berbeda?  Kita tengah menyaksikan rekaan Komune Paris bekerja bak vaksin sekaligus viagra bagi siapapun yang terlibat dalam produksi tersebut, yang mentraumatisasi dan merangsang mereka untuk memperluas peran dalam La Commune ke luar studio.

Singkatnya, bagi Watkins sejarah adalah kritik.

III

Saya tidak dapat membayangkan seandainya kisah yang dipilih Watkins bukan Komune Paris tapi peristiwa lain yang mungkin akan memberikan kerangka politik yang berbeda pula. Namun kuatnya efek reka-ulang Komune Paris dalam diri pemainnya mungkin disebabkan oleh situasi yang tepat, dan ketepatan inilah yang membuat peristiwa Komune 1871 simptomatis: kebenarannya tidak ada dalam peristiwa itu sendiri melainkan dalam konteks waktu yang berbeda di masa mendatang (sekarang).

Maka peristiwa-peristiwa serupa yang mencoba mengulangi momentum Komune Paris pun akhirnya merupakan semacam kembalinya pihak-pihak yang dikekang (return of the repressed). Sejarah Komune Paris menyimpan suatu titik traumatisnya sendiri yang harus direpresi. Negara pun berupaya mengenyahkan trauma tersebut, misalnya dengan berbaik hati memberikan status kewarganegaraan kepada para pekerja imigran dan amnesti kepada para tahanan politik yang terlibat dalam peristiwa 1871, beberapa tahun setelah Komune berakhir dan Republik Ketiga (yang dikenal The Golden Era of Citizenship) sebagai berdiri. Namun, tak dapat disangkal jika upaya ini tidak sepenuhnya berhasil karena negara hanya mengadopsi sebagian misi Komune (kewarganegaraan universal) dan mengebiri yang lainnya seperti kolektivisasi alat dan hasil produksi sosial, partisipasi politik tanpa batas. Negara sadar tengah ditantang oleh fakta bahwa model kewargaan yang sama dan lebih egaliter terlebih dahulu diperjuangkan dalam Komune. Maka mempertanyakan apa yang telah diberikan pemerintah Prancis dengan cara menarik ke momentum historis Komune Paris sama saja dengan mengajukan versi egalitarianisme yang lebih radikal, dan dengan begitu membongkar legitimasi negara yang terus-menerus krisis dan otoritasnya berdiri di atas penghancuran Komune. Tidakkah kita bisa membaca peristiwa pemogokan besar-besaran di tahun 1936, berdirinya pemerintahan Front Populaire, Mei 1968 hingga, dalam batasan tertentu, kerusuhan di Paris tahun 2005 sebagai return of the repressed?

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Windu Jusuf

Windu Jusuf

Editor at Cinema Poetica
Menulis kritik dan kajian film. Pada 2012 menjadi anggota dewan juri Jogja-NETPAC Asian Film Festival. Sejak 2013 mengajar di jurusan film Binus International. Email: windu@cinemapoetica.com
Windu Jusuf

Latest posts by Windu Jusuf (see all)

X