Kritik untuk Film Pendek? Catatan Selepas Festival Film Solo 2014

Suasana diskusi pasca pemutaran di Festival Film Solo 2014

Suasana diskusi pasca pemutaran di Festival Film Solo 2014

“Author has died”. Jika pernyataan tersebut diperluas untuk konteks dunia film, maka sutradara adalah orang-orang yang kemudian ‘dibunuh’ oleh kelahiran filmnya. Berangkat dari pernyataan Roland Barthes di atas, ketika film rampung dan “dilempar” ke publik, maka film menjadi produk gagasan yang bebas-lepas dari otoritas pembuatnya. Logikanya, segala produk seni yang lahir kemudian menjadi berjarak dengan si empunya. Film menjadi sesuatu yang mandiri dan merdeka. Sebab itu, setiap film yang diputar adalah satu penanda ‘kepasrahan penuh’ film itu sendiri terhadap segala kemungkinan pembacaan atasnya.

Ketika jarak hadir antara sutradara dan film yang dibuatnya sendiri, konsekuensinya, pembacaan film oleh si sutradara akan setara nilainya dengan pembacaan penonton. Benar-salah pembacaan atas suatu film menjadi relatif. Karena tidak ada yang memiliki otoritas kebenaran di sini, gagasan film hanya mungkin lahir dari logika yang dibangun oleh dan dari film itu sendiri.

Di sini posisi kritik film menjadi jelas: jika kita memaknai film sebagai sebuah peristiwa gagasan, maka mengkritik film adalah satu upaya untuk mengkontekskan gagasan-gagasan tersebut ke khalayak, menempatkan karya dalam suatu posisi kulturil yang riil di tengah lingkungannya. Singkatnya, kritikus menjadi penyambung lidah bagi film-film yang dibacanya.

Setidaknya, pemahaman itu yang saya dapatkan dari obrolan santai bersama Makbul Mubarak, salah satu kurator Festival Film Solo (FFS) 2014. Mengkritik film menjadi perlu untuk dilakukan karena kritik akan menggaungkan gagasan-gagasan yang ada di setiap film. Tanpa adanya kritik, film hanya akan menjadi satu produk intelektual yang mudah lenyap. Eksistensi film jadi sebatas durasi film itu diputar saja.

Di sinilah kemudian teks-teks yang dihasilkan oleh subjektifitas kritikus menjadi satu upaya untuk memberikan “umur panjang” terhadap film itu sendiri. Menjadi penting karena film dengan segala watak bertuturnya memiliki akses distribusi gagasan yang terbatas kepada penonton. Teks-teks yang dihasilkan kritikus menjadi alat untuk mengkontekstualkan gagasan-gagasan suatu film dalam ruang yang tak lagi berbatas. Tulisan-tulisan kritik menjadi artikulasi dari film yang dijadikan subjek bacaan, untuk penonton ataupun pembuat film.

Pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana kemudian kritik film masih bisa dianggap penting ketika proses kreatif pembuat film dan keasyikan menikmati film justru akan lebih “menantang” jika keduanya mengambil jarak terhadap teks-teks kritik tersebut? “Menantang” bisa dimaknai sebagai nikmat yang tidak bisa disangkal dalam proses membuat film ataupun menonton film. Artinya membuat ataupun menonton film tidak terbatas sebagai sekadar proses menerima, tetapi menemukan dan mengolah gagasan. Di sinilah keasyikan yang dimaksud menjadi sulit untuk dinafikan dalam proses kreatif. Dan kritik diakui atau tidak mengancam kenikmatan itu.

Pernyataan itu tersirat dalam sesi Obrolan Malam #1, bagian dari rangkaian FFS yang merupakan forum dialog antara penonton, pengelola, dan pembuat film. Jason Iskandar, sutradara dari Seserahan (masuk dalam pemutaran utama FFS 2014), menyatakan bahwa dalam ukuran-ukuran tertentu, festival film memang memberi pengaruh terhadap motivasi untuk membuat film, tetapi mengenai kreatifitas itu menjadi hal lain lagi untuk dibicarakan. Selain itu, salah satu penonton juga dalam forum tersebut menyatakan bahwa ternyata ada hal yang hilang ketika film diperbincangkan secara dalam dan lugas, baik oleh kritikus maupun pembuat filmnya sendiri: kenikmatan dalam menonton. Menonton nampak seperti kegiatan yang pasif, padahal tidak melulu seperti itu kasusnya. Kenikmatan juga bisa hadir ketika penonton secara aktif merespons film yang ada di hadapannya, baik secara emosional maupun intelektual.

Suasana salah satu sesi pemutaran Festival Film Solo 2014

Suasana salah satu sesi pemutaran Festival Film Solo 2014

Meski begitu, dalam konteks film Indonesia secara umum, kegiatan kritik film bukannya tak bebas dari masalah. Dalam ekosistem film Indonesia, perputaran nilai dari produksi-distribusi-ekshibisi-apresiasi-dan kritik yang kemudian kembali ke proses produksi mempertontonkan bahwa, kegiatan kritik selalu lepas dari jejaring tadi. Kritik film selalu terjebak dalam subjektifitas atau ukuran-ukuran pribadi kritikus. Meminjam istilah JB Kristanto, “Ibarat seoarang anak kecil yang memegang pisau yang tajam, akhirnya mempergunakannya sekehendak hati.” Pada titik ini kemudian kegiatan kritik dimaknai banyak orang, termasuk pembuat film sendiri, sebagai sebatas “seni mencela”, atau sekurang-kurangnya teks-teks kritik mejadi bak ayat-ayat al-kitab sebagai penyelamat sutradara-sutradara yang tersesat.

Makbul Mubarak memahami fenomena itu sebagai bentuk kemalasan dari kritikus sendiri. Bahwa kita sama-sama tahu bahwa kultur proses kreatif antara satu tempat dengan tempat lainnya jelas memiliki perbedaan. Seperti di Holywood misalnya,terang Makbul, produksi film di Holywood sangat subur, sehingga semangat kritik di sana cenderung untuk mengelompokan mana film-film yang layak tonton dan mana yang tidak. Sebut saja tulisan-tulisannya Roger Ebert.” Kemalasan yang dimaksud di sini adalah upaya adaptasi mentah-mentah kultur kritik Holywood di Indonesia, mengutamakan pembacaan film sebagai pengisi waktu senggang serta komoditas dagang tapi mengesampingkan dimensi-dimensi lain dari suatu film. Di Indonesia, di mana kehadiran pasar di antara karya film dan publik tidak semasif di Hollywood sana (atau setidaknya pengaruh pasar belum berlaku bagi semua jenis film), apakah lantas model kritik yang terjadi juga harus sama? Kalau begitu kejadiannya, produk-produk kritik hanya akan menghasilkan masalah baru, kian mengaburkan kekeruhan-kekeruhan yang ada sekarang, alih-alih memberi sumbangsih terhadap semesta nilai perfilman di Indonesia.

Dalam konteks film pendek Indonesia, persoalan kritik film yang diidap berbeda dengan yang terjadi pada film-film panjang yang beredar di bioskop Indonesia. Adrian Jonathan Pasaribu, salah satu kurator FFS 2014, menyadari betul ketimpangan yang terjadi dalam semesta film pendek di Indonesia. Dalam salah satu sesi Kelas Kritik yang ia fasilitasi, Adrian menyatakan bahwa terjadi pembengkakan dalam lokus produksi. Begitu banyak orang mau jadi pembuat film, begitu banyak komunitas atau kelompok yang berkonsentrasi pada produksi. Tetapi, pada lokus-lokus distribusi dan terlebih kritik, sangat sedikit sekali pelakunya. Akibatnya, kata pendek dalam film pendek memiliki makna tidak hanya dalam durasi, tetapi juga pengaruh kepada khalayak. Belum terbentuk infrastruktur maupun lingkungan yang optimal untuk memfasilitasi pertemuan publik dengan film.

Atas kesadaran itulah, FFS tahun ini kemudian mengadakan Kelas Kritik. Menurut penuturan Bayu Bergas, ketua Tim Program FFS, yang terpenting dalam setiap festival atau yang berkaitan dengan itu semua adalah bagaimana kita bisa memberikan pengaruh terhadap selera kolektif warga terhadap film yang ditonton. Nah, kegiatan kritik (khususnya terhadap film pendek) di Indonesia mesti mengambil peran itu. Teks-teks yang dihasilkan kritikus harus menjamin keberlanjutan gagasan-gagasan yang dimiliki seabrek film-film pendek Indonesia yang lahir, agar terus menjadi obrolan di masyarakat secara umum. Di atas kesadaran itu lah kemudian bagaimana kultur kritik film di Indonesia, khususnya film pendek, harus dibentuk atau terbentuk.

Ini menjadi poin menarik ketika dibenturkan dengan apa yang terjadi dalam film-film panjang yang beredar di bioskop Indonesia, khususnya mengenai kuantitas kritikus. Secara jumlah, kritikus film pendek jauh lebih sedikit dengan jumlah kritikus film-film bioskop Indonesia. Dampaknya, ketika teks-teks kritik (yang outentik ataupun yang KW) ramai membicarakan film-film bioskop, di sisi lain, film pendek seperti tak ada yang peduli.

Suburnya produksi film-film pendek namun sangat sedikitnya kritikus yang menulis, membuat banyak film pendek lenyap dan dilupakan orang. Padahal, seperti juga banyak pegiat film pendek meyakini, jika ingin melihat Indonesia melalui film, lihatlah film pendeknya. Bebasnya medium film pendek dari gunting sensor dan tuntutan pasar (setidaknya sampai sejauh ini) membuka kesempatan bagi pembuat film untuk bereksplorasi seluas-luasnya, memasuki wilayah-wilayah yang tak bisa dijamah dalam film panjang. Belum lagi kita memperhitungkan kebutuhan produksi film pendek tak sebanyak film panjang, memungkinkan medium ini tumbuh di berbagai tempat dan kalangan: di kampus-kampus, di desa-desa, di kecamatan-kecamatan. Di sanalah kemudian keragaman, gagasan, kejujuran, permasalahan, dan segala pernik kebudayaan di Indonesia terangkum dalam belasan atau puluhan menit durasi film pendek.

Film tidaklah sebatas peristiwa gagasan semata, tetapi juga film menjadi peristiwa budaya, artefak-artefak yang terkait dan tumbuh bersama masyarakatnya. Bagi beberapa kalangan, film menjadi indeks kuturil dari lingkungan setempatnya, baik sebagai rekaman maupun bacaan terhadap keseharian khalayak. Bagi beberapa lainnya, film menjadi satu endapan nilai yang dalam konteks kapanpun dan di manapun bisa diurai sebagai rujukan berperilaku dalam hidup dan berkehidupan. Film dianggap mampu menjadi lumbung nilai pendidikan dan “pencerahan” masyarakat secara luas. Film pendek Indonesia, dengan segala kelebihannya, memiliki potensi-potensi itu. Kalau memang budaya kritik film mau tumbuh di nusantara ini, terutama di wilayah film pendek, maka para pelaku dan calon pelaku kritik film di Indonesia perlu sadar akan keragaman dimensi ini dan menanggapinya dalam kerja-kerja mereka.

Tulisan ini adalah hasil dari lokakarya Mari Menulis! edisi Festival Film Solo 2014

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (3)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend