Kinology

Ketika Anak Muda Palu Kasak-kusuk Lewat Film

Ulasan Ade Nuriadin mengenai ciri khas film-film pendek produksi Palu, termasuk para pembuat filmnya dalam mewacanakan dinamika-dinamika sosial. Ulasan ini akan memperbandingkan perspektif postkolonial dengan konseptualisasi utopis sebagai respons terhadap relasi sinema-kota, begitupun terhadap relasi film independen-arus utama.

Kota dan Sinema dalam Film Pendek Indonesia

Catatan Lulu Ratna akan mengajak kita berwisata sinema: berkeliling sambil menonton film-film pendek di sejumlah kota di Indonesia. Catatan ini memaparkan bermacam kecenderungan bentuk dan gaya film pendek yang khas dari setiap kota, yang tidak terbatas pada permasalahan aktual generasi muda setempat, namun juga berkaitan dengan rekam jejak sejarah perjalanan sebuah bangsa.

Hikayat Bioskop-bioskop Purwokerto

Hikayat Wiman Rizkidarajat ini mengisahkan Purwokerto di masa lampau yang sempat memiliki sejumlah varian gedung bioskop. Kita akan membaca tentang, misalnya, Bioskop Rajawali dan Bioskop President yang memang didirikan untuk kelas masyarakat menengah ke atas. Atau tentang Bioskop Kamandaka ataupun Bioskop Garuda yang diperuntukkan bagi kelas masyarakat kecil. Wiman mengemas tulisan ini laiknya kenang-kenangan perpisahan untuk masa-masa keemasan bioskop Kota Purwokerto, yang kini habis hampir tanpa menyisakan apa-apa.

Jejak Film Horor Nusantara

Napak tilas film horor nasional. Mulai dari Doea Siloeman Oeler Poeti en Item (The Teng Chun, 1934) yang disebut-sebut sebagai film horor nasional perdana; pengaruh kelompok sandiwara populer terhadap pembentukan selera pasar di periode awal abad ke-19; pertumbuhan pesat film horor nasional dekade 90an yang dibarengi dengan masuknya unsur-unsur lain seperti kekerasan, seks, religi, dan komedi; termasuk juga pergeseran komposisi serta kelas penonton film horor nasional.

Pengantar Kinology 04: Kota dan Sinema

Kekhasan dinamika sebuah kota tercermin dalam film-film yang dihasilkannya. Sejumlah kota di dunia bahkan memperoleh identitasnya dari sinema—Los Angeles dengan Hollywood, Paris via Godard, Mumbai dan film-film kriminal Bollywood. Ke pinggir sedikit, kebisingan skena intelektual New York mendapatkan Woody Allen sebagai juru bicaranya. Ada juga orang-orang Tamil di India yang sejak dulu sudah akrab dengan film-film asal Tamil Nadu di selatan. Bagaimana dengan Indonesia?
X