Keganjilan Perempuan dalam Tubuh Mia Wasikowska

mia-wasikowska_hlgh

I liked the idea of playing a perky psychopath.[1] Itulah ucapan Mia Wasikowska setelah merasakan dirinya sebagai Agatha Weiss di Maps To The Stars (2014). Film drama sindiran untuk Hollywood yang digarap David Cronenberg, seorang sutradara yang senang mengumbar hal-hal fetish dalam film-filmnya secara vulgar, kasar, dan menguji psikologi penonton.

Sebagai Agatha Weiss, Mia adalah seorang perempuan lembut, namun punya sifat destruktif yang tersimpan rapih dan begitu menakutkan saat hal itu keluar. Cronenberg memainkan Agatha sebagai perempuan polos dengan luka bakar samar di bagian pipi. Sepanjang lengan hingga tangan kirinya ditutupi dengan baju berlengan panjang dan kaos tangan untuk membuat dirinya normal. Tapi di saat bersamaan perasaan depresi mengelilinginya, sadar bahwa dirinya bukanlah perempuan yang normal.

Setahun sebelumnya, Park Chan-wook yang kerap memainkan humor gelap dengan brutal lewat episode pembalasan dendam, mengajak Mia bermain film. Stoker–film perdana Park Chan-wook di luar Korea Selatan–menampilkan Mia sebagai India, perempuan yang ketaknormalannya setipe dengan Agatha. Sejumlah elemen dalam Stoker mengingatkan akan Psycho-nya Hitchcock, seperti koleksi pajangan burung, motel yang jauh dari keramaian, dan bahkan ada adegan shower—debut telanjang Mia di depan kamera.[2]

Peran yang Mia mainkan dalam kedua film tersebut adalah tokoh-tokoh disfungsional, yang tersisih dalam wacana kemasyarakatan. Sutradara auteur lain yang menambah keganjilan repertoar peran Mia adalah Jim Jarmusch. Dalam Only Lovers Left Alive (2013), Mia tampil sebagai Eva, vampir perempuan genit yang kerjanya bikin rusuh dan mengganggu kehidupan cinta kakaknya Eve (Tilda Swinton) bersama Adam (Tom Hiddleston). Mia beralasan bahwa kecenderungannya untuk bermain dengan para sutradara yang punya ciri khas ini karena Mia memang seorang penggemar film. Tidak sukar baginya untuk memutuskan ketika ada tawaran berkolaborasi dari sutradara macam Jarmusch atau Cronenberg.[3]

Apa yang Mia lakukan dalam film-filmnya adalah upaya untuk melakukan sebuah penyingkapan (disclosure) melalui seni peran. Jean Luc-Nancy, seorang cendekiawan yang menghubungkan sinema dan filsafat, mengatakan bahwa suatu penampilan dengan penampilan lainnya takkan pernah habis, terus-menerus berbeda. Ketinampilan (performativity) itu selalu berganda, tanpa ada sudut pandang tunggal yang dapat merangkum keseluruhannya.[4]

Waktu berusia 14 tahun, Mia Wasikowska tiba-tiba berhenti menari balet karena tidak percaya akan fisiknya[7]. Dia bilang kepada ibunya, yang juga penggemar film-film Eropa, kalau dia ingin main film. Pucuk dicinta ulam tiba—Mia mendapat peran pertamanya untuk film pendek I Love Sarah Jane (2008) pada umur 18 tahun. Anak kedua dari tiga bersaudara yang lahir di Australia 14 Oktober 1989 ini mengakui dirinya sebagai pribadi yang tertutup—ia tidak banyak bergaul waktu sekolah. Kedua orangtuanya adalah fotografer. Nama Wasikowska ia dapatkan dari ibunya keturunan Polandia yang pindah ke Australia pada umur 12 tahun.[5]

Mia tidak pernah tahu atau kenal orang yang populer sewaktu remaja. Ia lebih tertarik mendalami hal-hal yang tidak berdasar pada pesona belaka. Melalui Alice in Wonderland (2010), Tim Burton memperkenalkan Mia sebagai aktris muda berwajah polos yang punya potensi dengan peran-peran perempuan ganjil. Sewaktu pertama kali melihatnya dalam film itu, wajah Mia tidak beda dengan wajah perempuan kebanyakan. Tapi saat menonton kedua kali dan seterusnya, bukan hanya wajahnya yang menarik, tapi juga gestur dan gaya bicaranya.

The Kids Are Alright (2010) disutradarai Lisa Cholodenko–perempuan yang punya minat dengan isu lesbian sejak film pertamanya High Art (1998)–menempatkan Mia sebagai perempuan 18 tahun bernama Joni yang punya orangtua yang lesbian. Joni mengalami masa-masa ketika dia mencari tahu siapa pendonor sperma yang membuatnya lahir, hubungan yang terus dijaga dengan adik laki-lakinya, hingga hubungan orangtuanya yang hampir bercerai karena salah satu dari mereka berselingkuh dengan laki-laki yang mendonorkan spermanya. Mia juga merasakan sebagi Jane, seorang perempuan muda abad 19 yang rapuh dan tidak pernah mengenal cinta sejak kecil.

Jane Eyre (2011) disutradarai Carry Fukunaga membawa Mia pada keterasingan rasa cinta dan kebahagiaan yang diambil dari novel Charlotte Bronte. Sekali-kalinya Jane merasakan cinta dan ingin mendekati kebahagian ia merasakannya pada pria dewasa yang usianya jauh berbeda. Di bagian lain, Jane secara tidak sadar menolak cinta kepada St. John yang menyelamatkan nyawa perempuan itu. Mia meleburkan dirinya sebagai Jane yang terus mencari definisi cinta yang seakan tidak ingin didekati. Mia kembali berhadapan dengan kondisi serupa dalam Restless (2011). Gus Vant Sant, sutradara film itu, mempertemukan Annabelle, seorang perempuan remaja penderita kanker yang hidupnya tinggal tiga bulan lagi, dengan laki-laki sebayanya Enoch (Henry Hooper), yang punya obsesi kematian sejak orangtuanya tewas dalam kecelakaan mobil.

Sementara Richard Ayoade tertarik memainkan Mia sebagai Hannah di The Double (2013) yang merupakan objek hasrat Simon (Jesse Eisenberg) secara diam-diam. Film adaptasi novel Fyodor Dostoevsky ini merupakan kisah distopia cinta dan kehidupan modern. Aura film yang sepi dengan gambar-gambar temaram, lampu minimalis, furnitur modern, dan punya rasa Orwellian saat melihat orang-orang kantoran secara seragam duduk di depan mejanya menyelesaikan pekerjaannya dengan bantuan sistem teknologi dan tepat waktu. Membuat orang-orang ini seperti tidak punya perasaan dan digerakkan oleh sistem, namun di tempat lain Simon tidak dapat menutup hasratnya kepada Hannah. Perkembangan hasrat yang secara tidak sadar memunculkan dua orang Simon (doppelganger)—pertentangan antara Simon yang menyadari realitasnya sebagai pribadi yang kaku dan tertutup dan Simon yang punya selera humor, mempesona, dan mudah bergaul dengan rekan sesama kantornya.

Madan Sarup mengatakan bahwa hasrat muncul ketika pemenuhan kebutuhan tidak memuaskan, ketika muncul keraguan atau kesenjangan yang tak dapat ditutup.[6] Hasrat muncul dari kesenjangan ini, yang lantas mendorong manusia untuk memunculkan permintaan lain. Adegan-adegan dalam The Double penuh dengan ambiguitas dan teka-teki hasrat, antara kekakuan Simon menghadapi Hannah sebagai perempuan yang punya daya misterius kuat, dengan kelenturan Simon yang membuatnya mudah mengeluarkan kata-kata gombal bahwa mereka sama-sama punya kesendirian yang bisa disatukan. Jika Simon “yang lain” adalah ketidaksadaran dirinya, maka Lacan melihat ketidaksadaran merupakan “kebenaran”, otensitas.[7] Di bagian akhir film, saat Simon terjun bebas untuk bunuh diri dari apartemen Hannah setelah meneleponnya, sesuai dengan yang diyakini Lacan bahwa ketidaksadaran tidak dapat menjadi objek pengetahuan—ego memproyeksikan dirinya sendiri dan gagal menyadari dirinya sendiri. Pengetahuan-diri (self-knowledge), yakni konsep bahwa diri dapat merefleksikan dirinya sendiri, sama sekali tidak mungkin.[8]

Secara samar bisa terangkai peran-peran Mia sebagai sebuah montase. Marcus Boon menganggap bahwa kegiatan montase adalah praktik dari feminis yang dibayangkan adalah reproduksi seksual. Namun, mengapa tidak dikatakan itu sebagai montase, karena potongannya terjadi terlalu lamban; atau tidak tampak; atau dengan derajat kompleksitas yang terlalu besar, dalam cara yang terlalu kecil, dan simultan.[9] Montase itu lalu berhubungan dalam peran-peran Mia yang menjadikan laki-laki sebagai objek tatapan perempuan. E Ann Kaplan mengungkapkan bahwa perempuan mengambil peran maskulin dalam film sebagai pembawa tatapan di film-film Hollywood awal tahun 1980an. Kaplan mengamati bahwa di dalam peran ini, perempuan selalu kehilangan karakteristik ‘feminin’ tradisionalnya, misalnya garis keibuan, keramahan, dan lain-lain yang mengadopsi karakteristik ‘maskulinis’ yang menyangkal feminitasnya.[10] Namun, secara tidak sadar ada penyamaran yang sebenarnya bermain dalam penyangkalan itu.

Saat Mia bermain sebagai Robyn di Tracks (2013), film biopic yang menceritakan sembilan bulan perjalanan Robyn bersama onta di padang pasir Australia, adalah salah satu bentuk penyamaran untuk menyangkal feminitasnya. Stephen Heath merangkum bahwa seorang perempuan mengidentifikasikan diri sebagai seorang laki-laki–menerima identitas maskulin–dan kemudian mengidentifikasi dirinya sendiri sebagai seorang perempuan. Posisi tersebut merupakan posisi yang kompleks—’penyamaran’ berada dalam ranah perempuan, tapi telah dirampas oleh laki-laki.[11] Pada akhirnya penyamaran merupakan representasi feminitas, namun feminitas adalah representasi, representasi dari perempuan.

Penyamaran identik dengan metafor. Kata “metafor” yang pertama kali dirumuskan Aristoteles dalam Poetika mengatakan bahwa “metafor terdapat dalam pemberian nama yang sebetulnya milik sesuatu yang lain; transferensi dari genus ke spesies, atau berdasarkan analogi.[12] Dengan kata lain metafor adalah bentuk ekspresi yang asing, transposisi dari ekspresi bahasawi yang lebih orisinil, alias makna literal atau pengertian harafiah dari suatu benda.[13] Metafor lekat dengan permainan yang bukan cuman bahasa melainkankan hubungan antara manusia, dirinya, dan alam untuk mendekati atau usaha menyingkap kebenaran yang tanpa usai. Dalam suatu wawancaranya Mia berkata, “I don’t know. It’s hard. I’m still learning how to find a balance between my film life and my home life because I don’t want to feel like I have two lives.[14]

Secara tidak sadar, Mia sudah menarik metafor dalam hubungan dirinya dan peran-perannya yang juga sama dengan hubungan manusia dan alam yang tidak pernah diketahui polanya secara pasti. Manusia menjadi kreatif oleh sebab didorong kebutuhan-kebutuhannya, atau akibat kegemarannya bermain-main dengan bakatnya yang memang berlebih, terutama kecenderungannya menciptakan simbol, dalam metafor kita melihat sesuatu dari sudut yang lainnya.[15] Dari sudut inilah dapat dikatakan bahwa kita ini bagi diri sendiri hanyalah “penampilan”–seperti yang diungkapan Jean-Luc Nancy di atas–yang memahami dirinya melalui metafor. Kenyataan bahwa manusia merupakan makhluk yang serba tak lengkap. Meski rasionalitas manusia kendati canggih, ia tak pernah bisa dianggap sebagai cermin murni kenyataan, karena ia bukanlah sarana yang serba mampu dan memadai.[16]

Montase dari karakter-karakter Mia Wasikowska tidak akan pernah lengkap dan akan terus menerus coba memahami dirinya di dalam peran-perannya, akan bertambah tapi tidak akan selesai. Mia dalam setiap filmnya punya kompleksitas yang tidak pernah tetap, kecuali menuju keganjilan-keganjilan perempuan yang lain.

[1] Kathryn Hudson. The fearless Mia Wasikowska is taking over Hollywood. Diakses pada 11 Maret 2015.

[2] Helen Brown. Stoker’s Mia Wasikowska, interview: ‘It’s a weird love triangle between a mother, an uncle and a daughter…’. Diakses pada 11 Maret 2015.

[3] Nigel M Smith. Why Mia Wasikowska Has Stuck to Indies Following ‘Alice in Wonderland’. Diakses pada 11 Maret 2015).

[4] Dikutip dari Bambang Sugiharto, Untuk Apa Seni? (Bandung: Matahari, 2013), hal. 332.

[5] Ibid.

[6] Madan Sarup, Posstrukturalisme dan Posmodernisme, Sebuah Pengantar Kritis, penerj. Medhy Aginta Hidayat (Yogyakarta: Penerbit Jendela, 2003) hal. 30.

[7] Ibid., hal. 18.

[8] Ibid., hal. 18.

[9] Marcus Boon, Memuliakan Penyalinan, penerj. Lusiana Sari, dkk. (Yogyakarta: KUNCI Cultural Studies Centre, 2013), hal. 179.

[10] Dikutip dari Ann Brooks, Posfeminisme & Cultural Studies: Sebuah Pengantar Paling Komprehensif, penerj. S. Kunto Adi Wibowo (Yogyakarta: Jalasutra, 2009; diterbitkan pertama kali 2005) hal. 256.

[11] Ibid., hal 260.

[12] Dikutip dari Bambang Sugiharto, Postmodernisme: Tantangan bagi Filsafat(Yogyakarta: Kanisius, 1996) hal. 102.

[13] Muhammad Al-Fayyadl, Derrida, (Yogyakarta: LkiS, 2012; diterbitkan pertama kali 2005) hal. 154.

[14] Kathryn Hudson. The fearless Mia Wasikowska is taking over Hollywood. Diakses pada 11 Maret 2015.

[15] Bambang Sugiharto, Postmodernisme: Tantangan bagi Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 1996) hal. 111.

[16] Ibid., hal. 120

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (5)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend