Retrospeksi

Taksi: Dunia Gundah Risau Tak Sudah

Alih-alih membuat akhir yang pasti, Taksi tetap meninggalkan kerisauan itu mengapung di layar, terbuka, dan tak berkesudahan. Hal terbaik yang bisa dilakukan para karakter adalah menenggelamkan diri ke dalam lingkaran berulang: saling mencari dan dicari, ditemukan dan kehilangan, tanpa sesiapapun yang bisa menjamin kapan semua itu akan rampung.... Baca

Badut-Badut Kota: Impian Perlente Dalam Bejana Kaca

Badut-Badut Kota bisa bersikap dualistik dengan sangat konsisten dari awal sampai penghabisan. Dualisme tersebut tidak hanya mencakup dialog, melainkan struktur yang mendukung ceritanya. Pun dalam hal isu, komposisi dualistik terdapat pada bagaimana film ini berkomentar atas silang-sengkalut politik, kesenjangan sosial, seksualitas, juga kondisi perfilman Indonesia saat itu.... Baca

Raja Jin Penjaga Pintu Kereta: Di Atas Kapitalisme, Masih Ada Tuhan

Judulnya boleh jadi mengesankan sebaliknya, tapi film garapan Wahab Abdi ini bukanlah film horror kacangan. Ia bukan film horror bukan pula film kacangan. Ceritanya berpusat pada Gono, mantan pemain lenong yang dulunya selalu melakonkan karakter Raja Jin. Pernikahan dan tuntutan kehidupan berkeluarga membuat Gono banting setir jadi penjaga pintu kereta api.... Baca

Intan Berduri: Omong Kosong Besar dan Kerlip Kilaunya

Umumnya, film Indonesia menjadikan keluarga sebagai titik tolak untuk bertobat dari masalah-masalah. Bila seorang pemabuk insyaf, itu besar kemungkinan karena anaknya. Bila seorang ibu yang kelamaan merantau pulang ke rumah, itu juga mungkin sekali karena anaknya. Bila seorang anak tersedu, mungkin juga itu karena ibunya. Nah, Intan Berduri kabur dari konvensi (semu) naratif ini.... Baca

Send this to a friend