Ismaël Ferroukhi: Kesunyian adalah Bahasa Paling Intim

Adrian Jonathan | 16 March 2012 | Wawancara
1
0

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

“Bagaimana Indonesia, negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia, menerima Le Grand Voyage?” Tanya Ismaël Ferroukhi seraya saya memasuki lounge dan diperkenalkan oleh asisten pribadinya. Pertanyaan yang tentunya sukar dijawab, mengingat saya tak cukup representatif untuk mewakili dua ratus juta lebih umat Muslim di Indonesia. Saya pun menjawab begini, “Film panjang pertama Anda menjadi film pembuka Jakarta International Film Festival 2005, cakram DVDnya diedarkan oleh distributor skala nasional, dan bajakannya lazim ditemui di rental film kota-kota besar.” Dia tersenyum.

Pertemuan saya dengan Ismaël Ferroukhi terjadi di Singapura, 9 Desember 2011. Hari itu dia akan mempresentasikan film panjang keduanya, Free Men, di hadapan pengunjung Rendezvous with French Cinema. Beberapa jam sebelum itu, dia menyempatkan waktu setengah jam untuk bercerita sedikit tentang film panjang pertamanya.

Bagaimana awalnya Anda mendapat ide untuk Le Grand Voyage?

Semuanya bermula dari kenangan, sungguh. Saya ingat, dulu waktu saya kecil, bapak saya pernah menyetir mobil dari Prancis sampai Mekkah. Aku pun berpikir, “Ah, kalau saya meletakkan tokoh-tokoh saya dalam sebuah mobil, mereka pasti harus bicara satu dengan sama lain.” Mereka harus memaksa dirinya untuk bilang, “Apa kabarmu?”, “Aku sayang kamu”, “Aku benci kamu”, dan sejenisnya.

Saya mau bercerita tentang paradoks seorang bapak dan anak. Mereka satu keluarga, tapi tak bicara dengan satu sama lain. Mereka satu keluarga, tapi bertingkah layaknya orang asing. Ketika saya mencoba menulis Le Grand Voyage, saya berusaha sekeras mungkin untuk menaruh mereka di situasi yang tidak memungkinkan jalan keluar. Kebanyakan film menawarkan jalan keluar untuk tokoh-tokohnya. Saya tidak mau begitu. Saya mau tokoh-tokoh saya saling mengkonfrontasi satu sama lain.

Tokoh-tokoh Le Grand Voyage bisa dibilang adalah individu yang terjebak antar budaya. Contohnya Reda. Bapaknya berasal dari Maroko, sementara Reda sendiri besar di Prancis, bicara Prancis, paham bahasa Arab, tapi tak bisa bicara Arab.

Reda di satu sisi mencerminkan hidup saya. Saya paham bahasa Arab, tapi tak bisa bicara Arab. Saya lahir di Maroko, tapi saya pindah ke Prancis waktu umur tiga tahun. Memang, beberapa kali saya mengunjungi Maroko, tapi hanya saat liburan atau acara keluarga. Sekarang saya perlahan-lahan mempelajari kembali negara itu dan budayanya. Ya, saya seperti Reda.

Cerita Le Grand Voyage sebenarnya otobiografis. Saya tidak pernah menjalani perjalanan mobil macam yang terjadi di film dengan ayah saya. Tapi saya berusaha setulus mungkin, senyata mungkin dalam membangun ceritanya. Saya menulis dari kejadian-kejadian dalam hidup saya. Betul, saya memiliki koneksi tersendiri dengan Reda, tapi sepertinya orang-orang yang pernah menonton Le Grand Voyage juga bisa berkoneksi dengan Reda. Saya senang mendengarnya.

Satu hal yang menonjol dari Le Grand Voyage: film tersebut tidak saja menunjukkan keragaman bahasa, tapi juga kesunyian yang timbul dari keragaman tersebut. Reda dan bapaknya bicara bahasa yang berbeda, sementara mereka menghabiskan perjalanan lintas sepuluh negara hampir dalam diam.

Le Grand Voyage sebenarnya adalah buah pikir saya tentang bahasa, baik bahasa personal antara bapak dan anak, maupun bahasa sosial yang dipakai masyarakat sehari-hari. Namun, sepanjang saya syuting film itu, saya mendapat kesimpulan kalau bahasa paling intim adalah kesunyian. Inilah yang kemudian saya coba tekankan antara Reda dan ayahnya. Kamu bisa mengkomunikasikan apapun dalam diam. Kamu bisa berkata banyak hal hanya dengan menatap orang di hadapanmu ketimbang bercakap dengannya. Kamu takkan pernah bisa membohongi kesunyian. Kamu bicara dengan matamu, gerak-gerik tubuhmu, yang saya yakini sebagai cerminan isi jiwa.

Kesimpulan ini saya rumuskan ketika saya syuting di Mekkah. Tunggu sebentar. Kamu pernah ke Mekkah?

Reda dan bapaknya di Le Grand Voyage (2004)

Belum.

Tapi pasti kamu sudah nonton Le Grand Voyage. Mekkah ramai sekali, seramai yang ada di film. Gila. Awalnya, setiap saya bilang kalau saya akan syuting di Mekkah, teman-teman saya pasti teriak. [Tertawa] “Apa kamu gila? Di sana ramai sekali. Orang-orang di sana berdoa. Mereka benci kamera. Mereka akan merajam kameramu.” Hal-hal semacam itu.

Ketika saya sampai di Mekkah, ya, tempat itu memang luar biasa gila. Jangan salah sangka. Saya terpukau dengan konsentrasi kekuatan spiritual yang saya hadapi. Banyak sekali suara di sana. Hampir semua orang bicara. Cina, Afrika, Arab, Afghanistan. Semuanya bicara. Saya dan kru saya hanya bisa diam. Kami mengamati mereka dan menemukan semacam kekhusyukan tersendiri, yang tercermin dari mata dan cara mereka bergerak. Saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tidak tahu juga apa yang mereka pikirkan, tapi gerak-gerik mereka menunjukkan itu semua. Kekuatan spiritual inilah yang saya maksud.

Le Grand Voyage adalah film pertama yang bisa syuting di Mekkah. Sebelumnya tidak ada, tidak untuk film layar lebar setidaknya. Saya mengatasi banyak rintangan hanya untuk merekam orang naik haji di Mekkah, dan saya bangga bisa mencapai itu. Momen yang sungguh mencerahkan.

Bagaimana Anda bisa mendapat ijin untuk syuting di Mekkah?

Awalnya susah. Pertama-tama saya sudah mengantongi ijin untuk syuting dari kedutaan Arab Saudi di Prancis. Ketika saya mendarat di Jeddah, untuk melakukan persiapan final sebelum syuting, pabean setempat berkata begini, “Apa yang akan kamu lakukan dengan kamera-kamera itu?” Saya jawab, “Saya akan syuting di Mekkah dan saya sudah punya ijin.” Jawaban mereka, “Siapa yang kasih ijin? Kami periksa dulu. Tunggu.”

Dua hari pun berlalu. Tidak ada syuting, tidak ada kegatan. Situasinya begini, ketika saya menulis naskah Le Grand Voyage, saya berjanji pada diri saya sendiri: kalau saya tak bisa syuting di Mekkah, film ini tak akan dibuat. Kalau saya bisa, tak ada yang bisa menghentikan saya. Saya ulangi ini terus-menerus di kepala saya. Mekkah sangatlah penting. Itulah jiwa dari Le Grand Voyage, esensi dari film ini. Le Grand Voyage mulai dengan dua orang hampir tak bicara satu sama lain, dan saya mau film itu berakhir dengan dua plus dua juta orang lainnya, yang memahami satu sama lain bukan lewat bahasa sehari-hari, tapi lewat kesunyian dan kebahagiaan bersama.

Bagaimana kesulitan ini mempengaruhi jadwal syuting Anda?

Tidak terlalu sebenarnya. Ijin yang saya dapat dari kedutaan Arab Saudi sebenarnya untuk syuting enam hari. Karena masalah dengan pabean di Jeddah, saya hanya punya waktu dua hari. Untungnya, saya sudah tahu saya akan butuh gambar seperti apa. Jadilah kami kerja cepat di Mekkah. Kami ambil gambar kerumunan orang, aktivitas mereka, dan lingkungan sekitar mereka.

Kami bekerja dengan tim yang sangat kecil. Hanya empat orang. Dan kami tak bisa membawa para aktor. Tak mungkin syuting dengan aktor di Mekkah. Terlalu ramai. Jadilah kami berusaha meniru atmosfer Mekkah ketika kami syuting di Maroko. Saya pakaikan kostum-kostum yang biasa dipakai di Mekkah ke para pemain ekstra saya. Saya minta mereka untuk membuat keramaian di sekitar Reda dan bapaknya, seakan-akan mereka berdua memang berada di Mekkah. Bagusnya lagi, cahaya di Maroko tak beda jauh dengan Mekkah. Jadilah kami membangun atmosfer Mekkah di Maroko.

Anda menulis Le Grand Voyage tahun 1998 dan baru merilisnya tahun 2004. Kenapa sampai memakan waktu enam tahun?

Karena itu film panjang pertama saya. Saya mau filmnya sesempurna mungkin, sesempurna gambaran yang ada di kepala saya, tapi kondisi finansial tak memungkinkan hal tersebut. Ketika saya bilang kalau saya mau buat film tentang dua orang dalam mobil, yang menyetir melintasi sepuluh negara dan berakhir di Mekkah, orang-orang bilang, “Kamu gila. Siapa yang akan kasih uang?” Jadilah, saya debat dengan banyak produser, gagal, sampai akhirnya saya bertemu Humbert Balsan. Dia filmmaker terbaik yang pernah saya temui. Dia memproduksi film dari banyak negara, Arab Saudi, Palestina, Mesir. Dia cinta sinema dan senang ambil risiko. Dia yang pasang badan untuk film saya. Pada akhirnya, kami tidak dapat seluruh uang yang kami butuhkan, tapi Humbert bilang, “Jalan saja. Buat filmmu. Saya usahakan cari uang buat tambal biaya produksi, kamu syuting sana.”

Saya beruntung. Kalau saja saya tak bertemu dia, saya rasa Le Grand Voyage takkan pernah jadi. Para produser yang saya temui sebelumnya tak ada yang tertarik. Sedikit sekali yang bisa dijual dalam Le Grand Voyage. Naskahnya bercerita tentang perjalanan lintas sepuluh negara, tapi perlakuan kameranya hanya berfokus pada dua tokoh ini. Gila, kata mereka. Film ini tak bisa dijual. Mereka malah minta saya untuk syuting di satu tempat saja, tak perlu sampai sepuluh negara. Saya yang tak bisa. Perjalanan lintas sepuluh negara ini penting. Harus disyuting di sepuluh negara juga. Dengan berpindah-pindah tempat, kami memberi semacam beban sosial kepada para pemain. Mereka menjadi orang asing di negeri yang asing. Teralienasi dari dunia luar, mereka harus benar-benar mengolah kepribadian mereka, supaya bisa paham satu sama lain. Saya tidak terlalu ingin menunjukkan realita di luar sana, tapi di dalam sini. [Menunjuk ke dada]

Jadi, pada dasarnya, ada dua perjalanan yang Anda ingin tunjukkan: geografis dan spiritual.

Tepat sekali. Karena kami tak punya cukup uang, kami bawa dua mobil untuk syuting. Modelnya sama, warnanya sama. Satu untuk shot-shot eksternal, jadi kami bisa bingkai mobilnya dengan pemandangan selama perjalanan. Satu lagu untuk shot-shot internal, jadi kami bisa merekam dinamika kedua tokoh dalam mobil.

Ada satu kejadian lucu saat syuting. Waktu kami akan melintasi perbatasan, lupa dari mana ke mana, kami berhadapan dengan pabean setempat. Mobil pertama lolos begitu saja. Semua dokumen dicek, dan alat-alat yang kami bawa dianggap aman untuk lintas negara. Tapi ketika mobil kedua datang untuk diperiksa, pabean ini kaget, “Kenapa mobil di sini terlihat sama semua? Siapa ini yang iseng?” [Tertawa]

Salah satu adegan dalam Free Men (2011)

Ada jeda enam tahun antara Le Grand Voyage dan Free Men. Apa yang terjadi?

Le Grand Voyage saking suksesnya sampai film itu keliling dunia. Saya ikutan untuk mempresentasikan filmnya. Kebanyakan ke Amerika Serikat, untuk bercerita tentang Le Grand Voyage ke banyak kampus, ke banyak mahasiswa. Menyenangkan. Lalu saya terlibat dalam sebuah proyek kolektif. Judulnya Enfances (Childhood). Ada tujuh sutradara yang terlibat. Masing-masing membuat satu film pendek tentang masa kecil sutradara-sutradara legendaris. Jacques Tati, Orson Welles, [Ingmar] Bergman. Bagian saya tentang [Jean] Renoir. Film itu sayangnya tak beredar luas di luar Prancis.

Lalu saya menulis sejumlah naskah, sampai akhirnya saya ketemu satu cerita di surat kabar, tentang imigran Algeria yang menyelamatkan seorang pria Yahudi ketika Paris diinvasi Nazi. Cerita yang sangat minor, catatan kaki sejarah mungkin, tapi saya sangat tertarik. Saya riset tentang cerita itu sampai dua tahun. Saya coba kembangkan ceritanya seiring fakta-fakta yang saya temukan. Saya coba terjemahkan beberapa artikel yang berhubungan, tanya-tanya sejumlah sejarawan, cari literatur dari Jerman, Prancis, Inggris.

Cerita ini menarik perhatian saya karena menunjukkan satu dunia di mana bangsa Arab dan Yahudi bisa hidup damai dan berteman dekat. Jadi kalau di Le Grand Voyage saya berbagi kenangan tentang masa kecil saya sebagai seorang imigran, di Free Men saya mau mengingatkan orang-orang kalau sempat ada persahabatan yang manis ini, persahabatan yang saya rasa sulit dipercaya orang-orang sekarang.

Free Men ini berbeda dari Le Grand Voyage. Ini film epik, sebuah period piece, yang mengharuskan Anda banyak membangun banyak hal. Sementara, menurut sejumlah laporan media yang saya baca, Anda bekerja dengan bujet yang sangat kecil.

Benar, benar sekali. Kamu benar soal bujet yang saya pakai untuk Free Men. Idealnya, film itu membutuhkan empat belas juta Euro. Saya cuma berhasil mengumpulkan tujuh juta. Trik saya pun begini: perbanyak adegan indoor. Ini mengurangi kebutuhan saya untuk membangun banyak hal. Hemat. Waktu dan uang lebih saya fokuskan untuk melatih para pemain menghayati zaman itu. Kalau penampilan mereka meyakinkan, saya yakin penonton bisa masuk ke dalam suatu keadaan yang unik dalam sejarah ini, keadaan di mana bangsa Arab dan Yahudi tak sepanas sekarang. Mengingat kan tak harus mahal.

The following two tabs change content below.
Adrian Jonathan

Adrian Jonathan

Mendirikan Cinema Poetica sebagai media untuk berbagi asa, rasa, dan aksara. Dulu, dari 2007 sampai 2010, rajin mondar-mandir sebagai pengurus program di Kinoki, bioskop alternatif di Yogyakarta. Sekarang aktif di Yayasan Konfiden sebagai anggota redaksi filmindonesia.or.id. Turut terlibat dalam Festival Film Solo sebagai kurator dan juru program. Sempat jadi juri film pendek Festival Film Indonesia 2011, sempat pula berpartisipasi di Berlinale Talent Campus 2013 sebagai kritikus film.
Adrian Jonathan

Tulisan Adrian Jonathan (selengkapnya)

1 Tanggapan

  1. santa 20 March 2012 Reply

    Rihlah al-kubra : mengingatkan itu mahal : that all we have!

CINEMA POETICA | Layaknya hidup, film lebih asyik dinikmati bersama.