I Know What You Did on Facebook: Ketika Masalah Keluar dari Dunia Maya

Corry Elyda | 11 January 2011 | Resensi
0
0

Resensi oleh Corry Elyda

Stop! Jangan menilai film ini dari judulnya! Terlepas dari judulnya yang begitu itu, film ini ternyata berkebalikan dari selera judulnya. Entah kenapa, dari sekian banyak judul-judul heboh (filmnya jarang sekali heboh) yang dunia perfilman Indonesia punya, I Know What You Did On Facebook (IKWYDOF) sama sekali tak terdengar gaungnya, bahkan untuk sehari dua hari. Seharusnya, selayaknya The Social Network, film ini seharusnya booming. Paling tidak mungkin begitu logika si produsernya. Seperti Sang Pencerah yang ditonton orang-orang Muhammadyah, IKWYDOF seharusnya ditonton oleh banyak pengguna Facebook. Usut punya usut, ternyata film ini keluar berbarengan dengan film tentang mahluk bertaring dan kerlap-kerlip yang sudah duluan terkenal, yaitu Eclipse, film ketiga dari tetralogi Twilight. Film ini baru terdengar lagi ketika FFI mengumumkan nominasi peraih piala Citra.

Film ini bercerita tentang dua perempuan yang bosan dengan tingkah pasangan masing-masing. Luna dan Via memutuskan untuk mengerjai pacar mereka lewat facebook. Caranya: Luna dan Via yang awalnya teman di Facebook me-remove pertemanan mereka, kemudian me-remove pacar masing-masing. Dengan begitu, mereka bisa “bertukar pacar” di Facebook. Paling tidak itu perjanjian awal, sebelum akhirnya Via, penganut hidup jalan tol alias bebas hambatan, melanggar perjanjian itu dan mulai jalan dengan Rino, pacar Luna yang juga urakan. Kemudian konflik pun dimulai. Selain masalah Luna dan Via, masih ada dua konflik minor di film ini, yaitu kakak Luna (Marlene) dengan suaminya yang dingin seperti “kedebong pisang”, dan kakak Reno (Doni) yang naksir teman laki-laki sekantornya.

Sebenarnya, Facebook hanyalah wadah. Di dunia nyata, ia bisa dianalogikan seperti sebuah kafe tempat orang-orang bertemu. Bila nantinya, di sana ada yang ketahuan selingkuh atau mungkin ketemu jodoh, tempat itu tak bisa disalahkan atau dianggap berjasa. Seperti yang terjadi di IKWYDOF, Facebook tak ubahnya gerbang mimpi buruk hancurnya hubungan Luna, Via, Reno, dan Vidi. Bagi Doni, Facebook adalah tempat mengungkapkan jati dirinya yang sebenarnya sebagai penyuka sesama jenis. Sedangkan, bagi Marlene, Facebook adalah pelarian dari rasa kesepiannya. Kelebihan Facebook hanyalah kita tak perlu berinteraksi secara fisik dengan siapapun, sehingga memudahkan kita untuk mengendalikan atau bahkan mengeksploitasi situasi. Dunia maya membebaskan kita dari norma yang berlaku di dunia fisik nyata, karena dampak yang ditimbulkan tidak akan akan langsung. Namun, seperti juga efek berkomunikasi tradisional pada umumnya, efek Facebook bisa seperti bola salju, akan semakin besar dan bisa melibas siapa saja di dekatnya.

IKWYDOF merepresentasikan akibat-akibat itu. Berbeda dari judulnya, film ini lebih menggambarkan akibat-akibat nyata dari efek bola salju Facebook. Ini terlihat di filmnya. Walau awalnya berasumsi bahwa film ini akan berisi close up tulisan-tulisan di Facebook, yang menggambarkan kegiatan ber-Facebook, plot ternyata berkembang dari apa yang dilakukan para tokoh di luar Facebook. Perkenalan semua tokoh di Facebook hanyalah trigger. Dalam film, hal tersebut dari shot-shot yang tidak terlalu memihak apa yang mereka lakukan di layar komputer. Tidak semua percakapan dan tulisan di wall Facebook terlihat jelas dalam film ini. Kalaupun ada close up, penonton tak terlalu diberi waktu untuk benar-benar membaca. Aksi para tokoh di luar Facebook yang lebih dipentingkan.

Hal yang patut dipuji dari film ini adalah kepadatanceritanya, yang jarang sekali kita temukan di film Indonesia yang seliweran di bioskop akhir-akhir ini. Walau fokus narasi tetap ke masalah Luna dan Via, dua cerita lain tetap terbangun dengan baik dengan montase yang efektif, walau dengan intensitas yang berbeda. Tak heran kalau plot film ini enak diikuti. Kehadiran tokoh Doni dengan permasalahan orientasi seksualnya, misalnya, jadi komedi tersendiri ketika masalah Luna mencapai klimaksnya. Sedangkan permasalahan Marlene, cerita yang paling sederhana di IKWYDOF, diselesaikan tanpa pretensi yang berlebihan. Kedua cerita tersebut menjadi dimensi alternatif bagi penonton dalam menelaah efek Facebook.

Meski ceritanya begitu padat, IKWYDOF bisa berjalan dengan baik karena efektifitas gambarnya. Dari segi visual, film ini bukannya tanpa rasa. Permainan cahaya dan warna tetap bisa mendukung narasi dengan baik. Contoh paling menarik adalah adegan Luna dan Reno berseteru di teras rumah. Adegan tersebut dibingkai oleh kamera yang dimiringkan mengikuti arah kedua tokoh itu bergerak. Kesannya mereka sedang berada dalam akuarium yang akan tumpah. Keberjarakan sangat terasa saat itu. Setelah mengikuti para tokoh dengan intens, penonton seperti diberikan waktu menarik nafas dan menikmati adegan itu sebelum kembali lagi ikut bersitegang ria dengan para tokoh dengan close up and medium shot.

Lagi-lagi, Facebook hanyalah wadah. Isinya dan dampaknya segila apa, itu tergantung pengguna. Film ini berhasil membuktikan hal itu. Ketika credit title bergulir, penonton baru saja menyelesaikan sebuah film drama yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, yang tersusun dalam visual dan montase yang rapi. Tidak kurang, tidak lebih.

.

I Know What You Did On Facebook | 2010 | Sutradara: Awi Suryadi | Negara: Indonesia | Pemain: Fanny Fabriana, Edo Borne, Kimi Jayanti, Fikri Ramdhan, Restu Sinaga

The following two tabs change content below.
Corry Elyda

Corry Elyda

Seorang teman yang ikut antusias dengan Cinema Poetica. Walau sudah menonton sekian banyak film, tetap jatuh cinta pada genre drama dan komedi romantis. Tanpa sadar telah mengubah film dari sekedar hobi menjadi rutinitas sehari-hari. Sekarang sibuk menonton sembari menyambung hidup sebagai jurnalis Jakarta Post.

Film baik dikonsumsi sekali sehari. Untuk dosis lebih, kunjungi kami.