Horison: Ngopi Atau Psikoterapi?

horison-film-pendek_hlgh

Seorang pria, Handi, tiba-tiba mengawali perbincangan dengan wanita di belakangnya, Genda. Handi yakin bahwa ia tahu apa yang sedang Genda rasakan, walaupun mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Katanya, ia bisa memahami apa yang tengah Genda rasakan lewat observasi (padahal mereka duduk dengan posisi saling membelakangi). Entah terperdaya oleh Handi atau tidak, Genda pun memulai curhatnya. Ia bercerita tentang kisah asmaranya bersama Andre yang ditentang oleh ibunya. Kilas balik beberapa kali muncul. Ada kilas balik yang berisikan keberadaan sosok Andre; ada kilas balikyang tidak berisikan keberadaan sosok Andre. Selesai curhat, Handi pun menyimpulkan sekaligus memberi wejangan: ingatlah biru, lautan, dan ikan.

Sebelum jauh membahas film ini, sedikit yang ingin penulis singgung adalah: film ini merupakan film pendek favorit penonton di XXI Short Film Festival 2014. Berada di jajaran pemenang, film ini patut untuk diapresiasi, dan tentunya menarik untuk dikaji. Apalagi kemenangan film ini ditentukan oleh pemungutan suara penonton, yang secara praktis dapat kita anggap sebagai sampel (yang tentunya tidak representatif) dari populasi penonton XXI pada umumnya. Akan tetapi, meski penulis menyinggung raihan film ini sebagai film favorit, penulis tetap menilai film ini sebatas “film ini sebagai karya”. Penilaian penonton tidak mempengaruhi kajian terhadap film ini.

Secara kasat mata, Samuel Ruby selaku sutradara Horison telah sukses menuangkan maksud baiknya ke dalam film. Pencahayaan serta baju kedua tokoh dibuat cenderung gelap, mendukung suasana sendu, sesendu  musik pengiring film dan kisah Genda. Gerakan dan cara bertutur tokoh dibuat lambat, mendukung majas-majas dan ungkapan puitis mendayu-dayu dari mulut Handi. Gestur Handi yang duduk tegap, posisi tangan bertopang pada sandaran kursi, kerap tersenyum penuh arti, dan mantap dalam bertutur, terkesan menunjukkan posisinya yang superior. Sebaliknya, Genda yang terbata-bata, mendekap tangannya, mata bergerak-gerak secara berlebihan, dan mencoba melihat ke belakang, terkesan menunjukkan posisinya yang inferior–atau mungkin sekadar tidak nyaman.

Secara keseluruhan, karakterisasi dan teknis film mungkin baik. Tapi pertanyaan yang lebih penting adalah jalur seperti apa yang mereka tempuh? Ke mana kemudian mereka berlabuh? Atau menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami: seperti apa cerita filmnya? Dan bagaimana logika pada film dapat terpenuhi saat film berakhir? Sayangnya, penulis kesulitan untuk merangkum cara Horison memenuhi logikanya, karena film ini bahkan tidak memiliki dasar logika yang jelas.

Setidaknya ada dua ketidaklogisan utama terkait semesta Horison. Ketidaklogisan pertama adalah posisi kedua tokoh yang berbincang dengan posisi saling membelakangi. Motif dari mengobrol dalam posisi ini adalah agar Genda tidak merasa terintimadasi oleh Handi. Tapi apakah motif itu cukup? Nampaknya tidak. Mengobrol dalam posisi membelakangi jelas terlalu aneh. Mengobrol seperti ini memerlukan volum suara yang keras dan artikulasi yang jelas–karena arah mulut berlawanan. Orang-orang di sekitar mereka tentu akan melihat ke arah mereka. Mengingat konsekuensi tersebut, rasanya film ini menjadi agak kurang logis; mana ada orang yang mau curhat sambil dipandangi orang-orang satu kafe.

Ketidaklogisan berikutnya adalah ketiadaan pramusaji. Sedari awal, di meja Handi telah ada kopi. Beberapa saat kemudian, Handi menawarkan Genda secangkir kopi-susu. Genda mengiyakan dan “memesan” kopi-susu kepada Handi. Kopi pun tiba dengan Handi yang membawakannya. Pertanyaannya, Handi ini siapa? Apakah Handi adalah pemilik, sekaligus pramusaji kafe yang sedang iseng duduk dan mengajak ngobrol customer-nya?Atau kafe tersebut seperti Starbucks yang pesan di kasir, lalu ambil di kasir; dan Handi memesankan kopi-susu untuk Genda, lalu mengantarkannya; lalu petugas di kasir masuk ke dapur, sehingga Genda dan Handi bebas berbicara dengan suara keras dan posisi saling membelakangi tanpa perlu malu dilihat atau didengar sang pramusaji?

Sedikit berasumsi, nampaknya pembuat film ingin semesta filmnya terdiri dari dua tokoh saja. Lalu, berasumsi lagi, nampaknya pembuat film juga ingin filmnya puitis, manis, dan twisted. Puitis lewat dialog berisikan analogi serta majas-majasnya, manis secara sinematik lewat visual dua tokoh yang berbincang dalam posisi saling membelakangi, serta twisted lewat akhir yang ternyata tokohnya berhalusinasi. Tapi apa demi itu logika harus dibantai?

Bila memang hendak menolak untuk logis, maka perlu upaya tambahan, yaitu membuat landasan atau dasar yang mengizinkan ketidaklogisan yang diingini untuk berada dalam  film. Caranya bisa melalui penjelasan secara eksplisit, yaitu dengan mengawalinya dengan kata-kata semisal: a long time ago in a galaxy far, far away; atau bisa juga dengan secara konsisten menunjukkan ketidaklogisan (atau pemutarbalikan) yang ingin dibangun. Sebab di satu sisi, sebenarnya logis itu tak lebih dari sekadar sebab-akibat yang konsisten nampak di depan manusia. Kalau sesuatu memang telah konsisten terjadi, maka sesuatu itu kemungkinan besar logis. Dulu terbang tidaklah logis, tapi ketika ada pesawat, dan secara konsisten pesawat digunakan untuk terbang, maka terbang menjadi sesuatu yang bisa diterima nalar. Begitulah seharusnya Horison. Kegagalan Horison menemukan poin yang menyatakan bahwa Handi dan Genda bisa berbincang dengan posisi saling membelakangi di sebuah kafe, bagaikan kegagalan Wright bersaudara menunjukkan bahwa manusia bisa terbang dengan rangkaian mesin yang bernama pesawat terbang. Pada situasi itu, Wright bersaudara gagal menjadi logis. Pada situasi serupa, Horison gagal menjadi logis.

Gagal menjadi logis secara logika-dalam (gagal melogiskan ketidaklogisan yang diinginkan) adalah gagal menciptakan semesta film yang lepas dari semesta manusia pada umumnya. Efeknya, akan ada penonton yang mengalami disonansi karena tidak tahu harus memakai logika dari semesta yang mana. Untuk Horison, salah satu penonton seperti itu adalah saya.

Mengenai penciptaan semesta dan logikanya, sebenarnya ada banyak film yang relatif berhasil, misalnya Spongebob Squarepants dengan semesta kehidupan bawah lautnya. Namun untuk lebih relevan terkait pembahasan film Horison (dan agar tetap berada di koridor apresiasi terhadap film pendek), contoh yang mungkin lebih pas untuk menjelaskannya adalah film Seserahan (2013) karya Jason Iskandar. Seperti Horison yang (nampaknya) berpegang pada semesta kafe pada umumnya, Seserahan juga berpegang pada semesta pernikahan pada umumnya: ramai, berisik, dan serba repot. Tapi dalam penciptaan semesta keduanya, Seserahan berbeda dengan Horison. Seserahan konsekuen dengan gambaran semesta yang ingin dibangun.

Seserahan, yang ingin fokus kepada kedua mempelai dan menjadikan orang-orang selain mempelai sebagai “pengganggu”, mewujudkan niatnya itu dengan menghilangkan fisik para tokoh lain secara visual. Secara konsisten ditunjukkan bahwa setir mobil bergerak sendiri, kipas bergerak sendiri, konde melayang, dan lain-lain. Detil-detil visual ini adalah bukti, sekaligus jembatan bagi penonton untuk masuk ke semesta film Seserahan, semesta yang mana tokoh lain dihilangkan rupa fisiknya. Bukan iseng, bukan biar keren saja, itu pun bermaksud untuk penggambaran esensi momen pernikahan yang sesungguhnya adalah momen untuk dua orang.

Pada film Horison tidak ada jembatan yangdisuguhkan untuk masuk ke semesta filmnya, bahkan semesta filmnya pun masih kabur dan kurang konsekuen. Bila yang diingini Horison adalah kafe pada umumnya, ya jadikanlah itu kafe pada umumnya. Tunjukkan bahwa ada meja lain, pengunjung lain dan ada pramusaji. Tapi bila itu adalah kafe khusus yang self-service, tidak ada pramusaji dan pengunjung lainnya, serta nyaman untuk berbincang dengan saling membelakangi, maka tunjukkan bahwa semestanya memang seperti itu. Tunjukkan bahwa kafe itu kosong, kafe itu self-service, dan mengobrol dengan posisi membelakangi itu wajar.

Tanpa detil atau bukti visual yang menjadi basis logika, film akan sulit untuk didalami. Sebab, tidak ada di frame bukan berarti tidak ada di semesta filmnya. Tidak ada pengunjung lain di gambar, bukan berarti tidak ada pengunjung lain di sana. Bila memang ingin bilang bahwa pengunjung lain tidak ada, atau sesuatu yang ada di semesta pada umumnya itu tidak ada, maka tunjukkanlah secara visual, atau verbal, bahwa memang sesuatu tersebut tidak ada. Tanpa penjelasan visual atau verbal, penonton hanya bisa menerka-nerka dan beracuan pada semesta yang umum saja.

Persoalan logika dan semesta bisa saja dianggap sepele oleh sebagian orang tertentu, misalnya oleh mereka yang memfavoritkan Horison di XXI Short Film Festival. Tapi sayangnya, masalah sepele kadang dapat sangat mengganggu bila dibiarkan terus menerus. Seperti kerikil yang kadang lebih nyelekit daripada batu yang besar, kerikil ketidaklogisan pada Horison juga bisa terasa lebih nyelekit daripada batu besar buruknya perfilman Indonesia.

Selain semesta filmnya, dialog puitis dan ending Horison yang tak tertebak juga menjadi gangguan lain. Dialog puitis tidak masalah, asalkan dialog tersebut relevan dengan ceritanya. Dialog dan cerita tidak sepatutnya berjalan sendiri-sendiri. Apalagi bila dialog tersebut dibuat begitu puitis. Perlu ada pegangan yang jelas: dalam situasi seperti apa dan kepada siapa kata-kata mutiara itu disematkan, serta tepat atau tidak kata-kata tersebut disampaikan untuk tokoh yang ditujukan.

Anggap saja situasinya cocok. Sebuah kafe beserta iklim mengobrol di dalamnya. Dan menghormati adanya kemungkinan tak terbatas perihal trait manusia, mungkin Handi adalah seorang pujangga yang selalu menggunakan analogi untuk setiap poin yang ingin ia sampaikan. Meski terkesan sok tahu, dan kerap menggunakan kata-kata yang tidak perlu seperti: observasi, abstraksi, status quo, dan sebagainya, beberapa kalimat yang Handi ucapkan ada yang cukup relevan dengan cerita. Misalnya ketika berusaha menggali lebih banyak pengalamannya Genda, Handi menggunakan analogi kedalaman dan gradasi warna biru pada laut. Lebih menariknya lagi, analogi ini dibarengi dengan visual kopi yang nampak mewakili laut.

Untuk beberapa bagian, memang nampak bahwa pergerakan sendok Handi seakan mewakili setiap pergantian kalimat yang ia ucap. Misalnya saat mengatakan bahwa ia mengobservasi Genda, sendoknya ia lihat dan fokus kamera terfokus ke sendok. Atau ketika Handi mengeluarkan beberapa tetes kopi keluar gelas saat sedang menjelaskan gradasi warna biru pada laut. Gambar itu menyiratkan bahwa, seperti birunya laut, hitam pekat kopi tidak terdiri dari tetesan-tetesan hitam pekat, melainkan ada warna coklat. Ada yang warna lebih muda, ada gradasi.

Dengan permainan visual yang manis itu, sebenarnya Horison relatif berjalan cukup baik di setengah awal. Dialog masih cukup relevan dengan cerita, dan omongannya Handi masih nyambung dengan masalahnya Genda. Tapi sayangnya, ketika sudah berbicara tentang pilihan hidup, yang dianalogikan sebagai ikan yang berenang ke palung atau berenang pulang, dialog dan cerita seakan tercerai berai.

Pilihan yang tersedia untuk Genda adalah, pergi dengan Andre atau tidak. Sebuah pilihan sederhana yang relevan dengan analogi ikan. Tapi sayangnya, belakangan diketahui bahwa Andre hanyalah halusinasi Genda. Relevansi analogi ikan dengan pilihan hidupnya Genda pun menjadi kabur, sebab pilihannya Genda bukan lagi mengenai Andre, melainkan menjadi tentang: tetap tidak waras atau kembali waras. Pilihan ini menjadi sebuah pilihan yang menyepelekan psikopatologis. Kalau berhenti berhalusinasi hanyalah sebuah pilihan, dan bisa disadari di sebuah kafe, oleh seorang pria tidak dikenal, mungkin semua psikolog harus buru-buru berganti profesi.

Mungkin bila penulis bisa menambahkan satu gambar tambahan untuk film Horison, penulis akan tutup film Horison dengan shot: Genda keluar kafe, lalu pintu kafe tertutup dan ada plang “Psikolog Handi” di pintu keluar. Lalu ditambahkan pula keterangan yang berbunyi “hanya dengan waktu 15 menit, halusinasi dan delusi bisa hilang!” Sekali kayuh dua pulau terlampaui, ini juga sekaligus menjawab ihwal semesta film Horison yang kurang jelas. Dengan tambahan gambar tersebut, maka Horison bukanlah film tentang ngopi biasa. Ini adalah film tentang tempat psikoterapi model baru yang tidak menggunakan sofa terapi ala Freud, melainkan dibuat seperti kafe, yang mana selama sesi, posisi duduk klien dan psikolog harus saling membelakangi.

Horison (Horizon) | 2013 | Durasi: 16 menit | Sutradara: Samuel Ruby | Produksi: Ocean Thrills Pictures | Negara: Singapura, Indonesia | Pemeran: Putri Emelli, Bryan Gunawan, Bryant Sidarta

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend