Hope: Harapan Bangsa dalam Tiga Bab

Siapa sih yang tidak ingin melihat negaranya berjaya? Dalam hati yang paling apatis sekalipun, setiap orang selalu memendam harapan bagi negaranya, sekecil apapun itu. Negara bukan saja tanah air yang sumber dayanya kita konsumsi dan sekresi demi kelangsungan hidup kita. Negara adalah orang tua yang melahirkan dan bertanggungjawab atas kehadiran kita di muka bumi ini. Oleh karena itu, hubungan kita dengan negara tak ubahnya dengan hubungan kita dengan orang tua kita. Seburuk apapun hubungan tersebut, selalu ada harapan yang kita pendam agar segalanya membaik. Harapan untuk negara di tengah situasi yang seakan-akan tanpa harapan menjadi tema dari Hope, dokumenter karya Andibachtiar Yusuf, seorang sutradara yang sebelumnya kita kenal lewat The Jak (2007), The Conductors (2008) dan Romeo & Juliet (2009).

Sebagai produk media, Hope adalah satu dari sekian banyak karya yang menyuarakan perubahan sosial demi kebaikan bersama. Sebelum Hope, sudah ada banyak film fiksi dan dokumenter di Indonesia yang bertemakan nasionalisme, baik panjang maupun pendek, baik yang beredar secara mainstream maupun tidak. Jangan lupakan juga iklan-iklan layanan masyarakat yang kerap menyelip manis di antara acara-acara televisi. Hope tidak banyak melenceng dari tradisi advokasi yang sudah ada. Fokusnya adalah masyarakat Indonesia dan generasi penerusnya. Antagonisnya adalah ancaman-ancaman yang berpotensi menghambat perkembangan negara. Ancaman-ancaman tersebut digambarkan berasal dari dalam tubuh masyarakat sendiri. Dalam Hope, konfliknya adalah carut marut dunia politik dan kebobrokan mental masyarakat. Solusinya adalah konsistensi dalam berharap, yang harus diimbangi dengan konsistensi dalam bertindak secara konkrit.

Walaupun pesan yang disampaikan Hope sudah sangat akrab dengan kita, sangatlah tidak adil menilai film tersebut berdasarkan pesannya saja. Sinema tidak bertumpu pada pesan yang disampaikannya, tapi pada relasi antar elemen-elemen di dalamnya. Relasi internal tersebut yang menjadi poros interaksi suatu film dengan penontonnya, baik dalam konteks hiburan maupun advokasi. Perihal advokasi, Hope menyampaikan pesannya melalui struktur tiga bab. Bab pertama berjudul The Majorities, yang melihat Indonesia dari perspektif pendukung partai-partai besar di Indonesia, macam PDI, PKS, dan Golkar. Terselip di antaranya beberapa orang yang memilih untuk tidak mendukung siapa-siapa, alias golongan putih. Bab kedua adalah The Minorities, yang melihat Indonesia dari sudut pandang orang Tionghoa. Spesifiknya: kelompok barongsai yang konstan mengharumkan nama bangsa di kancah internasional, namun konstan tidak diperhatikan oleh pemerintah. Pada bab ketiga, alias The Nation, penonton menyaksikan Pandji Pragiwaksono dan Otong KOIL menarasikan opini mereka tentang berharap dan bertindak untuk bangsa.

Bila dilihat secara terpisah, masing-masing bab dalam Hope menawarkan tonjokan tersendiri bagi kesadaran penonton. The Majorities terdiri dari wawancara dengan beberapa narasumber perihal potensi kemakmuran Indonesia dalam berbagai rezim politik. Setiap wawancara dipotong dan disambungkan dengan wawancara lainnya. Efeknya: banyak pertanyaan ‘bagaimana kalau” yang menggantung di benak penonton. Hal tersebut bisa terjadi mengingat masing-masing narasumber menawarkan utopianya sendiri, terkait dengan partai yang ia dukung atau tidak dukung. Efek sampingnya: terlihat betapa sulitnya mendamaikan berbagai macam pendirian politik di tubuh masyarakat Indonesia. Sampai dalam kapasitas tertentu, masing-masing opini punya nilai positifnya sendiri, namun kerapkali kontradiktif dengan opini dari pendukung partai atau ideologi yang lain.

Pada bab kedua, tonjokan Hope sedikit menurun. Eksekusinya memang rapih. Terjelaskan secara rapi bagaimana kelompok barongsai tersebut beraktivitas dan berprestasi di kompetisi antar bangsa. Menjadi menarik juga melihat bagaimana reaksi mereka terhadap pemerintah yang tidak peduli terhadap kegiatan dan prestasi mereka. Sayangnya, pembahasan hanya seputar isu itu-itu saja. Kecuali pembahasan soal relasinya dengan pemerintah, bagian kedua mengabaikan relasi kelompok barongsai tersebut dengan dunia luar di mereka. Tidak ada adegan yang menghubungkan mereka dengan orang Tionghoa yang berprofesi lain. Lebih signifikan lagi, tidak ada adegan yang menghubungkan mereka dengan kaum minoritas lainnya di Indonesia. Hasilnya: penonton mendapat fakta yang menyesakkan tentang dinginnya pemerintah Indonesia, namun fakta tersebut sangatlah sempit dan menyederhanakan realita yang ada. Salah-salah bagian ini bisa disangka profil kelompok barongsai semata.

Penurunan performa di bab kedua segera terlupakan di bab ketiga. The Nations menggunakan resep bab pertama dalam berinteraksi dengan penonton, yakni melalui kontradiksi opini antar narasumber. Pandji dan Otong adalah dua figur yang berbeda. Satunya sukses dalam kampanye citra Indonesia di situs jejarin sosial, satunya lagi adalah penyanyi lagu cadas dengan lirik sarat kritik sosial. Satunya murah senyum dan penuh canda, satunya lagi sinis dan cenderung kasar. Kontradiksi keduanya silih berganti mengundang tawa, sekaligus menawarkan alternatif tentang berharap dan bertindak untuk bangsa. Sayangnya, seperti bab kedua, The Nations hampir tidak menawarkan hal lain di luar narasumbernya. Kecuali beberapa footage demonstrasi, tidak ada adegan yang menghubungkan kedua narasumber dengan realita di sekitarnya. Kalaupun ada, adegan-adegan tersebut lebih bercerita tentang status selebritis keduanya, seperti adegan Pandji berfoto dengan para penggemarnya, atau pemandangan riuh rendah penonton KOIL saat Otong manggung. Akibatnya, bagian ketiga ini jadi sangat sempit pada opini narasumber, yang mayoritas berupa pesan dan motivasi semata, dengan sedikit fakta untuk mendukung pernyataan-pernyataan tersebut.

Bila dilihat sebagai suatu kesatuan, Hope terlalu tidak konsisten untuk meninggalkan kesan mendalam di penontonnya. Kecuali tema besar filmnya, relasi antara satu bab ke bab lainnya sangatlah minim. Masing-masing bab bicara tentang subyeknya sendiri dengan caranya sendiri-sendiri, akibatnya semua bab tersebut terlihat seperti berdiri sendiri-sendiri. Satu detail yang cukup mengganggu adalah kemunculan tulisan “Bogalakon Pictures mempersembahkan” dan kemudian semacam judul film di awal bab pertama dan bab ketiga. Pada bab pertama, muncul judul To Die For setelah tulisan Chapter I: The Majorities. Sementara di bab kedua, muncul judul Hope setelah tulisan Chapter III: The Nation. Saya tidak tahu apakah itu kesalahan atau memang suatu kesengajaan. Masalahnya, hal tersebut membuat dua bab tersebut bertabrakan dengan pembagian besar film. Konsekuensinya: penonton bingung. Apakah ketiganya merupakan bagian dari satu film panjang berjudul Hope? Atau, Hope hanyalah bab ketiga dan dua bab lainnya adalah dua film pendek dengan judulnya sendiri?

Berdasarkan cara bertuturnya dan relasi elemen-elemen di dalamnya, Hope terlihat seperti sebuah ensiklopedi tentang harapan di Indonesia. Pendekatannya terhadap subyek yang ingin dibahas datang dari berbagai sudut. Masing-masing bab menyelesaikan bahasannya secara solid dan rapi, walau tidak ada kejutan baru di dalamnya. Sayangnya, seperti membaca ensiklopedia, penonton pulang dengan banyak wawasan, tapi sepotong-sepotong dan stagnan di level dasar saja.

Hope | 2010 | Durasi: 71 menit Sutradara: Andibachtiar Yusuf | Produksi: Bogalakon Pictures Negara: Indonesia | Narasumber: Pandji Pragiwaksono, Otong KOIL

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend