Hikayat Bioskop-bioskop Purwokerto

Tulisan ini bagian dari Kinology 04: Kota dan Sinema
hikayat-bioskop-bioskop-purwokerto_01_rajawali

Bioskop Rajawali, sekarang

Kalau Bung atau Nona datang ke kota tempat tinggal saya dengan menumpang bus, Bung atau Nona akan berhenti di Terminal. Kira-kira tidak sampai lima kilometer ke arah utara-barat, Bung atau Nona akan menjumpai sebuah bioskop bernama Rajawali, satu-satunya bioskop yang masih beroperasi di Purwokerto.

Selama tinggal di Purwokerto, saya banyak mendengar cerita—entah hikayat atau dongeng—mengenai banyaknya bioskop yang dahulu pernah ada. Konon kota saya dulu punya banyak bioskop yang bisa mengelompokkan orang-orang yang datang dan menonton film. Dulu orang-orang tidak canggung untuk menjadi berbeda. Mereka, meskipun tidak melakukannya secara sengaja, membagi diri dalam kelas-kelas dan tidak malu dengan seleranya.

Hikayat atau dongeng pada dasarnya sama saja, sama-sama tidak dapat dibuktikan keasliannya. Terlalu banyak unsur magis yang tidak masuk akal. Sejarah memiliki bukti, sedangkan siapapun dapat menceritakan hikayat maupun dongeng. Sifat hikayat jelas berbeda dengan sejarah yang dapat dibuktikan secara ilmiah nan empiris, walaupun bukan berarti sejarah tidak memiliki celah untuk dimanipulasi oleh sang pencerita.

Bung dan Nona tentu pernah mendengar kisah bahtera Nuh, yang kemudian naik pangkat dari sekadar hikayat menjadi sejarah karena pecahan dan beberapa bagiannya ditemukan di Ararat? Lantas, bagaimana dengan bioskop-bioskop di Purwokerto? Apakah mereka bagian dari sejarah atau sebatas hikayat saja?

Saya hendak menuliskan kembali apa yang saya pernah dengar mengenai hikayat bioskop-bioskop di Purwokerto. Saya juga akan menceritakan apa yang sekarang terjadi di kota saya selepas bioskop-bioskop mati tanpa kuburan yang layak, serta betapa membingungkannya hubungan saya sekarang dengan satu-satunya bioskop yang masih hidup di kota saya.

Bioskop President, dulu

Bioskop President, dulu

Budaya Massa, Budaya Elit

Seorang tua menceritakan kepada saya sebuah hikayat tentang kota tempat tinggal saya tiga puluh tahun silam. Katanya, kota saya dulu gemerlap dan semarak dengan gedung berlayar lebar. Gedung-gedung ini, menurutnya, adalah pelarian bagi para muda-mudi yang terjepit kebingungan. Sejawat mereka di kota-kota lain bangkit melawan tirani Orde Baru, sedangkan muda-mudi di Purwokerto masih bingung entah mau berbuat apa. Sampai sekarang kebingungan yang sama masih saya rasakan menyelimuti kota tempat tinggal saya ini. Di dalam gedung-gedung berlayar lebar tersebut, ruang, waktu, dan pergerakannya menjadi pepat lagi singkat dalam sekian jam sorotan gambar bergerak.

Beragamnya bioskop di Purwokerto pastinya berdampak pada kota. Bukan, bukan dalam kaitan klise mengenai identitas yang diberikan bioskop pada kota, melainkan pada pengaruh bagaimana bioskop-bioskop itu menciptakan kelas-kelas dalam masyarakat di kota tempat tinggal saya.

Puluhan tahun lalu, dari jalan di depan Bioskop Rajawali ke arah utara agak sedikit ke barat, Bung dan Nona akan menemukan sebuah bioskop paling elit di kota tempat saya tinggal. Namanya President. Konon, bioskop ini memutar film-film laris Hollywood. Lebih dari itu, film-film yang dahulu menjadi nominasi penghargaan tertinggi insan perfilman dunia juga diputar di sini.

Bung dan Nona bisa bayangkan siapa yang akan menghabiskan waktunya di sini, bukan? Sudah pasti para pengunjung Bioskop President bukan orang-orang yang sekadar ingin berkerumun dan berbincang di depan layar. Mereka berasal dari kelas sosial yang meletakkan film sebagai kebutuhan.

Tak jauh dari President, terdapat sebuah bioskop bernama Kamandaka. Meski dipisahkan selemparan batu, keduanya tampak kontras. Apabila President menjamu para penonton elit ddengan halaman muka yang dipenuhi poster-lukisan film-film Hollywood, Kamandaka sebaliknya: disesaki film-film Bollywood dan kung-fu Mandarin.

Pemandangan serupa bisa Bung dan Nona saksikan pula ketika berjalan ke arah barat dari dua bioskop ini. Ada sebuah bioskop bernama Garuda. Bioskop ini, beserta Kamandaka, selalu dibanjiri penonton saat hari raya, terutama Idul Fitri. Keduanya menjadi lahan pariwisata alternatif bagi para pemudik yang biasanya kaya mendadak sepulang dari ibukota. Mereka tidak datang ke bioskop untuk memenuhi rasa penasaran atau kebutuhan terhadap film. Mereka datang karena bagaimanapun juga, seperti baik dan buruk serta cinta dan benci, hasil kebudayaan juga harus bertumpu pada dua kaki: elit dan massa. Budaya massa harus ada sebagai penyeimbang budaya elit.

Di antara dua kelas bioskop yang berbanding jauh itu, terdapat bioskop penengah yang sebagai penyeimbang. Namanya Nusantara. Saat itu bioskop tersebut adalah bagian dari sebuah imperium bisnis. Letaknya tepat berada di tengah, di antara President, Kamandaka, dan Garuda.

Dalam kompleks niaga yang Nusantara kelola, turut beroperasi hotel, restoran, salon, dan sebuah toko kaset. Kompleks ini, dan otomatis bioskop di dalamnya, tak malu-malu menekankan identitasnya sebagai bisnis milik orang Tionghoa. Selain memutarkan film-film laris Holywood, ia juga memutarkan film-film Mandarin yang cukup bagus kualitasnya. Film-film Mandarin yang diputarkan tak sekadar film-film kung-fu, tapi juga film-film buatan Wong-Kar Wai pada awal kariernya—salah satunya As Tears Go By. Orang-orang di kota kelahiran saya jadi banyak tahu film Mandarin yang berkualitas berkat Nusantara. Bioskop ini juga menciptakan pasar tersendiri, berupa penggemar film Mandarin yang tidak terpatok pada film-film kung-fu.

Bioskop Garuda, sekarang

Bioskop Garuda, sekarang

Kiamat Besar, Kiamat Kecil

Seorang tua yang sedari tadi bercerita kepada saya tetiba terdiam. Raut mukanya berubah, dari bersemangat menjadi sedih. Kalimat pertama yang ia ucapkan sama sedihnya dengan raut mukanya. Seketika semuanya berubah. Teknologi mempengaruhi mental warga dan melumpuhkan peran pemerintah kota Purwokerto.

Teknologi mendatangkan dua kiamat bagi bioskop-bioskop di Purwokerto. Pertama, kiamat sugra, alias kiamat kecil, lewat kemunculan Betamax dan VCD. Perkembangan teknologi saat itu membuat setiap orang bisa memindahkan layar lebar ke dalam rumah. Sepanjang sejarah peradaban manusia, terobosan teknologi selalu diikuti dengan privatisasi, tidak terkecuali pengalaman menonton film. Orang-orang di kota saya tiba-tiba tidak bisa lagi mentolerir perbedaan dalam ruang bioskop. Satu per satu bioskop di Purwokerto mulai sepi.

Kedua, kiamat kubra, atawa kiamat besar, hadir dalam bentuk penggandaan keping VCD bajakan yang kian tak terkendali. Pusatnya ada di sebuah lorong di daerah bernama Kebondalem.

Pemerintah kota mungkin tidak akan bisa berkutik menghadapi kiamat sugra yang dibawa oleh teknologi. Sebab mereka tak berdaya dalam menghadapi arus global. Ketahanan budaya masihlah menjadi sendi terlemah negeri ini. Namun, untuk menghadapi kiamat kubra, pemerintah semestinya mengupayakan kebijakan guna menanggulangi membesarnya industri VCD bajakan. Sayangnya ini juga luput.

hikayat-bioskop-bioskop-purwokerto_04_nusantara-sekarang

Bioskop Nusantara, sekarang

Kiamat kubra membunuh satu per satu bioskop di Purwokerto. Pemerintah kota baru mengambil tindakan setelah kiamat itu terjadi. Dan perlu Bung dan Nona ketahui, apa yang dilakukan pemerintah kota sama sekali tidak ada kaitannya dengan perkembangan bioskop di kota saya.

Pemerintah kota memutuskan bahwa setiap jengkal tanah di Purwokerto harus dimaksimalkan fungsi kapitalnya. Alih-alih berpikir menghidupkan kembali bioskop, mereka lebih memilih memaksimalkan bangkai-bangkai bioskop di Purwokerto.

President dan Kamandaka berganti menjadi pusat perbelanjaan bernama Moro. Seperti masa hidupnya, keduanya diburu secara bersamaan oleh warga kelompok elit dan kelompok pencari hiburan semata di Purwokerto. Meskipun mati tanpa penguburan yang layak, mereka masih tetap berusaha menyuguhkan hiburan bagi para pengunjungnya.

Garuda kini naik kelas.  Sebelumnya identik dengan masyarakat kelas ekonomi bawah, ia telah beralih fungsi menjadi bakal supermal pertama di Purwokerto. Dalam reinkarnasi kehidupan keduanya, bekas bioskop Garuda akan akrab dengan warga kelompok elit di kota saya, serta para pemudik yang mendadak tajir sepulang dari ibukota.

Dari semua aset imperium bisnisnya, Nusantara hanya mampu mempertahankan toko kaset. Pemiliknya, yang sudah memasuki generasi ketiga, suatu waktu berujar kepada saya bahwa usaha tersebut tidak bakal ia tutup. Baginya, generasi terdahulu telah gagal dan ia tak mau mengikuti jejak mereka.

hikayat-bioskop-bioskop-purwokerto_05_dinasti-sekarang

Bioskop Dinasti, sekarang

Yang Bertahan, Yang Tinggal Angan

Seorang tua itu berpesan pada saya bahwa yang barusan ia ceritakan telah tuntas. Tugas saya sekarang, sambungnya, adalah merangkai hikayat tersebut dengan pengalaman yang saya alami pada masa lalu dan hari ini. Saya pun mulai mencatat apa saja yang pernah kualami selama mengenal bioskop-bioskop di Purwokerto.

Satu-satunya bioskop yang bertahan di Purwokerto saat ini adalah Rajawali. Seingat saya, saat saya masih kanak-kanak, Rajawali tidak pernah menjadi tujuan utama tiap kali orangtua saya mengajak nonton. Dulu mereka lebih suka mengajak saya nonton di Dinasti, sebuah bioskop yang beroperasi bersamaan dengan salah satu hotel terbesar di kota saya.

Bioskop Dinasti turut runtuh menyusul wabah pembantai bioskop Purwokerto. Tapi sepertinya itu bukan masalah yang besar. Toh, diskotik, konon, panti pijat plus-plus, dan karaoke yang lebih menjadi sumber kapital prioritas masih tetap saja bisa menghidupi hotel Dinasti—yang kini bernama Horizon.

Cara Bioskop Rajawali menyiasati senjakala cukup unik. Demi memenuhi kas, ia tetap memutarkan film-film panas Indonesia dekade 80an, yang sebenarnya sudah usang namun masih punya daya tarik bagi beberapa kalangan warga. Di sisa studio yang ada, diputarkan pula film-film populer dari era yang sama. Perputaran poster di terasnya pun tak begitu cepat. Karena tak mengikuti jejak raksasa manapun waktu itu, XXI atau Blitz, Rajawali leluasa mengatur perputaran modal menurut jangka waktu yang bisa ia atur sendiri.

Usaha bertahan Rajawali toh tidak pernah berhasil mengulang peran bioskop dalam membagi kelas-kelas dalam masyarakat di masa lalu. Karena pada perkembangannya Rajawali justru menghadapi relaitas pasar yang kini makin rumit.

Pada 2012, ketika saya sedang berkendara dengan calon istri saya, saya mendapati sebuah mobil keliling bioskop, lengkap dengan pengeras suara dan poster, yang mengabarkan bahwa The Dark Knight Rises akan tayang di Rajawali. Tepat waktu. Kami berdua sempat tertegun dan kemudian saling melontarkan tanya, “Sejak kapan Rajawali memutarkan film tepat waktu?”

Sejak itulah kami di Purwokerto kembali menikmati tayangan film tepat waktu. Menariknya, pemutaran The Dark Knight Rises lebih mengundang gelak tawa dibanding kekaguman. Saya ingat di tengah pemutaran, layar sempat miring dan penonton pun ramai-ramai mengumpat. Saya bisa membayangkan kejadian seperti ini mungkin lumrah pada  masa keemasan bioskop di Purwokerto.

Dengan kembali normalnya irama perputaran film Rajawali, masalah baru yang lebih pelik justru muncul. Kini warga Purwokerto harus kembali patuh mengikuti selera pasar, yang makin ke sini makin homogen. Berbeda dengan bioskop-bioskop zaman dulu yang mencoba mewadahi keragaman kelas dan selera penontonnya.

Bioskop Nusantara, dulu

Bioskop Nusantara, dulu

Saya pernah kecewa setengah mampus saat Tabula Rasa dikabarkan akan segera tayang di bioskop-bioskop nasional. Setelah menanti sekian lama, film tersebut hanya diputar beberapa hari. Alasannya: tiap kali Tabula Rasa diputar, studio hanya diisi kurang dari lima orang. Begitu pula ketika saya menunggu film-film seperti Siti, A Copy of Mind, atau film-film Indonesia yang menurut teman-teman saya pantas mendapat apresisasi lebih. Saya tak pernah menemukan film-film tersebut di Rajawali.

Sejak itu saya paham, tidak seharusnya saya berharap banyak pada satu-satunya  bioskop yang masih beroperasi di Purwokerto. Karena, seperti kata saya tadi, Bioskop Rajawali tidak menciptakan pasar. Ia hanya mengekor pasar.

Saya beritahu, Bung dan Nona. Bahkan setelah menambah jumlah studio, Rajawali  tetap saja enggan menciptakan pasar tersendiri. Tiba-tiba saja saya merasa terserang wabah yang pada masa silam membunuh bioskop-bioskop Purwokerto: malas menonton di bioskop. Bukan karena teknologi—saya tak bisa membohongi diri kalau saya penggemar torrent—melainkan karena hubungan saya dengan Rajawali mencapai titik yang paling membingungkan. Saya bingung hendak menonton apa karena Rajawali tak memutar film yang hendak saya tonton. Sementara Rajawali sendiri bingung bagaimana sebaiknya menyikapi penontonnya, karena telah terjerat dalam laku pasar yang mustahil ditentang oleh prinsip industri yang Bioskop Rajawali anut.

Bung dan Nona, demikian saya tutup tulisan ini. Sebenarnya apa yang saya ceritakan sedari tadi adalah sepenuhnya sejarah. Ada narasumber yang saya temui, penelitian empiris yang saya lakoni, dan dari sana muncul gugusan fakta. Tapi apa boleh buat. Pemerintah kota meruntuhkan segala usaha saya untuk menegaskan garis antara hikayat dan sejarah bioskop di Purwokerto. Mereka menghapus semua cagar bekas-bekas bioskop di Purwokerto dengan mengeksploitasi setiap jengkal tanah di kota saya.

Kalau Bung atau Nona datang ke kota tempat tinggal saya dengan menumpang bus, Bung atau Nona akan berhenti di Terminal. Kira-kira tidak sampai lima kilometer ke arah utara-barat, Bung atau Nona akan menjumpai sebuah bioskop bernama Rajawali, satu-satunya bioskop yang masih beroperasi di Purwokerto. Dan belakangan hubungan kami pelik.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (18)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (2)
  • Lupakan (0)
Wiman Rizkidarajat

Wiman Rizkidarajat

Lulus dari Hukum UGM 2011. Kini tengah berusaha menyelesaikan Magister Hukumnya di Universitas Jenderal Soedirman. Sekarang aktif di portal kolektif Heartcorner.net, menetap di Purwokerto & menjadi pecandu Black Metal.
Wiman Rizkidarajat

@wimanbroadrick

100% medioker!
@cikenbon beberapa yaban klasik kek kuroneko, onibaba, ugetsu & kwaidan jg menarik bgt, tep - 4 hours ago
Wiman Rizkidarajat

Latest posts by Wiman Rizkidarajat (see all)

X