Esai

Persepsi Monoton tentang Penonton

Para pemangku kepentingan perfilman Indonesia perlu lebih giat melakukan riset-riset lanjutan terkait kepenontonan film di Indonesia. Sudah saatnya perfilman kita tidak lagi dibaca dengan mitos dan asumsi, tapi dengan data dan metode yang terukur. Riset yang kredibel tidak hanya akan mengisi kekosongan wacana dan ilmu pengetahuan dalam perfilman Indonesia, tapi juga untuk landasan bagi kebijakan pemerintah maupun strategi bisnis para pelaku film.

Indonesia Raja 2015: Menonton Kota, Membaca Sinema

Program Indonesia Raja 2015 yang diselenggarakan Minikino adalah gerilya sinema paling ambisius tahun ini. Idenya sungguh menarik: sebuah program yang mendistribusikan berbagai program. Tulisan ini membahas proses penyelenggaraan Indonesia Raja 2015—dari pemilihan kota dan kurator, program yang tiap kota hasilkan, sampai strategi program secara keseluruhan.

Pelabelan Diri dalam Q! Film Festival

Pasca serbuan Front Pembela Islam pada 2010, Q! Film Festival mengalami kemunduran. Esai singkat ini membahas ruang alternatif yang Q!FF tawarkan selama sejarah penyelenggaraannya. Pertanyaan kuncinya: bagaimana Q!FF, dalam konteks 2010 sampai tiga tahun setelahnya, yang menawarkan ruang alternatif untuk mengarusutamakan isu LGBTIQ justru tidak mendapat ruang di Jakarta?

Menjadi Indonesia Pasca Beatriz’s War

Sebelum pendudukan di Timor Timur, kita sebagai warga bekas jajahan mungkin akan enteng mengajukan pertanyaan ini ke orang Eropa Barat atau Amerika Utara sembari merayakan semboyan bangkrut ‘NKRI Harga Mati’. Sebagai eks-penjajah, kini kita beruntung mendapat pertanyaan serupa: apa artinya menjadi Indonesia setelah menonton Beatriz's War?

Perfilman Indonesia sebagai Indikator Demokrasi

Kadar demokrasi suatu negara sesungguhnya bisa dilihat dari pilihan film yang tersedia bagi masyarakatnya. Logikanya: semakin beragam film yang beredar di publik, semakin terbuka pula masyarakatnya terhadap segala bentuk perbedaan dan kebaruan. Bisa dikatakan kondisi perfilman kita sekarang merupakan imbas dari belum tuntasnya perwujudan demokrasi di Indonesia.

Apa yang Dapat Kita Dengar dari Jagal?

Capaian film Jagal karya Joshua Oppenheimer tidak semata-mata membelalakan mata kita tentang sejarah kekerasan massal. Lebih daripada itu, film ini juga memungkinkan dialog antara kita penonton dengan sejarah kekerasan kita di masa lalu. Sinema memungkinkan ruang tutur bagi suara senyap, yang keberadaannya selama ini untuk tunduk di bawah retorika rezim.
X