Gone Girl: Petak Umpet Sebelum Rujuk

gone-girl-2014_hl

Syahdan, seorang tetua bijak dari klan Navajo pernah bersabda, “Mustahil membangunkan orang yang berpura-pura tidur.” Dalam Gone Girl, petuah barusan bisa dimodifikasi sedikit, “Mustahil menemukan orang yang berpura-pura hilang.” Inilah yang dialami Nick (Ben Affleck). Persis di hari ulang tahun pernikahannya yang kelima, ia kaget mendapati meja ruang keluarganya hancur berantakan. Sang istri, Amy (Rosamund Pike), juga lenyap tanpa jejak.

Adegan pembuka ini begitu dingin dan sepi, sedingin warna potongan-potongan gambar yang meradiasikan hawa pagi Missouri, sesepi scoring polyphonic MIDI oleh duo maestro Trent Reznor-Atticus Ross. Gone Girl merupakan pencapaian teranyar sutradara David Fincher, yang sekaligus membuatnya naik peringkat di mata kritikus internasional setelah nyaris beku menggarap The Girl with The Dragon Tattoo pada 2011 silam.

Sebagai seorang veteran dengan spesialisasi di genre thriller, tidak sulit bagi David untuk meracik nuansa Gone Girl. Kita masih ingat karya-karya pendahulunya selain The Girl with The Dragon Tattoo, sebutlah The Fight Club (1999) atau Zodiac (2007). Film-film David kerapkali menghadirkan protagonis yang serba misterius dengan impresi anti-hero. Sang protagonis selalu piawai menebar simpati, dan tentunya, penuh dengan kejutan.

Remeh tapi Ngaruh

Gone Girl mengisahkan hilangnya seorang perempuan warga Missouri bernama Amy Elliott, atau yang lebih dikenal masyarakat luas sebagai The Amazing Amy. Nama ini ia dapat berkat kegigihan kedua orang tuanya, Rand dan Marybeth Elliott, membukukan kisah-kisah hidup Amy secara berkala, dari kanak-kanak hingga remaja. Misteri lenyapnya Amy berlanjut pada pencarian besar-besaran yang tidak hanya melibatkan aparat kepolisian setempat, namun juga puluhan relawan dan simpatisan. Antusiasme publik yang muncul cukup masif, sampai memancing berbagai spekulasi baik di mata tim penyelidik maupun di acara temu-bincang (talkshow) yang tersiar global lewat televisi kabel. Namun, seiring durasi bergulir dan fakta-fakta baru bermunculan, baru kita sadari bahwa Gone Girl tidak sesederhana itu—walaupun tidak mengejutkan juga.

Alur Gone Girl sedikitnya bermuara pada tiga sarana penceritaan: kilas balik yang digambarkan secara subtil lewat soliloquy buku harian Amy; perspektif Nick dalam usaha menemukan sang istri; dan perspektif Amy dengan segala taktiknya melarikan diri. Ketiganya muncul berkesinambungan dengan intensitas seimbang, namun memiliki dinamika tersendiri. Adegan-adegan kilas balik selalu dibuka dengan paduan shot buku harian dan voice over Amy. Sebuah treatment yang sebenarnya pernah digunakan oleh David di The Fight Club; narasi suara si protagonis sengaja disenadakan dengan pokok pikiran cerita, dengan maksud agar hawa filmnya sendiri jadi semakin depresif. Treatment serupa kembali diterapkan di Gone Girl—dengan tujuan dan hasil akhir yang jelas berbeda.

Tidak ada yang tidak magnetis dari suara seorang Rosamund Pike. Intonasi, artikulasi, pun warna suaranya bisa terdengar menggoda sekaligus mengancam di saat yang sama. Wanita ini punya segala kriteria pokok yang wajib dikuasai seorang storyteller. Dan narasi suara Amy turut berevolusi seiring cerita bergerak. Kita mendengar suara yang renyah dan usil kala Amy bercerita soal pertemuan pertamanya dengan Nick, atau nada penuh kebimbangan ketika ia mengeluhkan resesi ekonomi yang membuat kondisi finansial keluarganya merosot tajam, sampai gumam terpatah-patah layaknya seorang paranoid saat menceritakan bagaimana ia justru takut terhadap suaminya sendiri. Masih terekam jelas di kepala saya, “My husband. Man of my dreams. Father of my child. This man of mine, may truly, kill me.” mengakhiri pembacaan buku hariannya dengan getir dan menjerat. Plus alunan synthesizer dan keyboard elektrik yang terpadu apik dengan adegan, membuat saya tidak pikir panjang angkat topi untuk penata suara film ini.

Selain perubahan audial, komposisi visualnya juga ikut berubah. Fase-fase awal pertemuan Amy dan Nick terlihat cerah dan lebih berwarna (adegan mereka berciuman di lorong penuh bubuk gula, bercinta di sela-sela bilik toko buku), hingga kemudian perlahan monoton sampai nyaris monokrom di penghujung entry buku harian (adegan Amy di kamar tidur dengan penerangan fluorescent lampu ranjang). Memindai evolusi audiovisual ini layaknya menyimak gula-gula relasi yang lambat laun hambar akibat digerus waktu; berawal cerah dan berakhir redup.

Berbarengan dengan permainan estetika di atas, beberapa pengadeganan kedua perspektif juga menawarkan karakteristik yang berlainan. Adegan-adegan yang menyoroti Nick misalnya. Keruhnya isi kepala Nick dituturkan melalui pengambilan gambar yang terasa linglung, yang berangsur-angsur terpojok, bahkan tertekan. Kita menjumpai beberapa pengambilan close up yang sedikit blur, yang memperlihatkan bahwa pergerakan kamera dengan tempo yang terbilang lamban ini juga berusaha “menyembunyikan” kepanikan Nick. Penuturan perspektif Amy berbeda lagi, kalau tidak mau disebut bertolak belakang. Tempo gerakan kameranya terlihat lebih lincah. Pergantian adegan dipadati oleh dialog, tapi tidak lantas bawel. Adegan-adegannya pindah begitu taktis dan cermat, penuh perhitungan, sebagai representasi atas isi kepala seorang istri (baca: pseudo-psikopat) yang mendendam.

Sebagian detailnya malah terkesan remeh, tapi maksud dan tujuannya jelas, seperti saat Nick diteriaki “Louder!” oleh reporter saat sesi konferensi pers, saat ia diam-diam menyelipkan amplop di saku belakang celananya agar tidak ketahuan detektif Rhonda (Kim Dickens), atau saat ia mencuri-curi pandang ke telepon seluler untuk menghubungi selingkuhannya. Gerak-gerik kepanikan Nick hampir selalu berada di luar fokus utama gambar, sebagai penggambaran isi kepalanya yang kabur ke mana-mana, yang hilang konsentrasi. Berbeda dengan Amy yang tengah mengelaborasikan langkah-langkah pelariannya, saat ia secara sistematis menyusun jadwal pengingat di kalender dinding, saat ia mengikuti perkembangan kasusnya sendiri di televisi, atau saat ia menilai tipe-tipe ‘wanita ideal’ lewat kaca jendela mobil. Penggambaran adegan-adegan ini sedikit banyak menyisipkan kecepatan cut to cut sebagai analogi penyusunan taktik yang matang. Amy betul-betul paham secara rinci apa saja yang ia butuhkan dan bagaimana caranya agar bisa hilang.

Hal-hal kecil ini menjadi lebih bermakna, lantaran gestur kedua tokoh utama ini begitu minim, bahkan terlihat poker face nyaris di sepanjang film. Dengan kata lain, kilasan detail-detail ini justru merupakan benang merah yang lebih dapat membantu kita untuk memahami dinamika emosi para tokoh, serta situasi latar yang melingkupi keberadaan mereka.

Habis Gelap Terbitlah Gosip

Di balik lika-liku petak umpet Nick dan Amy, setidaknya ada dua wacana krusial yang ingin disampaikan Gone Girl. Pertama, sindiran terhadap media massa dalam wujud acara televisi kabel yang bertajuk talkshow. Kita tahu bahwa terlepas dari fungsinya sebagai sarana rekreasi, media massa juga berperan dalam membentuk opini publik. Namun, alih-alih menggiring opini publik dengan fakta dan informasi-informasi akurat, talkshow dalam film ini malah menjerumuskan publik ke wacana-wacana spekulatif, bahkan tendensius.

Walhasil, Nick harus rela menjadi bulan-bulanan publik ketika ia kerap dituding dengan gosip miring. Tudingan-tudingan ini kian diperburuk setelah si presenter menutup acaranya dengan konklusi yang juga bias. Maka, sebelum citranya terlanjur babak belur dan sebelum publik lepas kendali, pengacara Tanner Bolt (Tyler Perry) menganjurkan Nick untuk segera bersuara dan membentuk kontraopini di acara talkshow lain. Lewat adegan ini, arah konflik Gone Girl mulai berpindah haluan. Film tidak lagi menempatkan pencarian Nick dan kawan-kawan versus pelarian Amy sebagai sumber konflik, melainkan perlombaan Nick versus Amy menjaring simpati khalayak lewat acara talkshow. Masing-masing tampak berusaha mencuri eksposur: baik itu Nick yang gamblang mengakui dirinya brengsek di depan kamera televisi, maupun Amy yang sembunyi-sembunyi membocorkan lokasi barang bukti ke polisi. Keduanya bertarung membentuk opini publik, memperebutkan simpati.

Nyatanya fenomena ini bukanlah hal baru. Fluktuasi opini pro-kontra sudah menjadi suplemen rutin layar kaca. Sialnya, tidak sedikit jumlah acara televisi kita yang masih berorientasi pada hal-hal sensasional, dan tidak sedikit pula dari kita yang masih menontonnya. Secara tersirat peran media massa direduksi menjadi sekadar ajang perlombaan bongkar pasang opini. Dan barangsiapa sanggup menjaring lebih banyak simpati, ialah pemenangnya. Sungguh media massa digambarkan seperti makhluk buas nan abusif, sedangkan pemirsanya begitu patuh buta dan enggan mengambil sikap kritis (lihat betapa emosinya pemirsa ketika mendengar Amy hilang dalam keadaan hamil).

Gone Girl dengan tegas menyindir pola perilaku negatif media massa, berikut dampak bagi pemirsanya. Fenomena ini dirangkum lewat kata-kata Nick, usai ia berhasil menjaring simpati penonton di acara talkshow lain, “They disliked me, they liked me. They hated me, and now they love me.” Citra baik ialah harga mati.

Dagelan Tukar Cincin

Sindiran berikutnya ditujukan, tidak tanggung-tanggung, terhadap konseptualisasi pernikahan. Film ini seolah ingin memperlihatkan bagaimana pertunjukan sandiwara dan kehidupan pernikahan adalah dua hal yang sama. Bahwa keduanya sama-sama dikurung oleh panggung dan altar yang sama, dijerat aturan main (baca: komitmen) yang wajib disepakati bersama, dan sama-sama didasari pola interaksi berbasis transaksional layaknya sebuah kontrak kerja. Pernyataan ini bertebaran hampir sepanjang film. Timbul tenggelam dalam setiap dialog Nick dengan Amy. Sebagian agak halus, sedangkan sisanya amat eksplisit. Terlalu eksplisit sehingga Nick harus selalu menutup dagunya sebagai syarat kejujuran di mata sang istri. Dan Amy yang mau tidak mau harus mengakui dirinya telah bermetamorfosa menjadi pribadi yang ia benci.

Pernikahan dalam Gone Girl bukanlah sesuatu yang sakral. Sebaliknya, ia malah berpotensi dijadikan bahan dagelan. Guyonan demi guyonan gelap, yang juga menjadi salah satu alasan atas gelapnya penataan cahaya film ini secara keseluruhan.

Memang, kalau diperhatikan, dua hal yang disindir film ini tampak tidak saling berhubungan, juga tidak serta merta punya korelasi secara langsung. Di satu sisi, sindiran terhadap acara talkshow murni bersifat untung-untungan, karena: Satu, kasus ini mudah di-blow up lantaran Amy sudah dikenal (prominence) sebagai figur novel best-seller oleh publik; Dua, sekalipun keberhasilan rencana Amy sangat bergantung pada opini publik yang timbul lewat blow up media massa, toh yang pertama kali berinisiatif melempar kasus ini ke sorotan media adalah pihak kepolisian. Hemat kata, dua sindiran ini bisa dibilang berdiri sendiri-sendiri. Sindiran bagi acara talkshow menjadi ada dikarenakan kasus hilangnya Amy. Sedangkan di sisi lain, rasanya tidak perlu menunggu Amy hilang untuk menyindir konseptualisasi pernikahan. Film sudah terang-terangan menyindir hal itu di seluruh rangkaian adegan kilas balik dan adegan penutup ketika Amy kembali pulang.

Walhasil, gelapnya Gone Girl adalah mimpi buruk yang menyingkap wajah ganda pernikahan di balik tata rias tebalnya. Ia merajut benang-benang perspektif yang mewakili setiap peran dalam rumah tangga (suami, istri, orang tua, hingga masyarakat luas). Ia mengobservasi probabilitas gerak-gerik sepasang suami istri yang tengah terhimpit di bawah tekanan domestik. Ia mempertaruhkan kredibilitas dan nyawa seseorang lewat opini-opini pretensius dari institusi media. Ia mengawinkan kewarasan dengan psikopatologi dalam sebuah fenomena sosial (penonton acara talkshow di film ini mencapai puluhan ribu). Tetapi ia tidak lantas menyingkirkan hasrat primordial dari pernikahan itu sendiri: What are you thinking? How are you feeling? What have we done to each other?

Kiranya pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab ini menjadi penting, atau justru menjadi remeh karena kita sudah terlanjur bebal, sampai-sampai pembuat film merasa harus mengulangnya kembali sebagai adegan penutup. Seperti sabda seorang tetua Navajo, “Mustahil menjawab orang yang pura-pura bertanya.”

Gone Girl | 2014 | Durasi: 149 menit | Sutradara: David Fincher | Produksi: Twentieth Century Fox Film Corporation, Regency Enterprises, TSG Entertainment | Negara: Amerika Serikat | Pemeran: Ben Affleck, Rosamund Pike, Neil Patrick Harris, Tyler Perry, Carrie Coon, Kim Dickens, Patrick Fugit

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (22)
  • Boleh juga (5)
  • Biasa saja (2)
  • Lupakan (7)
Share

Send this to a friend