“Film Kan Kalau Nggak Ada Apresiasinya, Ya Nggak Jalan Juga…”

kineklab-01-lfm-itb

Kumpul-kumpul LFM ITB

Perfilman adalah dunia yang penuh kreativitas, inovasi, dan selalu mengikuti perkembangan zaman. Kehadiran sekolah film kemudian menjadi krusial untuk melahirkan insan-insan yang ke depannya akan bergelut dan mewarnai sinema. Mereka yang mengenyam bangku sekolah film belajar bagaimana suatu film seharusnya diproduksi, tahapan-tahapan apa saja yang harus dilalui, bagaimana bisnis film berjalan, aspek-aspek apa yang dapat dibaca dari suatu film serta bentuk-bentuk apresiasinya dan lain sebagainya. Insan-insan itu diharapkan untuk bisa mengaplikasikan ilmu yang mereka peroleh di sekolah film, melalui praktek-praktek di sekolah maupun di karier nyata perfilman mereka.

Namun kreativitas dan kemampuan tersebut pada kenyataannya tidak terkungkung hanya di sekolah film saja. Banyak mahasiswa non-film yang berusaha untuk mengapresiasi film dengan membuat klub apresiasi film di masing-masing kampus, lantas mendapatkan pendidikan informal mengenai proses produksi film dan apresiasi film melalui pemutaran, penulisan kritik, maupun bentuk-bentuk lain. Kendati harus diakui pula bahwa pendidikan film yang mereka dapatkan memiliki sistem yang jauh berbeda dari pendidikan film formal di sekolah film. Baik-tidaknya susah sulit diukur, kecuali mungkin lewat parameter-parameter yang telah ditetapkan oleh tiap-tiap lembaga atau kelompok. Inilah yang saya amati dalam tulisan ini: bagaimana caranya mereka mendapatkan pendidikan film informal tersebut dan mengaplikasikannya. Saya mencoba mencari tahu tentang proses apa saja yang klub-klub tersebut lalui, dan dari mana mereka mendapatkan pelajaran perfilman serta mencoba melihat perbedaan-perbedaannya dengan pendidikan resmi di sekolah film.

Observasi ini berlangsung selama Februari-April 2014 dan dilakukan dengan cara mewawancarai—baik secara langsung maupun melalui korespondensi surel—pihak-pihak perwakilan dari empat kelompok film kampus, yaitu Liga Film Mahasiswa ITB (LFM ITB) dari Institut Teknologi Bandung, Communication Film Addict UKSW (COFILA UKSW) dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Satya Wacana, Klub Cinema UMT dari Universitas Muhammadiyah Tangerang, dan Perfilma FHUI dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Tujuan saya menuliskan hasil observasi ini adalah untuk mengetahui bagaimana caranya para mahasiswa penyuka film di kampus-kampus ini mengakses pendidikan film alternatif dan melaksanakan produksi film mereka tanpa secara resmi mempelajarinya dalam ruangan kelas.

kineklab-02-cofila-uksw

COFILA UKSW syuting

Berbagi dan praktek lapangan adalah kunci

Tak satu pun dari empat klub film mahasiswa tersebut yang secara eksplisit menyebutkan bahwa sebenarnya mereka sedang mengorganisir pendidikan film. Tiga dari empat klub mengaku bahwa pendirian klub mereka adalah atas dasar keinginan belajar film. Sementara satunya lagi mengaku bahwa selain untuk menyalurkan bakat dan minat di film, pendirian klub mereka juga memiliki keterkaitan sejarah dengan kampusnya sendiri, yaitu hubungan diplomatis kampus dengan luar negeri. Pada dasarnya, semua mengakui bahwa cara belajar mereka lebih banyak didasarkan pada berbagi pengetahuan dan praktek.

“LFM ITB awalnya berdiri 21 April 1960 karena mendapatkan proyektor pemutaran dari Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk dikelola mahasiswa. Selanjutnya menjadi bioskop kampus, tempat nonton mahasiswa dan warga sekitar kampus,” terang Ario Nuswantoro atau Toro, salah satu anggota LFM ITB—sesudah observasi penulis terhadap LFM ITB dilaksanakan, Toro diangkat menjadi Ketua Umum LFM ITB. LFM ITB yang merupakan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) lintas jurusan ini pun berkembang hingga saat ini memiliki empat bidang. Dua bidang yang bersinggungan langsung dengan film adalah kineklub dan videografi. Klub ini rupanya berhasil menarik perhatian mahasiswa-mahasiswa ITB, khususnya yang memiliki minat terhadap film. “Saya terlibat di LFM ITB sejak enam bulan lalu. Masuk LFM ITB awalnya karena senang menonton film dan tertarik pada penulisan kritik film, yang ternyata diajarkan di kineklub. Di sana, kami menonton film dan juga diajarkan caranya mengetahui apa-apa saja yang bagus atau tidak dari suatu film,” ujar Permata Adinda, salah satu anggota kineklub LFM ITB.

Laurentius Adi, Ketua COFILA UKSW, mewakili sedikit banyak suara seluruh klub bahwa pendirian klub mereka adalah atas dasar keinginan belajar lebih lanjut soal film. Berdiri sejak 29 Agustus 2012, COFILA UKSW awalnya merupakan wadah para mahasiswa jurusan komunikasi UKSW yang gemar menonton film layar lebar, kemudian mengadakan kegiatan nobar [nonton bareng—ed.] setiap seminggu sekali. “COFILA UKSW dibentuk untuk menjadi wadah mahasiswa komunikasi belajar proses produksi suatu film, dan bukan hanya film saja, melainkan juga talk show dan dokumenter, agar teori yang didapatkan oleh mahasiswa komunikasi dapat diaplikasikan,” jelas Adi.

Berangkat dari kecintaan yang sama akan film inilah yang kemudian membuat klub-klub tersebut melaksanakan program-program pendidikan film mereka. Soal sharing sebagai wadah berbagi ilmu memang selalu diungkit-ungkit oleh semua klub, tak terkecuali oleh Perfilma FHUI. “Ada transfer ilmu dan sharing session di awal rekrutmen, biasanya antara Januari-Maret, karena kami tidak membatasi siapa pun, baik yang sudah maupun yang belum pernah membuat film sebelumnya, untuk bergabung bersama kami,” ujar Marcellinus Jansen Raymond, Ketua Umum Perfilma FHUI, yang awalnya berdiri sejak tahun 1990-an sebagai badan semi-otonom di bawah BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) fakultas. Maria Klara Ivon Kurniawan, Sekretaris Umum Perfilma FHUI, juga menambahkan bahwa keanggotaan Perfilma FHUI berlaku seumur hidup. “Jadi, para alumnus yang sudah lama lulus pun masih boleh datang untuk berbagi atau ikut kegiatan kami,” tambahnya.

Raymond membuka dengan menyinggung film produksi mereka. “Sudah nonton Student Center (Ryan Austra, 2011)—salah satu film pendek produksi Perfilma FHUI—di Malam Komunitas Ganffest kan? Nah, kami memang melakukan syuting,” jelasnya. Raymond mengatakan bahwa anggaran untuk satu filmnya biasanya berkisar antara Rp 300.000 sampai Rp 2.000.000. Uangnya diperoleh dari patungan antaranggota, uang kas atau meminta bantuan ke fakultas. Kemudian, Raymond juga menjelaskan tentang proses produksi film di Perfilma FHUI. “Awalnya kami berkumpul untuk brainstorming. Kemudian, kami memulai menulis script dan berbagi tugas siapa yang menjadi sutradara, editor, sinematografer dan lain sebagainya. Dasar penentuannya adalah rolling, supaya semua bisa saling merasakan. Penentuan siapa menjadi apa ada di tangan kepala divisi film. Sembari menunggu script selesai—dan tidak harus selalu ditulis oleh sutradara, yang lain akan mempersiapkan apa saja yang diperlukan baik alat, lokasi maupun jadwal syuting.” Dia mengatakan bahwa mereka belajar membuat film hanya melalui transfer ilmu dan sharing session yang sudah disebutkan sebelumnya. “Kami tidak pernah belajar khusus. Alat-alat yang kami gunakan seadanya, kalau kami butuh rigging, dolly track dan semacamnya kami sewa dari luar. Casting diurus oleh anak-anak Perfilma FHUI, biasanya berkisar di mencari aktor-aktris dan reading saja. Menulis script pun kami melakukannya hanya dengan software Microsoft Word,” sambungnya sambil sedikit berseloroh. “Pernah sih diajarkan sedikit oleh alumnus kami yang dari Amerika Serikat, Roland Wiryawan (sutradara film pendek yang mendapatkan beasiswa pendidikan film di USC School of Cinematic Arts).”

Selain produksi film, Perfilma FHUI juga memiliki acara besar tahunan yaitu UI Idea Fest, yang sebelumnya bertajuk Pekan Raya Perfilman. Di sinilah terdapat pentas musik, lomba, pemnutaran dan diskusi film sebagai bagian dari rangkaian acara. “Tahun ini pengisi diskusi dan talk show bidang filmnya ada Mouly Surya di hari pertama, Kimo Stamboel di hari keempat dan Joko Anwar di hari kelima sekaligus malam penutupan,” tutur Ivon. “Sedangkan untuk pemutaran biasanya kami meminta film dari berbagai kedutaan. Kami tinggal mengirim surat kepada mereka dan, karena mereka sudah tahu kebiasaan kami ini sejak dua tahun lalu, mereka kemudian tinggal memberikan film-film negaranya. Kedutaan-kedutaan itu ternyata sebaik itu lho.” Sebenarnya tidak ada alasan khusus mengapa Perfilma FHUI meminta film-film dari berbagai kedutaan untuk pemutaran dan mereka mengakui bahwa ini lebih kepada kebiasaan mereka. “Kebetulan tema UI Idea Fest tahun ini adalah Trip Around the World, jadi memutar film dari berbagai negara juga cocok dengan tema. Misalnya, tahun ini, salah satu film mancanegara yang kami tayangkan adalah Kon Tiki (Joachim Rønning dan Espen Sandberg, 2012) dari Norwegia. Dari sini, kita bisa menambah wawasan. Ya siapa tahu bisa belajar bahasanya juga kan,” sambung Ivon sambil tersenyum.

Sementara itu, Fajar Sulistyo atau Dado yang merupakan satu dari lima pendiri Klub Cinema UMT—berdiri sejak 28 November 2012—juga membeberkan proses belajar di Klub Cinema UMT. “Dasar pendirian klub ini adalah mewadahi minat dan bakat mahasiswa UMT di bidang perfilman. Kami mencari orang-orang yang bermental anak film,” jelas Dado, “kegiatan-kegiatan reguler yang kami adakan adalah menonton film setiap dua minggu sekali, mengadakan atau mewadahi acara nobar film Indonesia di bioskop, ikut acara temu komunitas, produksi film pendek dan mengikuti festival film atau pemutaran film pendek. Biasanya kami sharing pengalaman. Kadang-kadang kami juga ikut pelatihan di luar. Mudah-mudahan, ke depannya kami yang bisa mengadakan pelatihan.”

Secara tidak langsung, Dado menjelaskan bagaimana proses kurasi film di Klub Cinema UMT berlangsung, walaupun secara gamblang dia juga mengakui bahwa proses kurasi adalah satu hal yang masih mereka pelajari. “Untuk pemutaran film, kami fokus pada film Indonesia. Film-film horror tak masuk hitungan. Terlalu mainstream”, kata Dado. Rujukan lain yang jadi makanan pokok adalah melodrama Korea. “Dari situ, kami memerhatikan acting dan penghayatannya, bagaimana pesan film itu disampaikan,” tandas Dado. Seraya mengakui bahwa sedikitnya koleksi film yang bisa diakses merupakan masalah, khususnya film-film pendek. “Biasanya kami mendapatkan koleksi film-film pendek dari acara temu komunitas. Di sana, kami saling bertukar film. Karena umur kami baru setahun, sejauh ini baru sekitar tiga atau empat acara temu komunitas yang kami datangi. Kadang juga film pendek yang diputar diambil dari YouTube, termasuk yang dari kategori award-winning.”

kineklab-03-klub-UMT

Diskusi yang sempat diadakan Klub Cinema UMT

Sedikit berbeda dengan klub-klub lainnya, LFM ITB memiliki proses pembelajaran yang bisa dibilang lebih kompleks dan agaknya mengacu pada pembelajaran sekolah film pada umumnya. Bagi saya, hal ini sangat lumrah, mengingat LFM ITB adalah klub yang paling senior jika dibandingkan semua klub film yang saya jumpai. Dari masa kaderisasi, para calon anggota sudah dituntut untuk bisa mengikuti pelajaran-pelajaran perfilman yang diberikan. Kemampuan mengikuti proses menjadi salah satu faktor penentuan apakah sang calon anggota nantinya bisa menjadi anggota LFM ITB. “Bagi para cakru (calon kru—sebutan LFM ITB untuk para calon anggota), di kaderisasi ada lokakarya mingguan yang juga ada tugas mingguannya, dimulai dari menulis resensi film favorit, baru kemudian menonton film atau membuat konsep “festival film”,” jelas Toro, “tapi keikutsertaan di kineklub dan rajin mengerjakan tugas-tugas mingguan itu bukan parameter utama untuk bisa menjadi anggota. Parameter utamanya adalah dari si mahasiswa terhadap LFM ITB itu sendiri: kecintaannya terhadap LFM ITB dan kebersamaannya dalam keanggotaan.”

Sementara itu, LFM juga menempuh pendidikan produksi film. “Produksi film pun demikian, misalkan minggu ini belajar menggambar storyboard, minggu depan belajar teknis produksi film dan seterusnya. Tidak ada pengawas, biasanya kami belajar dari alumnus atau sharing dari kru senior ke adik-adik kelas saja. Sammaria Simanjutak termasuk salah satu alumnus LFM lho,” kata Gladyza Vanska atau Dyza yang juga salah satu anggota LFM ITB. Toro menambahkan bahwa mereka juga banyak belajar dari lokakarya pembuatan film luar maupun belajar sendiri. “Contohnya, kami belajar dari LA Lights Indie Movie. Kami juga mencari sumber dari internet maupun membeli buku panduan pembuatan film.” Dyza dan Toro kemudian menuntun saya untuk memahami bagaimana proses produksi film yang dilaksanakan oleh anak-anak LFM ITB.

Dyza menjelaskan bahwa pemilihan sutradara berdasarkan pada kesepakatan “rumah produksi” masing-masing. Yang dimaksud sebagai rumah produksi ini adalah kelompok-kelompok produksi film LFM ITB dalam skala yang lebih kecil dan jamak. Casting tetap berlaku dan bersifat terbuka untuk umum. Manajer produksi, selain mengatur casting, juga mengatur produksinya itu sendiri, disesuaikan dengan segala variabel yang ada. Untuk pengaturan waktu, produksi disesuaikan dengan jadwal ujian, jadwal kelas kru dan aktornya dan sebagainya. Penentuan tempat berdasarkan kesepakatan kru. Secara umum, aktor biasanya diambil dari mahasiswa ITB juga. “Mungkin karena temannya sendiri atau biar tidak terlalu repot mengatur jadwal syuting,” ujarnya.

Adapun proses diorganisir oleh sutradara, dibantu oleh penulis naskah dan manajer produksi. Saat saya menyinggung salah satu film pendek produksi mereka, Love Paper (Erdy Suryadarma, 2012—Toro adalah editor film ini), Toro menimpali sambil berseloroh, “Itu restoran—lokasi syuting film tersebut—milik temannya anak-anak LFM ITB. Kalau dilihat-lihat sih, sebenarnya banyak film-film kami yang syuting di sana.”

Selain materi dan proses belajar reguler yang sudah dijelaskan, kurasi film juga dipelajari. Sarananya adalah Ganesha Film Festival atau Ganffest, festival film pendek mahasiswa yang dilaksanakan oleh LFM ITB setiap dua tahun. “Tim kurator kami mengurasi film-film pendek yang masuk sebelum kemudian pemenangnya diseleksi oleh Dewan Juri. Tahun ini ada 165 film yang masuk. Waktu kami mengurasi, biasanya seminggu kami menonton sekitar 50an film dan dilakukan saat libur pergantian semester kemarin,” jelas Dyza yang juga menjadi salah seorang kurator tahun ini. Sedikit melenceng dari fokus utama tentang kurasi, Ganffest diramaikan dengan berbagai kegiatan perfilman selain pemutaran film yang lolos seleksi, seperti Bis Megaplex (praacara Ganffest mengambil waktu dan tempat di Braga Culinary Night, di mana orang-orang bisa menonton film di dalam bis), GEP Drive In (sebuah pra-acara lainnya di mana orang-orang menonton film dari dalam mobil seperti bioskop drive-in lawas), dan Malam Komunitas (acara temu komunitas di mana para panitia, anggota komunitas film dari berbagai kampus khususnya dari Jawa dan Dewan Juri berkumpul untuk saling bertukar pengalaman dan kontak).

Kembali lagi ke topik tentang kurasi, materi kurasi memang termasuk dalam pelajaran reguler LFM ITB bidang kineklub. “Di kineklub biasanya kami belajar menulis resensi film dan juga kurasi. Untuk pemilihan film, kami voting antaranggota dan film yang paling banyak dipilih adalah yang ditayangkan. Seleranya kebanyakan film-film ‘hipster’ … pernah kami menayangkan Hobo with a Shotgun (Jason Eisener, 2011), pernah juga Dreams (Akira Kurosawa, 1990). Sedangkan untuk film Indonesia kami baru saja menayangkan Darah dan Doa (Usmar Ismail, 1950),” sambung Dyza. Saya memperkirakan bahwa kurasi dalam “pelajaran” reguler ini membuat mereka mampu melaksanakan kurasi di tingkat yang lebih besar, dalam hal ini Ganffest. “Penasaran sih. Dan kalau mau bikin film kan butuh referensi juga. Ada tuh kuratornya yang memilih,” begitu respons Toro dan Dyza ketika saya bertanya dan secara jujur mengutarakan kekagetan saya akan bagaimana mereka bisa pada akhirnya memutuskan untuk menonton film-film tersebut, yang cenderung terkesan eksklusif karena biasanya kebanyakan ditonton hanya oleh kaum cinephile maupun mahasiswa film, sebagai bagian dari pembelajaran film mereka yang sudah terprogram oleh sekolah.

Di lain sisi, serupa dengan Perfilma FHUI dan LFM ITB, COFILA UKSW juga memiliki acara tahunan bertajuk Video Challenge—sebuah kompetisi video pendek berdurasi maksimal 5 menit. Tepat saat saya mewawancarai Adi di bulan Februari, COFILA UKSW memang sedang membuka pendaftaran. Meskipun program tahunannya tidak secara langsung dimaksudkan untuk belajar film, saya memperkirakan bahwa acara tahunan COFILA UKSW ini memiliki sifat yang mirip festival film walaupun dalam skala yang masih kecil dan tidak secara langsung berbentuk festival film. “Para peserta mengunggah video mereka ke YouTube dengan men-tag akun resmi COFILA UKSW. Program Video Challenge ini selalu bekerjasama dengan kepanitiaan Dies Natalis fakultas karena acara puncak Video Challenge juga dimaksudkan untuk memeriahkan acara Dies Natalis tersebut.” Adi menyambung bahwa di acara ini pula mereka mengundang komunitas film Salatiga dan sekitarnya untuk hadir. “Tahun ini adalah tahun kedua kami mengadakan Video Challenge dan tahun ini bertemakan Pesta Demokrasi, bertepatan dengan Pemilu 2014.”

Adi juga bercerita tentang program-program COFILA UKSW yang sudah berhasil dijalankan. Dari yang Adi jelaskan, saya menarik pemahaman bahwa program perfilman mereka ada yang sudah mengalami penyesuaian agar lebih tepat sasaran dengan fokus utama mereka, yaitu ilmu komunikasi. “Program yang sudah berhasil kami jalani antara lain produksi talk show PAKPIKSIK (Nyepak Nyepik Asik) sebanyak 4 episode, produksi dokumenter Pawai Budaya OMB (Orientasi Mahasiswa Baru) UKSW 2013 dan produksi film-film pendek. Karya-karya kami saat ini diunggah ke akun resmi COFILA UKSW di YouTube lalu dipromosikan melalui Facebook, Twitter, dan radio fakultas.”

kineklab-04-perfilma-fhui

Salah satu kegiatan pemutaran Perfilma FHUI

Untung-rugi yang tetap positif

Dari penjelasan keempat klub tersebut, saya menyimpulkan bahwa garis besar keberadaan klub-klub itu berangkat dari kecintaan dan mimpi yang sama, serta memiliki kemauan untuk belajar lebih lanjut, walaupun mahasiswa-mahasiswa tersebut tidak memilih jalur pendidikan film secara formal. Dalam sistem pendidikan formal sekolah film, para mahasiswa disiapkan materi-materi pelajaran film selama tujuh semester dan satu semester untuk skripsi yang disusun secara bertahap sesuai tingkat kematangan mereka dalam menyerap materi—misalkan saja, mata kuliah sinematografi tahun pertama akan ‘memaksa’ para mahasiswa film baru tersebut untuk memakai kamera Mini DV yang merupakan ‘kakak’ dari kamera digital sebelum akhirnya diizinkan syuting menggunakan kamera DSLR di tahun-tahun selanjutnya dengan tujuan supaya mahasiswa-mahasiswa tersebut bisa menguasai teknik kamera yang lebih kompleks sebelum menggunakan yang sudah lebih disederhanakan. Hal-hal serupa diusahakan juga oleh klub-klub, tapi secara otodidak. Walaupun ini juga menunjukkan bahwa mereka tidak mendapatkan pendidikan film secara lebih utuh, belajar secara otodidak ini bukan berarti menurunkan kualitas mereka dalam berkarya. Beberapa film produksi klub-klub ini bahkan berhasil masuk ke berbagai festival film pendek dan ditayangkan di berbagai tempat.

Sebenarnya, ketika saya perhatikan lebih lanjut, klub-klub film ini secara garis besar bisa dikategorikan menjadi dua, yaitu melalui kineklub dan klub sinematografi. Keduanya memiliki orientasi berbeda, sekalipun dalam prakteknya bisa serupa; kineklub lebih banyak bergelut dengan menonton, diskusi dan penulisan kritik film, sementara klub sinematografi adalah wadah para mahasiswa tersebut untuk praktek berkarya film, mulai dari fase pra-produksi, produksi sampai pascaproduksi. Selain LFM ITB yang dengan jelas memisahkan keduanya menjadi divisi-divisi yang mandiri di bawah naungan LFM ITB, yang lain mencampurkan kedua divisi ini menjadi bagian dari kegiatan-kegiatan klub film mereka. Jadwal keduanya pun digilir berdasarkan pengaturan pengurus klub.

Sementara itu, lain halnya dengan keberadaan sekolah film dan pandangan mahasiswa-mahasiswanya yang memang ke depannya ingin serius menjadi pegiat film, keberadaan klub-klub film ini juga sebenarnya sedikit banyak lebih bertujuan untuk memfasilitasi hobi mahasiswa-mahasiswa non-film tersebut, yang notabene memang tidak memiliki tujuan khusus menggeluti film ke depannya. Kendati demikian, memang harus diakui bahwa ada beberapa alumnus klub-klub film ini yang pada akhirnya berhasil menempuh dunia perfilman sesungguhnya, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya.

“Mungkin belum semua orang mau masuk sekolah film di Indonesia, kalaupun ada yang memang berniat, biasanya orangtua yang kurang mendukung karena tidak semua orangtua mengizinkan. Sebenarnya, kalau makin banyak yang mau masuk, film Indonesia bisa lebih berkembang,” ujar Raymond ketika saya bertanya tentang tanggapannya atas sekolah film. Dia juga percaya bahwa fasilitas dan SDM sekolah film pun harus dikembangkan.

Namun, tentu saja belajar tanpa bimbingan dan fasilitas khusus ini tidak sepenuhnya menguntungkan. Hambatan-hambatan dari skala kecil sampai besar pun muncul. Contohnya saja, berbeda dengan sekolah film di mana sudah menjadi kewajibannya untuk menyediakan peralatan syuting selengkap mungkin sehingga mahasiswa-mahasiswanya dapat menggunakannya dengan maksimal demi mendukung proses pembuatan film mereka, keuntungan ini tidak ditemukan di keempat klub film non-sekolah film ini. “Hambatan terkadang dari segi teknis yakni peralatan yang belum lengkap dan masih mengandalkan milik pribadi,” jelas Dado ketika ditanya soal hambatan besar Klub Cinema UMT dalam melaksanakan produksi film. Keterbatasan alat sebagai hambatan ini juga diakui oleh Adi. “Karena COFILA UKSW ini KBM (Kelompok Bakat Minat—sebutan UKSW untuk UKM) baru, sehingga kami belum mempunyai alat-alat atau inventaris lengkap untuk produksi.” Pada akhirnya, banyak yang harus menyesuaikan dengan kondisi ini, termasuk kemungkinan adanya pengaruh keterbatasan alat pada konsep film.

Sementara itu, semangat di dalam klub film yang menggebu-gebu malah terkadang bisa disalahartikan menjadi semacam bentuk eksklusivitas di dalam kampus yang memang secara umum tidak mengajarkan materi-materi pendidikan film. Status sosial mengenai keberadaan semacam ini biasanya menjadi lebih pudar di sekolah film yang memang sejak awalnya menyatakan diri sebagai institusi pendidikan film resmi. LFM ITB merasakan hal ini, walaupun juga memberikan penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi.

“Ada anggota yang dulunya merasa LFM ITB ini lembaga apa-apaan yang sok tahu, tapi tahun depannya dia akhirnya mencoba sendiri dan membuktikan bahwa pikirannya salah,” ujar Toro. Ia mengakui bahwa soal pride atau gengsi memang merupakan fenomena antarkelompok di ITB. “Mungkin unit lain melihat kami eksklusif, tapi kenyataannya sebenarnya bisa sama saja pada unit-unit lain. Intinya kan anggota LFM ITB berkumpul atas dasar ketertarikan yang sama terhadap film, video dan fotografi. Beberapa anggota malah sudah jauh lebih dulu passionate di bidang ini sebelum masuk ke ITB. Maka, begitu masuk, mereka akan menjadi sangat excited dan bergabung membentuk suatu kelompok,” tukasnya. Di sinilah kemungkinan sentimen tersebut muncul, terutama dari mereka yang ternyata tidak berminat di bidang ini, sementara itu yang berminat akan terus memperkaya pengetahuannya. Menurutnya, hal ini sebenarnya juga bisa berlaku di unit-unit yang lainnya.

Meskipun hambatan-hambatan tersebut ada, saya melihat bahwa niat yang besar pada akhirnya tidak pernah mengurungkan klub-klub film ini dalam terus berkarya dan berkreativitas. Saya juga melihat bahwa klub-klub film ini tetap maju dan bertahan walaupun keadaan tidak selalu mendukung, juga lebih banyak memandang sisi positif dengan cara memfasilitasi diri sendiri dibanding mengeluh saja atas keterbatasan yang ada dan pada akhirnya tidak menghasilkan apa-apa. Intinya, sebisa mungkin sarana yang ada ini dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menunjang minat dan bakat mereka. Demi kemajuan diri sendiri pula, mereka pun memiliki target masing-masing, yang mereka harapkan bisa tercapai ke depannya.

“Semoga FHUI bisa makin terdengar dan acara pemutarannya juga makin besar,” ujar Raymond, “kami juga berharap supaya ke depannya kami makin equipped untuk alat-alat syuting.” “Kami ingin agar LFM ITB bisa memiliki kegiatan-kegiatan yang makin menyenangkan… sekarang pun sebenarnya sudah menyenangkan kok,” sambung Dyza seraya menutup pembicaraan. “Semoga juga produktivitas LFM ITB bisa bertambah terus dan siapa tahu bisa berperan di perkembangan industri film Indonesia. Seperti Ganffest agar bisa menjadi ajang apresiasi film, atau mungkin nanti dari LFM ITB lahir filmmaker-filmmaker yang bisa membuat sesuatu ataupun penulis-penulis kritik film… film kan kalau nggak ada apresiasinya, ya nggak jalan juga.”

Penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Timothy Davy Noya, Kamal Dwi Jatmoko, Nabilah Adani dan Vania Ivena atas bantuan dan kerjasamanya selama melaksanakan observasi ini. 

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (2)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend