Wawancara
wawancara-ifa-isfansyah_highlight

Ifa Isfansyah: Film Pendek adalah Medium yang Paling Jujur

Ifa Isfansyah bercerita tentang pengalamannya sebagai sineas film pendek, dari Air Mata Surga (2002) sampai Percakapan Ini (2010). Wawancara ini bertujuan untuk mengulik proses kreatif dan konteks historis di balik film-film pendek Ifa, serta bagaimana keduanya membentuk Ifa sebagai seorang sineas.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ismaël Ferroukhi: Kesunyian adalah Bahasa Paling Intim

“Bagaimana Indonesia, negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia, menerima Le Grand Voyage?” Tanya Ismaël Ferroukhi seraya saya memasuki lounge dan diperkenalkan oleh asisten pribadinya. Sutradara Prancis ini kemudian bercerita banyak tentang film pertamanya dan sekilas tentang film keduanya, Free Men.

fred-cavaye_highlight

Fred Cavayé: Film Haruslah Mudah Dikenali Penonton

Sebagi nama baru di Prancis, Fred Cavaye sejatinya sudah punya reputasi yang mendunia. Salah satu penyebabnya adalah The Next Three Days karya Paul Haggis. Film tersebut merupakan adaptasi Hollywood dari film pertama Cavayé, Pour Elle, yang dirilis tahun 2010 silam. Di tahun yang sama, Cavayé merilis film panjang keduanya, Point Blank.

jb-kristanto_highlight

JB Kristanto: Saya Tak Pernah Menyebut Diri Sebagai Kritikus

JB Kristanto menceritakan pengalamannya sebagai jurnalis dan kritikus film. Ia menghimpun Katalog Film Indonesia, yang telah luas dipakai sebagai acuan. Mas Kris, begitu ia akrab disapa, turut memprakarsai berdirinya situs filmindonesia.or.id, pusat data film dan perfilman Indonesia dari dulu sampai sekarang.

Paul dan Kyo Hayanto Agusta (kanan), saat syuting Kado Hari Jadi.

Paul Agusta: Tidak Ada Alasan Untuk Tidak Memenuhi Dorongan Kreatif

Paul bercerita tentang film-film yang pernah ia buat, dari Kado Hari Jadi (2008), At the Very Bottom of Everything (2010), hingga dua dokumenter musiknya: The Songstress and the Seagull (2011) dan Semalam di Rumah Bonita (2011). Dari sini terpetakan bagaimana pendiriannya sebagai pembuat film.

gotot-prakosa_highlight

Gotot Prakosa: Kritikus Itu Bukan Sekedar Reporter

Gotot Prakosa adalah praktisi senior film Indonesia. Dari tangannya lahir film yang disebut-sebut sebagai ‘film Indonesia terbaik sepanjang zaman’, judulnya Tjoet Nja Dhien, bikinan tahun 1986. Ia sudah bekerja dengan banyak sekali sosok kunci perfilman nasional, seperti Teguh Karya, Eros Djarot, dan Slamet Rahardjo.

Cinema Poetica © 2013