Lewat Djam Malam: Sejarah Kegelisahan Bekas Pejuang
Lewat Djam Malam menarik dilihat sebagai dokumen sejarah, terutama dari titik berdiri kita sekarang. Upaya restorasi yang dilakukan ternyata tidak hanya menjaga warisan budaya visual kita. Ini adalah upaya pelestarian ingatan sejarah, sumber pengetahuan agar kita mampu menghargai bekas pejuang.
Lewat Djam Malam: Bulan Madu Panjang Militer dan Birokrasi
Sosok Iskandar dalam Lewat Djam Malam sekadar terpuruk dalam melankoli berkepanjangan. Tapi dari pesimisme itu kita pun senantiasa dituntut mengoreksi kegagalan-kegagalan perubahan politik yang pernah terjadi seraya membayangkan kemungkinan lain. Sebuah posisi yang tidak nyaman, tentunya.
Belah Diri dalam Narasi: Tentang Kejujuran yang Tak Selamanya Polos
Dua argumen penting yang dibangun Republik Twitter adalah: 1) ada jurang antara tindakan nyata dan nge-twit, dan 2) tidak semua orang punya akses ke twitter (baca: hanya kelas menengah). Yang belum dibahas adalah bagaimana media sosial menjadi sarana representasi politik.
Sang Penari: Ulasan Atasnya dan Ulasan Atas Dua Ulasan Tentangnya
Sebuah kritik terhadap dua kritik terhadap film Sang Penari, serta kritik lebih lanjut perihal film Sang Penari dari perspektif sejarah, dengan harapan dapat membentuk apresiasi yang lebih proporsional secara materialistik.
British New Wave: Menakar Realita via Sinema
Pembahasan British New Wave kerap disertai oleh banyak label, mulai dari Sequence, Free Cinema, hingga Angry Young Men. Penyertaan banyak label tersebut merupakan konsekuensi yang wajar, mengingat British New Wave sendiri memang tidak terpusat pada satu kelompok yang dominan. Banyak pihak yang terlibat di dalamnya.
Menggerayangi Aoi: Selewat LSF dan Aktris Dewasa Asing dalam Film Horor Indonesia
Menjadi menarik ketika kita menyoal masalah ikut sertanya beberapa aktris porno asing dalam film-film Indonesia. Hal utama yang bisa dicurigai dari upaya ini adalah tentunya strategi pemasaran. Maria Ozawa dan Sora Aoi tenar di Indonesia. Lantas, dengan menyensor film yang mereka bintangi, apakah LSF bisa menyensor citra panjang mereka sebagai artis film dewasa?


