Catatan Singkat Menonton “Street Ballad: A Jakarta Story”

catatan-singkat-menonton-street-ballad-a-jakarta-story_highlight

18 September kemarin, IFI Yogyakarta mengadakan pemutaran Street Ballad: A Jakarta Story. Daniel Ziv. sang sutradara merangkap produser, turut hadir. Awalnya, saya menonton film ini karena alasan emosional; subjek utama dalam film adalah tetangga saya sendiri yang sama-sama berasal dari Ngawi. Film dokumenter sendiri bagi saya memiliki tantangan tersendiri untuk tidak membuat bosan penontonnya, sehingga saya pun berharap bahwa dokumenter kali ini mampu disajikan dengan tidak membosankan. Dari segi ini, Street Ballad berhasil mengangkat sosok Titi Juwariyah sebagai seseorang pengamen jalanan di Jakarta. Dengan tampilan adegan-adegan yang dibangun naik turun, penonton seringkali ikut tertawa atau larut dalam kesedihan ketika Titi mencurahkan isi hatinya.

Street Ballad memang diperuntukkan bagi tayangan dokumenter televisi Amerika. Film dibuka dengan Titi menceritakan kehidupannya dengan nada yang terdengar dibuat-buat, yang langsung menggiring saya pada kesan tayangan dokumenter televisi kita yang dikemas sangat dramatis dan penuh air mata. Untungnya, tidak keseluruhan film dituturkan dengan cara yang sama. Penonton masih bisa menikmati variasi tuturan baik dari cerita Titi, orang-orang dekatnya, maupun gambar-gambar dalam film yang berbicara dengan sendirinya.

Street Ballad memuat rekaman momen-momen dalam hidup Titi yang terjadi selama lima tahun sang sutradara mengikuti dan merekam subjeknya. Sepanjang film berdurasi hampir satu jam tersebut, tampak usaha Daniel Ziv untuk melekatkan subjek dengan kota tempatnya bergumul, lengkap dengan segala bentuk permasalahan yang dihadapi seorang Titi. Narasi seperti ini sebenarnya lazim kita temui, bahwasannya persoalan orang-orang pinggiran tersebut masih begitu menarik di mata orang asing.

Selama lima tahun Daniel Ziv mengikuti kehidupan Titi, cerita yang terbangun dalam Street Ballad sebenarnya tidak menawarkan hal baru. Bisa dibayangkan berapa banyak gambar yang diambil dan yang dibuang untuk menjadikan kehidupan Titi terlihat semenarik mungkin. Penonton bisa saja kagum dengan sosok Titi, bisa juga bersimpati dengan nasibnya, tapi setelah itu apa? Dalam rentang waktu tersebut, keberadaan kamera seharusnya sudah tidak lagi dirasakan subjek. Namun sebagai penonton, ada kesan-kesan janggal di beberapa adegan ketika kehadiran kamera terasa masih berjarak dan tidak mampu melebur seperti sewaktu Titi mengunjungi keluarga dan anaknya di desa. Hal ini sebenarnya bisa dimaklumi karena intensitas kamera dengan kota tentu lebih banyak daripada ketika Titi pulang ke kampungnya. Tetapi saya tetap terganggu dengan beberapa adegan seperti ketika Titi membawa kedua orang tua dan anaknya ke sebuah pematang sawah, lalu menyanyikan lagu Wuyung dengan gitar. Bapak Titi mengelus kepala putrinya sementara ibunya menangis sesenggukan mengingat masa kecil Titi. Betapa dramatis!

Isian musik dalam film, sebagian berasal dari lagu-lagu ciptaan Titi, turut menghidupkan susana dalam banyak kesempatan. Konsekuensinya: sebagian besar dari Street Ballad terasa seperti fiksi drama. Meskipun sebuah dokumenter pasti akan memuat kadar fiksinya sendiri, harapan saya sebagai penonton tetap tertuju bahwa realitas yang hadir adalah realitas yang terkesan wajar, yaitu segala keseharian Titi yang turut menyertakan kerutinan-kerutinan yang bisa jadi membosankan.

Kisah Titi mengingatkan saya pada keluarga Joad dalam novel The Grapes of Wrath karya John Steinbeck. Ketika desa tak mampu lagi menawarkan apapun untuk mengubah hidup sesorang, kota menjadi salah satu harapan, meskipun kehidupan di kota bisa jadi lebih berat. Desa menjadi masa lalu dan kota adalah masa kini dan masa depan. Titi memilih kehidupan keras di kota, lengkap dengan persoalan si suami yang tak bekerja tapi juga tak merelakan Titi hidup di jalanan hingga malam. Setiap hari, Titi naik turun metro mini dan bus kota setelah memandikan anak dan memberinya sarapan. Persolan ekonomi dihadapi karena si suami tidak memiliki penghasilan tetap sementara keluarganya di kampung juga masih membutuhkan kiriman uang. Di kota, ia tinggal di rumah mertuanya yang mewajibkannya mengenakan jilbab. Titi dengan bandelnya mengenakannya dari rumah, lalu melepaskannya sebelum mengamen. Titi tampak kuat dalam adegan ini, demikian halnya ketika ia bicara soal pendidikan atau keharusannya untuk hidup mandiri meskipun menderita.

Gambaran bahwa pendidikan masih menjadi tempat gantungan nasib seseorang, sebagaimana yang sering nampak dalam film-film Indonesia yang bernarasi tentang kemiskinan, juga muncul dalam Street Ballad. Bagi Titi, hal yang bisa mengubah nasibnya adalah selembar ijazah. Untuk itulah ia belajar mati-matian demi lulus ujian kejar paket C. Setidaknya ketika ia tidak banyak bisa mengirim uang ke kampung, membawa selembar ijazah adalah kebanggaan tersendiri. Street Ballad menggambarkan bagaimana Titi berusaha keras untuk belajar, berjuang mengubah nasibnya. Ia membaca buku di bus kota, belajar bersama teman di kamar kontakannya, sampai akhirnya lulus dan berpidato pada hari penerimaan ijazah.

Diskusi pembuat film dengan penonton setelah pemutaran membuka sejumlah ruang di balik gambar dan adegan Street Ballad. Jadi apakah Titi sekarang? Apa yang didapatkan subjek dalam film ini selama lima tahun hidupnya tak lepas dari kamera? Sang sutradara kemudian bercerita bahwa Titi beberapa kali juga mendapatkan bagian ketika produksi filmnya mendapatkan dana. Meskipun demikian, uang yang didapatkan selalu tak bisa bertahan lama. Entah karena kebutuhan mendesak atau dipinjamkan kepada saudara atau tetangga yang lebih membutuhkan. Persoalan tentang identitas muncul juga dalam sesi tanya jawab. Daniel bertutur bahwa para pengamen dan anak jalanan adalah orang-orang yang selalu mencari identitasnya di tengah hiruk pikuk perkotaan. Sepanjang film Titi bergumul dalam persoalan itu; salah satunya agar ia menjadi seseorang yang berijazah.

Tapi bagi saya yang menarik adalah Daniel Ziv sendiri, orang asing yang membuat film pertamanya dengan mengangkat kisah Titi. Apakah karena Daniel orang asing, yang tentu juga menarik bagi Titi, sehingga Titi mau menerima tawaran sebagai bintang dalam film tentang hidupnya sendiri? Selain persoalan dana, yang katanya selalu tekor itu, Daniel menjawab pertanyaan bahwa selama ia membuat film tak ada kisah-kisah seram seperti diganggu preman. Apakah ini juga karena Daniel orang asing? Dalam Street Ballad, Jakarta tampak selalu aman. Kota dan orang-orangnya tampak bersahabat dengan beberapa gambar bernuansa kekuningan. Seseorang yang bertanya seolah tak percaya, mengingat Jakarta yang menurut sepengetahuannya begitu menyeramkan.

Film dokumenter akan selalu memuat transisi bahwa yang kita lihat sehari-hari akan tetap menjadi konstruksi. Kita bisa mendapati semacam jenjang dari kehidupan sehari-hari dengan keseharian Titi dalam film. Kamera menangkap keseharian, mengikuti subjek, berlari, menangkap momen-momen, masuk proses penyuntingan, lalu sampai ke penonton yang akan membanding-bandingkan kehidupan dalam film dengan kehidupan sebagaimana adanya. Sebagai penonton, saya pun sebenarnya mengharapkan eksperimentasi lebih dari Street Ballad, terlepas dari film tersebut adalah film pertama sang sutradara.

Street Ballad hadir pula dalam versi lebih panjang dengan judul Jalanan, yang mengangkat kehidupan dua pengamen lain. Konon kabarnya, Jalanan akan segera tayang di bioskop. Jarang-jarang rasanya ada film dokumenter yang bisa masuk bioskop. Gambaran karakter Titi adalah gambaran masyarakat yang umum dijumpai di negeri ini. Kalaupun film ini dianggap mampu keluar dari karakter subjek dan berbicara lebih luas tentang masyarakat kita, maka gambaran itulah yang akan disaksikan sekian banyak orang yang entah akan ditangkap sebagai sekadar simpati, kisah inspiratif yang sedikit suram, atau semburat optimisme dari orang-orang yang susah hidupnya tapi bisa tetap bahagia dengan bernyanyi sepanjang hari.

Street Ballad: A Jakarta Story | 2013 | Sutradara: Daniel Ziv | Negara: Indonesia | Narasumber: Titi Juwariyah

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend