Gorivana Ageza

Agenda Politik Selera dalam Festival Film Dunia

Dewasa ini, naif bila kita menganggap festival film adalah pernyataan kolektif yang anti-Hollywood dan anti arus utama. Betapa tidak, festival film telah menjelma menjadi bursa penting bagi perputaran uang dalam industri film global. Literatur yang dibagikan rubrik Wacana kali ini bicara mengenai kompleksitas posisi festival film, baik dari aspek selera estetika, komitmen politis, merk dagang, dan interaksinya dengan dunia di luar festival film maupun di luar industri film itu sendiri.... Baca

Hubungan Sinema dan Filsafat, Menurut Gilles Deleuze

Bagi sebagian orang, Cinema 1 dan Cinema 2 karya Gilles Deleuze adalah buku yang luar biasa rumit karena Deleuze terkesan begitu tendensius untuk menyusun klasifikasi imaji yang sudah dibangun selama hampir seratus tahun sejarah sinema. Ia tidak bicara shot, tidak bicara peletakan dan pergerakan kamera, tidak bicara teknis. Ia bicara tentang sinema sebagai realita, bukan penanda realitas sebagaimana yang ramai dibahas oleh para begawan semiotika.... Baca

Paradoks Pembangunan Manusia dalam Film Pendek Indonesia

Ketika istilah “pembangunan” menjadi semacam mantra magis yang memesona rakyat di rezim orde baru, sebetulnya pernahkah kita benar-benar tahu apa yang tengah “negara” (baca: penguasa) bangun? Lantas di mana posisi kita sebagai rakyat pada “perihal membangun” tersebut? Saat modernitas diasosiasikan dengan pembangunan, apakah dengan menjadi (seolah-olah) modern berarti manusia Indonesia telah sukses terbangun?... Baca
Gorivana Ageza

Gorivana Ageza

Seorang perempuan yang menikmati menjadi pengembara pikiran. Saat ini, Echa panggilan akrabnya, masih tercatat sebagai mahasiswa tingkat akhir Program Studi Ilmu Filsafat, konsentrasi Filsafat Budaya, Universitas Parahyangan, Bandung. Terlibat aktif dalam berbagai kepanitiaan dan kegiatan berkomunitas, salah satunya adalah Sinesofia. Seni, sinema, fashion, budaya pop, dan kehidupan urban adalah hal-hal yang menarik perhatiannya.

Send this to a friend