Another Colour TV: Penonton Bukan Benda Mati

another-colour-tv_hlgh

“I’m watching my tv; or is it watching me?” –Noel Gallagher

Idul Adha telah mendekat. Pemandangan hewan-hewan kurban dijejerkan di tepi jalan menjadi hal lumrah. Namun, ada sedikit yang memantik perhatian penulis. Bukan karena hewan kurbannya, tapi karena orang-orang di sekitar deaerah tersebut tumpah ruah menonton sapi dan kambing di sana. Anak-anak berkerumun, ibu-ibu gendong bayi, bapak-bapak mengobrol di motor, tukang bakso, es krim, dan jajanan lain mencari peruntungan di acara nonton bareng hewan kurban (yang hanya makan rumput dan buang hajat). Dari sini penulis membuat dua kesimpulan: jalanan jadi macet dan “masyarakat sedang butuh tontonan atau hiburan”.

Televisi sebenarnya sudah dibahas, atau lebih tepatnya dipergunjingkan, di mana-mana dan lewat berbagai medium yang ada, termasuk lewat medium televisi itu sendiri. Sebagian orang sudah mulai membencinya, dan (mengaku) tidak pernah lagi menontonnya. “Tidak mendidik”, “bikin bodoh”, dan berbagai alasan lain diucapkan oleh mereka. Di sisi ilmiah, kajian tentang televisi pun sudah lama ramai di kalangan akademisi, misalnya yang terkait pada aspek kekerasan, konten seksual, agenda-setting, kultivasi, dan lainnya. Website yang khusus memantau televisi dalam negeri pun sudah rapi mempreteli seluk-beluk televisi. KPI sudah dicaci-maki. Komunitas dari bermacam-macam basis sudah ikut campur. Rokok dan belahan dada sudah diburamkan, adegan ciuman sudah dipotong. Berbagai petisi sudah dilayangkan dan ditandatangani. Orang-dalam-televisi sudah angkat bicara, salah satunya melalui dokumenter Di Balik Frekuensi (2013) karya Ucu Agustin. Lalu apakah masih kurang?

Tentu saja masih.

Sebagai medium audiovisual juga media massa, televisi memiliki daya tarik dan persuasi yang teramat besar. Televisi mampu diserap lewat mata dan telinga, dua indera terkuat yang dimiliki manusia (dalam hal memperoleh informasi). Paparan serta jangkauannya pun sangat luas, dibandingkan dengan internet yang masih sulit diakses di beberapa daerah pelosok. Untuk setiap informasi yang didapat, biaya yang televisi kenakan juga terbilang murah. Tinggal sisihkan uang untuk tagihan listrik bulanan, berbeda dengan iuran internet yang cenderung lebih memberatkan.

Mengutip pernyataan termasyhur dari komik Spider-Man, “With great powers comes great responsibility,” maka jelaslah bahwa para pelaku bisnis di belakang televisi harus memiliki rasa tanggung jawab yang besar. Khususnya tanggung jawab untuk mencerdaskan bangsa dan bermanfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Tapi nyatanya ini hanyalah isapan jempol nan utopis. Televisi adalah bisnis. Di belakangnya adalah pengusaha yang ingin mencari keuntungan. Penonton bagi mereka bukanlah manusia-manusia, melainkan angka-angka berupa rating. Tidak perlu bagi mereka untuk merisaukan mutu acara yang ada. Karena nyatanya, mutu dan rating tidak selalu berbanding lurus. Acara yang bermutu belum tentu ditonton banyak orang. Sebaliknya, yang tidak bermutu juga belum tentu tidak ditonton orang.

Pertanyaan pun terlontar, siapa yang seharusnya disalahkan: mereka yang menyediakan tayangan tidak bermutu atau mereka yang menontonnya?

Dari pertanyaan ini, beranjaklah kita ke film Another Colour TV (2013) garapan Yovista Ahtajida dan Dyantini Adeline. Duo sineas ini memanfaatkan dua frame secara bersamaan, menampilkan tontonan dan penonton televisi. Frame sebelah kiri menampilkan sejumlah cuplikan tontonan: potongan acara dakwah Mama Dedeh, Dora The Explorer, sinetron, berita, gosip, dan sebagainya. Acara-acara tersebut ditampilkan bergantian dengan durasi kira-kira kurang dari semenit. Sedangkan pada frame penonton, pembuat film menyematkan kesan “menengah-ke-bawah” pada keluarga yang berperan sebagai audiens. Terpampang sebuah kamar tidur–sekaligus ruang keluarga–berisikan kasur tanpa sprei, anak lelaki yang hanya mengenakan celana dalam, ayah telanjang dada, dan tembok kotor penuh coretan.

Menariknya, kedua frame tidak berhubungan secara langsung. Tayangan-tayangan pada frame sebelah kiri bukanlah tayangan yang sedang ditonton pada frame sebelah kanan. Boleh dibilang pembuat film bukan ingin mendokumentasikan keluarga dengan acara yang ditontonnya. Logika yang ingin ditawarkan film ini tidak berada pada tataran mikro yang kausalistik, seperti misalnya, karena menonton tayangan-tayangan sinetron sarat kekerasan, keluarga fulan menjadi penuh pertengkaran. Bukan seperti itu. Another Colour TV menarik level dokumentasinya jadi lebih luas. Caranya dengan menjabarkan khasanah acara-acara televisi dalam negeri dan memposisikan subjek dokumentasi sebagai anonim, yang membuat mereka hilang identitas pribadi, dan kemudian tanpa sadar, berkat pengadeganan yang mendetail, mendorong penonton untuk menyematkan identitas kepada mereka, yaitu sebagai keluarga dari kelompok sosial (atau bahkan ekonomi) menengah-ke-bawah.

Kamera mengambil sudut-pandang dari arah televisi. Perspektifnya dibalik; sekarang televisi seakan menyaksikan tingkah para anggota keluarga yang menontonnya. Gelagat dan obrolan terekam, yang mana didominasi oleh polah sang ibu; sama halnya dengan porsi menonton sang ibu yang juga lebih banyak ketimbang anggota keluarga lainnya. Komentar demi komentar terlontar. Ada yang menyinggung konten, ada pula yang hanya sekadar sentimen. Tapi lebih dari itu semua, dan sekaligus yang terpenting, kita melihat siapa dan bagaimana para penonton tayangan televisi itu.

Mungkin selama ini fokus kita memang terlalu tertuju pada tontonan ketimbang penonton. Dengan gamblangnya kajian terhadap televisi dapat mengklaim yang ini buruk, yang ini tidak mendidik, dan sebagainya, tanpa benar-benar memberikan pilihan atau alternatif lain. Padahal seperti yang dapat disaksikan, keluarga dalam Another Colour TV, khususnya sang ibu, tak punya pilihan untuk menghindari daya tarik televisi. Ketika pilihan disuguhkan, yaitu pergi berbelanja atau menonton televisi, sang ibu dengan lantang berkata, “Ya belanja!” Namun sayangnya ia tetap tak kuasa, karena tak punya duit. Lagi-lagi duit. Apakah punya duit adalah satu-satunya jalan menghindari tayangan-tayangan di televisi?

Tentu saja tidak.

Sumber informasi dan hiburan murah harusnya bukan hanya televisi. Juga hiburan populer tidak melulu harus imbisil dan membodohkan. Maraknya pilihan medium (sekaligus minimnya pilihan medium bagi mereka yang tak berduit) untuk mengakses informasi mengingatkan saya pada aforisme terkenal dari Marshall McLuhan: medium is the message. Secara keseluruhan, kesan yang saya tangkap dari film Another Colour TV juga tak jauh-jauh dari aforisme ini. Sebab, selain jukstaposisi tontonan dengan penonton, dua frame pada film juga menyandingkan “acara televisi” dengan “film pendek.”  Yang satu perkara kapital, sementara satunya lagi telaah sosio-kultural. Dan dalam perspektif “medium is the message”, kebusukan dalam televisi sebuah keniscayaan zaman. Menyelamatkan televisi (harusnya) bukan lagi sebuah pilihan, karena ia adalah benda mati–orang-orang di belakangnya sudah mati-nurani. Beda halnya dengan keluarga di frame sebelah kanan yang bisa disuguhkan pilihan.

Another Colour TV memang tidak menawarkan solusi. Film ini difungsikan sebagai cerminan akan realita—dan fungsi itu terjalankan dengan baik. Pertanyaannya kembali kepada penonton sendiri sebagai bagian dari publik. Apa yang bisa kita lakukan? Beberapa komunitas telah mengusahakan tontonan lain bagi masyarakat di daerahnya masing-masing, baik lewat produksi maupun pemutaran film. Ada di Purbalingga, Banjarnegara, Aceh, Palu, dan sebagainya. Gerakan-gerakan melalui komunitas inilah yang memberikan alternatif bagi masyarakat. Yang sayangnya di ibukota justru malah jarang terdengar, sehingga kambing dan sapi pun jadi tontonan.

Another Colour TV | 2013 | Durasi: 9 menit | Sutradara: Dyantini Adeline & Yovista Ahtajida | Produksi: The Youngrrr | Negara: Indonesia

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend