Anak Sabiran, Di Balik Cahaya Gemerlapan: Mengenang yang Akan Datang

highlight_anak-sabiran

“Kamu sudah pernah nonton film saya, Dibalik Tjahaja Gemerlapan?” tanya Misbach Jusa Biran. Saya mengangguk, sembari beres-beres setelah mewawancarai beliau untuk kepentingan riset. “Nah, di film itu, saya ingin menunjukkan kalau batas antara real life dan reel life itu tipis.” Pernyataan tersebut kembali muncul di benak saya ketika melihat sosok beliau diangkat dalam dokumenter terbaru Forum Lenteng: Anak Sabiran, Di Balik Cahaya Gemerlapan. Film hasil kolaborasi Hafiz Rancajale (penulis dan sutradara), Fuad Fauji (riset dan asisten sutradara), Mahardika Yudha (riset), serta Syaiful Anwar (kamera) ini diputar perdana 29 Maret 2013 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, kemudian diputar keliling beberapa kota.

Anak Sabiran bukanlah biografi linear tentang perjalanan hidup Misbach, bukan juga catatan kronologis atas kejadian-kejadian masa lampau. Penuturan film ini terjadi lewat potongan-potongan gambar dan suara yang acak: wawancara, foto-foto, cuplikan adegan film, rekaman Misbach sedang terapi, Nani Wijaya syuting sinetron, gambar-gambar dalam Sinematek, sekuens para pembuat film membacakan tulisan Misbach, hingga video pernikahan Misbach. Saking kayanya imaji yang dihadirkan sepanjang 154 menit, Anak Sabiran berpotensi membingungkan penonton yang mencari keteraturan, terlebih lagi penonton yang tidak punya informasi dasar perihal siapa itu Misbach, apa itu Sinematek, dan bagaimana keduanya saling terhubung.

Memang butuh pengetahuan tersendiri sebelum menonton untuk benar-benar mengapresiasi sosok Misbach dalam Anak Sabiran, namun Forum Lenteng bukannya mengabaikan keteraturan. Keteraturan itu ada, pada tingkat gagasan. Kemasan Anak Sabiran yang acak sesungguhnya mencerminkan gagasan Forum Lenteng akan sejarah: bukan sebagai garis lurus, tapi sebagai tarik ulur, antara yang masih ada dan yang pasti tiada, antara yang ingin dipertahankan dan yang tak lagi terselamatkan.

Gagasan Sinematik

Tarik ulur ini sudah ditekankan sejak menit-menit awal, yang nantinya berkembang jadi berbagai rupa seiring berjalannya film. Yang pertama adalah tarik ulur gagasan sinematik, antara narasumber dengan pembuat film. Pembacaan surat Misbach ke Forum Lenteng, tertanda 19 Januari 2012, membuka film, “Hafiz, ide ini begitu saja terlintas ketika saya di depan komputer, bahwa film dokumenter yang akan kita bikin itu judulnya Dalam Perjalanan ke Masjid. Secara simbolik adalah perjalanan saya yang simpang siur itu tetap menuju ke Ridhaan Allah. Wawancaranya nanti akan dimulai ketika saya sedang jalan ke masjid di Sentul. Untuk item yang begitu banyak, tempat wawancara bisa pindah ke masjid-masjid lain. Dasar idenya seperti Sajadah Panjang Taufik Ismail. Tapi tekanannya bukan pada bolak-balik sholat, melainkan apa yang dilakukan antara sholat dan sholat itu.”

Hafiz membalasnya di hari yang sama, “Dalam tradisi Forum Lenteng, kami berusaha untuk tidak pernah melakukan pengadeganan dalam membuat film dokumenter. Jadi, segala sesuatu yang ditangkap kamera adalah apa yang sebenarnya terjadi. Yang paling utama adalah bagaimana mengemas peristiwa-peristiwa yang kita asumsikan sebelumnya, yang mungkin berbeda ketika di lapangan, menjadi logis dalam bahasa film.” Gagasan sinematik ini sudah kentara sejak Forum Lenteng pertama kali memproduksi dokumenter pendek, namun penubuhan yang paling kuat terjadi dalam Dongeng Rangkas (2011) dan Naga yang Berjalan di Atas Air (2012). Dalam dua dokumenter panjang itu, Forum Lenteng memanfaatkan kamera untuk merekam realita secara telanjang. Kamera menjadi alat produksi realita tersendiri; tangkapannya adalah kesementaraan lewat hal-hal renik: gestur-gestur pribadi, bisikan-bisikan selewat, dan momen-momen spontan.

Hal-hal renik inilah yang menjadikan Anak Sabiran begitu komplit, dan juga natural, dalam membahasakan diri Misbach. Catatan-catatan sejarah lebih banyak mengangkat nama beliau sebagai pendiri Sinematek dan penggiat pengarsipan film Indonesia. Tidak salah juga, mengingat sepak terjang beliau di bidang itu masih tak tertandingi sampai sekarang. Satu yang kerap terlupa adalah kiprah Misbach sebagai pembuat film dengan filmografi yang cukup panjang. Katalog filmindonesia.or.id mencatat nama beliau ada di 40 judul film, dari tahun 1955 sebagai asisten sutradara Tamu Agung hingga tahun 2012 sebagai penata naskah Cinta Suci Zahrana. Beliau sendiri memutuskan berhenti sebagai sutradara tahun 1970 dan kemudian mendirikan Sinematek. Cuplikan salah dua film yang beliau sutradarai, Dibalik Tjahaja Gemerlapan (1966) dan Operasi X (1968), beberapa kali dimunculkan dalam Anak Sabiran, namun penghormatan Forum Lenteng bagi Misbach si pembuat film tidak berhenti di situ.

Dalam setiap wawancara dengan Misbach, Hafiz selalu membiarkan kamera tetap merekam walau terjadi gangguan di lapangan. Reaksi-reaksi Misbach mencerminkan kepekaan seseorang yang sangat terbiasa dengan kegiatan produksi film. Contohnya, ketika Misbach sedang asyik bercerita tentang pengalaman bikin teater sewaktu bersekolah di Taman Siswa bareng SM Ardan (yang kemudian menemani Misbach mendirikan dan mengurus Sinematek), tiba-tiba turun hujan. Misbach sontak bereaksi “Wah gerimis nih! Di sini saya gak kena gerimis, tapi kameranya gimana?” sambil melihat-lihat tempat yang aman untuk menaruh kamera. “Apa pakai payung? Di rumah ada payung?” kata beliau lagi. Salah seorang kru pergi ambil payung. Misbach lanjut bercerita, tapi hujan makin deras. “Wah hujan gede nih! Sudah gak benar nih!”  Para kru buru-buru memindahkan kamera. “Kamera masuk ke sini aja. Di bawah sini,” saran Misbach sambil menunjuk sebuah titik dalam pendopo.

Ada pula wawancara dalam ruang kerja Misbach. Beliau sedang bercerita tentang alasan mendirikan Sinematek dan kenapa ia menganggap pengarsipan film itu penting. Lagi-lagi, hujan turun tiba-tiba, yang suaranya terdengar cukup jelas dalam film. “Hujan nih. Mengganggu gak itu?” tanya Misbach pada pembuat film. Momen-momen spontan ini dengan cantiknya merekam satu sisi dari pribadi Misbach yang kerap terlupakan sejarah. Momen-momen ini juga menubuhkan tarik ulur gagasan sinematik yang di awal film terjadi lewat surat-menyurat. Hafiz merekam Misbach, Misbach ‘menyutradarai’ Hafiz.

Arsip foto di Sinematek Indonesia

Arsip foto di Sinematek Indonesia

Sejarah Adalah Sinema

Pribadi Misbach sendiri terhitung rumit untuk dikotakkan. Terlihat dari begitu beragamnya kenangan para narasumber tentang Misbach, dan ini menjadi tarik ulur tersendiri dalam Anak Sabiran. Nani Wijaya mengenang bagaimana suaminya menjauh dari dunia film ketika memutuskan berhenti membuat film. Seno Gumira Adjidarma, yang gemar tulisan-tulisan Misbach karena kaya akan humor, kaget ketika bertemu langsung dan mendapati beliau sangatlah tidak lucu. Riri Riza pernah mendebatnya karena beranggapan pandangan beliau tentang film terlalu puritan. Bagi Misbach, film adalah komunikasi massa, sarana untuk mempengaruhi persepsi orang-orang. Premis cerita baginya bukanlah cetak biru cerita, tapi pesan yang ingin disampaikan ke penonton. Ini yang selalu ditekankan Misbach saat mengajar di Institut Kesenian Jakarta, tempat Riri menimba ilmu film. Ini juga yang beliau utarakan dalam wawancara di mobil, di tengah perjalanan pulang ke rumah. Beliau bercerita kalau ia sempat mengira wajah Napoleon Bonaparte seperti Marlon Brando karena begitu terpengaruh akan pemeranan Brando sebagai jenderal Prancis itu dalam film Desiree (1954).

Kenangan-kenangan akan pribadi Misbach ini berkaitan dengan tarik ulur paling esensial dalam Anak Sabiran: sejarah dan sinema. Tidaklah mungkin membuat film tanpa melibatkan sejarah. Sinema masihlah medium yang paling komplit dalam merekam realita, dan setiap potongan gambar serta suara merupakan unit terkecil dalam sejarah. Misbach sendiri menjabarkan, dalam satu wawancara di Anak Sabiran, bagaimana orang-orang sekarang bisa menjadikan koleksi Sinematek sebagai cara untuk mengkaji masa lalu. Ia memberi contoh film-film Benyamin yang menjadi dokumen otentik kultur dan bahasa Betawi masa lampau. Ia juga menyebut Lewat Djam Malam, yang ia anggap sebagai potret yang otentik akan kondisi Indonesia pasca kemerdekaan. Di saat yang bersamaan, sembari menceritakan ini semua, Misbach pun menjadi bagian dari fenomena serupa. Lewat Anak Sabiran, Forum Lenteng mengekalkan diri Misbach lewat sinema, dalam karya-karya yang sudah ia hasilkan, dalam kenangan orang-orang yang pernah bersinggungan dengan beliau, dalam pergulatan sosial-budaya yang beliau lakoni sepanjang hidupnya.

Sinema mengekalkan sejarah, tapi ironisnya sinema sendiri tidak kekal. Sebagai sebuah medium penyimpanan, sinema tetaplah rentan pada gerusan zaman dan bisa hilang ditelan sejarah. Ironi ini tidak luput dari Hafiz dan kawan-kawan. Di tengah-tengah film, Anak Sabiran mendadak bisu. Yang penonton lihat hanyalah video pernikahan Misbach dengan Nani Wijaya selama sepuluh menitan, ditemani suara proyektor yang memutar video tersebut. Gambarnya kecoklat-coklatan, agak kabur, ternodai banyak goresan, layaknya gambar yang dihasilkan dari pita film yang lama tersimpan tapi tak terurus dengan memadai. Saking buruknya gambar rekaman video tersebut, saya sampai kesulitan mengenali wajah orang-orang di dalamnya, termasuk wajah Misbach sendiri.

Pengalaman visual ini mendorong saya kembali pada pernyataan Misbach terkait tipisnya batas antara real life dan reel life. Kehadiran fotografi dan film menjadikan peradaban manusia semakin visual. Tadinya manusia hanya bisa diabadikan sebagai nama dan statistik dalam catatan polisi dan dokumen negara. Sekarang, siapapun bisa mengabadikan dunia, termasuk dirinya sendiri, dalam piksel-piksel foto maupun video. Tidak heran pula foto dan video seringkali dianggap sebagai bukti sahih akan sebuah peristiwa, baik sebagai dokumentasi sosial maupun personal. Buruknya rekaman video pernikahan Misbach semata-mata mengingatkan akan mortalitas sinema sebagai medium penyimpan, dan mortalitas diri kita dalam kehidupan yang makin visual ini. Rekaman visual bisa saja lenyap, dan bersamanya memori-memori yang terkandung di dalamnya.

Pengantar Hari Esok

Misbach dan orang-orang di sekitarnya terancam kehilangan kenangan akan momen penting dalam hidup beliau. Itu baru di tingkat personal. Bagaimana dengan kita dan warisan sinema Indonesia yang kondisinya kian hari kian memburuk dalam Sinematek? Dengan menampilkan rekaman video pernikahan Misbach, pembuat film Anak Sabiran sesungguhnya menyiapkan penonton untuk bahaya lebih besar yang menanti kita: amnesia sejarah.

Bagian akhir Anak Sabiran membawa kita masuk ke dalam keseharian Sinematek, arsip film nasional yang Misbach dirikan bersama SM Ardan tahun 1975. Terekam bagaimana perpustakaan Sinematek dijalankan. Misbach menjelaskan kalau perpustakaan Sinematek menyimpan buku-buku tentang film Indonesia dan naskah-naskah karya penulis kenamaan bangsa, dari Asrul Sani hingga Arifin C Noer. Masuk ke ruangan lain, terlihat bagaimana foto-foto dan poster-poster film disimpan di Sinematek: ditumpuk-tumpuk tanpa katalogisasi yang jelas, beberapa bahkan dijadikan ganjalan rak.

Yang lebih mengenaskan adalah perawatan film. Terekam bagaimana pegawai Sinematek mencuci seluloid dengan larutan kimia dan mengeringkannya dengan kipas angin. Terekam pula pernyataan Hartono, pegawai Sinematek, perihal begitu terbatasnya stok larutan kimia yang disediakan, sehingga ia harus menghemat penggunaannya bahkan ketika larutan itu sudah kadaluarsa sekalipun. Hartono menjelaskan kalau larutan itu dulunya sering disuplai oleh Departemen Penerangan. Sekarang, tanpa adanya sokongan, Sinematek harus bertahan dengan sumber daya seadanya.

Dengan merekam perjuangan hari kemarin, Anak Sabiran menjadi pengantar yang menohok untuk hari esok. Dokumenter ini merupakan elegi akan kehilangan raksasa sebesar Misbach Jusa Biran di perfilman kita, sekaligus juga sindiran bagi generasi penerus untuk tidak melulu berada di bawah bayang-bayang beliau. Dengan asyiknya Misbach mencandai Fuad Fauji, “Kamu nih, bikin eretan aja nggak bisa, bagaimana mau bikin beginian [arsip film].” Pernyataan ini bukan Fuad seorang, tapi kita semua. Pelestarian sejarah yang Misbach sudah rintis harus kita lanjutkan, lampaui bahkan. Kita sudah terancam kehilangan masa lalu kita. Jangan sampai kita hanya bisa mengenang hari-hari yang akan datang.

Anak Sabiran, Di Balik Cahaya Gemerlapan (Sang Arsip) | 2013 | Sutradara: Hafiz Rancajale | Produksi: Forum Lenteng Negara: Indonesia

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend