Anak-anak Srikandi: Yang Subjektif, Yang Patut Diperhatikan

Makbul Mubarak | 28 February 2012 | Resensi
0
0

anak-anak-srikandi_highlight

Beberapa perempuan mendokumentasikan diri dalam sejumput video tentang diri mereka sendiri. Topik utamanya identitas seksual dan bagaimana ia berinteraksi dengan konteks masyarakat di Indonesia. Para perempuan yang menjadi subjek sekaligus pembuat video dokumenter ini dipilah melalui semacam workshop, tidak saja tentang identitas seksual mereka yang lesbian, tapi juga taktik artikulasi identitas tersebut ke dalam medium yang layak ditonton. Seusainya, video itu mereka namakan: Anak-Anak Srikandi (Children of Srikandi).

Dokumenter yang dibuat oleh seseorang tentang dirinya sendiri selalu menarik. “Subjektivitas” adalah kata pertama yang perlu kita garis bawahi di sini. Subjektivitas menjadi krusial sebab narasumber dalam dokumenter semacam ini adalah diri sendiri. Menjadi objektif, meskipun penting, menjelma  menjadi soal nomor sekian.

Belum lama ini, sutradara Korea Selatan Kim Ki-duk mendokumentasikan dirinya sendiri dalam Arirang (2011). Film tersebut mendapat pujian untuk segi teknisnya dan kecaman untuk subjektivitasnya. Beberapa penonton menilai film ini tak berguna, sebab hanya berupa keluhan minta simpati oleh seorang sineas yang pernah jaya dan sekarang (merasa) tengah terpuruk. Subjektivitas tentu selalu ada dalam setiap sudut pandang, tetapi dalam dokumenter tentang diri sendiri, ia seringkali tak bisa diukur sebab tak ada pembandingnya. Yang bicara adalah diri sendiri, yang dibicarakan juga adalah diri sendiri. Narsis, narsis sendiri. Bodoh, bodoh sendiri.

Meski demikian, film semacam ini menjadi layak dipantau sebab ia seringkali berusaha memperdengarkan suara-suara yang selama ini tak pernah diketahui keberadaannya. Dalam Anak-Anak Srikandi, seorang perempuan menceritakan dirinya yang sebelumnya religius, getol dalam pengajian, berangsur melepas jilbab setelah meyakini identitas seksualnya sebagai seorang lesbian, dan bagaimana agama tidak bisa bertenggang rasa terhadap kenyataan itu. Tanpa Anak-Anak Srikandi, aspirasi semacam ini tentu lebih sulit untuk dilafalkan dalam skala yang sedemikian akrab.

Anak-Anak Srikandi memberi sumbangsih pada mekarnya penggunaan sinema sebagai medium kolektif di Indonesia. Setelah sebelumnya Dongeng Rangkas, dokumenter kolektif tentang dua padagang tahu di Rangkasbitung beserta respon mereka terhadap reformasi yang diyakini bisa mengubah sektor-sektor paling rawan dalam hidup mereka. Berbeda dengan Dongeng Rangkas yang subjek dokumenter dan pembuat filmnya terpisah, Anak-Anak Srikandi menyatukan keduanya. Yang membuat dan menjadi subjek film adalah sekelompok lesbian yang selama ini direpresi oleh dunia sekeliling mereka. Penyatuan ini beresiko. Jika dalam Dongeng Rangkas, cara pandang subjek dapat kita ketahui semata dari perilaku on-screen si subjek, maka dalam Anak-Anak Srikandi, perspektif kamera juga patut mendapat perhatian lebih. Alasannya: yang membuat dan yang dipotret berada dalam pihak dan identitas yang sama.

Ada satu segmen dimana seorang gadis menceritakan pengalamannya dipukuli FPI dikarenakan identitas seksualnya, lalu ia memutuskan untuk hidup di jalanan. Dalam sekilas pandang, gadis ini seperti sedang tampil sebagai korban (playing victim) dengan menceritakan bahwa ia menjadi korban kaum fundamentalis akibat identitas seksualnya yang polos. Tak ada gambar atau wawancara lain yang bisa dijadikan sumber kedua-ketiga mengenai valid tidaknya cerita si gadis. Satu-satunya sumber informasi bagi penonton adalah narasi-suara berseling potret kehidupan sehari-harinya, dan potongan-potongan gambar dari demonstrasi FPI -kaum fundamentalis yang dimaksud.

Dalam dokumenter pada umumnya, wawancara terhadap satu dua sumber akan sangat membantu penguatan maksud naratif dan tujuan politis sang pembuat film. Hal itu tak terdapat dalam Anak-Anak Srikandi. Satu-satunya otoritas yang berkuasa penuh atas cerita adalah si gadis. Perannya dua: sebagai yang mengalami nasib buruk akibat identitas seksualnya, dan sebagai pembuat film yang membentuk dunia dalam dokumenternya. Dalam perspektif semacam ini, pembanding menjadi nihil sebab subjek dan kamera dikuasai sepenuhnya oleh sang pembuat film.

Pertanyaan berikutnya, lantas apakah kekentalan subjektivitas menihilkan realitas yang dipotret? Ini tentu bisa menjadi obrolan panjang setelah menonton Anak-Anak Srikandi. Di Indonesia, berbagai media punya pandangannya sendiri-sendiri terhadap isu homoseksualitas. Mereka hadir berulang kali ke ruang khalayak dalam jangka yang lena, sehingga pandangan publik sedikit banyak menjadi sama dengan yang ada di media-media. Dalam beberapa kasus menjadi seragam, dalam kasus lain lantas jarang dipertanyakan. Anak-Anak Srikandi tak menuntut dipercaya begitu saja. Ia membuka katup untuk lebih jauh bertanya bersama: adakah budaya heteroseksual yang selama ini dominan (dalam katalog Festival Film Berlin 2012, konteks pembuatan film diperkenalkan sebagai “Islamic Indonesia”) bersedia berjalan berdampingan dengan budaya yang homoseksual? Pertanyaan itu dipantik dengan mendekatkan kenyataan yang paling nyata, bahwa lesbianisme ada di banyak tempat serta tumbuh dari berbagai latar belakang. Realitas sedekat itu tentu runyam untuk ditampilkan lewat sudut pandang yang kurang simpatik. Dan siapa lagi yang lebih simpatik terhadap kita selain diri kita sendiri?

Menukil pernyataan kritikus Eric Sasono, “Subyektivitas jangan-jangan memang lebih dekat dengan dunia nyata.”[1]

Anak-Anak Srikandi (Children of Srikandi) | 2012 | Sutradara: Yulia Dwi Andrianti, Laura Coppens, Hera Danish, Eggie Dian, Angelika Levi, Stea Lim, Afank Ariani, Oji, Imelda Taurinamandala, Winnie Wibowo | Negara: Indonesia-Jerman
.

[1] Dikutip dari laman blog pribadi Eric Sasono, 28 Februari 2011.

The following two tabs change content below.
Makbul Mubarak

Makbul Mubarak

Mengembangkan dan melestarikan Cinema Poetica untuk belajar lebih seksama. Dari 2009 sampai 2011 aktif sebagai pengurus literasi dan lokakarya di bioskop komunitas Kinoki. Saat ini tengah berusaha menyelesaikan studi pada kajian film dan media di Korea National University of Arts, sempat juga mengikuti program Berlinale Talent Campus 2012. Tulisannya pernah muncul di beberapa media seperti The Jakarta Post, filmindonesia.or.id, Fovea Magazine, dan publikasi Udine Far East Film Festival.
Makbul Mubarak

Tulisan Makbul Mubarak (selengkapnya)

Film baik dikonsumsi sekali sehari. Untuk dosis lebih, kunjungi kami.