Amarta (Gadis dan Air): Normalisasi Kehidupan Kota

amarta-gadis-dan-air_hlghKota sedang paceklik. Warga gelisah. Satu-satunya upaya yang mereka bisa lakukan adalah membeli air bersih dari Bos-Bos gendut nan tamak. Mereka mencari Dewi Amarta, dewi air, yang selalu sedia memasok cadangan air warga. Sang dewi sayangnya tak juga tampak. Tak disangka, seorang Gadis datang membawa pertolongan. Ia merelakan diri untuk melawan monopoli penggunaan dan jual-beli air, sekaligus mencari di mana Dewi Amarta seorang diri.

Amarta (Gadis dan Air) karya Bambang “Ipoenk” KM mengajak kita untuk memikirkan kembali makna pembangunan. Pembangunan kian pesat, yang ditandai dengan banyaknya bangunan tinggi menjulang, tapi warga tak juga menjadi makmur. Kebutuhan dasar masih jauh dari tercukupi. Warga bahkan harus membeli air yang selama ini telah disediakan gratis oleh alam. Air, sesuatu yang sejatinya tersedia secara alami, tetiba menjadi dagangan para pengepul tamak.

Ipoenk, dalam menyajikan isu ini, memanfaatkan beragam medium—mulai dari panggung teater, stop motion, tata rias khas pop art, hingga narasi dongeng. Semuanya ia padukan dalam sembilan belas menit durasi film. Masing-masing medium memiliki peranan sendiri dalam membentuk kerangka bercerita. Tata panggung teater, misalnya, mewujudkan semesta cerita secara efisien melalui pemanfaatan ruang yang terbatas dengan tata cahaya dan properti. Sederhana secara tampilan, tapi tetap memuat kedalaman. Keterbatasan ruang gerak memungkinkan pemunculan simbol-simbol, seperti kardus-kardus sebagai tanda akan kota yang gegar dengan pembangunan—ramai tapi rapuh.

Penggunaan narasi dongeng dalam Amarta juga patut mendapat sorotan tersendiri. Isu dalam cerita yang sejatinya ‘pelik’ jadi lebih mudah dipahami. Sebab, pada umumnya, dongeng dituturkan untuk anak-anak memahami nilai-nilai masyarakat setempat melalui cerita dan tindakan karakter dalam tokoh dongeng—sebagaimana yang diungkapkan Vladimir Propp dalam Morpology of The Folk Tale (1928). Dari beragam dongeng di dunia ini, ada beberapa pola penuturan yang cenderung seragam—salah satunya penokohan yang tegas, bahkan cenderung hitam-putih. Tidaklah susah menerka siapa pahlawan, siapa penjahatnya, apa atau siapa yang diperjuangkan, serta apa atau siapa yang menghambat.

Begitu pula Amarta tertuturkan. Naskah garapan Eddie Cahyono menempatkan Gadis sebagai pahlawan dan juga penolong. Ia mencari Dewi Amarta dengan kekuatan supernatural, melalui penglihatan hal-hal gaib. Naskah cerita juga menempatkan para Bos sebagai penjahat yang tamak dan bermuka dua: manis kepada sesama Bos dan menindas warga. Dewi Amarta dan ketersedian air bersih adalah apa yang diselamatkan, yang mendapat hambatan dari Naga dan para anak buah Bos.

Sayangnya, logika bertutur ala dongeng ini menjebak cerita Amarta jadi klise. Suatu hal yang disayangkan, mengingat isu sudah terbahas dengan baik sampai dengan konfilk cerita bermula. Perjuangan Gadis adalah perjuangan sendiri nan sunyi. Gadis yang datang dari antah berantah membantu warga melawan ketidakadilan yang mereka alami. Warga menolak ajakan Gadis untuk bertahan atau melawan, meski tahu bahwa Dewi Amarta telah disekap oleh Bos. Pola cerita semacam ini mengembalikan kita pada cerita lama, bahwa kemenangan atas kejahatan hanya bisa dilakukan oleh sesorang dengan kekuatan luar biasa—bahkan luar nalar. Sementara warga hanyalah sekelompok manusia yang memilih untuk terasingkan dari haknya sendiri.

Selain klise, penuturan individu-melawan-dunia model Amarta sudah tak lagi selaras zaman. Terlebih lagi ketika isu hak warga atas air beberapa tahun ini menjadi isu yang kian mendesak. Bukannya ingin melawan hak serta kehendak pembuat film, tapi mau sampai kapan membicarakan ketidakadilan melalui kisah-kisah fantastik? Masih minim sekali, dalam kasus film Indonesia, cerita-cerita tentang perjuangan warga yang dituturkan sebagai sebuah upaya yang digerakkan melalui perjuangan kolektif—terlebih lagi pasca booming film-film motivasi semodel Laskar Pelangi. Kebanyakan masih hadir sebagai aksi luar biasa seorang individu. Ini sangat disayangkan, mengingat kemasan Amarta begitu komunikatif—ia bisa bicara untuk banyak kalangan penonton. Dalam Amarta, warga hanya pasif dalam berjuang, namun ikut senang bila mendapatkan kemenangan.

Lubang dalam cerita juga terasa ketika ganjaran berupa air bah diterima oleh kedua pihak: Bos si penindas dan warga si tertindas. Ketika Dewi bebas dan air bah membanjiri kota, mengapa Bos murka dan rakyat senang? Bukankah air bah justru lebih sering merugikan masyarakat yang tinggal di tempat yang minim penyerapan air atau warga yang tinggal dekat sungai? Kalaupun air bah diniatkan sebagai kehadiran dari sesuatu berharga yang selama ini tak ada, kenapa harus dalam wujud air bah? Secara visual memang pas, tapi pemaknaan yang terbangun sepanjang film jadi terlalu menyederhanakan perkara.

Nyatanya, kehadiran air tidak serta-merta menjadi solusi atas kekeringan itu sendiri. Kita bicara tentang permasalahan umum atas air di kota, yang tidak terbatas pada kepemilikan atas air bersih, sebagaimana yang tertuturkan dalam Amarta, tapi juga ketersediaan air bersih itu sendiri. Tiap hujan, sebuah kota bisa jadi penuh oleh air yang berdatangan, tapi bukan berarti berliter-liter air itu dapat digunakan oleh warga. Inilah kenapa resolusi cerita Amarta jadi begitu problematis.

Amarta memberikan aneka tawaran dalam sebuah film: keragaman media bercerita, penjabaran konlik secara tertata, serta kemasan yang sedap untuk dinikmati dan mudah dipahami terkait isu air yang belakangan kian mendesak. Namun, penuturan ceritanya malah terjebak dalam pola-pola klise, juga berujung pada resolusi yang terlalu naif. Nyatanya, tidak semua happy ending dalam cerita selalu berarti bahagia dalam dunia nyata.

Amarta (Gadis dan Air) | 2015 | Durasi: 19 menit | Sutradara: Bambang “Ipoenk” KM | Penulis: Eddie Cahyono | Produksi: Lajar Tantjap Film | Negara: Indonesia | Pemeran: Chandra Pramudita, Riva Aulia Rais, Kinanti Sekar R, Nurul Hadi

Tulisan ini merupakan bagian dari ulasan film-film yang tayang selama FILM, MUSIK, MAKAN yang diselenggarakan oleh Kolektif pada 2-3 April 2016 di GoetheHaus, Jakarta.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (4)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend