A Separation: Bukan Tak Mampu, Hanya Tak Mau

Corry Elyda | 12 March 2012 | Resensi
6
0

a-separation_highlight

A Separation adalah film yang jeli menangkap kegelisahan dan permasalahan keluarga kelas menengah di Iran. Asghar Farhadi pernah menunjukkan ini dengan sangat manis di Wednesday Fireworks (2006). Namun, di Wednesday Fireworks, masalah hanya muncul di kelas menengah. Sedang kelas bawah yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan dasar, malah bisa menikmati hidup dan kebahagian-kebahagian kecil yang terjadi. Di A Seperation, Asghar tak lagi selunak itu. Kali ini, ia menampilkan kedua kelas ekonomi ini sama-sama bermasalah. Ketika keduanya berbenturan, mereka akan mencapai ujung resolusi atau titik klimaks yang lebih tinggi?

Film ini bercerita tentang pasangan suami istri, Nader dan Simin yang hendak bercerai. Alasannya sederhana, Simin ingin pindah ke luar negeri karena beranggapan negara lain lebih cocok untuk membesarkan anak perempuan mereka, Termeh, sedangkan Nader menolak dengan alasan harus menjaga ayahnya yang terkenal Alzheimer. Di sela masa de facto hubungan mereka, Simin tinggal di rumah ibunya yang membuat Nader kalang kabut mengurusi rumah, Termeh, dan ayah Nader. Mengatasi masalah itu, ia mempekerjakan Razieh, seorang pembantu rumah tangga yang selalu membawa anak perempuannya kemana-mana.

Razieh yang religius seketika minta berhenti karena tak ingin mengurusi ayah Nader. Baginya itu kurang pantas. Sebagai solusi, ia menawarkan suaminya yang sudah lama menganggur untuk melanjutkan pekerjaannya. Sang suami sayangnya tak jua muncul ke rumah Nader karena dipenjara dan Razieh terpaksa menggantikannya. Masalah mulai muncul saat Razieh meninggalkan ayah Nader dalam kondisi tangan terikat di tempat tidur. Nader yang pulang melihat sang ayah terpuruk di lantai, marah besar, dan mengusir Razieh dengan tuduhan mencuri. Adu mulut keduanya menyebabkan Nader mendorongnya ke luar rumah.

Keluarga dan Kelas Sosial

Di keluarga Nader dan Simin, selayaknya kelas menengah, masalah mereka adalah pilihan. Suami istri ini sama-sama mandiri secara intelektual dan finansial, hingga bila ada masalah, keduanya sama sekali tak merasa harus bergantung pada yang lain. Karena itu, keputusan cerai gampang keluar dari otak Simin ketika Nader tak juga ingin ikut pindah keluar negeri. Sedang Nader tak juga bisa mengerti, walau sadar istrinya adalah produk budaya modern. Ia adalah contoh bagaimana laki-laki terengah-engah menghadapi perubahan eksistesial perempuan. Baginya, kepala keluarga yang jadi pengambil keputusan, bahkan persoalan benar dan salah di rumah. Ia memperlakukan Simin seperti laki-laki dalam hierarki tradisional terhadap istri mereka. Simin yang berprofesi sebagai dosen tak bisa lagi menerima prilaku yang tidak demokratis itu. Ia ingin suaminya setara dengannya dalam menghadapi keputusan karena memang ia mampu untuk ikut andil.

Keluarga Razieh dan Hodjat adalah gambaran umum keluarga kelas bawah Iran. Razieh adalah representasi perempuan tradisional Iran dengan chador-nya. Ia taat pada suami dan agama. Walaupun suaminya, Hodjat, kasar dan pengangguran, Razieh tetap menganggapnya segala-galanya. Masalah keluarga ini jelas, ekonomi. Hodjat sudah berbulan-bulan menganggur dan terlilit hutang. Demi membantu keuangan keluarga, Razieh diam-diam bekerja sebagai pembantu rumah tangga, walau ia tahu tak akan diperbolehkan bila ketahuan suaminya. Oleh karena itu, ketika suaminya menuntut Nader ke pengadilan, ia ikut saja. Satu-satunya yang bisa mengalahkan pandangan suaminya di mata Razieh adalah Tuhan dan kepentingan anaknya. Ada adegan di mana ia berkonsultasi tentang apa yang ia lakukan itu berdosa atau tidak.

Sebenarnya, yang paling berkepala dingin adalah Simin. Ketika Nader dipenjara karena mendorong Razieh hingga ia keguguran, Simin mengambil langkah menyelematkan laki-laki yang masih menjadi suaminya. Ia menjamin Nader keluar penjara dan berusaha untuk tahu dan menyelesaikan masalah itu. Ketika akhirnya timbul kata sepakat untuk membayar ganti rugi agar Nader tak dipenjara, Nader tak bisa menerima begitu saja. Satu-satunya yang membuat kedua orang ini masih bisa bicara lewat hati ketimbang logika dan emosi adalah anak semata wayang mereka, Termeh. Itu saja tidak cukup.

Anak-anak dan Orang Tua

Bila ditanya siapa korban dari karakter-karakter yang berbenturan ini, jawabannya adalah anak-anak dan orang tua. Di film Iran, anak-anak tak diberi ruang di permasalahan keluarga. Seolah-olah dengan menutup pintu atau menyuruh mereka pindah ke ruangan lain, anak-anak ini akan steril dari masalah orang tua mereka. Orang tua-orang tua ini salah. Termeh memahami orang tuanya dan yang pasti ia menyayangi mereka berdua. Termeh bersikeras tinggal di rumah ayahnya biar sang Ibu tak jadi pergi. Ia bahkan selalu membujuk ayahnya itu meminta Simin pulang ke rumah. Somayeh, anak Razieh yang masih berusia lima tahun, menggambar bagaimana ayah dan ibunya bertengkar. Adegan-adegan saling pandang Samiyeh dan Termeh memperlihatkan bahwa mereka tahu apa yang sedang terjadi atau paling tidak tahu ada yang salah dengan ayah dan ibu mereka.

Sedangkan, posisi paling serba salah adalah generasi yang lebih tua. Ayah Nader yang terkena Alzheimer sebenarnya penyebab dari segala permasalahan yang terjadi. Namun, tak langsung Asghar memposisikannya sebagai antagonis. Nader begitu sayang dengan ayahnya hingga bila ada pilihan antara ayahnya atau istrinya, ia akan memilih ayahnya. Ketika semua konflik, Asghar tetap menyelipi adegan-adegan ayah Nader yang semakin lama semakin parah. Di keluarga kelas menengah modern, orang tua seringkali juga tak memiliki eksistensi.

Persinggungan keluarga Simin dengan Razieh sebenarnya seperti “kesempatan” yang bisa digunakan Nader dan Simin untuk mereka menimbang-nimbang lagi keputusan mereka. Banyak film-film komedi romantis Hollywood menggunakan treatment ini dengan premis sederhana: bahwa bila menghadapi masalah yang sama, pasangan yang bermasalah akan saling menolong untuk bisa mengatasinya dan akhirnya  bersatu kembali. Dalam A Separation, Asghar seolah menampar kita pada kenyataan bahwa masalah seringkali muncul lebih karena ketidakinginan, bukan ketidakmampuan. Masalah yang sebenarnya tak perlu muncul, namun bila sudah terjadi akan sangat sulit menemukan jalan keluarnya.

A Separation (Jodaeiye Nader az Simin) | 2011 | Sutradara: Asghar Farhadi | Negara: Iran | Pemain: Peyman Moadi, Leila Hatami, Sareh Bayat, Shahab Hosseini, Sarina Farhadi, Merila Zare’i, Ali-Asghar Shahbazi

The following two tabs change content below.
Corry Elyda

Corry Elyda

Seorang teman yang ikut antusias dengan Cinema Poetica. Walau sudah menonton sekian banyak film, tetap jatuh cinta pada genre drama dan komedi romantis. Tanpa sadar telah mengubah film dari sekedar hobi menjadi rutinitas sehari-hari. Sekarang sibuk menonton sembari menyambung hidup sebagai jurnalis Jakarta Post.

6 Tanggapan

  1. national_razor 12 March 2012 Reply

    Ini apa2an! Alumni Kinoki kalo resensi film ga pernah lepas dari ngomongin kelas! (which is good) :))

  2. Widia 12 March 2012 Reply

    Yang pertama harus saya tanyakan perihal resensi di atas adalah, apa maksud dari judul diatas “A Separation: Bukan Tak Mampu, Hanya Tak Mau”? Saya tidak mengerti maksud dari judul (maaf) cheesy tersebut merepresentasikan apa?

    Saya juga kurang setuju dengan kalimat di atas yang menyatakan bahwa Ayah Nader yang menderita Alzheimer adalah penyebab dari segala permasalahan yang terjadi dan bahwa ia menjadi sisi antagonis dalam film ini.

    Justru saya pribadi menilai bahwa penyebab dari segala permasalahan dalam film ini adalah Simin dengan ‘kemandirian secara intelektual dan finansial’-nya yang membuatnya menampik esensi dari sebuah nilai pernikahan tradisional yang mengusung kesamarata-an namun tetap hormat dan patuh pada keputusan suami.

    Apalagi keputusan Nader untuk bertahan dan merawat ayahnya yang sudah berada dalam keadaan vegetatif adalah suatu keputusan yang manusiawi bahkan heroik.

    Dalam film ini pula, lagi-lagi menurut saya, yang paling berkepala dingin adalah ibu dari Simin. Ia yang memutuskan untuk menjamin rumahnya agar Nader tidak dipenjara, ia juga menganjurkan Razieh dan Hodjat untuk ‘let go’ kegugurannya mengingat usia mereka yang masih muda dan masih memiliki kemungkinan untuk mengandung anak lagi.

    Pada akhirnya, film A Separation ini mengungkap cerita yang dapat terjadi pada siapa saja dan dimana saja, terlepas dari kelas sosial, agama dan isu sosial lainnya.

    • Bee 3 April 2012 Reply

      Santai aja kali mbak. Salah satu ciri film bagus adalah kaya dan penuh warna. Setiap penonton ada di “tempat duduk” yg berbeda serta mengenakan “kacamata” yg berbeda, wajar jika menangkap interpretasi yg berbeda pula. Dan ini bukan masalah benar atau salah, tapi sekedar beda “tempat duduk” dan “kacamata” saja. :)

  3. corry 12 March 2012 Reply

    Mbak Widia yang budiman,
    Terima kasih atas tanggapannya. Apa yang saya tulis itu berdasarkan apa yang saya baca dari film tersebut. Dan wajar bila setiap orang punya intrepretasi yang berbeda.
    Terima kasih sudah membagi interpretasi anda

    Salam :)

  4. Aprianto 8 April 2012 Reply

    Saya kok kurang setuju ya dengan upaya meletakkan tokoh-tokoh film ini ke dalam kutub protagonis dan antagonis. Tokoh-tokoh dalam film ini saya lihat sebagai manusia-manusia baik yang berupaya sebisa mereka untuk mencapai apa yang mereka anggap terbaik. Tapi secara inheren mereka terikat pada fitrah manusia: flawed. Keterbatasan perspektif dan komunikasi disfungsional mendorong kejadian-kejadian dalam film, dan itu manusiawi. Dari sanalah saya melihat betapa realisnya film ini. Sudut pandang yang belum tergali justru dilema-dilema moralnya, seperti betapa para tokoh dengan penuh kesadaran saling berbohong di depan hakim dengan tujuan melindungi kepentingan orang-orang yang dicintainya. Hampir seperti Rashomon, tapi lebih altruistik.

  5. anti 29 September 2012 Reply

    Film ini sangat Biasa, tapi aneh bisa memenangkan banyak penghargaan.
    Malah kalau bisa saya bilang, dengan alur lambat dan monoton seperti ini, membuat saya terpaksa meninggalkan film ini sebelum selesai….
    Kecewa juga sih…

CINEMA POETICA | Layaknya hidup, film lebih asyik dinikmati bersama.