Kinology

kinology-edukasi-film

Edukasi Film

Dalam siklus perfilman, pendidikan menempati posisi yang sangat vital namun sedikit sekali diulas. Sarananya bisa macam-macam, mulai dari sekolah film, kursus, hingga komunitas. Sebagaimana banyak cabang seni lainnya, medium yang awalnya dihasilkan secara coba-coba ini pun menuntut profesionalisasi. Untuk memenuhi kebutuhan industri atau propaganda negara, misalnya. Ragam rupa edukasi film di Indonesia inilah yang dikupas dalam Kinology edisi kali ini. Catatan dan amatan disajikan oleh Tito Imanda, Shadia Pradsmadji, dan Windu Jusuf.

Baca

Wacana

wacana-adaptasi-novel-ke-film_highlight

Adaptasi: Idealisme Pengarang dan Film Sebagai Komoditas

Pada Wacana edisi April 2014 ini, Teguh Puja menelusuri implikasi alih wahana novel ke film terhadap perubahan isi karya. Yang dibahas ialah perihal proses alih wahana yang mau tak mau pasti menyebabkan alih wacana dalam sebuah karya. Alih wacana ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain perbedaan sifat data yang digunakan dalam novel dan film yang berbeda dengan data mentah hasil riset sejarah, subyektifitas pengarang yang berbeda dalam proses produksi novel dan film beserta karakter konsumennya, hingga intensitas sensor atas novel dan film yang juga dipandang berbeda.

Baca

Harian

  • Jalanan: Balada Marjinal di Ibukota

    Pandji Putranda | 16 April 2014 | Resensi

    Penuturan Jalanan tidak mereproduksi formula film dokumenter yang umum menyoroti kehidupan masyarakat marjinal. Sering kita jumpai varian dokumenter ataupun reality show televisi yang justru mengkomodifikasikan kemiskinan kaum marjinal seperti acara televisi Jika Aku Menjadi atau Tukar Nasib. Jalanan jauh dari eksploitasi karakter yang berakhir pada perkara fulus. Boni, Ho, dan Titi tidak nampak mengeluhkan profesi mereka sebagai pengamen jalanan.

  • Malam: Aneh-aneh di Rumah Sendirian

    Mazda Radita | 12 April 2014 | Resensi

    Pilihan-pilihan tindakan protagonis didesain untuk menciptakan rasa takut dan khawatir bagi penonton. Keseluruhan film Malam juga begitu. Separuh dari usaha ini bisa kita bilang berhasil. Lewat sudut pandang dan tindakan yang dipilih, Malam mendorong penonton untuk mengidentifikasi diri sebagai Agnes, membiasakan diri dengan pandangan yang terbatas, dan membayangkan apa yang menanti penonton di luar bingkai pandangan film. Separuh lainnya, dipertanyakan.

  • Battle: Rumah Tangga dan Tarung Kuasa

    Saffira Permata Sari | 10 April 2014 | Resensi

    Battle adalah film yang mendidik tanpa harus “mendidik”, yang berceramah tanpa harus “ceramah”. Tidak ada pesan moral, tidak ada petuah bijak. Hanya ada skenario kuasa, tindakan, keputusan, dan konsekuensi-konsekuensi yang mengikutinya. Semuanya ditampilkan secara konkrit, ditampilkan secara komplit. Di tengah ramainya berita penangkapan pejabat tamak dan penguasa lalim, Battle menjadi kampanye anti-korupsi yang intim dan mengena untuk generasi penerus bangsa.

  • Lewat Sepertiga Malam: Kabur dari Penjara Hasrat

    Havid Ridho | 9 April 2014 | Resensi

    Lewat Sepertiga Malam tidaklah menawarkan sesuatu yang baru. Film Indonesia terbiasa menggambaikan pesantren sebagai lembaga yang sarat nilai dan norma, sebagai tempat yang akhlaknya tanpa cela. Atau sebaliknya: sebagai tempat yang terlampau ketat dan mengikat, sehingga tanpa sadar menumbuhkan hal-hal “terlarang” macam hasrat seksual. Dalam Lewat Sepertiga Malam, Orizon hanya mengulangi gambaran-gambaran usang tersebut.

  • Epic Java: Iklan Kampanye Pariwisata

    Mazda Radita | 8 April 2014 | Resensi

    Andai ada suatu hal yang menyambung gambar-gambar dalam Epic Java, bisa jadi hanya eksotisme. Eksotisme yang menimbulkan decak kagum, keterpanaan, dan keinginan untuk hadir di tempat yang ditunjukkan. Tidak lebih, tidak kurang. Yang artinya juga Epic Java tidaklah lebih dari iklan kampanye yang selama tiga puluh menit berteriak lantang, “Visit Java!”

  • Rocket Rain: Curhatan Banal, Dilema Personal

    Pandji Putranda | 19 March 2014 | Resensi

    Sebagai film komedi plusplus, Rocket Rain relatif berhasil. Humor-humor ‘gelap’ timbul tenggelam secara konsisten sepanjang film. Namun tetap relatif, karena latar belakang audiens tentu memiliki pengaruh yang signifikan dalam merespon humor yang disajikan. Boleh jadi film ini begitu menghibur bagi audiens yang sudah menikah, atau pernah menikah. Lantas garing bagi audiens yang masih asing dengan pernikahan.

Film baik dikonsumsi sekali sehari. Untuk dosis lebih, kunjungi kami.