Kinology

kinology-edukasi-film

Edukasi Film

Dalam siklus perfilman, pendidikan menempati posisi yang sangat vital namun sedikit sekali diulas. Sarananya bisa macam-macam, mulai dari sekolah film, kursus, hingga komunitas. Sebagaimana banyak cabang seni lainnya, medium yang awalnya dihasilkan secara coba-coba ini pun menuntut profesionalisasi. Untuk memenuhi kebutuhan industri atau propaganda negara, misalnya. Ragam rupa edukasi film di Indonesia inilah yang dikupas dalam Kinology edisi kali ini. Catatan dan amatan disajikan oleh Tito Imanda, Shadia Pradsmadji, dan Windu Jusuf.

Baca

Wacana

melihat-bintang_gambar_01

Melihat Bintang: Sebuah Titik Mula

Dalam Wacana edisi Agustus ini, Bawuk Respati menghadirkan sebuah pengantar perihal studi bintang film. Bintang jelas memiliki posisi cukup penting dalam sebuah film. Akan tetapi, pengetahuan kita mengenai konsep bintang film sebenarnya masih sangat minim. Kebanyakan orang hanya mengenal bintang film melalui status mereka sebagai figur publik dan selebritis. Padahal, sebagai wajah-wajah yang kita saksikan di layar perak, posisi mereka dalam film dan budaya populer pada umumnya adalah salah satu hal yang paling menarik untuk dipelajari lebih lanjut.

Baca

Harian

  • Tabula Rasa: Saat Gulai Lebih Membuai

    Tabula Rasa: Saat Gulai Lebih Membuai

    Skolastika Lupitawina | 6 October 2014

    Cara Tabula Rasa mengemas cerita sesungguhnya representatif untuk konteks Indonesia. Pertama, bisa dilihat dari diangkatnya budaya kuliner Minang yang adalah tuannya budaya kuliner Nusantara. Kedua, Indonesia Barat dan Indonesia Timur dilebur di Jabotabek, melting pot-nya Indonesia. Tabula Rasa membawa wacana yang besar: food film yang sangat Indonesia. Pertanyaannya adalah, apakah wacana ini berhasil tersampaikan?

  • Perfilman Indonesia sebagai Indikator Demokrasi

    Perfilman Indonesia sebagai Indikator Demokrasi

    Adrian Jonathan | 5 October 2014

    Kadar demokrasi suatu negara sesungguhnya bisa dilihat dari pilihan film yang tersedia bagi masyarakatnya. Logikanya: semakin beragam film yang beredar di publik, semakin terbuka pula masyarakatnya terhadap segala bentuk perbedaan dan kebaruan. Bisa dikatakan kondisi perfilman kita sekarang merupakan imbas dari belum tuntasnya perwujudan demokrasi di Indonesia.

  • Yang Ketu7uh: Selesai Pesta, Lalu Apa?

    Yang Ketu7uh: Selesai Pesta, Lalu Apa?

    Pandji Putranda | 30 September 2014

    Semesta film Yang Ketu7uh terbagi ke dalam kontras antara ibukota dan non-ibukota; kemeriahan eksklusif ‘pesta demokrasi’ dan pergulatan hidup empat narasumber. Secara superfisial pula, dua semesta ini tampak hanya bersinggungan sekali setiap lima tahun, tepatnya pada momentum pemilu. Di luar itu, mungkin putus hubungan dulu, karena kedua semesta seperti berdiri sendiri-sendiri.

  • Another Colour TV: Penonton Bukan Benda Mati

    Another Colour TV: Penonton Bukan Benda Mati

    Avicenna R Santana | 28 September 2014

    Logika yang ingin ditawarkan film ini tidak berada pada tataran mikro yang kausalistik, seperti misalnya, karena menonton tayangan-tayangan sinetron sarat kekerasan, keluarga fulan menjadi penuh pertengkaran. Bukan seperti itu. Another Colour TV menarik level dokumentasinya jadi lebih luas. Caranya dengan menjabarkan khasanah acara-acara televisi dalam negeri dan memposisikan subjek dokumentasi sebagai anonim.

  • Love Steaks: Menu Baru Sinema Jerman

    Love Steaks: Menu Baru Sinema Jerman

    Andreas Dewantara | 8 September 2014

    Ada pembalikan relasi kuasa, di mana laki-laki menjadi korbannya. Love Steaks menunjukkan bahwa inilah yang dihadapi oleh para wanita korban pelecehan (atau korban patriarki pada umumnya), yaitu ketidakmampuan melawan karena ketimpangan kuasa. Ia menyentil para lelaki yang secara default diuntungkan dalam masyarakat, yang secara emosional buta terhadap apa yang dialami para wanita.

  • Oh Boy: Tragedi dan Humor Hidup

    Oh Boy: Tragedi dan Humor Hidup

    Rizki Fachriansyah | 8 September 2014

    Seperti Taxi Driver, Oh Boy membongkar persepsi penonton mengenai kehidupan urban. Dalam hal ini, baik Taxi Driver maupun Oh Boy meneruskan sentimen yang diperlihatkan oleh sinema bisu yang bersikap sinis terhadap tipe kehidupan tersebut. Oh Boy bisa saja menjadi parodi Taxi Driver—dan dalam beberapa aspek, Oh Boy memang parodi Taxi Driver. Namun Jan Ole Gerster secara cerdas menjadikan karyanya ini sebagai antitesis dari magnum opus Scorsese itu.