Kinology

kinology-edukasi-film

Edukasi Film

Dalam siklus perfilman, pendidikan menempati posisi yang sangat vital namun sedikit sekali diulas. Sarananya bisa macam-macam, mulai dari sekolah film, kursus, hingga komunitas. Sebagaimana banyak cabang seni lainnya, medium yang awalnya dihasilkan secara coba-coba ini pun menuntut profesionalisasi. Untuk memenuhi kebutuhan industri atau propaganda negara, misalnya. Ragam rupa edukasi film di Indonesia inilah yang dikupas dalam Kinology edisi kali ini. Catatan dan amatan disajikan oleh Tito Imanda, Shadia Pradsmadji, dan Windu Jusuf.

Baca

Wacana

melihat-bintang_gambar_01

Melihat Bintang: Sebuah Titik Mula

Dalam Wacana edisi Agustus ini, Bawuk Respati menghadirkan sebuah pengantar perihal studi bintang film. Bintang jelas memiliki posisi cukup penting dalam sebuah film. Akan tetapi, pengetahuan kita mengenai konsep bintang film sebenarnya masih sangat minim. Kebanyakan orang hanya mengenal bintang film melalui status mereka sebagai figur publik dan selebritis. Padahal, sebagai wajah-wajah yang kita saksikan di layar perak, posisi mereka dalam film dan budaya populer pada umumnya adalah salah satu hal yang paling menarik untuk dipelajari lebih lanjut.

Baca

Harian

  • Love Steaks: Menu Baru Sinema Jerman

    Andreas Dewantara | 8 September 2014 | Resensi

    Ada pembalikan relasi kuasa, di mana laki-laki menjadi korbannya. Love Steaks menunjukkan bahwa inilah yang dihadapi oleh para wanita korban pelecehan (atau korban patriarki pada umumnya), yaitu ketidakmampuan melawan karena ketimpangan kuasa. Ia menyentil para lelaki yang secara default diuntungkan dalam masyarakat, yang secara emosional buta terhadap apa yang dialami para wanita.

  • Oh Boy: Tragedi dan Humor Hidup

    Rizki Fachriansyah | 8 September 2014 | Resensi

    Seperti Taxi Driver, Oh Boy membongkar persepsi penonton mengenai kehidupan urban. Dalam hal ini, baik Taxi Driver maupun Oh Boy meneruskan sentimen yang diperlihatkan oleh sinema bisu yang bersikap sinis terhadap tipe kehidupan tersebut. Oh Boy bisa saja menjadi parodi Taxi Driver (dan dalam beberapa aspek, Oh Boy memang parodi Taxi Driver), namun Jan Ole Gerster secara cerdas menjadikan karyanya ini sebagai anti-tesis dari magnum opus Scorsese.

  • The Strange Little Cat: Sehari-hari, Repetisi

    Roberto Manca | 8 September 2014 | Resensi

    Di film ini, Zurcher memilih dapur seorang keluarga Jerman sebagai tempat di mana kebanyakan aktivitas di film diperlihatkan kepada penonton. Dia tidak menaruh perhatian kepada alur cerita dengan tema tertentu untuk menggambarkan hubungan dinamis antara keluarga atau keberhasilan dan kegagalan dari anggota keluarga tersebut. Tidak juga Zurcher menunjukkan rutinitas harian kebanyakan keluarga dan individu melalui keseharian hidup mereka.

  • Kohlhaas: Fantasi Film dalam Film

    Grace Gunawan | 8 September 2014 | Resensi

    Mungkin beberapa penonton akan merasa kebingungan ketika menonton Kohlhaas. Film ini merupakan film dalam film. Begitu penonton menangkap alur dan esensi penting dari cerita ini maka kita akan mulai mengerti bahawa untuk mencapai sebuah mimpi diperlukan ketekunan, untuk mencapai sebuah mimpi diperlukan kesungguhan. Kohlhaas ini adalah film yang unik yang menampilkan sisi manis dan pahitnya membuat film.

  • Oh Boy: Hari Tanpa Kopi untuk Niko

    Nina Mashjur | 8 September 2014 | Resensi

    Demikianlah bagaimana film Oh Boy menceritakan satu hari dalam kehidupan seorang Berliner bernama Niko Fischer, yang harus menjalani harinya tanpa kopi. Disebutkan bahwa film ini bergerak di antara melankoli dan humor. Dalam estetika gambar yang hitam-putih, ketiadaan nuansa warna-warna lain selain hitam, putih, dan abu-abu; sungguh mempertegas kemurungan yang ingin dihadirkan di seputar kehidupan Niko.

  • Maryam: Demi Tuan, Aku Rela Menyelundup Ke Gereja

    Avicenna R Santana | 26 August 2014 | Resensi

    Pada Maryam, Sidi Saleh berhasil menggiring protagonis ke gereja dengan menggunakan sosok tuan yang psikopatologis dan titah “jangan menelepon”-nya sang nyonya (kakaknya si pria). Maryam juga tidak ujuk-ujuk ada di atas panggung bikinan pembuat film. Ia naik bajaj dulu, ia tanya-tanya satpam dulu, ia sempat enggan untuk masuk gereja dulu, dan akhirnya ia mengganti model jilbabnya dulu sebelum ikut misa.

CINEMA POETICA | Layaknya hidup, film lebih asyik dinikmati bersama.