Kinology

kinology-edukasi-film

Edukasi Film

Dalam siklus perfilman, pendidikan menempati posisi yang sangat vital namun sedikit sekali diulas. Sarananya bisa macam-macam, mulai dari sekolah film, kursus, hingga komunitas. Sebagaimana banyak cabang seni lainnya, medium yang awalnya dihasilkan secara coba-coba ini pun menuntut profesionalisasi. Untuk memenuhi kebutuhan industri atau propaganda negara, misalnya. Ragam rupa edukasi film di Indonesia inilah yang dikupas dalam Kinology edisi kali ini. Catatan dan amatan disajikan oleh Tito Imanda, Shadia Pradsmadji, dan Windu Jusuf.

Baca

Wacana

melihat-bintang_gambar_01

Melihat Bintang: Sebuah Titik Mula

Dalam Wacana edisi Agustus ini, Bawuk Respati menghadirkan sebuah pengantar perihal studi bintang film. Bintang jelas memiliki posisi cukup penting dalam sebuah film. Akan tetapi, pengetahuan kita mengenai konsep bintang film sebenarnya masih sangat minim. Kebanyakan orang hanya mengenal bintang film melalui status mereka sebagai figur publik dan selebritis. Padahal, sebagai wajah-wajah yang kita saksikan di layar perak, posisi mereka dalam film dan budaya populer pada umumnya adalah salah satu hal yang paling menarik untuk dipelajari lebih lanjut.

Baca

Harian

  • Maryam: Demi Tuan, Aku Rela Menyelundup Ke Gereja

    Avicenna R Santana | 26 August 2014 | Resensi

    Pada Maryam, Sidi Saleh berhasil menggiring protagonis ke gereja dengan menggunakan sosok tuan yang psikopatologis dan titah “jangan menelepon”-nya sang nyonya (kakaknya si pria). Maryam juga tidak ujuk-ujuk ada di atas panggung bikinan pembuat film. Ia naik bajaj dulu, ia tanya-tanya satpam dulu, ia sempat enggan untuk masuk gereja dulu, dan akhirnya ia mengganti model jilbabnya dulu sebelum ikut misa.

  • Keberpihakan Penonton Indonesia

    Rika Nova | 15 August 2014 | Sketsa

    Jelas keberpihakan bioskop patut dipertanyakan, tetapi apakah keberpihakan penonton tak perlu dipertanyakan? Ke mana penonton film Indonesia? Setiap kali menonton film Indonesia yang bagus, bioskop kosong melompong. Sering kali saat mengajak orang Indonesia menonton film Indonesia dijawab dengan: “Males banget sih nonton film Indonesia. Buang waktu, buang uang.”

  • Horison: Ngopi Atau Psikoterapi?

    Avicenna R Santana | 12 August 2014 | Resensi

    Secara keseluruhan, karakterisasi dan teknis film Horison mungkin baik. Tapi pertanyaan yang lebih penting adalah jalur seperti apa yang mereka tempuh? Ke mana kemudian mereka berlabuh? Seperti apa cerita filmnya? Dan bagaimana logika pada film dapat terpenuhi saat film berakhir? Sayangnya, sulit sekali merangkum cara Horison memenuhi logikanya, karena film ini bahkan tidak memiliki dasar logika yang jelas.

  • Keberpihakan Bioskop

    Adrian Jonathan | 5 August 2014 | Sketsa

    Film Indonesia sesungguhnya kaya, tapi belum banyak mendapat ruang temu dengan khalayaknya. Ketimbang bioskop memaksakan produk itu-itu saja untuk mengisi ruang tayangnya, sekarang adalah saat yang tepat bagi bioskop untuk mulai berpikir lebih luas, untuk memperhitungkan film-film lokal yang selama ini terpinggirkan. Beranikah bioskop kita?

  • Toilet Blues: Ziarah Panjang Menggugat Iman

    Pandji Putranda | 16 July 2014 | Resensi

    Tidak seperti road movie kebanyakan, “perjalanan” Toilet Blues tidak ditandai oleh perpindahan latar ruang dan waktu secara fisik. Memang benar Anggalih dan Anjani melakukan perjalanan secara harfiah: naik kereta, menumpang truk barang, menyusuri rel, menerabas hutan, nyemplung ke danau, berhenti untuk makan, lanjut bergerak, dan seterusnya. Namun, mengikuti jejak Toilet Blues dengan hanya mencermati hal-hal tadi dikhawatirkan akan berujung pada jalan buntu (jika bukan nyasar).

  • Selamat Pagi, Malam: Nisbinya Gemerlap Ibu Kota

    Pemilihan latar waktu menjadi unsur terkuat film Selamat Pagi, Malam. Karena benar, malam adalah momen terjujur Jakarta. Saat malamlah kejenuhan kerja terangkat dan gemerlap kota menyelinap, dibarengi kerak telor, mi keju, dan keajaiban dunia lainnya. Menyorot Jakarta saat siang tentu akan sangat membosankan, padat dengan peluh dan keluh.

CINEMA POETICA | Layaknya hidup, film lebih asyik dinikmati bersama.