Kinology

kinology-edukasi-film

Edukasi Film

Dalam siklus perfilman, pendidikan menempati posisi yang sangat vital namun sedikit sekali diulas. Sarananya bisa macam-macam, mulai dari sekolah film, kursus, hingga komunitas. Sebagaimana banyak cabang seni lainnya, medium yang awalnya dihasilkan secara coba-coba ini pun menuntut profesionalisasi. Untuk memenuhi kebutuhan industri atau propaganda negara, misalnya. Ragam rupa edukasi film di Indonesia inilah yang dikupas dalam Kinology edisi kali ini. Catatan dan amatan disajikan oleh Tito Imanda, Shadia Pradsmadji, dan Windu Jusuf.

Baca

Wacana

gilles-deleuze-wacana_highlight

Hubungan Sinema dan Filsafat, Menurut Gilles Deleuze

Dalam Wacana edisi kali ini, Makbul Mubarak dan Gorivana Ageza menghantarkan kajian Suluh Pamuji dan Yustinus Kristianto tentang pemikiran Gilles Deleuze terkait relasi sinema dengan filsafat. Bagi sebagian orang, Cinema 1 dan Cinema 2 karya Deleuze adalah buku yang luar biasa rumit. Filsuf Prancis itu tidak bicara shot, tidak bicara peletakan dan pergerakan kamera, tidak bicara teknis. Ia bicara tentang sinema sebagai realita, bukan penanda realitas sebagaimana yang ramai dibahas oleh para begawan semiotika.

Baca

Harian

  • Turis Romantis: Lebih Baik Menyaksikan Daripada Menyangsikan

    Avicenna R Santana | 14 May 2015 | Resensi

    Turis Romantis masih terjebak dengan kebetulan menyenangkan, akan tetapi tetap bisa dinikmati. Film ini berjalan dengan gaya komedi Senoaji Julius yang biasa dikenal di film pendek anak-anaknya. Film tetap diperlakukan sebagai media pembelajaran menyenangkan, yang tidak menyertakan terlalu banyak penderitaan, dan jeli dalam memberi konsekuensi kepada para penjahat.

  • Rock N Roll: Jakarta Selezat Laksa, Senyaman Nostalgia

    Ambisi Rock N Roll sebagai film memang tidak tinggi-tinggi amat: meneropong Jakarta dari lensa berona nostalgia, dari pojok-pojok kota beralas memorabilia, dan pembuat film bagusnya mengeksekusi itu semua tanpa pretensi apa-apa. Kepolosan inilah yang menjadikan Rock N Roll lebih dari sekadar perkara kuliner dan jalan-jalan keliling ibukota.

  • Suci Sang Primadona: Sketsa Cepat Kesenjangan Sosial

    Film-film Arifin C Noer seringkali menampilkan gestur penolakan terhadap kehidupan yang materialistik. Karakter-karakter dalam film-film Arifin malah tidak bahagia meski harta berlimpah. Pola serupa muncul dalam Suci. Sejak awal film, Suci ditampilkan punya mobilitas sosial yang tinggi, tapi selalu gigit jari.

  • Siti: Perempuan Tidak Sebatas Peran

    Adya Nisita | 28 April 2015 | Resensi

    Eddie Cahyono nampaknya cukup sadar akan konteks sosial yang membebani figur perempuan seperti Siti, sehingga sang sutradara tidak benar-benar memberi jalan keluar bagi perjalanan protagonisnya—yang ada hanyalah jalan terus-menerus sampai takdir menggariskan ujung jalan bagi Siti. Kebuntuan nasib perempuan inilah yang justru membuat kisah seperti Siti panjang umur menjadi perbincangan.

  • The Fox Exploits the Tiger’s Might: Seks dalam Legitimasi Kekuasaan

    Viriya Paramita | 26 April 2015 | Resensi

    Seks adalah salah satu perangkat kuasa—siapa yang memegang kontrol atasnya, ialah yang berkuasa. Premis ini yang mendasari The Fox Exploits the Tiger's Might, film pendek Lucky Kuswandi, yang berlatar di Indonesia pada era Orde Baru. Kita diperkenalkan pada Aseng dan David, dua remaja laki-laki SMP yang baru berkenalan dengan birahi dan ereksi. Satu dari keluarga Tionghoa, satu lagi anak jenderal.

  • Tjokroaminoto: Ketika Guru Bangsa Menggurui Penonton

    Windu Jusuf | 20 April 2015 | Resensi

    Tjokroaminoto serba rancu. Mau disebut drama realis jelas mustahil, mau disebut drama panggung pun tidak konsisten. Mengajari penonton nilai-nilai yang dianggap baik lewat satu tokoh sebetulnya bukan suatu masalah. Namun, ambisi Garin menuturkan banyak hal lewat gaya tutur yang serba terombang-ambing itu membuat kita semakin sulit mengenal HOS Tjokroaminoto, kecuali sebagai seorang penutur kata-kata heroik dan produsen jargon-jargon politik.

CINEMA POETICA | Layaknya hidup, film lebih asyik dinikmati bersama.