Kinology

kinology-edukasi-film

Edukasi Film

Dalam siklus perfilman, pendidikan menempati posisi yang sangat vital namun sedikit sekali diulas. Sarananya bisa macam-macam, mulai dari sekolah film, kursus, hingga komunitas. Sebagaimana banyak cabang seni lainnya, medium yang awalnya dihasilkan secara coba-coba ini pun menuntut profesionalisasi. Untuk memenuhi kebutuhan industri atau propaganda negara, misalnya. Ragam rupa edukasi film di Indonesia inilah yang dikupas dalam Kinology edisi kali ini. Catatan dan amatan disajikan oleh Tito Imanda, Shadia Pradsmadji, dan Windu Jusuf.

Baca

Wacana

paradoks-pembangunan-manusia-film-pendek-indonesia_highlight.jpg

Paradoks Pembangunan Manusia dalam Film Pendek Indonesia

Pada Wacana edisi Juni 2014 ini, Gorivana Ageza berbagi tentang bacaannya pasca menonton berbagai film pendek Indonesia produksi 1984 sampai 2012. Ia menemukan banyak di antaranya yang berkutat dengan isu pembangunan. Lantas pembangunan apa yang dimaksud? Ketika istilah “pembangunan” menjadi semacam mantra magis yang memesona rakyat di rezim orde baru, sebetulnya pernahkah kita benar-benar tahu apa yang tengah “negara” bangun? Lantas di mana posisi kita sebagai rakyat pada “perihal membangun” tersebut?

Baca

Harian

  • Toilet Blues: Ziarah Panjang Menggugat Iman

    Pandji Putranda | 16 July 2014 | Resensi

    Tidak seperti road movie kebanyakan, “perjalanan” Toilet Blues tidak ditandai oleh perpindahan latar ruang dan waktu secara fisik. Memang benar Anggalih dan Anjani melakukan perjalanan secara harfiah: naik kereta, menumpang truk barang, menyusuri rel, menerabas hutan, nyemplung ke danau, berhenti untuk makan, lanjut bergerak, dan seterusnya. Namun, mengikuti jejak Toilet Blues dengan hanya mencermati hal-hal tadi dikhawatirkan akan berujung pada jalan buntu (jika bukan nyasar).

  • Selamat Pagi, Malam: Nisbinya Gemerlap Ibu Kota

    Pemilihan latar waktu menjadi unsur terkuat film Selamat Pagi, Malam. Karena benar, malam adalah momen terjujur Jakarta. Saat malamlah kejenuhan kerja terangkat dan gemerlap kota menyelinap, dibarengi kerak telor, mi keju, dan keajaiban dunia lainnya. Menyorot Jakarta saat siang tentu akan sangat membosankan, padat dengan peluh dan keluh.

  • Tikus: Semiotik Setengah Hati, Slapstick Sampai Mati

    Aa Samsara | 23 May 2014 | Resensi

    Khusnul Khitam, sutradara film ini, jelas mengambil risiko besar ketika memutuskan untuk melakukan permainan logika ganda. Sayangnya, mengemas-ringkas slapstick dan semiotik menjadi nasib sial tersendiri bagi Tikus. Dua lapisan dalam Tikus pada akhirnya saling tubruk, saling melemahkan, dan saling mematikan. Penonton pun terjebak antara lawakan fisik nan harafiah yang jayus (paling banter: komedi sekali tawa) atau permainan tanda yang dangkal.

  • Sang Patriot: Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Sang Jenderal

    Windu Jusuf | 22 May 2014 | Resensi

    Maksud Sang Patriot barangkali begini: semakin dekat sosok yang diwawancarai, semakin penuturan yang objektif bisa digali. Materi yang ditonjolkan adalah sosok Prabowo yang berbeda dari yang selama ini digembar-gemborkan media, yang dipoles melalui kisah-kisah inspiratif dari sejumlah orang dekatnya. Namun ada keganjilan dalam nalar tersebut. Objektivitas yang dipraktikkan dalam Sang Patriot semata menambah keterangan-keterangan yang bersifat personal, jika bukan solipsistik.

  • Kritik untuk Film Pendek? Catatan Selepas Festival Film Solo 2014

    Aa Samsara | 19 May 2014 | Sketsa

    Bagaimana kemudian kritik film masih bisa dianggap penting ketika proses kreatif pembuat film dan keasyikan menikmati film justru akan lebih “menantang” jika keduanya mengambil jarak terhadap teks-teks kritik tersebut? “Menantang” bisa dimaknai sebagai nikmat yang tidak bisa disangkal dalam proses membuat film ataupun menonton film. Artinya membuat ataupun menonton film tidak terbatas sebagai sekadar proses menerima, tetapi menemukan dan mengolah gagasan.

  • Onomastika: Kepo Nama yang Sia-sia, Tapi Tak Apa

    Olwin Aldila Perry | 18 May 2014 | Resensi

    Menyaksikan Onomastika dapat ditempuh dengan dua opsi. Pertama, dengan rasa iba melihat pesimisme orang-orang terpinggirkan yang diwakili bocah tanpa nama. Kedua, dengan rasa suka melihat ademnya ambience film sembari menepis pertanyaan-pertanyaan teknis yang muncul di kepala. Yang mana saja, yang jelas saat credit title berjalan, Onomastika lebih meninggalkan pesan daripada kesan.

Film baik dikonsumsi sekali sehari. Untuk dosis lebih, kunjungi kami.