Kinology

kinology-edukasi-film

Edukasi Film

Dalam siklus perfilman, pendidikan menempati posisi yang sangat vital namun sedikit sekali diulas. Sarananya bisa macam-macam, mulai dari sekolah film, kursus, hingga komunitas. Sebagaimana banyak cabang seni lainnya, medium yang awalnya dihasilkan secara coba-coba ini pun menuntut profesionalisasi. Untuk memenuhi kebutuhan industri atau propaganda negara, misalnya. Ragam rupa edukasi film di Indonesia inilah yang dikupas dalam Kinology edisi kali ini. Catatan dan amatan disajikan oleh Tito Imanda, Shadia Pradsmadji, dan Windu Jusuf.

Baca

Wacana

gilles-deleuze-wacana_highlight

Hubungan Sinema dan Filsafat, Menurut Gilles Deleuze

Dalam Wacana edisi kali ini, Makbul Mubarak dan Gorivana Ageza menghantarkan kajian Suluh Pamuji dan Yustinus Kristianto tentang pemikiran Gilles Deleuze terkait relasi sinema dengan filsafat. Bagi sebagian orang, Cinema 1 dan Cinema 2 karya Deleuze adalah buku yang luar biasa rumit. Filsuf Prancis itu tidak bicara shot, tidak bicara peletakan dan pergerakan kamera, tidak bicara teknis. Ia bicara tentang sinema sebagai realita, bukan penanda realitas sebagaimana yang ramai dibahas oleh para begawan semiotika.

Baca

Harian

  • Bisakah Senyap Dipercaya?

    Shalahuddin Siregar | 25 March 2015 | Sketsa

    Senyap dirayakan, dipuja, dan didukung oleh para aktivis hak asasi manusia. Komnas HAM bahkan memberikan surat dukungan tertulis terhadap pemutaran film ini. Pertanyaannya, bagaimana mungkin mereka mendukung film yang eksploitatif terhadap narasumbernya, film yang menciptakan stigma baru terhadap pihak yang tak berdaya, film yang etika pembuatannya patut dipertanyakan? Apakah memang etika tidak diperlukan, demi menegakkan HAM?

  • Pendidikan Mulai dari Rumah: Mengenal Film-film Antikorupsi Lasja Susatyo

    Robertus Rony | 12 March 2015 | Retrospeksi

    Dalam keriuhan upaya pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi yang seakan tak kunjung surut, kita sebagai anak bangsa tak pantas mengabaikan bahaya laten korupsi. Lasja Fauzia Susatyo mencoba menyibakkan gejala korupsi yang mewabah di negeri ini. Ada dua film bertema antikorupsi yang ia telah sutradarai: Aku Padamu (2012) dan Sebelum Pagi Terulang Kembali (2014).

  • Boyhood: Ketika Momen Memperkaya Kita

    Avicenna R Santana | 21 February 2015 | Resensi

    Boyhood seakan mencoba menembus jarak antara cinematic life dan real life. Jarak tersebut ditempuh oleh kendaraan bernama Mason, yang menyaksikan sekaligus berada di momen-momen kehidupan yang lalu-lalang. Ia melewati masa-masa bermain gameboy, hingga video game, dan melihat foto porno di majalah, hingga di internet. Di lingkup yang lebih personal, ia menghadapi pergantian ayah, sekolah, dan teman.

  • Menjadi Indonesia Pasca Beatriz’s War

    Windu Jusuf | 21 January 2015 | Esai

    Sebelum pendudukan di Timor Timur, kita sebagai warga bekas jajahan mungkin akan enteng mengajukan pertanyaan ini ke orang Eropa Barat atau Amerika Utara sembari merayakan semboyan bangkrut ‘NKRI Harga Mati’. Sebagai eks-penjajah, kini kita beruntung mendapat pertanyaan serupa: apa artinya menjadi Indonesia setelah menonton Beatriz's War?

  • Gone Girl: Petak Umpet Sebelum Rujuk

    Pandji Putranda | 11 January 2015 | Resensi

    Gone Girl dengan tegas menyindir pola perilaku negatif media massa, berikut dampak bagi pemirsanya. Fenomena ini dirangkum lewat kata-kata Nick, usai ia berhasil menjaring simpati penonton di acara talkshow lain, "They disliked me, they liked me. They hated me, and now they love me." Citra baik ialah harga mati.

  • Supernova – Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh: Meledak-ledak Tanpa Isi

    Olwin Aldila Perry | 7 January 2015 | Resensi

    Pembaca KPBJ tentu punya imajinasi sendiri-sendiri. Mustahil semua itu dipenuhi oleh film adaptasinya. Akan tetapi, bukan berarti kebutuhan adaptasinya ditiadakan dan lantas diabaikan demi 'kepentingan pasar' semata. Sebagai produk film, KPBJ mampu membangun latar yang meyakinkan via bombardir efek nan wah, meski tanpa logika cerita yang jelas. Namun, sebagai adaptasi literatur, KPBJ terlalu tersesat dari esensi materi aslinya.

CINEMA POETICA | Layaknya hidup, film lebih asyik dinikmati bersama.